Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Nyai Salmah menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya.
"Iya, iya, Umi ikut. Tunggu sebentar, Umi ganti pakaian dulu," ucapnya dengan nada yang jauh lebih rendah.
Ada gurat malu di wajahnya, namun ajakan Lilis dan suaminya tak sanggup ia tolak kali ini.
Tak butuh waktu lama, mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit.
Di sepanjang jalan, Nyai Salmah hanya terdiam sambil meremas tangannya sendiri, membayangkan bagaimana ia harus menghadapi Yudiz dan Rani setelah semua makian yang ia lontarkan tadi pagi.
Sesampainya di depan pintu kamar rawat, suasana terasa hening. Yudiz sedang duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Rani yang masih tertidur pulas.
Begitu pintu terbuka, Yudiz langsung berdiri dengan sigap.
Matanya menatap tajam ke arah ibunya, tubuhnya otomatis memposisikan diri seolah menjadi tameng bagi Rani.
"Kalau Umi ke sini hanya untuk bertengkar atau memaksa Yudiz lagi, maaf Umi. Lebih baik Umi pulang. Yudiz tidak mau Rani terganggu," ucap Yudiz dengan nada dingin dan waspada.
Mendengar itu, pertahanan Nyai Salmah runtuh. Ia tidak membalas dengan amarah.
Sebaliknya, ia melangkah cepat dan langsung menghambur memeluk tubuh putranya dengan erat. Tangisnya pecah seketika di dada Yudiz.
"Maafkan Umi, Nak. Maafkan Umi," isak Nyai Salmah sesenggukan.
"Umi egois, Umi buta. Umi hampir kehilangan anak Umi sendiri karena membela orang yang salah. Maafkan Umi, Yudiz."
Yudiz terpaku. Tubuhnya yang tadi tegang perlahan mulai lemas. Ia tidak menyangka ibunya akan datang dengan permohonan maaf yang begitu tulus.
Perlahan, Yudiz membalas pelukan ibunya, menyandarkan dagunya di kepala sang ibu sambil memejamkan mata. Rasa sesak di dadanya sedikit terangkat.
Kyai Abdullah dan Lilis hanya berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca, bersyukur melihat gunung es di antara ibu dan anak itu mulai mencair.
Rani yang terusik oleh suara tangis, perlahan membuka matanya.
Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan kesadaran, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah ibu mertuanya yang sedang menangis di pelukan suaminya.
"Umi...?" lirih Rani dengan suara yang sangat lemah.
Nyai Salmah melepaskan pelukannya dari Yudiz, lalu melangkah perlahan menuju sisi tempat tidur Rani.
Matanya yang sembap menatap wajah pucat menantunya itu dengan perasaan bersalah yang amat dalam.
Tanpa diduga, Nyai Salmah duduk di kursi samping ranjang dan menggenggam tangan Rani yang bebas dari infus.
"Rani... Nak..." suara Nyai Salmah bergetar hebat.
"Maafkan Umi, ya? Umi sudah jahat sekali sama kamu. Umi sudah tutup mata sama ketulusan kamu. Maafkan Umi karena hampir membuat kamu celaka..."
Tangis Nyai Salmah kembali pecah, ia menunduk sambil menciumi tangan Rani.
Suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat mengharukan. Yudiz, Kyai Abdullah, dan Lilis hanya bisa terdiam menyaksikan momen langka tersebut.
Rani tersenyum tipis, meski tubuhnya masih lemas.
Ia mengusap punggung tangan ibu mertuanya dengan ibu jarinya, mencoba menenangkan wanita yang selama ini ia segani itu.
"Sudah, Umi. Jangan menangis lagi," ucap Rani lembut. Ia sempat melirik ke arah Yudiz yang menatapnya penuh cinta, lalu kembali menatap Nyai Salmah dengan binar nakal yang mulai kembali muncul di matanya.
"Kalau Umi nggak berhenti menangis, nanti kalau Rani sudah sembuh, Rani bakal bonceng Umi pakai motor balap. Rani ajak Umi standing dan balapan di sirkuit, mau?" canda Rani sambil terkekeh pelan.
Seketika, tangis Nyai Salmah terhenti. Ia mendongak, terkejut sekaligus gemas mendengar ancaman konyol dari menantunya yang baru saja melewati masa kritis itu.
"Hish! Kamu ini!" Nyai Salmah langsung menjulurkan tangannya dan mencubit pipi Rani dengan gemas, namun penuh kasih sayang.
"Masih sakit begini sudah berani-beraninya mau bikin Umi serangan jantung! Kamu itu menantu Kyai, bukan pembalap liar!"
Gelak tawa pecah di dalam kamar rawat itu. Yudiz tertawa lega melihat keceriaan istrinya kembali, sementara Kyai Abdullah tersenyum lebar melihat hubungan istri dan menantunya akhirnya mencair.
"Nah, kalau begini kan enak lihatnya," ujar Kyai Abdullah sambil mendekat.
"Ayo Lis, keluarkan pisang gorengnya. Kita makan sama-sama sebelum dingin."
Melihat suasana yang sudah mulai mencair, Yudiz merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan rencananya agar Rani bisa benar-benar pulih dari traumanya.
"Umi, Abi. Setelah Rani diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Yudiz berencana mengajak Rani ke Bali. Yudiz ingin Rani istirahat total dan mencari suasana baru yang tenang," ujar Yudiz sambil merangkul pundak istrinya.
Nyai Salmah yang sedang mengupas pisang goreng langsung mengangguk mantap.
"Umi setuju, Nak. Memang Rani butuh hiburan. Pergilah, jangan pikirkan urusan pondok dulu."
"Iya, Yudiz. Abi juga setuju. Tapi ada satu syarat dari Umi," sela Nyai Salmah sambil menatap Rani dengan senyum penuh arti.
"Pulangnya nanti, harus bawa kabar gembira ya. Bawakan cucu buat Umi, biar rumah kita jadi ramai."
Rani yang sedang minum air putih langsung tersedak.
Wajahnya yang tadinya pucat seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus. Karena gugup dan malu digoda seperti itu, Rani menjawab tanpa berpikir panjang.
"Aduh Umi,.kan Rani baru dua kali melakukannya sama Abi," ucap Rani keceplosan.
Seketika, ruangan itu menjadi hening selama dua detik sebelum akhirnya meledak.
Yudiz membelalakkan mata, ia langsung menepuk dahinya sendiri dan menggelengkan kepala dengan pasrah.
"Rani, sayang. Nggak usah sedetail itu juga jelasinnya," bisik Yudiz sambil menahan tawa sekaligus malu.
Kyai Abdullah yang biasanya berwibawa langsung tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang pinggiran ranjang.
Lilis bahkan sampai menutup mulutnya, tertawa geli melihat kepolosan kakak iparnya itu.
"Hahaha! Rani, Rani... kamu ini jujur sekali!" seru Kyai Abdullah di sela tawa.
Nyai Salmah pun tak bisa menahan tawa. Ia mencubit gemas lengan Rani lagi.
"Ya Allah, kamu ini polos apa bagaimana, Nak? Maksud Umi itu doa, bukan minta laporan jumlahnya!"
Rani langsung menarik selimutnya sampai menutupi hidung, merasa ingin menghilang dari sana karena malu yang luar biasa.
"Duh, mulut ini, kenapa nggak bisa direm sih," gumamnya di balik selimut yang membuat semua orang semakin tertawa.
Gelak tawa perlahan menyurut seiring dengan hari yang mulai beranjak malam.
Kyai Abdullah berdiri, merapikan jubahnya, sementara Lilis sibuk membereskan wadah makanan yang sudah kosong.
Nyai Salmah mengelus lembut kepala Rani sebelum benar-benar berdiri.
"Sudah malam, kami pulang dulu ya. Kamu istirahat yang banyak, jangan mikir balapan dulu, mikir sehat saja," ucap Nyai Salmah dengan nada yang kini sangat keibuan.
Namun, saat sampai di ambang pintu, Nyai Salmah menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Yudiz dan Rani dengan kerlingan mata yang penuh rahasia.
"Yudiz, ingat pesan Umi tadi. Jangan lupa, pulangnya bawa cucu untuk Umi!" seru Nyai Salmah sambil tersenyum lebar.
Rani yang tadinya sudah mulai tenang, kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Umiii... sudah, jangan dibahas lagi," rengeknya dengan suara terendam bantal, membuat Lilis dan Kyai Abdullah kembali terkekeh geli.
"Assalamu’alaikum!" seru mereka bertiga serempak sambil melambaikan tangan.
"Wa’alaikumussalam," jawab Yudiz dan Rani bersamaan.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana kamar kembali sunyi, namun kini terasa jauh lebih hangat dan ringan.
Yudiz mendekati Rani, menarik perlahan bantal yang menutupi wajah istrinya. Ia melihat wajah Rani yang masih merah padam.
"Dua kali, ya?" goda Yudiz dengan nada suara rendah yang jahil.
"Abi! Jangan ikutan! Aku tadi itu gugup, makanya asal ngomong," protes Rani sambil mencubit pinggang Yudiz.
Yudiz tertawa kecil, lalu mengecup kening Rani lama.
"Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih sudah mau memaafkan Umi. Abi janji, di Bali nanti, kita benar-benar akan memulai semuanya dari awal."
Rani tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Yudiz. Namun, di tengah kedamaian itu, Yudiz merasakan getaran ponsel di saku celananya.
Ia teringat pesan tentang Laila yang menghilang dari kamarnya di pondok.
Langkah kaki Kyai Abdullah, Nyai Salmah, dan Lilis terhenti di lobi rumah sakit yang mulai sepi.
Tiba-tiba, seorang pemuda bertubuh tegap dengan kemeja rapi melangkah mendekat.
Sosok itu tak asing lagi bagi keluarga mereka; Galang, sahabat Yudiz yang juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Assalamu’alaikum, Kyai, Nyai," sapa Galang dengan sopan sambil menundukkan kepala dan mencium tangan Kyai Abdullah.
"Wa’alaikumussalam. Eh, Nak Galang. Mau menjenguk Rani?" tanya Kyai Abdullah ramah.
"Tadi rencananya begitu, Kyai. Tapi sepertinya sudah terlalu malam untuk bertamu ke kamar rawat. Takut mengganggu istirahat Rani," jawab Galang.
Matanya kemudian melirik ke arah Lilis yang berdiri di samping Nyai Salmah. Lilis tampak sedikit salah tingkah, ia menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.
Galang memberanikan diri menatap Kyai Abdullah.
"Mohon maaf sebelumnya, Kyai. Jika Abi mengizinkan, bolehkah saya mengajak Lilis makan malam sebentar? Kebetulan ada kafe yang masih buka di dekat sini. Saya janji, jam sembilan tepat Lilis sudah saya antar pulang ke pondok dengan selamat."
Nyai Salmah melirik ke arah suaminya, lalu ke arah putri bungsunya.
Ia melihat ada rona tipis di pipi Lilis. Setelah ketegangan sepanjang hari, Nyai Salmah merasa Lilis juga butuh sedikit hiburan.
Kyai Abdullah terdiam sejenak, menatap Galang dengan pandangan menyelidik yang penuh wibawa namun tenang.
Ia tahu Galang adalah pemuda yang jujur dan sangat menghormati keluarganya.
"Ya sudah," Kyai Abdullah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Abi izinkan. Jaga Lilis baik-baik, Nak Galang. Ingat janjimu, jam sembilan dia sudah harus sampai di rumah."
"Alhamdulillah, terima kasih, Abi," jawab Galang dengan wajah sumringah.
Lilis mendongak, matanya berbinar. "Lilis pergi sebentar ya, Abi, Umi."
"Iya, jangan pulang telat. Dan jangan makan yang aneh-aneh," pesan Nyai Salmah sambil melambaikan tangan melihat Lilis berjalan beriringan dengan Galang menuju parkiran.
Di dalam motor Galang, suasana terasa sedikit canggung namun manis.