"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ruang Tunggu yang Jadi Ruang Rindu
Adrian tidak menyadari bahwa di ujung koridor, ayah Lala yang sedang berpakaian dinas polisi sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan wajah yang sangat bingung. Langkah kaki pria perkasa itu terdengar sangat berwibawa dan bergema di sepanjang lantai porselen rumah sakit yang sangat mengilap. Adrian seketika melepaskan genggaman tangannya pada lengan Lala seolah baru saja menyentuh besi panas yang sangat membakar kulitnya.
"Lala? Sedang apa kamu memakai rompi relawan dan kenapa kamu berlari-lari bersama Dokter Adrian?" tanya sang ayah dengan nada suara yang penuh selidik.
"Ayah? Ini adalah bagian dari tugas pengabdian masyarakat yang sangat mulia dan sangat terhormat!" jawab Lala dengan suara yang bergetar karena sangat gugup.
Ayah Lala menghentikan langkahnya tepat di depan Adrian dan menatap tajam ke arah rompi biru yang dikenakan putrinya dengan sangat curiga. Ia kemudian melirik ke arah Adrian yang sedang berusaha merapikan jas putihnya yang wangi vanila dengan gerakan tangan yang sangat kaku. Suasana di koridor itu mendadak menjadi sangat dingin melebihi suhu ruangan pendingin di laboratorium bedah saraf.
"Dokter Adrian, bukankah kita sudah sepakat bahwa putri saya tidak boleh mengganggu jam kerja Anda di rumah sakit?" tagih ayah Lala.
"Benar Bapak, namun anak ini datang membawa surat tugas resmi dari pihak sekolah sebagai relawan pembantu administrasi," jelas Adrian dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
Lala mengangguk berulang-ulang dengan sangat antusias hingga helai rambutnya yang berantakan menutupi sebagian matanya yang bulat. Ia segera menunjukkan map cokelat berisi berkas-berkas yang tadi ia bawa sebagai barang bukti untuk mendukung kebohongannya yang sangat berani. Sang ayah menerima map tersebut dan membacanya dengan sangat teliti sementara Lala terus berdoa di dalam hati agar ayahnya tidak menyadari tanda tangan palsu Danu.
"Kenapa Danu yang menandatangani surat izin ini? Bukankah dia sedang berada di bengkel sejak pagi buta?" tanya ayah Lala sambil menyipitkan mata.
"Mungkin Kak Danu sudah pulang sebentar hanya untuk mendukung masa depan karierku sebagai calon perawat handal!" kilah Lala dengan ugal-ugalan yang luar biasa.
Adrian merasa situasi ini akan segera meledak jika ia tidak segera membawa Lala menjauh dari pandangan ayahnya yang memiliki intuisi tajam sebagai polisi. Ia memberikan isyarat kepada Lala untuk segera duduk di ruang tunggu umum agar ayahnya bisa menyelesaikan urusan dinasnya tanpa terganggu. Ayah Lala akhirnya mengizinkan mereka pergi namun tetap memberikan peringatan keras agar Lala tidak berkeliaran di area terlarang rumah sakit.
"Baiklah, saya ada keperluan di ruang manajemen, awasi dia dengan benar Dokter Adrian atau kontrak kita batal!" ancam sang ayah sebelum berlalu pergi.
"Aman! Dokter, ayo kita bersembunyi di ruang tunggu sebelum Ayah berubah pikiran lagi!" ajak Lala sambil menarik ujung baju Adrian.
Adrian membawa Lala menuju sebuah ruang tunggu yang sangat sepi di dekat unit rehabilitasi medis yang jarang dilewati oleh staf rumah sakit. Mereka duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi dingin dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain untuk menjaga profesionalisme yang tersisa. Lala menyandarkan kepalanya ke tembok sambil memejamkan mata dan menikmati aroma khas rumah sakit yang menurutnya kini sangat romantis.
"Ruang tunggu ini sekarang terasa seperti ruang rindu yang sangat manis karena ada Dokter di sampingku," gumam Lala dengan senyum kecil yang tersungging.
"Jangan mulai lagi Lala, kamu hampir saja membuat saya kehilangan izin praktik karena aksi nekat menjadi relawan gadungan ini," tegur Adrian.
Meskipun suaranya terdengar sangat keras, Adrian sebenarnya merasa sangat kagum dengan kegigihan Lala yang rela mempertaruhkan nyawa di depan ayahnya. Ia melihat telapak tangan Lala yang masih ditutupi perban kecil bekas luka kemarin dan merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Adrian mengambil botol aromaterapi pemberian Lala dari sakunya lalu mengoleskan sedikit cairan itu ke pergelangan tangannya sendiri.
"Dokter memakai minyak itu? Berarti Dokter benar-benar rindu pada bau jas yang aku cuci ya?" goda Lala sambil membuka satu matanya.
"Saya hanya menguji apakah cairan ini mengandung zat yang bisa membuat pasien menjadi sangat berisik seperti kamu," balas Adrian sambil memalingkan wajah.
Lala tertawa renyah hingga suaranya memenuhi ruang tunggu yang sepi itu dan membuat Adrian ikut tersenyum tipis tanpa ia sadari sama sekali. Pria itu menyadari bahwa ruang tunggu yang biasanya sangat membosankan ini kini berubah menjadi tempat yang paling menenangkan dalam hidupnya. Mereka menghabiskan waktu beberapa menit dalam keheningan yang sangat nyaman sebelum akhirnya Adrian harus kembali ke ruang operasi untuk menangani pasien selanjutnya.
"Tunggu di sini dan jangan pergi ke mana-mana sampai saya selesai bertugas, mengerti?" perintah Adrian sambil berdiri dari kursinya.
"Siap komandan! Aku akan menjaga kursi ini agar tetap hangat sampai Dokter kembali padaku!" jawab Lala sambil memberikan salam hormat yang sangat lucu.
Adrian berjalan meninggalkan Lala menuju lorong steril namun langkahnya terhenti saat ia melihat Dokter Siska sedang berbicara serius dengan salah satu petugas keamanan. Ia merasa ada rencana buruk yang sedang disusun oleh rekan sejawatnya itu untuk menjatuhkan posisi Lala di dalam rumah sakit ini. Adrian segera mempercepat langkahnya karena ia tahu bahwa ia harus menyelesaikan operasinya dengan sangat cepat agar bisa melindungi sang gadis kompor.
Namun, saat Adrian baru saja masuk ke dalam ruang ganti baju bedah, ia menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan itu berisi sebuah foto yang menunjukkan Lala sedang tertidur di ruang tunggu dengan seorang pria asing yang sedang mengambil tas sekolahnya secara diam-diam.