"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Baru.
"Ada apa Bumi?" Genta bertanya saat melihat Bumi seperti kebingungan.
Bumi menggeleng pelan, "Suaranya hilang?" gumamnya lagi. Suara wanita itu sudah hilang.
Sektor Ash bergetar hebat saat proses dekomposisi digital mulai merayap di pinggiran distrik.
Di tengah kekacauan itu, Bumi Aksara masih berdiri mematung di atas aspal tak jauh dari jatuhnya helikopter tempur Iron Cages barusan.
Aura dingin berwarna biru es yang terpancar dari tubuhnya semakin intens, menciptakan kontras yang tajam dengan api yang melahap puing-puing di sekelilingnya.
Tiba-tiba, langit yang tadinya hanya dihiasi oleh retakan merah dan kepulan asap hitam, mendadak berubah.
Sebuah cahaya keemasan yang masif memancar dari pusat cakrawala, membentuk layar hologram raksasa yang bisa dilihat oleh semua makhluk dari radius seratus kilometer pun. Baik manusia yang masih berjuang hidup dan bersembunyi di lubang tikus, monster yang ada sarangnya, maupun para elit di balik tembok Iron Cages.
[ Perhatian: Sistem Mencapai Sinkronisasi Global Tahap 2 ]
[ Memperbarui Daftar Peringkat Wilayah - Sektor Ash & Zone 1]
Suara sistem kali ini tidak lagi terdengar di dalam kepala, melainkan menggelegar ke seluruh penjuru dunia.
Sebuah daftar mulai bergulir panjang, menampilkan nama-nama dan peringkat orang-orang paling berpengaruh dan mematikan di wilayah tersebut.
[ REGION LEADERBOARD: THE TOP 10! ]
· ...
· ...
Mata Bumi menyipit saat melihat daftar itu terus bergerak ke atas. Di Iron Cages, daftar ini adalah lambang prestise. Namun di sektor bawah, ini adalah target besar untuk mendapatkan panggung bagi siapa pun yang namanya tercantum.
[ Peringkat 1 (Kategori Sipil): Bumi Aksara ]
· Status: Veteran - Posisi 3
· Gelar: The Giant Slayer / Apex Predator
· Poin Kontribusi: 45.000+
Seketika, sunyi senyap menyapu Sektor Ash. Para tentara bayaran The Reapers yang tadi bersiap menyerang, mendadak menghentikan langkah mereka.
Sensor pada helm taktis mereka berkedip-kedip tidak teratur. Dalam logika militer, menghadapi seorang Veteran posisi 3 dengan status civilian adalah anomali yang mustahil.
Bagi mereka, kekuatan sebesar itu seharusnya hanya dimiliki oleh komandan tertinggi atau hasil dari eksperimen laboratorium bertahun-tahun.
Tapi apa ini? Hanya warga sipil biasa???
"Peringkat... pertama?" bisik Genta dari balik reruntuhan beton. Wajahnya pucat pasi. Ia tahu betul arti dari sorotan ini.
Berarti saat ini, sahabatnya - Bumi bukan lagi sekadar penyintas. Ia sekarang adalah ikon pemberontakan bagi masyarakat bawah, sekaligus ancaman nomor satu bagi tatanan dunia baru kelas menengah ke atas.
Di saat yang sama, jauh di dalam pusat kendali Iron Cage Zone 1, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan monitor holografik canggih meledak dalam sebuah kepanikan.
Para teknisi dan perwira tinggi menatap layar dengan ekspresi tidak percaya.
"Bagaimana mungkin seorang tikus dari Sektor Ash melampaui seluruh pasukan elite kita dalam waktu kurang dari satu minggu?!" teriak seorang jenderal dengan seragam yang dipenuhi lencana. "Siapa yang bertanggung jawab atas pengawasan sektor ini, hah!? Bodoh sekali. Keluar cepat!"
"Lapor, Jenderal! Dia adalah subjek yang meretas menara pemancar. Dia baru saja mengeksekusi Baskoro dan menyerap statusnya," jawab seorang operator dengan suara gemetar.
"Hapus namanya! Manipulasi datanya!" perwira lain menimpali dengan berapi-api bahkan menggebrak meja.
"Tidak bisa, Pak! Sistem bersifat otonom. Leaderboard ini disiarkan langsung oleh Admin Pusat sistem global. Kita tidak memiliki otoritas untuk mengubah peringkat sipil yang sudah divalidasi oleh pertempuran hidup-mati."
Jenderal itu mengepalkan tinjunya ke meja hingga retak. "Jika rakyat jelata di zona bawah melihat nama ini, mereka akan memiliki harapan. Dan harapan itu bisa menjadi awal dari pemberontakan. Kita tidak boleh membiarkan seorang 'Sipil rendah' berada di puncak lebih lama lagi. Kirim pesan ke unit diplomatik. Jika kita tidak bisa menghapusnya dari layar, kita akan memusnahkannya— atau menjadikannya milik kita."
____
Kembali ke lapangan...
Bumi merasakan ribuan pasang mata sedang menatapnya melalui sistem. Peringkat ini bukan sekadar informasi dalam jajaran angka biasa.
Ia bisa merasakan "Otoritas" miliknya meningkat secara pasif. Suara-suara di sekitarnya terdengar lebih jelas, dan ia bisa merasakan kehadiran setiap Reaper di sekelilingnya bukan sebagai ancaman lagi seperti awal, tapi sebagai mangsa yang lebih lemah.
[ Notifikasi: Otoritas Anda meningkat menjadi 6 (Gelar Leaderboard Bonus) ]
[ Efek: Kemampuan persuasi terhadap NPC dan Survivor di bawah peringkat Anda meningkat 25% ]
Melihat itu, Bumi menatap tangannya. Aura dingin biru es itu kini mulai membentuk kristal-kristal kecil di permukaan kulit.
"Bumi... kau baik-baik saja?" Sarah memberanikan diri mendekat, dan bertanya dengan hati-hati. Ia melihat mata Bumi yang kini sepenuhnya berwarna ungu tanpa pupil yang jelas.
Bumi menoleh pelan. Pergerakan lehernya terasa kaku, seperti mesin. "Mereka sedang melihat kita, Sarah. Bukan hanya tentara-tentara ini, tapi seluruh pengecut di dalam tembok itu."
"Bumi.. Ayo. Kita harus pergi sekarang," Sarah memohon. "Dengan namamu yang ada di puncak, setiap pemburu hadiah dan tentara di kota ini akan segera datang mencarimu."
"Biarkan mereka datang," jawab Bumi datar. Suaranya tidak lagi memiliki emosi hangat yang biasa Genta dengar. "Aku butuh poin mereka untuk mencapai Posisi yang lebih tinggi."
Tiba-tiba, hologram di depan Bumi berubah warna menjadi ungu gelap. Sebuah pesan privat masuk ke dalam kotak pesan sistemnya, sesuatu yang hanya bisa dikirimkan oleh mereka yang memiliki akses Admin di Zone 1.
Sebuah suara wanita yang elegan, yang tadi ia dengar di radio, kini muncul kembali di udara, tapi kali ini dalam bentuk proyeksi hologram kecil di depan wajahnya.
"Selamat atas pencapaianmu, Bumi Aksara. Peringkat 1... sebuah gelar yang berat untuk pundak seorang sipil. Namaku adalah Isabella, perwakilan dari Konsorsium Epsilon. Aku di sini bukan untuk membunuhmu.
... setidaknya, tidak untuk sekarang."
Bumi menatap proyeksi wanita itu dengan dingin. "Aku tidak tertarik dengan basa-basi."
"Tentu saja. Aku akan berterus terang. Kau baru saja memicu kepanikan massal di pusat kota. Para jenderal ingin kepalamu, tapi aku... aku melihat potensi yang kau miliki. Jangan biarkan dirimu mati di lumpur Sektor Ash ini. Datanglah ke Zone 1. Kami punya fasilitas, makanan, dan keamanan yang tidak bisa kau bayangkan."
Hologram itu menunjukkan gambar sebuah kota di balik tembok besar yang bersinar dengan lampu-lampu indah, tempat di mana kiamat seolah-olah tidak pernah terjadi.
"Hanya ada satu syarat kecil," Isabella tersenyum tipis. "Kau harus menyerahkan semua poin pengalamanmu untuk diekstraksi ke dalam database kami. Sebagai gantinya, kau akan hidup sebagai bangsawan di bawah perlindungan kami. Bagaimana? Menjadi dewa di tumpukan sampah, atau menjadi bangsawan di surga?"
Bumi menatap Genta, Sarah, dan Rian yang berdiri di belakangnya. Mereka menatapnya dengan penuh harap, seolah-olah tawaran itu adalah satu-satunya jalan keluar. Namun, Bumi tahu betul arti dari "ekstraksi poin".
Itu berarti ia harus kehilangan kekuatannya, menjadi lumpuh, dan menjadi properti laboratorium, untuk.... selamanya!
Bumi mengepalkan tangan. Aura biru esnya meledak, menghancurkan proyeksi hologram Isabella dalam satu hentakan energi.
"Katakan pada majikanmu," ucap Bumi ke udara, suaranya menggema melalui frekuensi radio yang masih terbuka. "Aku tidak akan menjadi anjing penjaga bagi siapa pun. Jika mereka ingin poin yang aku miliki... biarkan mereka datang dan mengambilnya sendiri. Tentu jika mereka mampu."
[ Peringatan! Anda Menolak Tawaran Resmi dari Pihak Otoritas! ]
[ Status Anda berubah menjadi: REBELLION (Pemberontak) ]
[ Misi Baru Terdeteksi: -----
***