NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Freya mengerjapkan mata ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Ia menggeliat kecil, tapi tubuhnya terkunci oleh tangan kekar bertato milik Shankara.

"T-Tuan ..." Freya memanggil rendah, nyaris tak terdengar. Ia sungguh takut Shankara marah karena ia mengganggu tidurnya.

"Apa?" Di belakangnya, Shankara menyahut.

"I-Ini sudah pagi."

"Terus?" Shankara malah mengeratkan pelukannya di tubuh Freya yang tanpa sehelai benang pun.

"A-Aku ... mau mandi," cicit Freya takut-takut.

"Nanti saja. Aku masih betah memelukmu, Freya." Shankara membenamkan wajahnya di tengkuk Freya, lalu tanpa terduga, lelaki itu menjilat dan menyesap tengkuk putih itu.

"Ahh ..." Refleks Freya mendesah. Mencengkeram lengan Shankara yang tahu-tahu turun ke antara dua pahanya dan menelusupkan jemarinya ke sana.

"Aku masih mau kamu, Freya. Mari kita lanjutkan kegiatan tadi malam."

Freya membola mata. Di saat ia ingin menjauh dan melupakan perasaan lancangnya pada Shankara ... lelaki yang delapan belas tahun lebih tua dari dirinya itu, malah terus mengajaknya berhubungan mesra.

"T-Tuan ... akh ..." Kedua mata Freya terpejam erat ketika jemari Shankara mengobrak-abrik jalan lahirnya.

"Ini pemanasan. Setelahnya ... milikku lah yang akan mengobrak-abrik milikmu seperti tadi malam," desis Shankara sambil mempercepat gerakan jarinya.

______

Pitaloka terjaga dengan jantung berdebar tak karuan. Cahaya matahari menembus celah tirai apartemennya, tapi bukannya memberi rasa hangat, sinar itu justru membuat kepalanya berdenyut lebih keras.

Matanya perih, tubuhnya lemas, dan ada rasa gelisah yang merayap tanpa ampun, seolah sesuatu mencengkeram dadanya dari dalam.

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah gontai. Di meja kecil samping tempat tidur, botol pil penenang tergeletak miring ... kosong.

Pitaloka memungutnya, mengguncang-guncang botol itu, berharap masih ada satu butir tersisa.

Namun tidak ada. Hanya bunyi plastik kosong yang memantul, mengejek. "Habis ..." gumamnya panik.

Tangannya mulai gemetar. Napasnya tak beraturan, keringat dingin membasahi pelipis. Pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka kecil.

Ia tahu betul gejala ini. Tubuhnya menuntut asupan yang sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya.

Tanpa berpikir panjang, Pitaloka meraih ponsel di meja.

Nama Sherly muncul di layar. Ia menekan tombol panggil dengan jari yang nyaris tak bisa diam.

Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Pitaloka berjalan mondar-mandir di kamar, menggigit bibir, menahan dorongan untuk berteriak.

"Halo?" suara Sherly terdengar, masih terdengar mengantuk.

"Sher ..." Pitaloka langsung bicara, suaranya serak dan bergetar. "Maaf aku nelepon pagi-pagi. Aku ... butuh banget."

"Pit? Kamu kenapa? Butuh apa?" Sherly seketika terjaga. Ada kekhawatiran yang langsung menyusup di suaranya.

Pitaloka menutup mata, menyandarkan punggung ke dinding. "Aku kehabisan pil," katanya lirih tapi jelas. "Aku nggak enak badan. Kepala aku sakit, dada aku sesak. Aku nggak bisa fokus apa-apa."

Di seberang sana, Sherly terdiam. Ia sudah menduga hari ini akan datang juga. Sejak Pitaloka mulai bergantung pada pil penenang itu, pagi atau malam tak lagi punya batas. "Butuh berapa?" tanya Sherly akhirnya, nada suaranya berat.

"Dua botol," jawab Pitaloka cepat. Terlalu cepat. "Cepetan ya, Sher. Tolong. Aku udah nggak kuat."

Sherly mengusap wajahnya sendiri, mencoba menimbang. "Iya. Nanti aku ke sana."

Telepon terputus. Pitaloka menurunkan ponselnya perlahan. Lututnya melemas, tubuhnya merosot ke lantai dingin apartemen.

Pagi itu, di bawah cahaya matahari yang seharusnya memberi harapan, Pitaloka hanya bisa menunggu ... bukan untuk sembuh, melainkan untuk satu dosis ketenangan palsu yang sudah terlanjur mengikatnya.

Apartemen itu terasa semakin sempit. Detik menjelma menjadi menit, menit menjelma menjadi jam. Ia mondar-mandir tanpa arah, kadang berhenti di depan pintu kamar, kadang kembali ke sofa, lalu berdiri lagi seolah lupa apa yang ingin ia lakukan.

Jantungnya berdentum keras, telinganya berdengung, dan telapak tangannya basah oleh keringat. "Sherly lama banget sih ..." gumamnya berulang-ulang, seperti mantra yang tak pernah berhasil menenangkan.

Tangannya gemetar saat meraih segelas air, tapi baru satu teguk, perutnya terasa mual. Gelas itu diletakkan kembali dengan bunyi beradu yang kasar.

Pitaloka menekan pelipisnya, mencoba mengusir rasa pening yang makin menjadi. Kepalanya penuh, pikirannya melompat-lompat tak beraturan ... potongan ingatan, suara orang-orang, rasa takut yang tak bisa ia jelaskan.

Ia berjalan ke kamar mandi, lalu berhenti di ambang pintu. Cermin besar memantulkan wajahnya yang pucat, mata cekung, rambut berantakan.

Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri.

"Aku cuma capek," katanya pada bayangannya sendiri. "Cuma capek ... bentar lagi juga segar kembali."

Namun tubuhnya tak mau mendengar. Kakinya terasa lemas, dan lututnya hampir menyerah.

Dengan sisa tenaga, Pitaloka membuka keran bathtub. Air mengalir, awalnya dingin, lalu ia memutarnya hingga hangat.

Uap tipis mulai memenuhi ruangan, menciptakan kabut yang membuat segalanya terasa jauh dan samar.

Pitaloka melepas pakaiannya asal-asalan, lalu melangkah masuk ke dalam bathtub. Begitu tubuhnya terendam, ia menghela napas panjang, seolah air itu bisa menyerap seluruh kegelisahan dari pori-porinya.

Kepalanya ia sandarkan ke tepi bak, mata terpejam rapat. "Tenang ... tenang ..." bisiknya, meski suaranya sendiri terdengar asing.

Namun ketenangan itu tak datang. Justru pikirannya semakin kacau. Kata-kata keluar tanpa arah, terpotong-potong, bercampur antara masa lalu dan sekarang. "Aku nggak mau begini ... aku cuma mau tidur ... sebentar aja ... kenapa ribut semua di kepala?"

Jarinya mencengkeram sisi bathtub. Air yang hangat terasa berputar, seakan ruangan ikut bergoyang. Pitaloka tertawa kecil, tapi tawanya kosong, nyaris seperti orang kebingungan. "Lucu ya ... pagi-pagi begini ... harusnya sarapan ... bukan berendam."

Ia menggumamkan nama-nama, entah siapa. Kadang terdengar seperti permintaan maaf, kadang seperti keluhan, kadang hanya rangkaian kata yang tak membentuk makna.

Air mata bercampur dengan air bak, sulit dibedakan mana yang jatuh karena sakit, mana karena lelah.

Di luar kamar mandi, suara kota pagi mulai terdengar samar ... klakson jauh, langkah kaki tetangga, kehidupan yang terus berjalan tanpa menunggunya.

Pitaloka sama sekali tak peduli. Dunia terasa jauh, terpisah oleh dinding tipis dan kepalanya yang kacau. "Sher ... cepetan," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ia menengadah, menatap langit-langit kamar mandi yang buram oleh uap. "Aku menunggumu ... aku di sini ..."

Tubuhnya meringkuk sedikit di dalam bathtub, seolah kembali menjadi anak kecil yang mencari rasa aman. Pagi itu, di antara air hangat dan racauan yang tak jelas, Pitaloka bertahan dengan satu hal saja ... harapan tipis bahwa ketukan pintu Sherly akan segera terdengar, sebelum pikirannya benar-benar runtuh.

Bunyi bel apartemen memecah sunyi kamar mandi.

Pitaloka tersentak. Jantungnya yang sejak tadi berdegup tak beraturan mendadak melonjak keras, seolah ingin meloncat keluar dari dada.

Matanya membelalak, lalu senyum lebar ... hampir histeris terbit di wajahnya.

"Itu Sherly ..." katanya lirih, nyaris berbisik, tapi penuh keyakinan. "Akhirnya ia datang juga."

Tanpa berpikir panjang, Pitaloka berdiri terlalu cepat. Air bathtub muncrat ke lantai, membuatnya hampir terpeleset. Ia tersadar sebentar oleh dinginnya udara yang menyentuh kulit basahnya, tapi rasa tak nyaman itu kalah oleh euforia yang mendadak membanjiri tubuhnya.

Tangannya gemetar saat meraih handuk, melilitkannya asal di tubuh. Rambutnya masih meneteskan air, tapi ia tak peduli. Pitaloka berlari keluar dari kamar mandi, langkahnya tergesa, napasnya terengah-engah, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam.

"Sherly! Aku datang!" serunya dengan suara yang terdengar terlalu ceria untuk kondisi dirinya.

Bel kembali berbunyi, kali ini lebih lama. Pitaloka tertawa kecil, perasaannya melambung tinggi. "Iya ... iya ... sebentar. Aku buka sekarang ..." gumamnya sambil memutar kunci pintu dengan tangan yang masih bergetar.

Begitu pintu terbuka ... senyumnya membeku.

Di ambang pintu berdiri sosok yang sama sekali tak ia duga. Bukan Sherly. Bukan wajah sahabat yang ia tunggu-tunggu seperti penyelamat.

Pitaloka terpaku, matanya menatap lurus, napasnya tercekat di tenggorokan.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!