revisi
ternyata di platform ini,tidak suka Pace lambat/banyak kata
jadi kita merivisi semua dari bab 1
Shi Yan adalah seorang pecandu olahraga ekstrem yang tidak lagi merasakan tantangan dalam hidup, hingga maut menjemputnya dan melemparkannya ke dunia yang jauh lebih kejam. Terbangun di sebuah kolam mayat yang membusuk, ia mewarisi warisan kuno yang mengerikan: kemampuan untuk menyerap energi dari mereka yang mati.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shi Yan tidak memilih jalan pahlawan. Dengan Martial Spirit yang haus darah dan hati yang sedingin es, ia mendaki puncak kekuasaan di atas tumpukan tulang musuhnya. Baginya, setiap kematian adalah nutrisi, dan setiap peperangan adalah tangga menuju keilahian. Di dunia ini, kau hanya punya dua pilihan: Menjadi mangsa, atau menjadi sang Pembantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukma Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Jiwa Bela Diri Abadi (Immortal Martial Spirit)
Begitu Racun Pemutus Usus masuk ke perutnya, Shi Yan merasakan rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dalam. Perut dan ususnya terasa seperti dikikis oleh asam sulfat pekat. Rasa sakit itu semakin lama semakin menusuk.
"Racun Pemutus Usus ini sangat kuat. Efeknya tidak muncul sekaligus, melainkan dilepaskan secara bertahap. Orang biasa akan hancur dalam dua sampai tiga hari dan mati dengan tubuh membusuk," Karu menyipitkan matanya. "Tidak usah buru-buru, mari kita tunggu sampai besok."
"Baik. Kita akan memeriksanya besok malam di jam yang sama," Mo Yanyu mengangguk puas. Ia melirik Shi Yan sekali lagi, lalu pergi bersama Karu dengan riang.
"Hehe. Bocah, hari-hari indahmu sudah berakhir!" Johnson tertawa keras hingga giginya terlihat. Ia merasa sangat lega mengetahui Shi Yan akan segera mati. Beban di hatinya pun sirna.
Shi Yan menundukkan kepala dengan kilatan dingin di matanya.
Ia bisa merasakan dengan jelas bagaimana racun itu mulai bekerja. Rasanya seperti puluhan juta semut sedang menggerogoti organ dalamnya untuk memperebutkan wilayah.
Qi Mendalam di perut bagian bawahnya segera bersirkulasi menuju lambung dan usus. Di bawah kendali Shi Yan, energi itu mengalir lembut seperti aliran sungai yang membasuh racun. Di mana pun Qi itu mengalir, rasa sakitnya sedikit berkurang.
Shi Yan duduk bersila, sama sekali tidak memedulikan Johnson di sampingnya. Ia memusatkan pikiran untuk membimbing Qi Mendalam melawan efek racun. Setiap kali energi itu berputar di organ dalamnya, proses korosi racun sedikit melambat.
Saat itulah Shi Yan menyadari betapa berharganya Qi Mendalam. Ia bertekad untuk berlatih keras agar menjadi prajurit papan atas.
"Jika Qi Mendalam saja bisa membawa manfaat sebesar ini, apalagi Jiwa Bela Diri anugerah Tuhan? Jika aku memilikinya, aku pasti akan jauh lebih kuat dan lebih tahan sakit," batinnya.
Shi Yan sempat menyesali mengapa pemilik tubuh aslinya tidak mewarisi Jiwa Bela Diri Petrifikasi milik Keluarga Shi. Jika ia memilikinya, mungkin ia punya keberanian untuk melawan kekuatan petir Mo Yanyu dan melarikan diri, alih-alih dijadikan kelinci percobaan.
***
Waktu berlalu, malam semakin larut. Cahaya bulan menyelimuti tanah dengan warna peraknya. Para prajurit mulai tenang setelah seharian berbaris. Mereka berlatih Qi Mendalam untuk menembus batas tubuh mereka dan mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Di bawah rembulan, Shi Yan masih duduk bersila dengan ekspresi khidmat.
Setelah lima jam bersirkulasi, ia menyadari sebuah masalah besar: Qi Mendalam miliknya telah terkuras sepertiga, dan terus berkurang dengan cepat. Sementara itu, Racun Pemutus Usus masih tetap kuat.
Racun itu seolah menunggu sampai Qi-nya habis untuk menyerang balik dengan ganas.
Shi Yan tiba-tiba menggigil. Jika Qi-nya habis, ia tidak punya perlindungan lagi. Tubuhnya akan membusuk dari dalam ke luar seperti budak obat lainnya.
Ia tidak bisa hanya berdiam diri!
Dua jam lagi berlalu. Efek racun bukannya melemah, malah semakin meningkat. Qi Mendalam Shi Yan terkuras semakin cepat! Ia merasa pintu kematian sudah di depan mata.
Jika Qi habis, pembusukan akan menyebar ke seluruh tubuh, dan dalam lima atau enam hari, dia akan mati mengenaskan.
Shi Yan tidak mau menyerah. Dengan tatapan dingin, ia melirik Mo Yanyu yang duduk di atas pohon tua di kejauhan. Gadis itu tampak seperti bidadari di tengah malam, berlatih dengan tenang tanpa menyadari mata haus darah Shi Yan.
Tuan Karu ada di barisan belakang, sedang asyik membaca buku racun di bawah cahaya bulan. Sesekali ia melirik Shi Yan dengan seringai licik.
"Aku tidak bisa membiarkannya begini terus," pikir Shi Yan. Satu-satunya solusi adalah mendapatkan penawar dari Tuan Karu. Namun, Karu adalah prajurit Ranah Nascent. Mencoba merebut penawar darinya adalah tindakan bunuh diri.
Shi Yan mencoba mengatur napasnya secara diam-diam. Meskipun racun masih di perutnya, ia menarik kembali semua Qi Mendalamnya dan bersiap untuk menyerang.
Tanpa perlindungan Qi, racun itu langsung beraksi dengan liar. Gelombang rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya.
Namun, tepat saat Shi Yan hendak menerjang maju, ia merasakan perubahan mendadak pada bagian ususnya yang terkorosi!
Sel-sel di sana tiba-tiba kembali hidup! Sebuah kekuatan misterius merajut kembali bagian organ yang busuk, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang sedang menjahit kembali lambung dan ususnya.
Shi Yan tertegun.
Ia segera membatalkan serangannya dan fokus mengamati perubahan di dalam tubuhnya. Sel-selnya penuh dengan vitalitas. Daging yang busuk berkedut dan pulih secara bertahap. Dalam setengah jam, rasa sakitnya benar-benar hilang!
Shi Yan merasa sangat gembira, namun wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau yang membeku.
"Setiap kemampuan yang bisa bekerja tanpa Qi Mendalam... pasti merupakan Jiwa Bela Diri khusus!"
Shi Yan menyadari bahwa dialah pemilik kemampuan unik yang belum pernah ditemukan orang lain: kemampuan pemulihan diri yang luar biasa!
Racun itu terus bekerja dan mengikis organ dalamnya berkali-kali. Namun setiap kali korosi terjadi, kemampuan misterius itu segera mengaktifkan sel-selnya dan menyembuhkannya sebelum putaran korosi berikutnya dimulai.
"Jika kemampuan ini meningkat seiring naiknya level ranahku, mungkinkah suatu saat aku bisa menyembuhkan anggota tubuh yang putus? Jika aku mencapai Ranah Dewa Sejati, apakah aku akan menjadi abadi?"
Pikiran Shi Yan melayang jauh. Setelah menimbang matang-matang, ia menamai kemampuan ini: **Jiwa Bela Diri Abadi (Immortal Martial Spirit).**
Karena merasa aman dari ancaman racun, Shi Yan membatalkan niatnya untuk menyerang Karu. Ia kembali duduk dengan tenang dan mulai memulihkan Qi Mendalamnya, membiarkan organ dalamnya menjadi medan perang antara racun dan kemampuan penyembuhan abadinya.