NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Ambulans melaju kencang menembus jalanan dengan sirene yang meraung keras. Di dalam, paramedis bergerak cepat, memeriksa detak jantung Nadira, memasang oksigen, menghentikan perdarahan di kepala dengan perban sementara.

Mama Nita duduk di sudut ambulans dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar hebat, air matanya tidak berhenti mengalir.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Mama dengan suara bergetar.

"Kondisinya stabil untuk saat ini, Bu. Tapi kami perlu bawa ke rumah sakit segera untuk pemeriksaan lebih lanjut," jawab salah satu paramedis sambil terus memantau monitor.

Mama Nita mengangguk lemah, tangannya terkepal erat di pangkuannya.

"Ya Allah, tolong selamatkan dia. Tolong jangan ambil dia dari kami," doanya dalam hati.

Sampai di rumah sakit, Nadira langsung dibawa ke ruang IGD dengan tandu yang bergerak cepat. Mama Nita mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar.

"Ibu, silakan tunggu di luar. Kami akan periksa pasien dulu," ucap seorang perawat dengan lembut sambil menghalangi Mama Nita masuk ke ruang IGD.

"Tapi..."

"Ibu, percayakan pada kami. Kami akan lakukan yang terbaik."

Mama Nita mengangguk dengan susah payah, lalu mundur dan duduk di kursi tunggu dengan tubuh yang lemas.

Tangannya gemetar saat mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Pikirannya kacau, penuh rasa bersalah, penuh ketakutan.

"Ini salahku. Semua ini salahku. Aku harusnya lebih waspada. Aku harusnya tidak meninggalkan Nadira sendirian."

Dan pertanyaan yang paling berat: "Haruskah aku beritahu Raka?"

Mama Nita meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menatap layar, menatap nomor Raka yang tersimpan di sana.

Jari-jarinya melayang di atas tombol panggil, hampir menekan, tapi berhenti.

Raka sedang di Bandung. Sedang meeting penting dengan klien. Kalau Mama Nita memberitahu sekarang, Raka pasti akan langsung pulang. Pekerjaannya akan berantakan. Atasannya pasti marah.

Tapi... ini Nadira. Istrinya. Wanita yang ia cintai.

Mama Nita menarik napas dalam, lalu menurunkan ponselnya.

"Tidak. Aku tidak akan beritahu dulu. Setidaknya sampai aku tahu kondisi Nadira. Kalau kondisinya serius, baru aku beritahu. Kalau tidak... aku tidak mau ganggu pekerjaannya."

Keputusan itu terasa berat... sangat berat. Tapi Mama Nita merasa itu yang terbaik untuk saat ini.

---

Satu jam berlalu seperti satu tahun bagi Mama Nita. Ia duduk di kursi tunggu dengan tidak tenang... berdiri, duduk, berjalan mondar-mandir, duduk lagi.

Akhirnya pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar... pria paruh baya dengan jas putih dan stetoskop tergantung di leher.

Mama Nita langsung berdiri. "Dokter! Bagaimana keadaan Nadira?"

Dokter tersenyum tipis, senyuman yang menenangkan.

"Kondisi pasien stabil, Bu. Tidak ada cedera serius," ucap dokter dengan nada lega. "Ada luka robek di bagian kepala yang sudah kami jahit. Beberapa memar di bahu dan punggung. Tapi tidak ada patah tulang, tidak ada perdarahan internal. Pasien sangat beruntung."

Mama Nita hampir roboh mendengar kata "stabil" itu. Kakinya lemas, tapi ia menopang dirinya pada dinding.

"Syukurlah... syukurlah..." bisiknya sambil mengusap air mata yang kembali jatuh, kali ini air mata lega.

"Tapi pasien belum sadarkan diri," lanjut dokter. "Kemungkinan mengalami gegar otak ringan. Kami akan pantau kondisinya beberapa hari ke depan. Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan."

Mama Nita mengangguk cepat. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak."

Dokter mengangguk, lalu kembali masuk ke IGD.

Mama Nita duduk kembali di kursi dengan napas lega... napas yang panjang, seperti beban berat baru saja terangkat dari dadanya.

"Nadira selamat. Dia tidak cedera serius. Syukurlah."

Tapi kemudian pikiran lain muncul, pikiran yang membuatnya takut.

"Bagaimana aku akan jelaskan ini pada Raka? Bagaimana aku bilang bahwa aku lalai menjaga istrinya? Bahwa Nadira sampai jatuh dari pohon di rumahku?"

Mama Nita menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasakan rasa bersalah yang sangat berat.

Beberapa jam kemudian, Nadira sudah dipindahkan ke ruang perawatan, ruangan kecil dengan satu ranjang, jendela kecil, dan kursi untuk penunggu.

Mama Nita duduk di samping ranjang, menatap Nadira yang terbaring dengan mata tertutup. Kepala Nadira diperban, wajahnya pucat, tapi napasnya teratur... tanda bahwa ia baik-baik saja.

Mama Nita menggenggam tangan Nadira yang dingin, mengusapnya dengan lembut.

"Maafkan Nenek, sayang," bisiknya dengan suara serak. "Maafkan Nenek yang tidak bisa jaga kamu dengan baik. Nenek janji akan lebih hati-hati. Nenek janji."

Nadira tidak merespons. Ia tetap tidak sadarkan diri.

Mama Nita duduk di sana dengan setia... tidak beranjak, tidak makan, hanya duduk sambil terus berdoa agar Nadira segera sadar.

Malam tiba. Langit sudah gelap. Jam menunjukkan pukul delapan malam.

Tiba-tiba ponsel Mama Nita bergetar. Ia meraihnya dari tas dan jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat nama yang muncul di layar.

Raka - Video Call

Mama Nita panik. Ia melirik Nadira yang masih terbaring tidak sadarkan diri, lalu melirik ponselnya yang terus bergetar.

Bagaimana ini? Kalau aku angkat, Raka pasti akan tanya Nadira. Kalau aku tidak angkat, Raka akan curiga.

Dengan tangan gemetar, Mama menekan tombol jawab.

Layar ponsel menyala, menampilkan wajah Raka yang sedikit lelah tapi tersenyum.

"Ma! Akhirnya diangkat juga. Tadi Mama kemana? Aku telepon berkali-kali," ucap Raka dengan nada ceria.

Mama Nita memaksakan senyuman, senyuman yang kaku, tidak natural. "Maaf, Nak. Mama lagi... lagi di kamar mandi tadi."

"Oh, oke. Gimana Nadira? Dia baik-baik saja? Dia makan nggak?" tanya Raka dengan nada khawatir.

Mama Nita melirik Nadira sekilas, wanita yang terbaring dengan perban di kepala... lalu cepat mengalihkan kamera ke arah lain.

"Nadira... Nadira baik-baik saja, Nak. Dia udah makan. Sekarang lagi... lagi istirahat," jawab Mama dengan suara yang sedikit bergetar.

"Syukurlah. Ma, aku mau video call sama Nadira dong. Aku kangen. Bisa panggilin dia?" pinta Raka dengan senyuman.

Mama Nita merasakan jantungnya berhenti sejenak.

"Astaga. Bagaimana ini?"

"Eh... tunggu sebentar ya, Nak. Mama ke luar dulu. Di sini agak berisik," ucap Mama cepat sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruang perawatan.

Ia berjalan cepat menuju lorong rumah sakit yang lebih sepi, mencari tempat yang tidak ada orang.

"Nak, Nadira lagi tidur. Kayaknya capek. Tadi seharian main sama Nenek. Jadi sekarang istirahat," ucap Mama dengan nada yang dibuat se-natural mungkin meski hatinya berdegup kencang.

Raka terlihat sedikit kecewa. "Oh... ya udah deh. Nggak apa-apa. Biar dia istirahat. Tapi Ma, tolong bilang ke Nadira kalau aku kangen ya. Dan besok sore aku langsung pulang."

Mama mengangguk cepat. "Iya, Nak. Mama akan bilang."

"Oke. Mama juga istirahat ya. Jangan begadang. Terima kasih udah jaga Nadira," ucap Raka dengan senyuman tulus.

Mama merasakan dadanya sesak mendengar kata "terima kasih" itu.

"Kalau kamu tahu apa yang terjadi, kamu pasti tidak akan berterima kasih,"pikir Mama Nita dengan rasa bersalah yang sangat berat.

"Iya, Nak. Mama istirahat. Kamu juga ya. Jangan terlalu capek," ucap Mama Nita sambil memaksakan senyuman.

"Oke. Assalamualaikum, Ma."

"Waalaikumsalam."

Layar ponsel mati.

Mama Nita menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Ia bersandar pada dinding rumah sakit, menutup wajahnya dengan satu tangan.

Air matanya jatuh lagi... jatuh dengan rasa bersalah yang sangat mendalam.

"Maafkan Mama, Raka," bisiknya pelan. "Mama harus bohong. Mama tidak tahu harus bagaimana..."

Ia menarik napas dalam, mengusap air matanya, lalu berjalan kembali ke ruang perawatan.

---

Di dalam ruangan, Nadira masih terbaring dengan tenang.

Mama Nita duduk kembali di samping ranjang, menatap Nadira dengan tatapan penuh penyesalan.

"Nadira, sayang... kumohon cepat bangun," bisiknya sambil menggenggam tangan Nadira. "Nenek tidak tahu harus bohong pada Raka sampai kapan. Kumohon bangunlah. Biar semuanya jelas."

Tapi Nadira tetap tidak bergerak.

Mama Nita menghela napas panjang, lalu bersandar pada kursi dengan mata yang lelah.

Ia tahu besok sore Raka akan pulang. Dan saat itu, ia harus menjelaskan semuanya.

Ia harus mengakui bahwa ia lalai. Bahwa Nadira jatuh dari pohon. Bahwa Nadira sekarang terbaring di rumah sakit.

Dan Mama Nita tidak tahu bagaimana Raka akan bereaksi.

Apakah Raka akan marah? Apakah Raka akan menyalahkan Mama?

Mama Nita tidak tahu.

Yang ia tahu hanya satu: ia sangat menyesal.

Dan ia berharap dengan sepenuh hati bahwa Nadira akan segera sadar, sehingga saat Raka pulang, setidaknya Nadira sudah dalam kondisi yang lebih baik.

Mama Nita menutup matanya, berdoa dalam hati dengan penuh penyesalan dan harap.

"Ya Allah, maafkan aku. Lindungi Nadira. Dan beri aku kekuatan untuk menghadapi Raka besok."

Dan di malam yang sunyi itu, Mama Nita duduk sendirian di samping Nadira dengan kebohongan yang ia buat, dengan rasa bersalah yang ia pikul, dan dengan doa yang terus ia panjatkan.

1
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!