NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Fatih membetulkan kerah kemeja navy-nya saat melangkah menyusuri koridor SMA Pelita Bangsa. Di tangannya tergenggam sebuah undangan pengambilan rapor atas nama Gavin Malik, keponakan laki-lakinya yang duduk di kelas 11.

Sebenarnya, ini bukan jadwal Fatih. Namun, kakaknya tiba-tiba menelepon sambil menangis haru sekaligus panik karena hasil USG menunjukkan kondisi kandungan yang harus segera diperiksa lebih lanjut, sehingga suaminya harus mendampingi. Sebagai paman yang "dianggap" paling lowong karena jadwal jaganya baru mulai nanti malam, Fatih akhirnya mengalah.

"Kelas 11-A... 11-A..." gumam Fatih mencari papan kelas.

Ia sempat berpikir bahwa ini akan menjadi tugas yang membosankan—mendengarkan keluhan guru tentang nilai matematika Gavin yang naik-turun. Namun, saat ia sampai di depan pintu kelas yang dimaksud, langkahnya terhenti.

Di balik meja guru, duduk seorang wanita yang sedang berbicara dengan orang tua murid lain. Ia mengenakan kemeja putih bersih dengan bawahan kain batik yang rapi. Tidak ada riasan berlebihan, hanya jam tangan kecil melingkar di pergelangan tangannya.

"Raisa?" batin Fatih. Jantungnya memberikan reaksi yang tidak logis—sedikit berdesir, mirip dengan pasien yang mengalami aritmia ringan.

Ia menunggu giliran di kursi tunggu koridor. Saat orang tua murid sebelumnya keluar, Fatih menarik napas panjang, merapikan letak kacamatanya, dan melangkah masuk.

Raisa sedang menunduk merapikan tumpukan kertas rapor ketika Fatih duduk di kursi di hadapannya.

"Selamat siang, Bu," sapa Fatih, suaranya berat dan tenang.

Raisa mendongak. Untuk sesaat, pupil matanya melebar, sebuah tanda keterkejutan yang hanya berlangsung sepersekian detik sebelum ia kembali ke mode profesionalnya yang terkendali.

"Dokter Fatih?" suara Raisa datar, namun ada nada tanya di sana. "Anda wali dari... Gavin?"

"Benar. Saya pamannya. Orang tuanya berhalangan hadir," jawab Fatih singkat.

Raisa mengangguk pelan. Ia tidak bertanya mengapa seorang dokter bedah yang sibuk bisa ada di sini, juga tidak membahas pertemuan mereka di rumah sakit tempo hari. Ia langsung membuka buku besar dan menyodorkan lembar rapor Gavin.

"Gavin adalah siswa yang cerdas, Dok," mulai Raisa. Ia bicara dengan sangat efisien, langsung pada intinya. "Nilai sains dan fisikanya nyaris sempurna. Hanya saja, dia sering terlalu santai di kelas bahasa. Saya harap di rumah dia bisa lebih banyak membaca literatur."

Fatih memperhatikan cara Raisa menjelaskan. Gadis ini tidak banyak menggunakan bunga ramah tamah yang tidak perlu. Setiap kalimatnya punya tujuan. Persis seperti cara Fatih saat memberikan edukasi pada keluarga pasien.

"Saya akan pastikan dia lebih fokus pada bahasanya," sahut Fatih. "Apakah ada masalah perilaku? Gavin terkadang sulit diatur."

Raisa menatap Fatih dengan tatapan jernihnya. "Tidak ada. Gavin anak yang punya prinsip. Dia hanya tidak suka melakukan sesuatu yang menurutnya tidak memiliki alasan logis. Sepertinya itu sifat turun-temurun di keluarga Anda."

Fatih tertegun. Kalimat itu terdengar seperti sindiran halus, namun Raisa mengatakannya dengan wajah yang sangat lempeng, hampir tanpa ekspresi.

"Mungkin," jawab Fatih pendek, sudut bibirnya terangkat sedikit, nyaris tak terlihat.

Raisa menutup map rapor itu dan menyerahkannya pada Fatih. "Sudah selesai, Dok. Ini rapornya. Silakan tanda tangan di sini."

Hening sejenak saat Fatih menggoreskan pena. Raisa tidak mencoba mencairkan suasana dengan bertanya kabar tantenya atau basa-basi lainnya. Ia hanya menunggu dengan sabar.

Fatih berdiri, menyampirkan tas rapor di lengannya. "Terima kasih, Bu Raisa. Maaf mengganggu waktunya."

"Sudah tugas saya," jawab Raisa singkat. Ia memberikan anggukan sopan yang sama seperti di rumah sakit.

Saat Fatih baru sampai di pintu kelas, ia berbalik sejenak. "Bu Raisa?"

Raisa mendongak, jemarinya masih memegang bolpoin. "Ya?"

"Tante Lina sudah boleh pulang besok. Dia terus menanyakan Anda."

Raisa hanya memberikan senyum tipis, tipe senyum yang tidak sampai ke mata namun terasa tulus. "Terima kasih informasinya. Saya akan berkunjung setelah jam sekolah selesai."

Fatih keluar dari kelas itu dengan perasaan yang campur aduk. Di luar, Gavin sudah menunggunya dengan wajah cemas.

"Gimana, Om? Bu Raisa bilang apa? Dia galak banget kan? Dia itu guru paling 'dingin' se-SMA, Om. Ngomongnya dikit tapi nusuk," cerocos Gavin.

Fatih tidak langsung menjawab. Ia menoleh kembali ke arah kelas, melihat bayangan Raisa yang kini sedang menyambut orang tua murid berikutnya dengan ketenangan yang sama.

"Dia tidak galak, Vin," sahut Fatih sambil berjalan mendahului keponakannya. "Dia hanya tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Sesuatu yang jarang ditemukan sekarang."

Gavin menyipitkan matanya, memperhatikan langkah pamannya yang biasanya tegas dan teratur, namun kini tampak sedikit... limbung? Bukan limbung karena fisik, tapi seperti orang yang pikirannya tertinggal di dalam ruangan kelas tadi.

"Om," panggil Gavin sambil menyamai langkah lebar Fatih. "Tadi Bu Raisa nggak marah-marah soal nilai Bahasa Indonesia gue yang merah di simulasi, kan?"

Fatih berdehem, matanya lurus ke depan. "Tidak. Dia hanya bilang kau kurang literatur. Dan dia bilang kau anak yang punya prinsip."

Gavin menghentikan langkahnya mendadak, membuat Fatih ikut berhenti dan menoleh. Remaja itu menatap pamannya dengan cengiran jahil yang mulai mengembang.

"Tunggu, tunggu. Bu Raisa bilang gitu? 'Punya prinsip'?" Gavin tertawa pendek. "Itu mah bahasa halusnya dia buat bilang gue keras kepala, Om. Tapi... kok Om kayak yang terpesona gitu dengernya?"

"Jangan bicara sembarangan, Vin. Ayo ke parkiran," potong Fatih cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Namun, Gavin bukan remaja biasa yang mudah dialihkan. Ia menangkap gurat aneh di wajah pamannya sebuah ekspresi yang tidak pernah ia lihat selama Fatih menyandang gelar dokter spesialis.

"Om Fatih," panggil Gavin lagi, kali ini nadanya lebih rendah dan menyelidik saat mereka sampai di samping mobil. "Om tahu nggak? Di sekolah, Bu Raisa itu dapet julukan 'The Ice Queen'. Cantik banget, pinter, tapi nggak ada satu pun guru cowok atau bapak-bapak wali murid yang berani ngajak dia ngobrol lebih dari lima menit. Semuanya diputus pake jawaban singkat, padat, dan jelas."

Gavin menyandarkan punggungnya ke pintu mobil sambil melipat tangan. "Tadi Om di dalem berapa lama? Hampir lima belas menit. Dan pas Om keluar, muka Om kayak abis dapet hidayah. Ada getaran-getaran aneh ya, Om?"

Fatih menarik napas panjang, berusaha mempertahankan wibawanya. "Gavin, dia itu wali kelasmu. Dan saya adalah walimu saat ini. Percakapan kami murni soal akademis."

"Murni akademis tapi kok kuping Om merah?" tembak Gavin telak sambil menunjuk telinga pamannya.

Fatih refleks menyentuh telinganya, yang ternyata memang terasa sedikit panas karena suhu udara siang itu atau mungkin karena hal lain. Ia segera masuk ke kursi kemudi tanpa menjawab lagi.

Gavin tertawa puas sambil masuk ke kursi penumpang. "Gue dukung sih, Om. Daripada Om dijodoh-jodohin sama kolega dokter yang hobi bahas jurnal pas makan malem, mending sama Bu Raisa. Biar Om ada lawan debat yang seimbang. Sama-sama kaku, sama-sama pinter, sama-sama irit ngomong. Cocok, kayak kutub utara ketemu kutub selatan."

"Diam atau kau pulang naik angkot," ancam Fatih, meski tangannya justru gemetar sedikit saat memutar kunci kontak.

Di dalam hatinya, Fatih sedang berperang. Logikanya berteriak bahwa apa yang dikatakan Gavin adalah omong kosong remaja. Namun, ingatannya justru memutar kembali bagaimana Raisa menatapnya tadi, sebuah tatapan yang seolah bisa membaca bahwa di balik jas putih dan sikap rasionalnya, Fatih adalah pria yang juga sedang mencari 'getaran' yang selama ini ia anggap tidak logis.

"Vin," ucap Fatih tiba-tiba saat mobil mulai bergerak keluar gerbang sekolah.

"Ya, Om?"

"Dia... benar-benar tidak pernah terlihat dekat dengan siapa pun di sekolah?"

Gavin hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh ke arah pamannya dengan mata membelalak, lalu menyeringai lebar. "Nah, kan! Langsung nanya statistik saingan! Aman, Om. Sejauh pengamatan agen Gavin, 'Ice Queen' kita masih single murni."

Fatih hanya terdiam, namun ia tidak membantah lagi.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!