Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*28
Sungguh, Mika benar-benar kehabisan kata-kata. Dia adalah staf di bagian pemasaran. Tapi kenapa tiba-tiba, Paris malah mengajukan dirinya untuk jadi asisten. Tidak mengajukan, melainkan, memaksa.
"Asisten pribadi, pak? Sepertinya, saya tidak cocok dengan posisi itu. Saya-- "
"Kamu cocok, Mika. Aku sudah melihat kinerja kamu yang sangat bagus. Kamu cocok dengan posisi sebagai sekretaris ku."
Tanpa menunggu jawaban dari Mika, Paris malah langsung menghubungi Rama. "Hali, Ram."
"Iya, Pak."
"Datang ke ruangan ku sekarang juga. Ada tugas untuk kamu."
"Baik, Pak."
"Pak Paris, tapi-- "
"Mika. Anggap saja kamu menolong aku, bagaimana? Karena posisi sekretaris pribadi pimpinan utama sudah kosong sejak lama, jadi, aku sangat membutuhkan orang yang tepat. Dan, tidak ada orang yang paling tepat untuk menduduki posisi itu selain kamu."
Ketukan di pintu terdengar. Paris langsung mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk. Siapa lagi dia kalau bukan Rama.
"Pak."
"Ram, tolong urus prosedur pemindahan Mika dari departemen pemasaran menjadi sekretaris pribadi aku secepatnya."
"Ma ... ksudnya, Pak?"
"Kurang jelas, Rama? Aku ingin Mika jadi sekretaris pribadiku."
"Ba-- baik, Pak. Sudah jelas. Akan saya proses sekarang juga prihal pemindahan Mika untuk jadi sekretaris pribadi bapak."
"Bagus. Lakukan dengan cepat."
"Baik, Pak. Saya permisi sekarang."
"Hm."
"Oh iya, Ram. Jangan lupa untuk urus posisi duduk Mika. Tempatkan dia di ruangan yang sama dengan aku. Itu akan lebih memudahkan aku untuk berkomunikasi dengannya."
Sedikit tak percaya dengan apa yang Paris ucap, Rama terdiam sejenak untuk mencerna apa yang baru saja telinganya dengar. Jujur, Rama terkejut dengan ucapan Paris. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja Paris perintahkan padanya.
"Tempatkan ... di ruangan ini, Pak?"
"Iya. Di mana lagi?"
"Ba-- baik kalau begitu. Akan saya lakukan."
Mika benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ulah Paris cukup untuk membuatnya semakin terbebani dengan pekerjaan. Sudahlah dirinya banyak masalah, eh ... Paris malah terus-terusan menambah masalah lagi dan lagi. Sungguh, Mika benar-benar ingin menjerit rasanya.
"Maaf, Pak. Apakah ... ini tidak terlalu berlebihan?" Mika bertanya setelah kepergian Rama meninggalkan ruangan tersebut.
"Berlebihan? Aku rasa tidak. Karena kamu pantas untuk mendapatkannya."
"Tapi-- "
"Mika." Paris berucap sambil mengangkat satu tangannya. "Kamu berhak mendapatkan hal ini. Jadi, tolong terimalah. Jangan menolak."
"Oh iya, hampir saja lupa."
Paris sedikit membungkuk untuk mengeluarkan apa yang dia simpan di dalam laci meja kerjanya. Sejenak mencari, akhirnya, tangan Paris mengeluarkan roti manis bersama sekotak susu dari dalam laci tersebut.
Dua buah makanan itu dia sodorkan pada Mika. "Ambillah. Aku tidak bisa masak. Jadi, hanya bisa membawakan sarapan instan saja buat kamu. Kamu bisa memakannya jika kamu suka. Tapi, jika tidak suka. Kamu bisa membuangnya."
Mika yang bingung sekaligus tak percaya dengan apa yang sedang terjadi, hanya bisa menaikkan satu alis. Tangannya meraih roti dan susu yang Paris sodorkan padanya.
"Ini ... buat aku?"
"Bukan. Untuk teman kamu."
"Ya sudah jelas untuk kamu, Mika. Jika bukan untukmu, buat apa aku memberikan itu padamu sekarang."
"Ya .... " Mika melihat barang yang ada di tangannya dengan seksama. "Terima kasih."
Entah kenapa, baik hati Mika, maupun hati Paris, keduanya sama-sama merasa bahagia. Hanya soal susu dan roti, keduanya bisa sama-sama merasakan kehangatan yang menyusup ke dalam hati.
"E ... sama-sama. Kamu bisa kembali ke tempat mu dulu. Jika semuanya sudah selesai, maka kamu akan bekerja di satu ruangan yang sama dengan aku."
"Heh ... baiklah, Pak. Saya permisi."
Paris mengangguk. Mika pun beranjak meninggalkan tempat di mana dia berdiri sebelumnya. Namun, baru juga melangkah, suara Paris malah kembali terdengar.
"Mika."
Tentu saja langkah kaki Mika langsung terhenti. Mika pun kembali memutar tubuh.
"Ya, pak?"
"Ah, tidak ada. Nanti saja. Kamu bila melanjutkan langkah kamu sekarang."
Mika hanya bisa melepas napas kesal secara perlahan. Setelah memberikan anggukan pelan, Mika langsung melanjutkan langkah meninggalkan Paris.
....
Prosedur pemindahan Mika dari staf pemasaran menjadi sekretaris pribadi Paris cukup membuat seisi kantor pusat riuh. Namun, karyawan yang ada di kantor pusat cukup bersahabat. Walau kabar itu membuat gempar, tapi hanya sesaat saja. Tidak pula ada yang merasa iri dengan pemindahan Mika ini.
Mereka bahkan ikut berbahagia dengan posisi baru yang Mika tempati. Walaupun Mika adalah anak baru yang masuk ke kantor tersebut, namun, dia adalah karyawan lama di kantor cabang. Jadi, posisi yang dia dapatkan saat ini bisa dikatakan cukup layak untuk Mika duduki.
"Selamat ya, Mik. Selamat atas kenaikan jabatannya. Uh ... beruntungnya kamu."
Mika hanya bisa nyengir kuda. Yang lain bahagia dengan posisi yang baru saja dia dapatkan. Tapi kenyataannya, dia sama sekali tidak bahagia.
"Mika, selamat, sayang." Tina berucap dengan wajah bahagia. "Selamat atas jabatan barunya. Tapi, hiks, aku sedih," ucap Tina lagi sambil berpura-pura menangis.
"Sedih kenapa, Tin?" Rekan lain yang bertanya.
"Ya sedih. Baru juga punya teman dekat di samping meja ku. Eh ... itu pak bos dingin malah ngambil sahabat ku secara tiba-tiba. Kan terlalu tega. Aku belum menyiapkan hati ku ini lho."
Yang lain hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Mika yang melihat ekspresi lebai Tina langsung tersenyum geli. "Protes gih kamu, Tin. Bilang noh sama si bos, jangan pindahin aku jadi sekretarisnya. Atau nggak, jangan pindahin meja ku ke ruangannya. Aku gak suka lho dengan posisi itu," ucap Mika pada akhirnya melepas apa yang ada dalam hatinya saat ini.
"Eh ... mana berani dia protes, Mik. Di panggil ke ruangan pak bos saja dia gugup bukan kepalang. Apalagi di suruh protes. Bisa membatu Tina nya, Mika."
Tawa renyah terdengar. Mereka sangat akrab dan sangat bersahabat. Pantas saja di kantor pusat karyawannya pada betah bekerja. Karyawan-karyawan di kantor pusat ini saling menghargai dan tidak punya rasa iri hati sesama rekan sepekerjaan.