NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah perdebatan dengan kedua putrinya, kepala Romeo terasa berdenyut hebat. Tekanan demi tekanan membuatnya kian terpuruk. Si kembar memilih pulang bersama Arjuna, yang tak kalah murka padanya, hanya karena mereka bersikeras menolak kehadiran Tania sebagai ibu sambung. Amarah telah membutakan Romeo hingga ia tega meninggikan suara pada darah dagingnya sendiri. Meski sikap kedua bocah itu tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, namun kata-kata kasar jelas bukan sesuatu yang pantas mereka terima dari seorang ayah.

          Sore itu, langkah Romeo membawanya ke sebuah bar milik sahabat lamanya, Edgar. Tempat itu selalu menjadi pelariannya setiap kali benaknya dipenuhi kegelisahan dan tekanan yang tak sanggup ia redam sendiri. Di sanalah Romeo biasanya menenggelamkan resah, berharap alkohol mampu meredam riuh pikirannya, meski hanya untuk sementara.

          “Ada masalah apa lagi? Jangan-jangan Tania bikin suasana kamu seperti ini?” tanya Edgar sambil menatap Romeo penuh selidik.

          “Bukan dia,anak-anak gue yang bikin kepala gue mau pecah.” sahut Romeo singkat.

          “Romeo, mereka bukan sekadar anak kecil. Mereka tumbuh tanpa ibu. Kalau lo bentak, itu bakal berbekas lama di hati mereka.”

          “Lo tahu apa yang bikin gue kehilangan kendali?Mereka minta gue cari ibu buat mereka.” ucap Romeo getir.

          “Lalu letak masalahnya di mana?Atau ini semua masih soal Tania?” Edgar menyipitkan mata, rahangnya mengeras.

          Kenapa sih semua orang seolah punya masalah sama Tania?Bahkan anak-anak gue sendiri ikut-ikutan. Jangan-jangan ada yang sengaja nanamin pikiran buruk ke mereka.” sentak Romeo dingin.

          “Percuma dijelasin pakai cara apa pun, Lo. Bahasa yang jelas saja sering lo abaikan. Gue, Arjuna, sama yang lain nggak pernah nanamkan pikiran buruk ke anak-anak soal Tania. Mereka ngerasa sendiri. Ada sesuatu dari dirinya yang nggak beres dan anak kecil paling cepat nangkap hal begitu.” balas Edgar dingin.

          “Terserah mau lo semua mikir apa,gue sadar Tania itu manja. Tapi itu wajar nggak ada yang aneh dari itu.” sahut Romeo dingin.

          “Udah, cukup soal Tania,gue nggak mau obrolan ini berubah jadi ribut. Sekarang masalah nya apa? Anak-anak lo butuh sosok ibu, dan lo kebetulan punya pasangan. Jadi sebenarnya letak masalahnya di mana?” potong Edgar, berusaha menahan emosi.

          “Persis kayak yang lo bilang,anak-anak nggak mau kalau yang jadi ibu mereka itu Tania. Dan gue kehilangan kendali waktu mereka nyebut dia nenek sihir. Tanpa sadar gue bentak mereka.” ujar Romeo menarik napas berat.

          “Kalau gue jujur,anak-anak lo nggak sepenuhnya salah. Dan ya, gue ada di pihak mereka.” kata Edgar tanpa ragu. 

          “Kurang ajar!” bentak Romeo sambil mengepalkan tangan.

          “Tapi gue beneran ngomong serius,lo harus mulai dengerin ucapan anak-anak lo. Gue mungkin belum nikah, tapi gue pernah ada di posisi mereka. Bokap gue dulu nikah sama perempuan yang gue sama kakak gue nggak pernah terima. Dan tebakan kita bener setelah itu perhatian bokap pelan-pelan hilang.Rumah jadi sering ribut. Hubungan gue, kakak gue, sama bokap hancur perlahan. Emang nggak semua ibu sambung itu jahat, gue nggak menyangkal. Tapi kalau dari awal insting anak lo udah nolak, jangan dipaksa. Yang ngejalanin hidup itu bukan cuma lo. Ada anak-anak lo yang butuh sosok ibu bukan sekadar istri buat ayahnya. Ngerti maksud gue?” lanjut Edgar, nadanya merendah tapi tegas. “

          “Jadi gini maksud lo?Gue mesti ninggalin Tania, lalu nikah sama perempuan pilihan anak-anak gue?” Romeo menatap Edgar tak percaya.

          “Kalau lo nanya ke gue,jawaban gue jelas iya. Emangnya si kembar itu sudah punya sosok yang mereka inginkan?” jawab Edgar tanpa ragu. 

          “Ada. ” jawab Romeo singkat, nadanya berat.

          “Siapa orangnya?” tanya Edgar, sorot matanya mengeras penuh rasa ingin tahu.

          “Namanya Alya,dia cuma karyawan di kedai kakao yang sering didatangi si kembar.” ujar Romeo dengan helaan napas berat.

          Bukan tanpa alasan Romeo dilanda kegelisahan. Sesaat setelah si kembar diantar pulang, ia langsung memerintahkan Satria untuk menyelidiki sosok perempuan bernama Alya. Fakta yang ia terima justru membuat dadanya menghangat Alya masih berstatus mahasiswi, usianya baru menginjak dua puluh satu tahun.

         “Terus gimana? Menarik nggak orangnya?” cecar Edgar sambil menyeringai, alisnya terangkat jahil.

          “Cantik,Tapi tetap Tania masih lebih unggul.” aku Romeo singkat.

          “Dasar,jangan kaget nanti kalau begitu lihat orangnya, lo malah kecewa ternyata jauh lebih menarik.” Edgar terkekeh sinis.

          Usai perbincangan panjang dengan Edgar, Romeo akhirnya mengambil keputusan yang selama ini ia hindari. Ia memilih mengakhiri hubungannya dengan Tania. Entah bagaimana caranya esok hari ia harus berhadapan dengan perempuan itu, ia belum tahu. Satu hal yang pasti, keputusan ini ia ambil bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi kedua putrinya.

          Begitu tiba di rumah, Romeo segera mencari keberadaan si kembar. Ia tak ingin menunda lagi untuk berbicara dengan kedua putrinya waktu bersama mereka sudah terlalu sering terlewat. Apalagi setelah pertengkaran sore tadi. Ia takut, jika keadaan terus dibiarkan seperti ini, si kembar benar-benar akan memilih pindah ke rumah kakek mereka.

          “Hai, sayang papa,kalian sudah terlelap? Papa boleh masuk sebentar?” ucap Romeo lirih.

          Tak ada jawaban yang terdengar, namun dari balik pintu kamar itu Romeo menangkap suara pergerakan pelan seperti ada yang beringsut dan bergegas di dalam.

          Romeo perlahan mendorong pintu kamar yang ternyata tak terkunci. Ia hanya mengintip dari celah sempit, berniat memastikan keadaan. Namun seketika matanya membelalak saat melihat si kembar sibuk memasukkan pakaian ke dalam sebuah tas. Jantungnya berdegup kencang, dan tanpa berpikir panjang ia segera melangkah mendekat ke arah kedua putrinya.

          “Kalian mau pergi ke mana?” tanya Romeo pelan, nada suaranya hangat namun jelas menyimpan kegelisahan.

          “Pergi dari sini. ” sahut Serena pendek, nadanya dingin.

          “Pergi?pergi ke mana maksud kalian?” tanyanya cepat, kepanikan jelas terpancar dari raut wajahnya.

          “Kami mau tinggal sama kakek,di sana kami lebih diperhatikan nggak kayak di sini.Papa terlalu sibuk sama nene sih..... maksudnya Tante Tania.” ucap Selina dingin.

          “Dengerin papa sebentar,jangan ambil keputusan besar saat perasaan kalian lagi panas begini.” ujar Romeo menahan napas.

          “Papa juga sama,karena emosi sesaat, papa sampai bentak kami.” sela Serena tajam.

          “Papa salah,kalian mau nggak memaafkan papa?” ucap Romeo lirih.

          “Itu tergantung,kalau papa nurutin permintaan kami, kami maafin. Tapi kalau nggak kami pamit. Kami pilih tinggal sama kakek.” jawab Serena ringan seolah tak sedang membicarakan hal besar. 

          Tak bisa dimungkiri, si kembar tumbuh dengan kebijaksanaan yang tak sepadan dengan usia mereka. Justru Romeo lah yang dituntut untuk berlapang dada dan menenangkan hatinya setiap kali perdebatan dengan kedua putrinya tak terelakkan.

          “Papa bersedia menikah dengan perempuan yang kalian pilih, uma satu hal belum tentu dia mau menikah sama papa.” kata Romeo pelan. 

          “Soal Tante Alya itu gampang, Pa.Kami berdua sudah pernah bilang ke dia supaya jadi ibu kami sekaligus istri papa. Tapi dia cuma ketawa dan bilang kami ngelantur.Tenang aja, Selina janji Selina bakal bikin Tante Alya berubah pikiran.” kata Selina bersemangat. 

          “Serena juga,serena pasti bisa bikin Tante Alya nerima papa.Kalau papa bohong, biar Tuhan yang hukum.” Serena menatap papanya. 

          “Papa ikut apa pun keputusan kalian,yang penting kalian mau memaafkan papa.” ucap Romeo lirih.

          “Baiklah,kami maafkan papa.” ujar mereka serempak. 

          Keesokan harinya, Romeo dibuat kelimpungan menghadapi Tania yang tak mampu menerima keputusan perpisahan itu. Emosi perempuan tersebut meledak, sementara Romeo hanya bisa berusaha menenangkannya, meski dadanya sendiri terasa sesak.

          “Semudah itu kamu ngomong putus?Aku nggak terima! Anak-anak kamu sudah keterlaluan!” bentak Tania histeris.

          “Aku minta maaf,nak-anak menginginkan wanita lain. Aku sendiri nggak pernah menyangka semuanya bakal berakhir seperti ini.” ujar Romeo mencoba menenangkan.

          Tania menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan kata-kata kasar agar tak meluncur menyasar kepada anak-anak Romeo. Dengan susah payah ia menjaga diri, meski dadanya dipenuhi amarah dan kecewa. Ketakutan terbesarnya kini benar-benar menjadi nyata.

          “Aku nggak mau hubungan ini selesai,kalau kamu mau menikah dengan perempuan itu, silakan. Tapi jangan akhiri kita.” ucap Tania menahan emosi. 

          Perasaan Romeo pada Tania ternyata belum sepenuhnya padam. Di tengah keraguannya, ia akhirnya mengalah dan mengabulkan permintaan perempuan itu, meski hatinya sendiri tak lagi utuh dengan keputusan tersebut.

          Sebulan berselang, setelah rangkaian persiapan yang serba singkat dan terburu-buru, Romeo dan Alya akhirnya resmi menjadi suami istri. Pernikahan itu disambut bahagia oleh si kembar, senyum mereka merekah tanpa beban. Namun kebahagiaan yang seharusnya turut dirasakan Alya justru meredup seketika, tepat saat ia melangkah ke dalam kamar pengantin dan menyadari kenyataan pahit yang menantinya.

          “Aku menikah denganmu semata-mata karena anak-anakku,selama lima tahun. Setelah itu, kita berpisah. Aku tidak mencintaimu.Aku sudah punya perempuan lain seseorang yang menurutku lebih layak menjadi ibu untuk mereka. Jadi jangan berharap apa pun dariku. Di depan anak-anak, kita hanya perlu terlihat baik-baik saja. Selebihnya, jaga jarak.Dan satu hal lagi jangan tidur sekamar denganku. Kamu paham?” ucap Romeo tanpa emosi.

          “Baik.” jawab Alya pelan, suaranya nyaris tak terdengar, menahan luka yang tiba-tiba mengendap di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!