NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantara senja dan langit

"Senja? Langit? Sudah adzan dari tadi, Nak. Ayo bangun, Abah sudah menunggu di masjid," suara lembut Ibu Nyai Aminah terdengar dari balik pintu.

Seketika, realita menghantam mereka. Langit tersentak dan melepaskan tautan bibirnya dengan paksa, sementara Senja mendorong dada Langit hingga cowok itu hampir terjungkal lagi.

Keduanya duduk berjauhan dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang merah padam seperti kepiting rebus.

Senja sibuk merapikan rambutnya yang berantakan dan membenarkan letak mukenanya dengan tangan gemetar.

Langit berusaha menstabilkan detak jantungnya yang menggila. Ia turun dari ranjang, mengusap bibirnya sebentar, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah yang sedikit canggung.

Saat pintu dibuka sedikit, Ibu Nyai Aminah berdiri di sana dengan senyum teduh yang penuh arti, seolah memahami kenapa menantu dan putrinya itu terlambat bangun.

"Eh... iya, Umi," sapa Langit.

Suaranya yang biasanya lantang dan kasar, mendadak berubah menjadi sangat pelan dan lembut, sesuatu yang bahkan membuat Senja menoleh tak percaya.

"Maaf, Umi. Langit... tadi... tadi Langit agak telat bangunnya. Ini kami langsung siap-siap ke masjid sekarang."

Ibu Nyai Aminah tersenyum makin lebar melihat perubahan sikap Langit. "Iya, Nak. Segera ya, jangan sampai telat. Umi tunggu di depan."

Setelah pintu ditutup kembali, Langit bersandar di balik pintu sambil membuang napas panjang.

Ia melirik ke arah Senja yang masih duduk mematung di pinggir kasur sambil menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas.

"Kenapa? Masih mau lanjut?" goda Langit tiba-tiba dengan senyum miringnya, mencoba menutupi rasa canggung yang luar biasa di antara mereka.

Senja langsung menyambar bantal dan melemparnya tepat ke wajah Langit. "MESUM! Cepat mandi sana!" teriaknya malu, meski dalam hati ia tahu, mulai detik ini, pandangannya terhadap Langit tidak akan pernah sama lagi.

Langkah kaki Langit dan Senja terdengar beradu cepat di lorong rumah menuju masjid. Mereka benar-benar berpacu dengan waktu, berusaha menahan malu karena menjadi pusat perhatian.

Begitu masuk ke dalam masjid, imam sudah berada di rakaat terakhir. Keduanya segera mengambil posisi di saf masing-masing—Langit di barisan depan santri putra dan Senja di balik tirai pembatas putri.

Saat imam mengucap salam, Langit dan Senja serentak berdiri kembali untuk menambah satu rakaat yang tertinggal. Gerakan mereka yang hampir bersamaan meski terpisah sekat seolah menunjukkan kekompakan yang tak disengaja.

Setelah menyelesaikan shalat, suasana masjid menjadi tenang dengan lantunan dzikir yang menggema.

Kyai Danardi kemudian bangkit dan naik ke atas mimbar. Beliau menatap jamaah dengan teduh, namun sesekali lirikan matanya tertuju pada menantu barunya. Pagi itu, sang Kyai membawakan tausyiah tentang indahnya pernikahan Baginda Nabi Muhammad SAW.

"Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tapi sebuah perjalanan ibadah yang panjang," ujar Kyai Danardi. Beliau menceritakan betapa romantisnya Rasulullah saat menyuapi istrinya, atau bagaimana beliau memanggil Aisyah dengan sebutan Humaira (yang kemerah-merahan pipinya).

Mendengar kata "pipi kemerah-merahan", Langit yang duduk bersila di saf depan tiba-tiba teringat wajah Senja saat ia cium tadi subuh.

Wajahnya yang garang mendadak berubah kikuk, ia berdehem pelan sambil membetulkan posisi duduknya, berusaha membuang pikiran yang tidak-tidak.

Sementara itu, di balik tirai, Senja menunduk sangat dalam. Kalimat sang Abah tentang "suami adalah pelindung" membuatnya teringat dekapan hangat Langit semalam.

Ia menyentuh bibirnya pelan dengan ujung jari, lalu buru-buru menarik tangannya karena merasa malu pada dirinya sendiri.

Para santri yang melihat perubahan raut wajah Langit yang biasanya pemberontak kini menjadi "anak manis" yang menyimak ceramah, mulai saling berbisik sambil tersenyum geli.

Langit yang menyadari itu hanya bisa mendengus pelan, dalam hati ia merutuk, "Gara-gara ceramah ini, gue makin susah mau galak sama dia!"

Suasana sarapan di ruang makan ndalem pagi itu terasa sangat hangat namun tetap membuat Langit dan Senja merasa seperti sedang disidang.

Di meja besar itu, keluarga besar Kyai Danardi duduk berhadapan dengan keluarga Alistair. Denting sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara di sela-sela obrolan ringan kedua orang tua mereka.

"Danardi, mumpung hari ini Sabtu dan besok Minggu sekolah libur, saya ingin mengajak anak-anak ini refreshing sebentar ke kota Yogyakarta. Kasihan mereka, biar tidak terlalu stres dengan kejadian semalam," ujar Alistair sambil melirik Langit dan Senja.

Kyai Danardi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan dengan senyum bijak. "Silakan, Alistair. Memang benar, mereka butuh waktu untuk bicara di luar lingkungan pesantren agar tidak terlalu kaku."

Setelah sarapan usai, suasana haru menyelimuti pelataran pondok. Senja, yang belum pernah pergi jauh tanpa izin pesantren dalam waktu lama, memeluk erat Abah, Umi, dan adik-adiknya.

"Jaga diri ya, Nduk. Ingat, sekarang kamu sudah ada yang menjaga," bisik Umi sambil mengusap air mata Senja.

Langit dan Senja akhirnya masuk ke dalam mobil mewah milik keluarga Langit. Langit duduk di samping Senja dengan jarak yang masih agak canggung, sementara Mami Retno duduk di kursi tengah bersama mereka, memegang tangan menantunya dengan lembut.

"Senja sayang, Mami minta tolong ya, sabar-sabar hadapi Langit," ucap Mami Retno memulai obrolan. "Langit ini memang nakal, keras kepala, persis ayahnya. Tapi aslinya dia itu anak yang sangat penyayang kalau hatinya sudah disentuh."

Langit yang mendengar itu langsung membuang muka ke arah jendela, pura-pura tidak dengar padahal telinganya memerah. "Mami, apaan sih..." gerutunya pelan.

Mami Retno tertawa kecil dan lanjut bercerita tentang silsilah keluarga besar mereka di Jakarta, tentang kakek Langit yang juga seorang pejuang, hingga hobi-hobi konyol Langit waktu kecil.

Senja hanya bisa tersenyum malu-malu, merasa sangat tersentuh melihat betapa mertuanya begitu menerima dan menyayanginya dengan tulus.

Dalam hati, Senja mulai merasa bahwa masuk ke dalam keluarga Langit mungkin bukan sepenuhnya sebuah "musibah".

Perjalanan ke Yogyakarta dimulai!

Liburan sehari penuh itu terasa seperti petualangan emosional bagi Langit dan Senja. Dimulai dari kemegahan Candi Borobudur, di mana Langit terpaksa harus sering-sering memegangi ujung kerudung Senja agar tidak tertiup angin kencang di puncak candi.

Berlanjut ke Lava Tour Merapi, di mana Senja yang ketakutan saat jip berguncang hebat, tanpa sadar mencengkeram lengan Langit dengan sangat erat. Langit hanya bisa berdehem kaku, berusaha menutupi rasa senangnya karena "dibutuhkan".

Sore harinya, perjalanan berakhir di Pantai Parangtritis. Suasana di sana sangat ramai. Langit berdiri agak jauh, memperhatikan kakaknya, Elang, yang sedang asyik berlarian mengejar anak-anaknya di tepi pantai bersama sang istri. Mereka terlihat sangat bahagia dan harmonis.

Langit menoleh ke samping, menatap Senja yang sedang berdiri menatap ombak. Angin pantai membuat baju kurung Senja berkibar. Langit merasa canggung luar biasa; ia ingin menggandeng tangan Senja seperti kakaknya menggandeng sang istri, tapi tangannya terasa seberat satu ton.

"Ehem," Langit berdehem, berusaha memecah keheningan. "Senja, itu... pasirnya nanti masuk ke sandal kamu. Sini agak geser," ucapnya dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.

Senja menoleh, matanya yang indah tampak berkilauan terkena cahaya senja yang kemerahan. "Nggak apa-apa, Langit. Aku suka pasirnya."

Langit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu... capek nggak jalan seharian sama keluarga aku?"

Senja tersenyum kecil di balik cadarnya. "Enggak. Kakak kamu baik, Mami juga baik. Aku malah ngerasa aneh, biasanya jam segini aku lagi ngaji di depan Abah, sekarang malah liat sunset sama kamu."

Mendengar kata "sama kamu", Langit merasa jantungnya melakukan debaran. Ia memberanikan diri melangkah satu inci lebih dekat. "Ya... mulai sekarang, hidup kamu bakal sering aneh gara-gara aku.

Biasakan aja," sahut Langit dengan gaya angkuh yang dipaksakan untuk menutupi rasa gugupnya.

Keduanya kembali terdiam, menatap matahari yang perlahan tenggelam ke dalam samudra.

Di tengah hiruk pikuk keluarga besar yang tertawa di kejauhan, ada sebuah kedamaian kecil yang mulai tumbuh di antara si pemberontak kota dan si putri pesantren ini.

Suasana di Parangtritis jadi sangat puitis! Apakah kamu ingin lanjut ke adegan malam hari saat mereka kembali ke penginapan, dan Langit dengan sok keren membelikan Senja hadiah kecil (oleh-oleh) tapi caranya sangat gengsi?

Setelah lelah beraktivitas seharian, mereka tiba di sebuah hotel mewah di kawasan Malioboro.

Langit langsung merebahkan tubuhnya di kasur, menutupi wajahnya dengan lengan, seolah-olah sudah terlelap karena kelelahan.

Senja yang merasa lengket karena air laut segera masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Senja melongokkan kepalanya, memastikan Langit sudah tidur.

Dengan jantung berdebar, ia mengendap-endap keluar hanya dengan balutan handuk putih yang melilit tubuhnya. Rambut panjangnya yang basah meneteskan sisa air ke bahunya yang polos.

Senja buru-buru menuju koper untuk mengambil pakaian ganti. Ia tidak sadar bahwa di balik lengannya, mata Langit sedikit terbuka.

Langit sebenarnya belum tidur sama sekali. Saat melihat punggung Senja yang putih bersih dan lekuk tubuh istrinya dari belakang, Langit merasa seolah seluruh oksigen di kamar itu tersedot keluar.

Jantungnya berdentum sangat keras hingga ia takut Senja bisa mendengarnya.

"Astagfirullah, Langit... jaga mata lo!" batinnya menjerit, namun matanya seolah terkunci. Ia baru menyadari betapa indahnya sosok yang kini menjadi istrinya itu.

Saat Senja mulai memakai pakaiannya dengan gerakan cepat, Langit buru-buru memejamkan mata rapat-rapat ketika Senja menoleh ke arahnya.

Senja yang merasa aman kemudian duduk di meja rias. Ia mulai mengoleskan skincare dan mengeringkan rambut panjangnya yang hitam pekat.

Suara mesin hairdryer yang halus memenuhi ruangan, sementara Langit masih mematung di atas kasur dengan mata terpejam rapat, meski otaknya sedang memutar ulang bayangan punggung Senja yang baru saja ia lihat.

Tak lama kemudian, sayup-sayup suara Adzan Maghrib berkumandang dari masjid-masjid di sekitar Malioboro. Senja yang sudah berpakaian rapi dan mulai mengenakan mukenanya, berjalan mendekati ranjang. Ia menyentuh bahu Langit pelan.

"Langit... bangun. Sudah Maghrib. Ayo shalat dulu," ucap Senja lembut.

Langit tersentak bangun, jantungnya hampir melompat keluar. Begitu membuka mata, wajah Senja yang sudah bersih, segar, dan sangat wangi berada tepat di depan matanya. Langit langsung terduduk dengan gerakan kaku, wajahnya memerah padam dan tampak sangat salah tingkah karena teringat aksinya yang pura-pura tidur tadi.

"Eh... iya! Maghrib ya? Oke, saya... saya wudhu dulu!" Langit bicara terbata-bata, hampir tersandung kabel lampu tidur saat melompat dari kasur menuju kamar mandi.

Senja mengerutkan kening heran melihat tingkah suaminya yang tidak biasa. "Kamu kenapa sih, Langit? Mukanya merah banget begitu, kamu sakit panas?"

"Nggak! Ini... AC hotelnya kurang dingin kali! Gerah!" seru Langit dari dalam kamar mandi dengan suara agak tinggi untuk menutupi kegugupannya. Di dalam, ia langsung mengguyur wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berusaha menghapus bayangan "pemandangan" tadi dan menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.

1
Miramira Kalapung
Alurnya cerita nya sangat bagus
yuningsih titin: makasih kak semoga suka
total 1 replies
Siti Amyati
akhirnya lanjut kak
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!