NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlambat

Raka berlari menuju tangga darurat dengan napas tersengal. Kakinya melangkah dua anak tangga sekaligus, tangannya mencengkeram pegangan besi dengan erat. Jantungnya berdegup kencang... bukan karena lelah, tapi karena panik.

Panik yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Nadira!" teriaknya di lorong tangga yang sepi. Suaranya bergema, memantul di dinding beton yang dingin.

Ia terus berlari, turun satu lantai, dua lantai, tiga lantai. Kakinya hampir tersandung beberapa kali, tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanya satu: ia harus mengejar Nadira.

Ia harus menjelaskan.

Ia harus...

Tapi menjelaskan apa?

Bahwa semua yang Nadira dengar itu salah? Bahwa ia tidak bermaksud seperti itu?

Tidak. Itu bohong. Dan Raka tahu itu.

Semua yang ia katakan pada temannya tadi adalah kenyataan. Kenyataan pahit yang selama ini ia sembunyikan di balik senyuman palsunya, di balik janji-janji kosongnya.

Tapi kenapa sekarang ia panik?

Kenapa dadanya sesak seperti ini?

Kenapa ketika melihat wajah Nadira yang hancur tadi, ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut hancur?

Raka tidak mengerti.

Ia sampai di lantai dasar, mendorong pintu darurat dengan keras hingga terbuka lebar. Matanya langsung menyapu lobi apartemen.

Dan ia melihatnya.

Nadira.

Wanita itu baru saja keluar dari lift, berjalan... tidak, hampir berlari menuju pintu keluar. Tubuhnya sedikit membungkuk, satu tangannya memegang perutnya yang besar, tangan lainnya mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

"NADIRA!"

Raka berteriak sekeras yang ia bisa.

Nadira mendengar. Ia menoleh sekilas, hanya sekilas dan mata mereka bertemu.

Mata Nadira penuh air mata. Penuh kepedihan. Penuh kekecewaan yang sudah melampaui batas.

Lalu ia berbalik dan terus berlari keluar.

"NADIRA, TUNGGU!" Raka berlari menyusul, melewati lobi dengan cepat. Beberapa penghuni apartemen yang kebetulan ada di sana menoleh dengan tatapan bingung, tapi Raka tidak peduli.

Ia berlari keluar dari pintu kaca besar apartemen, matanya mencari sosok Nadira.

Dan ia melihatnya... Nadira sedang berlari di trotoar, menuju arah jalan raya.

"NADIRA! PIKIRIN KANDUNGANMU!" teriak Raka lagi, suaranya nyaris putus asa.

Tapi Nadira tidak berhenti.

Ia terus berlari, meski langkahnya tidak stabil. Meski tubuhnya jelas kesakitan. Meski tangannya terus memegang perut yang sudah membesar itu dengan erat.

Raka mempercepat larinya. Jarak di antara mereka semakin dekat, sepuluh meter, lima meter...

Tapi Nadira tiba-tiba membelok, menyeberang jalan raya.

Dan saat itulah Raka melihatnya.

Sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dari arah kiri. Kecepatan tinggi. Tidak ada tanda akan berhenti.

Nadira tidak melihat. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia hanya terus berlari... berlari menyeberang dengan mata yang masih penuh air mata, pikiran yang kacau, hati yang hancur.

Waktu seolah melambat.

Raka melihat semuanya dalam gerakan lambat, mobil itu semakin dekat, Nadira yang masih berlari, jarak yang semakin menyempit...

"NADIRAAAA!"

Teriakan Raka memecah udara.

Tapi terlambat.

BRAKK!

Suara benturan keras menggema di seluruh jalan.

Tubuh Nadira terpental ke udara... terlempar jauh seperti boneka tanpa daya. Ia melayang beberapa meter sebelum jatuh keras ke aspal dengan bunyi yang membuat siapa pun yang mendengar merinding.

Darah.

Darah mulai mengalir... perlahan di awal, lalu semakin deras. Mengalir dari kepalanya, dari lengannya, dari kakinya. Tubuhnya tergeletak di tengah jalan dengan posisi yang tidak wajar.

Tidak bergerak.

Mobil yang menabraknya berhenti beberapa meter di depan. Pengemudinya keluar dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar, matanya membelalak penuh ketakutan.

Tapi Raka tidak melihat pengemudi itu.

Yang ia lihat hanya Nadira.

Nadira yang tergeletak di sana.

Nadira yang berlumuran darah.

Nadira yang tidak bergerak.

"TIDAAAAK!"

Teriakan Raka keluar tanpa sadar... teriakan histeris yang penuh kengerian, penuh penyesalan, penuh kepanikan yang tidak bisa ia kontrol.

Ia berlari... berlari sekencang yang ia bisa menuju tubuh Nadira.

Kakinya hampir tersandung berkali-kali. Napasnya tersengal. Matanya mulai memanas.

Sampai di sana, Raka langsung berlutut di samping Nadira. Tangannya gemetar saat menyentuh tubuh wanita itu, tubuh yang hangat tapi diam, tubuh yang masih bernapas tapi sangat lemah.

"Nadira..." bisiknya dengan suara serak. "Nadira, bangun... kumohon..."

Wajah Nadira penuh luka. Darah mengalir dari pelipis kanannya, membasahi rambutnya yang hitam. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya pendek dan tidak teratur.

Matanya tertutup.

"Nadira, kumohon... buka matamu..." Raka mengangkat kepala Nadira dengan hati-hati, meletakkannya di pangkuannya. Tangannya yang gemetar mengusap darah di wajah Nadira, tapi darah itu terus mengalir.

"Tolong... tolong bangun..." Suara Raka mulai bergetar. "Aku... aku minta maaf... kumohon, jangan seperti ini..."

Orang-orang mulai berkumpul di sekitar mereka. Ada yang menelepon ambulans. Ada yang hanya berdiri menatap dengan wajah horror. Pengemudi mobil yang menabrak Nadira berdiri tidak jauh dari sana, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat.

Tapi Raka tidak peduli dengan semua itu.

Yang ia peduli hanya Nadira.

Nadira yang sekarang tergeletak lemah di pangkuannya.

Nadira yang mungkin...

Tidak. Jangan berpikir seperti itu.

"Nadira, kumohon... tetaplah bersamaku..." bisik Raka lagi, kali ini suaranya benar-benar pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya... air mata yang tidak pernah ia tumpahkan sebelumnya. Tidak untuk siapa pun.

Tapi sekarang, untuk Nadira, air mata itu jatuh tanpa bisa ditahan.

"Aku... aku tidak bisa kehilanganmu..." ucapnya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan orang-orang yang berkumpul. "Kumohon... kumohon jangan tinggalkan aku..."

Ia menatap wajah Nadira yang pucat. Wajah yang biasanya selalu tersenyum untuknya. Wajah yang selalu menyambutnya dengan kehangatan setiap pagi.

Wajah yang sekarang penuh darah dan luka.

Dan di saat itulah... di tengah kekacauan, di tengah suara sirine ambulans yang mulai terdengar dari kejauhan, di tengah teriakan orang-orang, Raka menyadari sesuatu.

Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

Ia mencintai Nadira.

Tidak peduli berapa kali ia berbohong pada dirinya sendiri. Tidak peduli berapa kali ia bilang hubungan mereka hanya main-main. Tidak peduli berapa kali ia menolak menikahi wanita itu.

Kenyataannya adalah: ia mencintainya.

Sangat mencintainya.

Dan ia baru menyadarinya sekarang... ketika wanita itu tergeletak sekarat di pangkuannya.

Ketika semuanya sudah terlambat.

"Aku mencintaimu..." bisik Raka dengan suara serak, air matanya terus mengalir. "Aku mencintaimu, Nadira... Aku bodoh... Aku sangat bodoh..."

Ia menundukkan kepalanya, dahinya menyentuh dahi Nadira yang dingin.

"Kumohon... kumohon bertahanlah..." isak Raka. "Jangan tinggalkan aku... Aku janji akan menikahimu... Aku janji akan jadi ayah yang baik untuk anak kita... Aku janji akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku..."

Tapi Nadira tidak merespons.

Tubuhnya tetap diam.

Napasnya semakin lemah.

Dan darah terus mengalir.

Suara sirine ambulans semakin dekat. Lampu merah-biru berkedip di kejauhan, mendekat dengan cepat.

Orang-orang mulai memberi jalan.

Tapi Raka tidak bergerak. Ia tetap memeluk Nadira, menangis di atas tubuh wanita yang sudah tiga tahun bersamanya. Wanita yang sudah memberikan segalanya untuknya.

Wanita yang ia sia-siakan.

"Maafkan aku..." bisiknya lagi dan lagi. "Maafkan aku, Nadira... Maafkan aku..."

Tapi kata-kata itu terasa begitu hampa.

Karena penyesalan memang selalu datang terlambat.

Dan cinta yang disia-siakan, tidak akan pernah bisa kembali utuh, bahkan ketika orang yang dicintai masih bernapas, tapi tidak tahu kapan akan kembali.

Atau mungkin tidak akan pernah kembali.

Ambulans sampai. Paramedis turun dengan tandu. Mereka berlari mendekat, langsung mengambil alih.

"Pak, kami harus membawanya sekarang!"

Raka tidak mau melepaskan Nadira. Tangannya menggenggam erat tubuh wanita itu.

"Pak, tolong! Nyawanya dalam bahaya!"

Akhirnya Raka melepaskan... perlahan, dengan tangan gemetar.

Ia melihat para medis mengangkat Nadira ke tandu, memasang oksigen, memeriksa nadi, berteriak instruksi satu sama lain dengan cepat.

Raka berdiri di sana, sendirian, dengan tangan yang berlumuran darah Nadira.

Darah wanita yang ia cintai.

Darah wanita yang ia hancurkan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka merasakan apa itu kehilangan.

Kehilangan yang sesungguhnya.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!