Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Cermin Bernama Anak
Rava memandangi seragam hijau loreng itu, lalu kembali menatap wajah Raska. Tatapannya berpindah-pindah, seolah sedang mencocokkan potongan puzzle yang belum ia mengerti sepenuhnya.
“You soldier?”
Raska mengangguk. “Yes.”
“That’s cool,” ujar Rava tulus. "Kakekku juga soldier," tambahnya bangga.
"Oh, ya?" balas Raska dengan senyum tipis. Senyum formal. Terlatih.
"Yes," jawabnya mantap.
Namun bocah itu tidak pergi.
Ia masih berdiri di sana, menatap Raska dengan cara yang tidak biasa. Tatapan anak cerdas yang belum mengenal ragu, belum belajar menurunkan mata demi sopan santun.
Tatapan yang terlalu dekat.
Denyut di dada Raska makin kacau, seperti ritme yang kehilangan komando.
Lalu Rava memiringkan kepala, kening kecilnya berkerut.
“You look like me,” katanya polos, nyaris berbisik. “A little.”
Kalimat itu, menghantam lebih keras daripada apa pun yang pernah ia hadapi di medan tugas.
Raska membeku.
Wajahnya tetap tenang. Maskulin. Datar. Tidak ada celah yang terbuka.
Hanya matanya, yang menegang sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.
“It’s possible,” jawabnya akhirnya. Suaranya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.
“Many people look alike.”
Rava mengangguk pelan. Tidak sepenuhnya puas. Tidak pula membantah.
Lalu, seolah keputusan sudah dibuat di kepalanya sendiri, bocah itu berbalik dan berlari kembali ke arah teman-temannya.
Raska berdiri perlahan.
Tangannya terangkat ke dada.
Menyentuh balik seragam.
Dua cincin dingin tergenggam di telapak tangannya. Dan untuk pertama kalinya, logam itu terasa lebih berat daripada senjata apa pun yang pernah ia bawa.
Di aula penuh suara, gelas berdenting, dan tawa para petinggi, untuk pertama kalinya sejak lama, Kapten Raska merasakan sesuatu yang tidak pernah ia latih untuk dihadapi.
Bukan ancaman. Bukan misi. Melainkan kemungkinan. Dan pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan, bahkan di dalam hati:
"Kalau wajah itu adalah cermin… lalu selama ini, siapa yang sebenarnya kucari?"
Raska menoleh ke kanan. Ke kiri. Langkahnya terhenti di antara arus tamu berseragam dan gaun formal.
Bocah itu sudah tak terlihat.
Dadanya terasa… aneh. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di udara, belum sempat ia genggam tapi sudah direnggut kembali.
“Kapten Raska.”
Ia menoleh. Seorang kolonel tersenyum lebar, tangan terulur.
“Perkenalkan, ini putri saya.”
Raska menarik napas, memasang ekspresi datar yang terlatih. Senyum tipis. Anggukan sopan.
Gerakan refleks yang telah ia kuasai sejak taruna.
Namun matanya, tanpa bisa dicegah, kembali menyapu kerumunan.
Tidak ada bocah montok itu. Tidak ada mata bening yang menatapnya tanpa takut. Tidak ada wajah kecil yang… terlalu familiar.
"Fokus, Raska."
Ia memaksa dirinya hadir. Menjawab seperlunya. Mendengarkan pujian tentang kariernya yang “cemerlang di usia muda”.
Tentang betapa ia “menantu idaman”.
Sementara di kepalanya, satu hal berputar tanpa henti. "Kenapa bocah itu mirip aku?"
Bukan sekilas. Bukan kebetulan. Raska ingat wajahnya sendiri di foto lama. Usia lima atau enam.
Tatapan mata yang sama. Bentuk alis yang sama. Bahkan sudut bibir yang sama saat menahan senyum.
Dan suara itu…
“You smell like… home.”
Tangannya mengepal perlahan di balik baju seragam.
"Rumah?
Bocah itu tahu apa tentang rumah?"
Di sisi lain aula, Elda dan Elvara sama-sama menoleh, hanya sepersekian detik, saat nama itu kembali disebut.
“Kapten Raska.”
Ada getaran kecil di dada Elvara. Sangat kecil, nyaris tak terasa. Ia meneguk minumnya, menenangkan diri.
Nama yang sama.
"Banyak nama Raska di dunia ini."
Elda juga sempat terdiam. Alisnya berkerut tipis, lalu mengendur kembali.
Kapten.
Dikelilingi petinggi. Aura yang terlalu mapan.
"Bukan. Raska yang kami kenal… bukan dari dunia ini."
Ia menggeser fokusnya kembali ke percakapan. Tertawa pelan. Mengangguk sopan.
Menutup rapat pintu ingatan yang hampir terbuka.
Sementara itu, Raska kembali berusaha bergerak. Satu langkah ke depan, dicegat.
Dua langkah ke kiri, disapa lagi.
“Kapten, ini keponakan saya—” “Kapten Raska, foto sebentar—” “Kapten—”
Kerumunan menutup jalannya. Menelan kemungkinan itu bulat-bulat.
Raska berhenti mencoba.
Ia berdiri di tengah aula yang gemerlap, dikelilingi wajah-wajah asing yang tersenyum penuh harap.
Namun pikirannya hanya tertambat pada satu bocah.
"Kalau aku bertemu dia lagi… apa yang akan kutanyakan?
Dan apa aku siap dengan jawabannya?"
Di sudut aula lain, Rava tertawa bersama anak-anak perwira. Namun sesekali, matanya mencari-cari sosok berseragam itu.
"He looks like me," pikirnya polos tapi tajam.
"Like when I look in the mirror."
Bocah lima tahun itu tidak punya kata untuk menjelaskannya. Tapi nalurinya, jernih, tanpa bias, sudah mencatat satu hal penting.
"That uncle feels… close."
Malam itu berlanjut.
Tanpa pertemuan. Tanpa pengakuan. Namun di antara mereka, sesuatu telah terbangun.
Bukan kenangan. Bukan kebetulan Melainkan ikatan yang belum diberi nama. Dan justru karena itu, terasa semakin kuat.
***
Raska check-in tanpa banyak kata.
KTP diserahkan. Kunci kamar diterima. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Ia naik ke lantai atas dengan langkah yang sama seperti saat memasuki area operasi. Terukur, efisien, tanpa menoleh ke kiri atau kanan.
Kamar hotel sunyi.
Lampu dinyalakan. Tirai tidak langsung dibuka.
Raska meletakkan topinya di meja, melepas seragam perlahan. Gerakannya rapi, nyaris mekanis. Ia berdiri sejenak di tengah ruangan, lalu duduk di tepi ranjang.
Dan tanpa aba-aba, suara itu muncul lagi.
"Oops—sorry!"
Logat campur. Ringan. Terlalu hidup.
Matanya.
Tatapan bocah itu, tidak asing, tidak juga sepenuhnya baru. Seperti melihat cermin dari masa yang tidak ia ingat pernah disimpan.
"You smell like… home."
Raska menghembuskan napas pelan. Tangannya terangkat ke dada.. Dua cincin tergenggam di sana, dingin, solid, nyata. Ia menutup mata sepersekian detik.
“Fokus,” gumamnya lirih. Perintah untuk dirinya sendiri.
Ia meraih ponsel. Nama Vicky muncul di layar. Panggilan tersambung cepat.
“Kapten,” suara di seberang terdengar santai, tenang seperti biasa. “Ada apa?”
“Aku di hotel,” ujar Raska dingin.
“Hm.” Vicky tidak bertanya yang tidak perlu. “Hotel kita yang mana?”
“Mentari,” jawab Raska singkat. “Aku butuh rekaman CCTV. Ballroom utama. Dua jam terakhir acara. Fokus anak kecil. Sekitar lima tahun. Rambut gelap.”
Hening sepersekian detik di seberang.
“Anak kecil?” Vicky mengulang pelan. Bukan heran, lebih seperti mencatat sesuatu. “Itu di luar pola biasa lo.”
“Jam tujuh lewat tiga puluh,” lanjut Raska. “Dekat area tamu VVIP. Dia nabrak aku.”
“Dicatat,” sahut Vicky ringan, profesional. “Ballroom utama. Jam tujuh tiga puluh. Anak laki-laki, lima tahunan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada datar yang menyimpan sentilan halus,
“Kalau sampai lo ingat detail sekecil itu, berarti bukan insiden biasa.”
Raska diam.
“Boleh satu pertanyaan?” tanya Vicky akhirnya.
“Tidak,” jawab Raska cepat.
Vicky menghembuskan napas pendek, nyaris terdengar senyum tipis di suaranya.
“Wajahnya mirip lo.”
Keheningan kembali jatuh.
“Kerjakan saja,” kata Raska akhirnya. “Aku tunggu datanya.”
“Sepuluh menit,” jawab Vicky singkat. “Dan, Raska—”
“Apa?”
“Kalau sesuatu bikin lo keluar dari mode kapten,” ucap Vicky tenang, tanpa main-main, “biasanya itu bukan urusan kerja.”
Panggilan terputus.
Raska menurunkan ponsel. Ia duduk diam. Tidak bergerak. Tidak membuka tirai. Tidak menyalakan televisi.
Hanya duduk, dengan dua cincin di genggaman, dan satu wajah bocah yang terus berputar di kepalanya. Wajah yang terlalu familiar untuk diabaikan, dan terlalu berbahaya untuk segera diakui.
Di kamar hotel yang sunyi itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raska tidak takut pada musuh.
Ia takut pada kemungkinan.
...🔸🔸🔸...
..."Beberapa pertemuan tidak butuh pengakuan untuk terasa nyata."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Up lagi Kak, ga sabar kalo nunggu besok 🤭
kirain eropa bagian mana..
Up lagi dong kak, jumpah katanya kok sedikit sih kak Nana? Tambahin lagi dong kak... 🙏🙏🙏😁 kalau bisa tiga bab hari ini kak 🙏🙏🙏😁
Ketiga sahabat Raska sudah berada di ruang kerja apartemen Raska.
Mereka melaporkan hasil dari melacak identitas Elvara - lengkap. Dimana Elvara tinggal, bersama ibunya dan seorang anak laki-laki.
Elvara bekerja di rumah sakit swasta sebagai dokter umum.
Rava - belum tahu yang kau puji handsome dan mirip denganmu itu papamu, nak.
Rava masih ingat senyum seorang tentara yang ditemui semalam - bahkan menirukan senyumnya.
Elvara melihat senyum Rava yang menirukan senyum seseorang yang ditemui - identik ya senyumannya - anak dan papa kandungnya.