Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedok Kenzo dan Duel Fisika di Lapangan Basket
Udara di SMA Garuda pagi ini terasa sedikit berbeda. Bukan karena tukang kebun baru saja memotong rumput, tapi karena aroma persaingan antara Arlan dan Kenzo sudah mencapai level "siaga satu". Juna, sebagai menteri informasi tidak resmi, sudah sibuk mondar-mandir membawa catatan di atas kertas gorengan.
"Ghe, Ar, dengerin gue," bisik Juna saat mereka berkumpul di pojok kantin. "Gue nemu sesuatu yang janggal soal Kenzo. Masa dia bilang dari Melbourne, tapi pas gue ajak ngomong pakai bahasa Inggris aksen Australia, dia malah jawab 'Hah? Apaan tuh?'."
Ghea mengerutkan kening. "Mungkin dia kelamaan di pesawat jadi lupa aksennya, Jun?"
"Enggak, Ghe. Dan satu lagi," Juna merendahkan suaranya. "Gue liat dia kemarin sore ketemuan sama Shinta di parkiran belakang. Mereka ngomongin soal 'target' dan 'jatuhin mental'. Gue curiga Kenzo ini adalah senjata biologis yang dikirim Shinta buat hancurin lo, Ar!"
Arlan yang sedang menyesap susu kotak cokelatnya mendadak berhenti. Matanya menyipit di balik kacamatanya. "Gue sudah duga. Secara statistik, tidak mungkin ada cowok sesempurna itu yang tiba-tiba pindah ke sekolah ini tepat saat Shinta sedang terpojok."
"Jadi dia... intelnya Shinta?" Ghea melongo. "Gila! Padahal gue udah sempet kagum sama rahangnya!"
"Rahang bisa dioperasi, Ghe. Tapi kecerdasan taktis itu murni," ucap Arlan dingin. "Kalau dia mau main, ayo kita mainkan."
Siang itu, di tengah jam istirahat, Kenzo melakukan langkah beraninya. Dia menantang Arlan di depan banyak orang di lapangan basket. Tapi bukan tanding basket biasa.
"Arlan, gue denger lo itu 'dewa' di sekolah ini soal akademik," ucap Kenzo sambil memutar bola basket di telunjuknya dengan gaya sangat cool. "Gimana kalau kita duel? Tapi dengan cara yang beda. Kita tanding three-point shoot, tapi setiap lemparan harus dihitung dulu sudut elevasi dan kecepatannya secara lisan. Siapa yang paling akurat dan masuk, dia yang menang."
Seluruh murid langsung berkerumun. "WAAAH! DUEL FISIKA BASKET!" teriak anak-anak kelas 10.
Shinta muncul dari balik kerumunan, tersenyum penuh kemenangan. "Ayo Arlan, masa Ketua OSIS takut sama tantangan murid baru? Kalau Kenzo menang, Arlan harus setuju buat mundur dari pencalonan Pasangan Pelajar Teladan dan kasih posisinya ke Kenzo."
Ghea maju ke depan, berkacak pinggang. "Eh, Shinta! Enak aja lo main bikin taruhan! Emangnya Arlan itu barang inventaris?"
Arlan menepuk bahu Ghea, menyuruhnya mundur. Arlan maju ke tengah lapangan, menatap Kenzo tepat di mata. "Gue terima. Tapi kalau gue menang, Kenzo harus jujur di depan semua orang siapa yang nyuruh dia ke sini dan apa tujuannya."
Kenzo sempat terdiam sesaat, tapi kemudian dia nyengir. "Deal."
Pertandingan dimulai. Pak Broto ditunjuk jadi wasit (beliau sangat semangat karena ini adalah aplikasi nyata ilmu Fisika).
Kenzo mendapat giliran pertama. Dia berdiri di garis tiga poin. "Jarak ring 6,75 meter. Tinggi ring 3,05 meter. Gue bakal lempar dengan sudut 45^{\circ} dan kecepatan awal v_0 sekitar 8,5 m/s!"
Kenzo melempar bola. Swoosh! Masuk dengan sempurna. Murid-murid bersorak. Shinta tepuk tangan paling kencang.
Arlan maju. Dia tidak memegang bola dulu. Dia justru melihat ke arah bendera sekolah yang berkibar. "Kecepatan angin 2 meter per sekon ke arah barat laut. Kelembapan udara 60% meningkatkan gaya hambat. Gue bakal lempar dengan sudut 53^{\circ}, kompensasi hambatan udara, kecepatan awal v_0 \= 8,8 m/s."
Arlan melempar bola tanpa melihat ring sama sekali—dia melihat ke arah Ghea. Swish! Bola masuk tanpa menyentuh besi ring sedikit pun.
"POIN UNTUK ROBOT!" teriak Juna heboh.
Duel berlanjut sampai skor 4-4. Keadaan makin tegang. Kenzo mulai berkeringat. Rahang simetrisnya mulai terlihat tegang. Di lemparan terakhir, Kenzo mencoba melakukan lemparan sambil melompat (jump shot).
"Sudut 60^{\circ}! Kecepatan maksimal!" seru Kenzo. Bola meluncur, tapi karena dia terlalu terburu-buru, bola itu memantul di pinggiran ring dan keluar.
Kini giliran Arlan. Arlan memegang bola, dia menatap Kenzo. "Lo tahu kenapa lo gagal, Ken? Karena lo cuma fokus pada angka di kepala lo, bukan pada variabel di depan mata lo. Variabel paling besar di sini adalah... kebohongan lo bikin konsentrasi lo pecah."
Arlan melakukan lemparan terakhir dengan satu tangan. Lemparannya sangat tenang. Bola melambung tinggi, membentuk busur parabola yang sempurna di bawah sinar matahari. Splat! Masuk dengan sangat mulus.
Lapangan basket mendadak sunyi, lalu pecah oleh gemuruh teriakan. Arlan menang telak.
Arlan berjalan mendekati Kenzo yang sedang tertunduk lesu. Ghea dan Juna mengekor di belakangnya.
"Sesuai janji. Jujur," ucap Arlan tegas.
Kenzo menghela napas panjang. Dia melirik Shinta yang sudah mencoba menyelinap pergi. "Tunggu, Shinta! Jangan pergi dulu!" teriak Kenzo.
Kenzo menatap Arlan dan Ghea. "Oke, gue ngaku. Gue bukan dari Melbourne. Gue cuma sepupu Shinta dari Bandung. Gue pindah ke sini karena Shinta janji bakal bayarin cicilan motor gue kalau gue berhasil bikin Ghea berpaling dari Arlan dan bikin Arlan kena skandal cemburu."
Seluruh murid yang masih ada di sana langsung bersorak "HUUUUUUU!" ke arah Shinta.
Shinta membeku. Wajahnya merah padam. "Kenzo! Kamu pengkhianat!"
"Maaf Shin, tapi Arlan bener. Bohong itu capek. Lagian, Ghea ternyata nggak bisa digodain pakai gaya Melbourne-an. Dia cuma nyariin Arlan terus dari pagi sampai malem," ucap Kenzo sambil mengangkat bahu.
Ghea melongo. "Hah? Jadi lo sepupunya Shinta? Dan lo nggak bisa bahasa Inggris?"
"Aksen gue tadi itu cuma aksen sinetron, Ghe. Maafin gue ya," Kenzo nyengir polos, kali ini rahangnya terlihat tidak terlalu mengancam lagi.
Sore itu, suasana di belakang sekolah kembali tenang. Kenzo sudah pergi (dan kabarnya langsung dipanggil ke ruang guru), Shinta sudah menghilang entah ke mana karena malu tingkat dewa.
Arlan dan Ghea duduk di bangku beton dekat lapangan basket. Juna sedang sibuk merayakan kemenangan dengan makan siomay ekstra pedas di kejauhan.
"Ar... makasih ya," bisik Ghea. "Tadi lemparan terakhir lo keren banget. Kok lo bisa tahu sudutnya pas gitu?"
"Gue nggak bener-bener ngitung tadi, Ghe," jawab Arlan jujur.
"Loh? Terus?"
"Gue cuma bayangin kalau bola itu adalah perasaan gue, dan ring itu adalah lo. Gue nggak mau perasaan gue meleset," ucap Arlan sambil menatap lurus ke depan, tapi pipinya sedikit bersemu merah.
Ghea terdiam. "Duh, Robot! Lo belajar dari mana sih kalimat kayak gitu?! Pasti gara-gara liat foto bokap lo yang anak band itu ya?"
Arlan tertawa pelan. "Mungkin. Tapi serius Ghe, mulai sekarang, nggak akan ada lagi murid pindahan, sepupu Shinta, atau variabel apa pun yang bisa bikin gue ragu sama posisi lo di samping gue."
Ghea tersenyum lebar, dia menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Ar, gue punya satu pertanyaan lagi."
"Apa?"
"Kalau Kenzo ternyata beneran dari Melbourne dan lebih pinter dari lo, lo bakal tetep cemburu nggak?"
Arlan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada robotiknya yang khas, "Secara teoritis, kemungkinan itu 0,001%. Tapi secara emosional... gue bakal tetep pake jangka sorong buat ngukur rahang dia supaya gue bisa buktiin kalau rahang gue lebih efisien buat nyium lo."
"ARLAN! LO MESUM YA!" Ghea langsung mencubit perut Arlan.
Tawa mereka pecah di sore itu. Badai Kenzo sudah lewat, tapi mereka tahu, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan apa yang sudah mereka bangun di tengah ujian sekolah yang makin dekat.
Namun, di sebuah pojok koridor, seorang guru baru yang misterius sedang memperhatikan mereka sambil memegang berkas bertuliskan: PROYEK PERTUKARAN PELAJAR INTERNASIONAL. Sepertinya, Arlan yang akan dikirim pergi, bukan karena hukuman, tapi karena prestasinya.
Apakah Arlan akan meninggalkan Ghea demi masa depannya?