Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Langkah Kirana terasa lebih cepat dari biasanya ketika ia menyusuri jalan kecil menuju warung makan milik Dina yang terletak tak jauh dari kantor kecamatan. Matahari belum terlalu tinggi, tapi panasnya sudah menyengat kulit. Keringat tipis membasahi pelipisnya, entah karena cuaca atau karena perasaan tak menentu yang sejak tadi menggerogoti dadanya.
Pesan Dina pagi tadi terngiang kembali di kepalanya.
[Ki, ke warung sebentar, ya. Ada hal penting yang harus aku omongin. Penting banget.]
Tidak ada emotikon. Tidak ada candaan seperti biasanya. Hanya kalimat singkat yang membuat Kirana gelisah sepanjang perjalanan.
Begitu sampai, Kirana melihat Dina berdiri di balik etalase, sedang menyusun piring-piring bersih. Senyum lebar langsung terbit di wajah wanita itu ketika melihat Kirana datang.
Kirana yang sudah mengenal Dina bertahun-tahun bisa menangkap sesuatu yang berbeda di balik senyum itu. Ada ketegangan yang disembunyikan.
Di salah satu sudut warung, Meli duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja. Wajahnya serius, matanya sembap seperti kurang tidur.
“Kirana,” sapa Dina hangat. “Duduk sini, ya.”
Dina menarik kursi, lalu meletakkan tiga gelas teh tawar di atas meja. Suara kursi yang bergeser dan beradu dengan lantai terdengar nyaring di telinga Kirana, membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
“Kita bicara di sini saja,” kata Dina pelan. “Mumpung belum banyak pembeli.”
Kirana mengangguk, lalu duduk. Tangannya reflek menggenggam tali tas kain yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menatap Dina dan Meli bergantian.
Meli menarik napas panjang. Tatapannya kosong sejenak, lalu kembali fokus pada Kirana.
“Mungkin,” ucap Meli akhirnya, suaranya terdengar berat dan tatapannya nanar, “apa yang akan kita bicarakan ini kurang menyenangkan buat kamu, Ki.”
Dada Kirana langsung terasa mengencang.
“Tapi,” sambung Dina cepat, seolah ingin menopang, “kita merasa kamu harus tahu.”
Dina mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Kirana erat. Hangat, tapi gemetar. Seolah Dina yang justru membutuhkan kekuatan.
“Memangnya ada apa?” tanya Kirana. Nada suaranya terdengar tenang, namun hatinya mulai berdebar tak karuan.
Dina dan Meli saling pandang. Ada keraguan yang nyata di antara mereka. Sebuah keraguan yang biasanya muncul sebelum seseorang menyampaikan kabar buruk.
Akhirnya, Dina mengangguk kecil ke arah Meli.
Meli menelan ludah.
“Beberapa waktu lalu, aku pergi ke mal. Sendirian, karena cuma mau cari sandal.”
Kirana diam, menunggu.
“Di sana aku lihat Mas Rafka.”
Jantung Kirana seolah berhenti berdetak sesaat. Sesak dan berat itu yang kini dia rasakan.
“Dia enggak sendiri,” lanjut Meli lirih. “Dia sama kakakmu.”
Udara di sekitar Kirana terasa menipis. Suara di warung mendadak menjauh, seolah ia berada di dalam ruang hampa.
“Mereka jalan bareng,” sambung Meli. “Bukan seperti ipar.”
Meli menunduk, matanya berkaca-kaca,
“Ki, mereka bergandengan tangan. Kadang Mas Rafka merangkul bahu kakakmu. Dan Mbak Kinanti kelihatan nyaman melakukan itu sama suamimu.”
Kirana mematung. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara yang keluar. Tangannya yang digenggam Dina terasa dingin.
“Sepertinya ....” lanjut Dina ikut menimpali, matanya berkaca-kaca, “mereka berselingkuh, Ki.”
Kalimat itu seperti palu godam yang menghantam dada Kirana. Air matanya jatuh tanpa aba-aba. Satu tetes. Lalu dua. Lalu mengalir deras.
“Aku juga sering lihat mereka naik motor bareng,” tambah Dina, suaranya nyaris berbisik. “Kinanti memeluk Mas Rafka erat banget. Seperti orang yang punya hubungan khusus.”
Air mata Kirana jatuh begitu saja. Padahal dia merasa sudah lelah menangis beberapa hari yang lalu. Namun, kini cairan bening itu kembali bercucuran karena sesuatu yang tidak dia sangka. Tangannya gemetar, napasnya tersengal.
“Aku yakin mereka sudah mengkhianati kamu,” kata Meli, nada suaranya tegas, marah, tapi juga penuh kepedihan.
“Ki,” Dina menekan tangan Kirana lebih erat. “Kamu jangan jatuh terpuruk. Kamu enggak pantas nangisin orang-orang yang tega nusuk kamu dari belakang.”
Kirana menggeleng pelan. Dadanya terasa nyeri, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya kuat-kuat.
“Sudah dua minggu ini ....” ucap Kirana dengan suara yang tercekat, “aku tahu.”
Dina dan Meli langsung menatapnya kaget.
“Apa?” seru mereka hampir bersamaan.
“Awalnya aku cuma curiga,” lanjut Kirana lirih. “Hal-hal kecil. Pesan masuk. Waktu yang berubah. Kebohongan kecil yang berulang.”
Kirana mengusap air matanya kasar. “Lalu aku cari tahu. Pelan-pelan. Dan yang aku temukan ....” ucap dia suaranya nyaris hilang, “… hubungan mereka bukan sekadar ipar.”
Meli menutup mulutnya dengan tangan. Dina menggelengkan kepala, tak percaya.
“Gila!” gumam Meli. “Terus kamu diam saja?”
“Bukan diam,” bantah Kirana. “Aku cuma belum punya bukti kuat. Bukti yang enggak bisa mereka patahkan.”
Kirana menatap meja kosong di depannya. “Kalian tahu sendiri Mbak Kinanti seperti apa. Pintar bicara. Pintar memutarbalikkan keadaan. Mas Rafka pun sekarang pandai berbohong.”
Dina menghela napas panjang. “Sial. Jadi kamu sendirian nanggung semua ini.”
Meli mengepalkan tangan. “Kita mata-matai saja mereka. Bergantian. Aku siap.”
Kirana tersenyum pahit. “Aku sudah pernah melakukan itu.”
Istrinya Rafka menegakkan punggung, seolah mengumpulkan sisa tenaga. “Tapi aku enggak bisa mengikuti dan mengawasi mereka seharian. Aku masih harus urus Gita. Belum lagi orang tua dan mertua yang sering datang, minta dimasakan ini-itu. Seolah aku enggak punya pekerjaan.”
Meli dan Dina terdiam. Wajah mereka mencerminkan kemarahan sekaligus iba.
“Selama ini,” lanjut Kirana, “orang-orang lihat rumah tanggaku baik-baik saja. Harmonis. Enggak ada yang tahu kalau aku tidur sambil nangis hampir tiap malam.”
Dina mengusap punggung tangan Kirana perlahan.
“Kalau nanti,” tanya Dina hati-hati, “kamu sudah dapat bukti yang enggak bisa mereka bantah, apa yang akan kamu lakukan?”
Kirana mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi sorotnya mulai tegas.
“Aku ingin berpisah.”
Meli menarik napas tajam.
“Tapi ....” Kirana terdiam sejenak, suaranya melemah, “aku mikirin Gita.”
Kirana tersenyum getir. “Dia dekat banget sama papanya. Dunia dia itu Mas Rafka. Kalau kami berpisah aku enggak tahu bagaimana menjelaskan ke anak sekecil itu kenapa orang tuanya berpisah.”
Dina paham dengan perasaan itu karena dia juga bertahan dengan rumah tangganya karena anak. Dia tidak tega melihat anak-anaknya terluka akan perceraian kedua orang tuanya. Dia berpikir mungkin setelah anak-anaknya mengerti, baru dia akan memilih perpisahan.
“Aku juga bertahan karena anak,” ucap Dina lirih. “Kadang kita lupa bahagia, asal anak-anak kita merasa utuh.”
Meli menatap Kirana penuh empati. “Apa kamu dan Mas Rafka sering bertengkar sekarang?”
“Enggak,” jawab Kirana singkat. “Paling cuma diam-diaman. Dia lebih sering main sama Gita. Seolah menutup rasa bersalah.”
Meli menghela napas. “Aku lihat Gita anak yang cerdas dan mudah memahami sesuatu. Mungkin dengan memberi pengertian kepadanya, dia enggak akan marah jika kamu memilih perceraian, Ki,” kata Meli lagi.
Kirana terdiam lama. Selain kebahagiaan Gita, dia juga memikirkan kesehatan mental anak semata wayangnya itu.
Di benaknya terbayang wajah Gita yang tertawa lepas saat digendong ayahnya. Terbayang Ara—keponakannya—yang mungkin kelak akan dipanggil “adik” oleh Rafka. Terbayang dirinya berdiri di kejauhan, menatap kebahagiaan yang bukan lagi miliknya. Air matanya kembali jatuh.
“Yang paling aku takuti,” ucap Kirana nyaris berbisik, “bukan kehilangan suami.”
Kirana menutup mata, air matanya mengalir di pipinya yang mulus.
“Tapi melihat Rafka jadi ayah untuk anak lain, sementara Gita hanya bisa menatap dari kejauhan.”
Dina dan Meli saling pandang. Tak ada lagi kata yang bisa menjadi penghibur.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏