NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Meja kerja itu dingin di bawah telapak tangan Freya. Permukaannya licin, berkilau oleh cahaya lampu gantung yang temaram, kontras dengan napasnya yang mulai tak beraturan.

Ruang kerja Shankara yang biasanya terasa seperti ruang strategi kini berubah menjadi ruang tanpa jalan keluar.

Shankara berdiri di hadapannya, begitu dekat hingga Freya bisa mencium aroma parfum mahal yang selalu melekat pada pria itu, aroma yang kini justru membuat dadanya terasa sesak.

Tatapan mereka bertaut.

Freya berusaha membaca wajah Shankara, mencari celah kelembutan atau setidaknya keraguan. Namun yang ia temukan hanya keyakinan penuh kendali. Seolah malam ini hanyalah kelanjutan dari keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum ia melangkahkan kaki ke rumah itu.

"Lihat aku," ujar Shankara pelan. Freya menurut. Ia selalu menurut. Jari pria itu menyentuh dagunya, mengangkat wajah Freya sedikit.

Sentuhan itu tidak kasar, justru terlalu tenang dan itulah yang membuatnya lebih menakutkan. Freya merasa dirinya seperti bidak yang diposisikan dengan presisi. "Semua ini berjalan karenamu," lanjut Shankara. "Zainal Buana tidak akan sadar sampai semuanya terlambat."

Freya tak menjawab. Kata-kata terasa tak berguna. Ia tahu, setiap keberhasilannya hari ini dibayar dengan harga yang tak pernah tertulis di atas kertas perjanjian mana pun.

Shankara mendekat. Jarak yang tersisa menghilang. Freya memejamkan mata saat pria itu kembali menyentuh bibirnya, kali ini lebih lama, lebih dalam maknanya. Bukan sekadar sentuhan, melainkan pernyataan bahwa malam ini ia sepenuhnya berada dalam lingkaran kuasa Shankara.

Ia ingin mundur.

Namun tubuhnya diam.

Di dalam kepalanya, Freya berusaha mengingat alasan ia bertahan sejauh ini. Tentang dendam yang ingin ia lunasi. Tentang masa depan yang ia yakini akan lebih baik setelah semua ini selesai. Tentang keyakinannya bahwa ia cukup kuat untuk melewati apa pun termasuk malam ini.

Shankara membisikkan namanya. Suaranya rendah, nyaris lembut, namun tetap sarat kepemilikan.

Freya membuka mata dan mencengkeram kedua bahu lebar Shankara ketika lelaki itu menerobos masuk ke inti tubuhnya. Desahan nyaris keluar, tapi Freya menahannya.

Langit-langit ruang kerja itu terasa berputar. Lampu-lampu tampak kabur oleh genangan yang tak ia izinkan jatuh. Ia menatap sisi wajah Shankara, rahangnya yang tegas, ekspresi puas yang tak ia pahami sepenuhnya dan mungkin tak ingin ia pahami.

Waktu melambat.

Jam dinding terus berdetak, namun Freya merasa seolah dunia di luar ruangan itu berhenti bergerak. Yang ada hanya dirinya, meja kerja itu, dan gerakan Shankara yang terus maju mundur mengerjai tubuhnya.

Ketika akhirnya Freya kembali menarik napas panjang, dadanya terasa berat. Ia menoleh ke arah jendela besar di sudut ruangan, melihat pantulan dirinya sendiri di kaca ... gadis sembilan belas tahun yang tampak jauh lebih dewasa dari seharusnya yang kini sedang menjadi alat pemuas bagi pria dewasa, yang pantas menjadi om-nya.

Shankara tidak memberi Freya waktu untuk benar-benar menenangkan diri. Tangannya kembali menggenggam pergelangan gadis itu, membawanya keluar dari ruang kerja, menyusuri lorong panjang yang diterangi lampu dinding berwarna keemasan.

Setiap langkah terasa semakin berat, seolah Freya berjalan menuju ruang yang sudah ia ketahui ujungnya, namun tak punya keberanian atau kuasa untuk menghindar. Setidaknya ia harus patuh untuk saat ini, tapi jika dendamnya sudah terbalas, ia akan pergi dari kehidupan Shankara.

Pintu kamar tertutup di belakang mereka dengan bunyi lirih yang terdengar terlalu final.

Kamar itu luas, rapi, dan dingin. Tirai tebal menutup jendela, memutuskan dunia luar sepenuhnya. Freya berdiri kaku di tengah ruangan, punggungnya yang polos menegang saat Shankara berada tepat di belakangnya.

Ia bisa merasakan keberadaan pria itu tanpa perlu menoleh ... napasnya, langkahnya, dan bayangan yang menelan tubuh Freya perlahan.

"Tenang," suara Shankara rendah, nyaris berbisik. Bukan untuk menenangkan, melainkan memastikan Freya tetap berada di tempatnya. "Kita lanjutkan di sini."

Freya memejamkan mata. Ia tahu, kata itu tidak memberi pilihan.

Sentuhan itu datang dari belakang ... mendadak, menuntut, membuat Freya tersentak. Tubuhnya menegang, jemarinya refleks mencengkeram kain seprai di hadapannya.

Ia ingin bersuara, namun tenggorokannya terasa terkunci oleh campuran takut, lelah, dan pasrah yang tak ingin ia akui.

"Freya ... keluarkan suaramu," desis Shankara sambil menggigit kecil daun telinga Freya.

Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Freya membuka mulut dan mengeluarkan desahannya.

Di dalam kepalanya, Freya kembali menghitung: apa yang sudah ia korbankan, apa yang masih ia pertahankan, dan berapa lama lagi ia harus bertahan sebelum semua ini berakhir.

Ia memaksa dirinya untuk tidak larut, untuk tetap sadar bahwa malam ini hanyalah satu bab gelap yang harus ia lewati demi tujuan yang lebih besar ... meski keyakinan itu semakin rapuh.

Lampu kamar meredup. Waktu berjalan tanpa ukuran yang jelas. Shankara terus memacu gerakannya, membuat tubuh Freya terguncang hebat. Rambut gadis itu berantakan. Tanda merah menyebar di punggung, tengkuk dan pinggangnya.

Freya sudah tak dapat lagi menahan desahannya. Kini suara syahdu itu terus mengudara dari bibirnya yang mulai bengkak karena terus dihisap oleh Shankara.

"T-Tuan ..." Desah napasnya makin memberat, otaknya buntu, dan tubuhnya terasa mulai melayang.

Shankara tersenyum miring, mempercepat gerakannya.

Dan ketika gelombang itu datang, mereka berdua mengerang secara bersamaan.

Shankara memeluk tubuh Freya dari belakang, menyemburkan seluruh cairan cintanya ke dalam rahim gadis itu.

Setelah beberapa menit berlalu, Freya kira semuanya sudah berakhir, ternyata ia salah. Shankara membawanya ke balkon.

Udara malam langsung menyergap mereka. Angin gunung membawa dingin yang menusuk, membuat Freya memeluk dirinya sendiri sejenak.

Di atas sana, bintang-bintang bertaburan, berkilau tenang ... seolah tak peduli pada pergulatan manusia di bawahnya.

Freya berdiri di tepi pagar balkon, menatap langit dengan kedua tangan memegang besi penghalang balkon.

Shankara kembali menyerangnya dari belakang, dan kini tanpa aba-aba, langsung mengangkat tubuh Freya.

"Akh ... T-Tuan ..." Freya memekik, refleks berpegangan pada kedua tangan lelaki itu yang kini sedang membuka pahanya lebar-lebar. "Aku ... takut jatuh," lirihnya parau.

"Tidak akan, Freya. Kamu aman bersamaku." Shankara terus menyerangnya dengan liar.

Freya memejamkan mata. Ia sungguh malu. Ia takut ada yang melihat keadaannya saat ini.

Tapi Freya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menerima setiap hentakan yang diberikan Shankara.

Puas melakukan itu di balkon, Shankara kembali membawa Freya masuk ke dalam kamar. Ia menghentak lagi tubuh Freya tanpa jeda, membuat gadis itu nyaris menjerit karena lelah sekaligus nikmat.

Freya mengakui itu, ia tak menampik jika setiap gerakan Shankara, membuatnya lupa pada segalanya. Termasuk pada janjinya yang ingin meninggalkan lelaki itu saat dendamnya telah usai.

Di sela deru napas dan hentakannya, Shankara mendekatkan bibirnya ke telinga Freya, lalu berbisik lirih, namun tajam. "Kau milikku Freya ... dan sampai kapan pun, kau tidak akan bisa lari apalagi kabur dariku."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!