NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Ruang Ajaib / Sistem / Time Travel / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHARANI 3

"Ruang dimensi milikku!" serunya dengan mata berbinar.

Meskipun bentuk luarnya berubah dari arloji menjadi gelang giok, isinya tetap sama. Ruangan ini adalah laboratorium pribadinya di masa depan. Di sana ada rak obat-obatan modern, senjata-senjata taktis (yang sayangnya sebagian besar terkunci karena kekurangan energi), dan yang paling berharga batu suci serta kolam Air Dewa.

Ia segera berlari menuju rak penyimpanan obat. Tangannya yang gemetar mengambil sebuah botol keramik berwarna coklat tua, berbentuk seperti kendi kecil yang elegan.

"Obat Pemurni Sumsum," gumamnya.

POP!

Ia membuka tutupnya dan menelan tiga butir pil sekaligus. Tak lupa, ia menciduk air dari kolam Air Dewa dengan tangannya dan meminumnya dengan rakus.

Glek... Glek... Glek...

Seketika, rasa hangat yang luar biasa menjalar dari kerongkongannya menuju seluruh ujung saraf.

Syuuuuuuu...

Rasa sakit di dadanya memudar. Racun-racun hitam di dalam darahnya mulai dinetralkan oleh energi murni dari Air Dewa. Meskipun tenaga dalamnya belum kembali sepenuhnya karena keterbatasan fisik tubuh Yuhan, ia bisa merasakan saluran energinya mulai terbuka sedikit demi sedikit.

"Tubuh ini terlalu lemah dan tidak memiliki akar kultivasi. Pil ini hanya bisa menyambung nyawaku untuk sementara," ucapnya sambil menatap bayangannya di air kolam. Matanya kini berkilat penuh tekad. "Aku harus melatihnya dari nol. Aku harus membangun akar kultivasi yang lebih kuat dari siapa pun di dunia ini."

Ia mengambil beberapa botol tambahan, obat pemulihan luka luar, pil penyambung nyawa untuk berjaga-jaga, dan beberapa belati bedah berbahan titanium.

Yuhan memejamkan matanya kembali, memusatkan pikirannya pada gelang giok tersebut.

ZAP!

Dalam sekejap mata, ia kembali terduduk di lantai kamarnya. Darah yang tadi ia muntahkan masih ada di sana, tetapi tubuhnya kini terasa jauh lebih ringan. Ia bangkit berdiri, membersihkan sisa darah di bibirnya dengan punggung tangan.

Ia berjalan menuju jendela, menatap langit malam Kerajaan Tianjing yang luas. Di luar sana, para menteri licik dan adik-adiknya mungkin sedang merayakan "kematiannya", tetapi mereka tidak tahu bahwa yang akan keluar dari kamar ini esok hari bukanlah sang Maharani Bodoh.

"Kalian ingin tahta ini?" Yuhan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung janji kematian. "Kemarilah, dan aku akan menunjukkan bagaimana cara mati yang paling menyakitkan."

Sisa darah di lantai telah mengering, meninggalkan bau amis yang samar namun tajam di indra penciuman Yuhan yang kini setajam silet. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap bayangannya di cermin perunggu besar. Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis yang hanya tahu cara memoles gincu, melainkan seorang predator yang sedang menghitung langkah.

"Dayang Nya!" seru Yuhan. Suaranya tidak lagi melengking manja, melainkan rendah dan memiliki wibawa yang membuat udara seolah bergetar.

Kriyet...

Pintu kayu jati yang berat terbuka perlahan.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan tingkat tinggi masuk dengan kepala tertunduk dalam, diikuti oleh empat dayang muda yang gemetar.

"Hamba di sini, Yang Mulia," sahut Dayang Nya. Suaranya bergetar hebat. Berita tentang "kebangkitan" Maharani yang mematikan sudah menyebar ke seluruh penjuru istana dalam hitungan menit.

"Bersihkan tempat ini. Hapus setiap tetes darah yang ada. Dan siapkan aku untuk mandi," perintah Yuhan tanpa menoleh.

"Baik, Yang Mulia. Segera!"

Dalam sekejap, kesibukan luar biasa terjadi di Istana Chiangnang. Para dayang bergerak seperti semut, menggosok lantai marmer dengan air mawar, sementara dua orang lainnya menyiapkan bak mandi besar dari kayu cendana di ruang belakang. Asap mengepul dari air panas yang dituangkan memenuhi ruangan dengan uap hangat.

Dayang Nya menaburkan kelopak mawar merah dan bunga plum yang harum ke permukaan air. Sebelum para dayang sempat mendekat untuk membantunya melepas pakaian, Yuhan memberi isyarat tangan agar mereka menjauh.

"Keluar. Aku akan mandi sendiri," titahnya dingin.

Setelah para dayang mundur dengan langkah terburu-buru, Yuhan mendekati bak mandi. Ia merogoh lengan bajunya, seolah mengambil sesuatu, padahal ia baru saja menarik botol kecil dari dimensi gelangnya. Ia meneteskan tiga tetes Air Dewa ke dalam bak mandi.

Cing!

Begitu cairan bening itu menyentuh air panas, uapnya berubah menjadi kebiruan sesaat sebelum kembali bening. Yuhan melangkah masuk ke dalam air.

Syuuuuu..

Rasa hangat yang luar biasa segera membalut kulitnya. Air Dewa itu meresap melalui pori-porinya, menarik sisa-sisa racun kronis yang masih mengendap di jaringan lemak dan ototnya.

Beberapa menit kemudian, butiran keringat berwarna kehitaman dan berbau logam mulai keluar dari kening dan punggungnya. Yuhan mendesah lega. Rasa sakit di kepalanya mulai reda, digantikan oleh kejernihan pikiran yang tajam.

Satu jam kemudian, Yuhan keluar dari ruang mandi. Dayang Nya dan dua dayang terpilih telah menunggu dengan pakaian kebesaran yang paling megah. Mereka memakaikan jubah sutra sembilan lapis berwarna kuning keemasan dengan sulaman benang emas berbentuk Phoenix yang sedang terbang.

Srak... Srak... Srak..

Rambut hitamnya yang panjang disisir halus kemudian disanggul tinggi dengan hiasan kepala Tian-tsui yang rumit. Terakhir, Dayang Nya dengan tangan gemetar menyematkan tusuk konde panjang berbahan emas murni dengan ujung yang sangat tajam di puncak sanggulnya.

Yuhan menatap pantulannya. Ia kini tampak seperti dewi perang yang terperangkap dalam balutan sutra.

"Yang Mulia," bisik Dayang Nya sambil memberikan kipas sutra. "Hamba berani bertanya... setelah ini, ke mana Yang Mulia akan melangkah?"

Yuhan meliriknya melalui sudut mata. "Kau terlalu banyak bertanya."

"M-mohon ampun, Yang Mulia!" Dayang Nya segera bersujud hingga dahinya menyentuh lantai.

"Siapkan retinue. Aku ingin lima dayang, dua kasim kepala, dan sepuluh pengawal pribadi terkuat yang tersisa. Kita pergi sekarang," perintah Yuhan tegas.

Saat Yuhan melangkah keluar dari gerbang Istana Chiangnang, Kasim Kepala yang berdiri di depan pintu segera menarik napas dalam dan berteriak dengan suara melengking yang khas.

"MAHARANI AGUNG PERGI! SEMUA HARAP MEMBERI JALAN!"

Sepanjang jalan setapak istana yang dikelilingi taman giok, setiap pelayan dan prajurit yang berpapasan langsung menjatuhkan diri ke tanah, bersujud tidak berani mengangkat kepala. Aura dingin yang terpancar dari tubuh Yuhan membuat mereka merasa seolah-olah sedang dilewati oleh pedang yang terhunus.

"Di mana para pengawal yang terluka tadi malam dibawa?" tanya Yuhan sambil terus berjalan dengan langkah cepat.

"Di... di Balai Pengobatan Wushing, Yang Mulia," jawab Dayang Nya yang berusaha menyamai langkah cepat majikannya.

Balai Pengobatan Wushing

Tak... Tak... Tak...

Langkah kaki Yuhan yang mantap bergema di koridor Balai Pengobatan Wushing. Bau obat-obatan herbal yang pahit dan bau darah yang amis menyambut mereka.

"MAHARANI AGUNG TIBA!" teriakan Kasim kembali menggema di dalam balai.

Suasana yang tadinya hiruk-pikuk dengan erangan kesakitan para pengawal mendadak sunyi senyap. Semua tabib dan asistennya segera berlutut. Di tengah ruangan, Yuhan melihat puluhan pengawal istana tergeletak di atas ranjang kayu dengan perban yang memerah.

Di sudut ruangan yang agak terpisah, Yuhan melihat sosok yang sangat ia kenal. Mu Lian duduk di kursi rodanya. Wajahnya pucat, dan ia tampak sangat gelisah, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi roda hingga buku jarinya memutih.

"Yang Mulia!" seru Mu Lian. Ia berusaha menggerakkan kursi rodanya mendekat, namun Yuhan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia tetap diam di tempat.

1
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
siapa ini?? jangan bilang itu paksu 🤔🤭
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
pantesnya disiksa ini orang dicambuk terus di kebiri 😤😠
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: nanti jadi Kasim donk🤭🤭🤭
total 1 replies
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
semoga pangeran ke-lima yang melesat menyelamatkan Yuhan dan Shen lan melihat sendiri klo suami kakaknya gak lumpuh lagi
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
hukum cambuk aja sih si zao yun biar jadi peringatan buat yang lain 😶
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
miskinkan aja ini menter, copot dari jabatannya terus suruh hidup susah di wilayah perbatasan
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
jahat banget euy siapa sih yang lakuin ini 😶
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: aduhhh euu🤣🤣🤭
total 1 replies
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
wakakaa biar diemin dulu aja tuh anak songong 😂
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
wakakaa kalau maharani ngomel iyain aja udah 🤫😂
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
duhhhh kurang banyak cikguuuuu ahhhh jadi makin ingin lihat wajah wajah kesal Han Tan , Shen Bo dan 'tikus ' ini sepertinya Zao Yun 🤔🧐
@Mita🥰
wuhaaaa ....🤣🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
Kaget gak tuh Shen Bo, Han Tan cs? kaget pasti😅 zonk. mksd hati mau ngeprank ternyata kena prank sendiri.
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
Bagus Shen Lan, klu gak gitu, Lian gak ngerasa tertantang. Mang sepantasnya pendamping Yuhan harus sepadan.
@Mita🥰
wah cari mati yang merusak bibit kentang
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
wah sepertinya ada yang sabotase itu pasti orang orang suruhan pangeran kedua dan perdana menteri Han Tan harus tetap tenang lapor ke pangeran ke-lima atau Maharani aja cepat
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
haiss baca bab ini jadi senyum sendiri 😅 klu Lian udah sembuh pasti mereka jadi pasangan yg serasi memimpin istana. Lian juga GK ngerasa insecure sama Yuhan.
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
adohhhh ini pangeran keempat nih gak asik ahhhh jadi ambyarrr kan harusnya romantisan gak jadi deh 🤭😆😆
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
laaah ganggu aja 😌 udah biar aja sih 🤫
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ adik kesayangannya itu...
total 1 replies
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
waaah hebaaat 💪💪💪
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
udah langsung aja hukum dia 😶
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
hmmm apa ada racun atau peletnya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!