NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

HAL-HAL YANG TIDAK DIUCAPKAN

Ada jarak yang tidak dibangun oleh perpisahan,

melainkan oleh terlalu banyak hal yang dipendam bersamaan.

Dan jarak itu mulai terasa di antara mereka, pelan tapi pasti.

Pagi itu, Aira datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin.

Tapi karena semalam ia hampir tidak tidur.

Kepalanya penuh. Tentang Naya yang belum membalas. Tentang Ayah yang tetap dingin.

Dan tentang Langit, yang entah sejak kapan mulai muncul di pikirannya tanpa diminta.

Ia duduk di bangku taman belakang fakultas, tempat yang jarang dilewati orang.

Headphone terpasang, tapi tidak ada lagu yang diputar. Hanya suara angin dan dedaunan.

“Aira?”

Suara itu membuatnya menoleh refleks.

Langit berdiri di sana, tas selempang di bahu, kemeja abu-abu digulung sampai siku. Wajahnya terlihat biasa saja. Tidak terburu-buru. Tidak kaget. Seperti memang sudah memperkirakan akan menemukannya di sana.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Aira.

Langit menunjuk bangku di sebelahnya. “Boleh duduk?” Aira mengangguk.

Mereka duduk tanpa bicara beberapa detik.

“Kamu kelihatan capek,” kata Langit akhirnya.

Aira tersenyum miring. “Semua orang juga kelihatan capek, kok.”

“Iya,” jawab Langit. “Tapi kamu capek yang kelihatan dari cara duduk.”

Aira mendengus kecil. “Analisis kamu aneh.”

“Tapi tepat,” balas Langit santai.

Aira menghela napas panjang. “Aku lagi ribet.”

Langit tidak langsung merespons. Ia hanya mengangguk pelan. “Mau cerita, atau mau ditemani ribetnya aja?”

Pertanyaan itu membuat Aira menoleh.

“Kamu selalu nanya gitu,” katanya.

“Biar nggak salah posisi,” jawab Langit.

“Kadang orang cuma butuh ditemani, bukan diselametin.”

Aira terdiam sesaat, lalu bersandar ke bangku. “Temenin aja,” katanya akhirnya.

Langit mengangguk. Tidak bertanya lagi.

Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Aira sedikit lebih longgar.

Di sisi lain kampus, Raka melihat mereka.

Tidak sengaja. Benar-benar tidak sengaja.

Ia baru keluar dari gedung fakultas, membawa map proyek, ketika matanya menangkap sosok Aira di bangku taman belakang. Bersama Langit.

Mereka tidak tertawa. Tidak juga terlihat romantis. Mereka hanya duduk. Dekat. Tenang.

Raka berhenti melangkah. Dadanya terasa aneh. Bukan perih. Bukan marah.

Lebih seperti… kalah sebelum bertanding.

“Rak?” Bima berdiri di sampingnya. “Lu kenapa bengong?”

Raka menggeleng cepat. “Nggak apa-apa.”

“Lu liat Aira, ya?” tanya Bima, mengikuti arah pandangnya.

Raka tidak menjawab.

Bima mendesah pelan. “Rak… gue tau ini bukan urusan gue. Tapi lu baik-baik aja?”

Raka tersenyum kecil. “Baik.”

Bima menatapnya lama. “Lu bohongnya makin rapi.”

Raka tertawa singkat. “Gue cuma capek.”

“Capek nunggu orang yang orang nya enggak tau kalau di di tunggu, Lo harus ngomong sama Aira, sebelum Aira menemukan cinta nya” ujar Bima panjang lebar.

Raka menoleh. “Lu kepinteran sekarang.”

“Dari dulu,” jawab Bima. “Cuma lu aja yang sibuk nutup mata.”

Raka menghela napas, lalu melangkah lagi.

“Yuk rapat,” katanya singkat.

####

Sore itu, Aira, Bimo dan Raka sudah berkumpul di ruang diskus, i Naya muncul terakhir di ruang diskusi.

Aira langsung menegakkan badan begitu melihatnya, ia senang Naya datang, setelah perdebatan mereka beberapa Minggu yang lalu, mereka hanya ngobrol untuk membahas proyek sosial saja, dan hari ini Aira bertekad, untuk memulai memperbaiki hubungan mereka duluan.

“Nay,” sapa Aira pelan. Naya mengangguk. Tidak tersenyum. Tapi juga tidak dingin.

Mereka duduk melingkar. Bima membuka laptop. Raka mencatat.

“Aku mau minta maaf,” kata Aira tiba-tiba, sebelum rapat dimulai. “Sekali lagi. Dan kali ini bukan cuma kata-kata.”

Naya menatapnya. “Aku denger.”

“Aku bakal handle laporan akhir dan komunikasi sponsor. Aku juga udah atur ulang timeline. Kalau aku telat atau ngilang lagi, kamu boleh coret namaku dari tim.”

Ruangan hening.

“Ra,” Bima langsung menyela, “jangan gitu”

“Enggak,” potong Naya pelan. “Biar dia lanjut.”

Aira menelan ludah. “Aku nggak mau bilang aku berubah total. Tapi aku mau hadir Beneran.”

Naya terdiam cukup lama.

“Aku masih marah,” katanya jujur. “Dan mungkin nggak langsung selesai. Tapi aku hargai kamu datang dan ngomong gini.”

Aira mengangguk. “Aku terima.”

Raka menatap meja. Tangannya mengepal pelan. Persahabatan itu belum sembuh. Tapi setidaknya, ia tidak berdarah lagi.

####

Malamnya, Aira kembali bertemu Langit.

Kali ini tidak direncanakan.

Ia turun dari bus. Saat berjalan menyusuri trotoar, ia melihat Langit berdiri di depan warung kopi kecil, menunggu pesanan.

“Kamu stalker, ya?” celetuk Aira.

Langit menoleh, kaget. Lalu tersenyum.

“Kalau iya, aku jelek banget stalk-nya.”

Aira tertawa kecil. “Ngapain di sini?”

“Nunggu kopi,” jawab Langit. “Kamu?”

“Lari dari rumah,” jawab Aira jujur.

Langit mengangguk, seolah itu jawaban paling normal. “Mau minum?”

Aira ragu sebentar. Lalu mengangguk.

Mereka duduk di bangku kayu. Lampu jalan yang redup dan dua gelas Kopi hangat.

“Ayah kamu?” tanya Langit hati-hati.

“Masih sama,” jawab Aira. “Masih pengen aku jadi versi yang dia mau.”

“Kamu capek?”

“Banget.”

Langit menyesap kopinya. “Capek itu valid.”

Aira menoleh. “Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena jarang ada yang bilang,” jawab Langit. “Kebanyakan orang nyuruh kuat.”

Aira tersenyum tipis. “Kamu nggak nyuruh aku kuat?”

“Enggak,” kata Langit. “Aku nyuruh kamu jujur sama capekmu sendiri.”

Aira menunduk. “Aku takut kebiasaan capek ini bikin aku kehilangan semua orang.”

Langit menatapnya lama. “Yang pergi karena kamu capek, mungkin bukan orang yang bisa jalan jauh bareng kamu.”

Kalimat itu membuat Aira tercekat.

“Kamu ngomong kayak gitu gampang,” katanya lirih.

“Iya,” ujar Langit mengangguk.

Setelah percakapan tentang masalah yang di hadapi Aira, akhirnya percakapan mereka bisa lebih santai, banyak hal yang mereka bahas entah tentang kenapa lampu jalan yang mulai redup, dan pertemuan mereka yang tak sengaja, Aira tersenyum bahagia, seakan ia tak punya masalah, Langit selalu membahas hal-hal yang lucu, dan itu cukup membuat malam Aira terasa hangat.

####

Di kamar, Raka menatap layar ponselnya.

Chat Aira terakhir masih terbuka. Tidak ada yang baru. Ia ingin mengetik. Ingin bertanya.

Ingin jujur. Tapi jarinya berhenti. Karena ia sadar hubungan mereka hanya sebatas teman , mungkin perannya memang hanya sampai di sini.

“Apa gue telat?” gumamnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu jawabannya.

####

Setelah pertemuan mereka tadi kini Aira sudah ada di rumah, Aira memejamkan mata malam itu dengan perasaan yang campur aduk. Persahabatan yang belum pulih.Rumah yang tetap dingin.

Dan seseorang yang hadir tanpa memaksa.

Ia belum jatuh cinta. Tapi ia mulai merasa…

tidak sendirian.

...####...

Tidak semua jarak terasa seperti perpisahan.

Ada jarak yang hadir pelan, duduk di antara dua orang, lalu tumbuh tanpa suara.

Aira baru menyadarinya saat duduk di kantin kampus, menatap layar ponselnya yang kosong. Tidak ada pesan baru. Dari Raka.

Biasanya, jam segini, Raka sudah nanya

“Kamu makan apa?” Atau sekadar: “Jangan lupa minum.” Hari ini tidak ada apa-apa.

“Aira.”

Ia menoleh. Langit berdiri di depannya, membawa dua gelas kopi susu dari mesin otomatis.

“Kamu kelihatan kosong,” kata Langit sambil menyerahkan satu gelas.

Aira menerima tanpa protes. “Kelihatan ya?”

“Kelihatan banget,” jawab Langit santai.

“Kayak orang lagi duduk di tempat ramai tapi kepalanya di tempat lain.”

Aira tersenyum kecil. “Aku emang lagi di tempat lain.”

Langit duduk di depannya. Tidak bertanya lebih jauh. Hanya membuka tutup gelasnya dan menyeruput kopi. Hening beberapa detik.

“Kamu marahan sama sahabatmu?” tanya Langit akhirnya.

Aira mendongak. “Kok tahu?”

“Karena ekspresi kamu mirip aku waktu ribut sama abangku dulu,” jawab Langit. “Diam, tapi matanya capek.”

Aira tertawa kecil. “Aku bikin masalah.”

“Kamu sering bilang gitu.”

“Karena aku sering begitu.”

Langit mengangkat bahu. “Orang yang peduli memang sering bikin masalah. Orang yang nggak peduli biasanya cuma pergi.”

Kalimat itu membuat Aira terdiam. “Aku takut kehilangan mereka,” katanya pelan. Langit menatapnya. “Takut itu wajar. Tapi jangan sampai takut bikin kamu berhenti bahagia”

Aira menunduk. “Aku lagi belajar.”

“Bagus,” jawab Langit. “Belajar itu nggak harus cepat.”

...####...

Sementara itu, di ruang diskusi lantai tiga, Raka duduk sendirian. Laptop terbuka. File proposal terbuka. Tapi pikirannya ke mana-mana.

Bima masuk sambil membawa minuman.

“Kamu sendirian?” tanya Bima.

Raka mengangguk. “Naya belum datang.”

“Dia lagi ke bagian kemahasiswaan,” jawab Bima. “Soal beasiswanya.”

Raka menghela napas. “Aku harap semuanya beres.”

Bima menatap Raka lama. “Rak.”

“Hm?”

“Kamu kenapa sama Aira?”

Raka terdiam.

“Kamu menjauh,” lanjut Bima. “Bukan sok peka, tapi kelihatan.”

Raka tersenyum tipis. “Aku nggak menjauh.”

“Kamu lagi ngalah,” koreksi Bima. “Dan kamu nggak jago kalau soal itu.”

Raka mengusap wajahnya. “Aku cuma… bingung.”

“Bingung karena apa?”

“Karena aku selalu ada,” kata Raka pelan. “Tapi sekarang aku ngerasa keberadaanku cuma cadangan.”

Bima terdiam. “Kamu cemburu?” tanya Bima hati-hati.

Raka menggeleng cepat. “Bukan cemburu. Aku capek.”

Bima mengangguk pelan. “Capek itu biasanya karena berharap.”

Raka tertawa kecil, getir. “Iya.”

...####...

Sore itu, hujan turun tiba-tiba. Aira terjebak di selasar kampus tanpa payung.

“Ini kampus suka banget bikin drama,” gumamnya.

“Kamu mau nebeng?”

Aira menoleh. Langit berdiri di sampingnya, memegang payung hitam sederhana.

“Ke halte lama,” lanjut Langit.

Aira ragu sebentar, lalu mengangguk. “Boleh.”

Mereka berjalan beriringan. Bahu mereka sesekali bersentuhan.

“Kamu nggak takut basah?” tanya Aira.

“Takut,” jawab Langit jujur. “Makanya aku ngajak.”

Aira tertawa kecil. Hujan membuat dunia terasa lebih sempit. Suara air menutup percakapan orang lain.

“Aira,” kata Langit tiba-tiba. “Aku mau bilang sesuatu.”

Aira menegang sedikit. “Apa?”

“Aku nggak tahu aku akan jadi siapa di hidup kamu,” kata Langit pelan. “Teman, tempat singgah, atau cuma orang lewat.”

Aira berhenti melangkah. Langit ikut berhenti.

“Tapi aku mau jujur dari awal,” lanjut Langit.

“Aku nggak datang buat ngambil siapa pun dari kamu. Aku datang karena aku nyaman duduk di samping kamu, tanpa harus jadi apa-apa.”

Aira menatapnya. Hujan membingkai wajah Langit, membuat sorot matanya terlihat lebih dalam.

“Aku lagi berantakan,” kata Aira lirih.

“Aku tahu,” jawab Langit. “Dan aku nggak keberatan.”

Kalimat itu tidak terdengar romantis.

Justru itu yang membuatnya terasa aman.

...####...

Malam itu, Aira membuka ponselnya.

Ada satu pesan dari Naya.

Naya:

Aku baca pesanmu. Aku belum bisa jawab panjang. Tapi makasih karena nggak pergi.

Aira menutup mata. Dadanya terasa sedikit lebih ringan. Tak lama kemudian, pesan lain masuk.

Raka:

Kamu baik-baik aja?

Aira mengetik lama.

Aira:

Iya. Lagi kehujanan tadi.

Raka:

Kamu pulang sama siapa?

Aira terdiam. Pertanyaan sederhana. Tapi kenapa seperti di interogasi.

Aira:

Sama Langit.

Raka membaca pesan itu lama.

Tidak bertanya lagi.

...####...

Di kamarnya, Raka duduk memandangi layar ponsel yang redup.

“Sejak kapan aku harus nanya begitu?” gumamnya.

Ia sadar, sesuatu sedang bergeser. Bukan karena Langit.

Tapi karena Aira perlahan belajar mencari tempat aman di luar dirinya.

Dan itu menyakitkan, karena Raka tidak pernah berniat pergi. Ia hanya tidak tahu, harus bersikap seperti apa.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!