"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Maya dan Pelajaran Matematika
Maya dan pelajaran matematika seolah menjadi dua hal yang sangat mustahil untuk disatukan di tengah kekacauan markas komando yang mencekam. Gadis itu terduduk lemas di atas lantai ruang rahasia yang sempit sambil memandangi lembar jawaban yang penuh dengan coretan tinta hitam. Dia mencoba menghitung variabel variabel rumit namun telinganya justru menangkap suara derap sepatu laras yang berlarian di lorong luar.
"Kenapa soal logaritma ini terasa jauh lebih sulit daripada menghadapi ancaman musuh yang sedang mengintai di luar sana?" keluh Maya Anindya dengan napas yang memburu.
Pintu lemari buku yang menjadi pintu rahasia itu tiba-tiba terbuka sedikit hingga cahaya lampu neon masuk menyinari wajahnya yang pucat. Arga Dirgantara muncul dengan nafas yang masih terengah-engah serta wajah yang penuh dengan sisa debu akibat pemeriksaan area luar. Lelaki itu tidak segera mengajak istrinya keluar melainkan justru mengambil kertas tugas yang tergeletak di samping kaki Maya.
"Jika kamu tidak bisa menyelesaikan perhitungan sederhana ini maka kamu tidak akan pernah bisa membaca koordinat serangan dengan benar," ucap Arga Dirgantara sambil memperbaiki letak kacamata bacanya.
Maya menatap suaminya dengan tatapan yang sangat tajam sekaligus penuh dengan rasa tidak percaya yang sangat mendalam. Di tengah situasi darurat yang baru saja terjadi pria itu justru sempat memikirkan ketepatan jawaban tugas sekolahnya. Gadis itu merebut kembali kertasnya dengan gerakan yang sangat kasar sambil menunjukkan kekesalannya yang sudah mencapai puncak.
"Kita baru saja hampir diserang oleh penyusup rahasia tetapi Anda malah peduli pada nilai matematika saya?" tanya Maya Anindya dengan nada yang meninggi.
Arga tidak menjawab melainkan justru duduk di lantai beton yang dingin tepat di hadapan istrinya yang sedang emosi. Dia mengambil sebuah pensil kayu lalu mulai menuliskan rumus penyelesaian yang sangat rapi serta sistematis di sudut kertas yang kosong. Cahaya lampu yang berkedip kedip menciptakan bayangan yang sangat dramatis pada gurat wajah sang perwira yang tampak sangat serius.
"Matematika adalah dasar dari segala logika strategi militer yang harus kamu kuasai agar tidak mudah dijebak oleh siapa pun," tegas Arga Dirgantara tanpa menoleh sedikit-pun.
Maya terdiam saat melihat jemari suaminya yang kasar namun sangat lincah dalam menguraikan angka angka yang tadinya sangat membingungkan. Dia merasakan sebuah ketenangan yang sangat aneh mulai menjalar di dalam dadanya meskipun suara sirine masih terdengar sayup sayup. Ternyata di balik seragam hijaunya yang sangat kaku pria itu memiliki kecerdasan yang sangat mengagumkan bagi seorang prajurit lapangan.
"Apakah Anda dulu juga belajar di tengah suara ledakan bom saat masih berada di akademi militer?" tanya Maya Anindya dengan suara yang lebih lembut.
Lelaki itu menghentikan gerakannya sejenak lalu menatap mata Maya dengan sebuah sorot mata yang penuh dengan kenangan pahit masa lalu. Dia segera bangkit berdiri dan merapikan seragamnya yang sedikit berantakan sebelum menarik istrinya untuk keluar dari ruang persembunyian. Suasana di ruang kerja komando kini sudah jauh lebih tenang namun tetap ada sisa ketegangan yang menggantung di udara.
"Sekarang kembalilah ke kamar dan istirahatlah karena mulai besok hidupmu akan lebih sulit karena Arga yang mulai mengawasi," bisik Arga Dirgantara sambil mengunci kembali lemari rahasia tersebut.
Maya berjalan menuju kamarnya dengan membawa beban pikiran yang jauh lebih berat daripada sekadar tugas sekolah yang belum selesai. Dia merasa bahwa perhatian Arga mulai bergeser dari sekadar kontrak pernikahan menjadi sebuah pengawasan yang sangat ketat serta mendalam. Rasa takut mulai menyelimuti hatinya saat dia menyadari bahwa setiap gerak geriknya tidak akan pernah lepas dari pantauan sang letnan.