NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Lyra bangun di sofa, masih pakai kemeja kerja yang belum sempat diganti. Di meja depan—ada segelas kopi yang udah dingin, laptop terbuka setengah, dan chip kecil dari semalam yang sekarang terbungkus tisu.

Dia duduk tegak, gosok pelipis. Pandangannya nyampur antara ngantuk, cemas, dan penuh kalkulasi.

> “Jadi mereka udah pasang mata di rumah gue juga…”

suaranya serak, setengah bicara ke diri sendiri.

Dia nyalain laptop, nyoba nge-track sinyal dari chip itu lewat sistem rumah—hasilnya nihil.

Tapi anehnya, sinyal terakhir chip itu tercatat jam 3:27 pagi, dan… koordinatnya cuma dua blok dari rumahnya sendiri.

Belum sempat dia mikir panjang, ponselnya bunyi — panggilan masuk dari Ratchet.

> Ratchet: “Lyra, kau udah bangun?”

Lyra: “Udah. Kenapa?”

Ratchet: “Ada yang aneh. Paul bilang semalam sistem CCTV di rumah sakit Medika sempat mati lima belas menit. Pas waktu itu, Pharma juga nggak ada di kamarnya.”

Lyra: (hening sebentar) “…Kau yakin?”

Ratchet: “Yakin banget. Tapi anehnya, pas nyala lagi, dia udah ada di ruangannya, tidur di kursi. Tenang banget.”

Lyra berdiri, ngerasa dingin di punggung.

> “Pharma itu kayak... selalu dua langkah lebih dulu dari kita.”

Dia matiin telepon, terus buka laci—ngambil kunci mobil dan ID rumah sakit. Matanya udah nggak lembut kayak biasa. Dingin. Tajam.

Tapi sebelum dia keluar, dari luar rumah ada suara ketukan kecil di kaca jendela depan.

Bukan orang lewat. Bukan burung.

Ketukannya ritmis. Tiga kali pendek, dua kali panjang.

Lyra langsung refleks ngambil pistol.

Dia buka tirai pelan.

Dan di luar—ada amplop putih nempel di kaca.

Tulisan tangan di depan amplop itu cuma satu kalimat:

> “Kalau kau ingin tahu siapa ‘Kael’ sebenarnya, jangan ke Medika. Pergi ke dermaga tua jam sepuluh.”

— P.

---

Langkah Lyra pelan tapi mantap, heels-nya nyentuh lantai baja dermaga yang udah karatan. Asap dari kapal lama masih menguap di kejauhan, dan bangunan di ujung dermaga—pusat kendali tua yang udah ditutup dari tahun-tahun silam—berdiri kayak bangkai monster industri.

Dia buka pintu besi berat itu pelan. Engselnya nyaring, suara “kreekkk” nya ngegema kayak teriakan di ruangan kosong.

Lampu neon di dalam masih nyala satu-dua, kedip pelan, bikin bayangan menari di dinding.

> Lyra (pelan): “Pusat kendali tua... tapi masih aktif? Siapa yang biayain ini?”

Dia jalan makin dalam—lewat meja panel, terminal rusak, kabel listrik yang menjuntai kayak akar busuk. Di tengah ruangan, ada satu kursi operasi portable—masih basah darah.

Dan di sampingnya, monitor besar nyala… menampilkan rekaman video.

Wajahnya Pharma.

> Pharma (di video, suaranya dingin tapi lembut): “Kau pikir aku nggak tahu kalau kau datang ke sini, Lyra?”

Lyra langsung mundur setengah langkah.

> Lyra: “Pharma?!”

Tapi dari balik kegelapan—suara lain muncul. Dalam, berat, santai tapi bengis.

> Terra: “Pharma bahkan nggak tahu kau di sini.”

Langkah sepatu baja kedengeran dari lorong belakang. Terra muncul dari bayangan, pakai coat panjang warna abu, tangan kanan mainin detonator kecil. Di belakangnya, dua orang bersenjata berdiri, mata ditutup masker logam.

> Terra: “Aku yang kirim amplop itu. Lucu, ya? Kau datang sendirian… persis kayak yang kuduga.”

Lyra: “Apa maumu, Terra?”

Terra: “Kau. Dan sesuatu yang Pharma jaga mati-matian. Tapi sayang, kau terlalu dekat dengan dia.”

Dia lempar sesuatu ke lantai—rekaman foto-foto.

Foto Pharma di ruang bedah, darah, organ manusia.

> Terra: “Polisi nyari dalang mutilasi itu, kan? Bayangkan kalau foto-foto ini dikirim ke mereka—tapi kali ini, wajahmu ada di sana.”

Lyra udah ngerasa ini bukan jebakan biasa. Dia nyari jalan keluar pelan, tapi Terra udah pencet tombol di detonator itu.

Ledakan kecil muncul di pintu keluar. Suara logam runtuh, api kecil merambat di bawah tangga.

> Terra: “Sekarang nggak ada pintu keluar, Dokter Lyra. Tinggal kau... aku... dan sedikit waktu buat main.”

Lyra narik napas panjang, mata dingin tapi otaknya udah kerja cepat.

> Lyra: “Kau pikir aku datang tanpa backup?”

Senyum tipis muncul di wajah Terra.

> Terra: “Oh, aku tahu. Tapi sayangnya... sinyal di sini udah kuputus sejak kau masuk.”

Lampu kedip sekali—dua kali—terus mati total.

Gelap.

Tinggal suara detak langkah Terra

---

Tangan Lyra ditarik kasar ke belakang, tali nilon dingin menggesek pergelangan tangannya sampai perih. Terra ngiketnya rapet banget—profesional, kayak udah sering ngelakuin ini.

Kursi besi tempat Lyra duduk ngeretak pelan, rantai kecil di kakinya bunyi “cling cling” waktu dia berusaha nyari posisi bebas.

> Lyra (ngeles napas cepat): “Lepasin aku, Terra…”

Terra (santai, nyender di meja): “Kau ini hebat juga, bisa datang sejauh ini sendirian. Tapi sayangnya, keberanianmu nggak seimbang sama nalarmu.”

Lyra ngerasa jantungnya berdetak keras. Matanya muter nyari apa pun—obeng, pecahan kaca, atau kabel—apa pun buat ngebebasin diri.

Terra jalan ngelilingin dia pelan, kayak predator lagi muterin mangsanya.

> Terra: “Kau tahu nggak, Lyra... setiap orang yang nyentuh rahasia milik kami selalu berakhir begini. Tapi kau—kau istimewa. Pharma suka kau. Itu yang bikin menarik.”

Nada suaranya kayak racun, lembut tapi mengiris.

Lyra berhenti bernafas sepersekian detik.

> Lyra: “Kau bohong.”

Terra: “Aku? Bohong? Hm, bisa jadi. Tapi lihat dirimu sekarang, dokter kecil. Kau pikir siapa yang kasih amplop itu padamu? Aku. Siapa yang suruh kau ke sini? Aku. Dan siapa yang akan matiin saksi terakhir… ya, juga aku.”

Dia pegang dagu Lyra kasar, nundukin wajahnya biar sejajar sama mata Lyra. Tapi Lyra—walau gemetar—masih berani nandang tatapan itu balik.

> Lyra: “Kau cuma berani ngiket orang. Kalau lepas, aku pastiin kau nyesel.”

Terra malah ketawa kecil, suaranya rendah banget, sinis.

> Terra: “Kau pikir bisa ngelawan aku?”

Tiba-tiba Lyra nyentak tubuhnya, muter tangan sekenceng mungkin—tali di pergelangan robek dikit. Rantainya bunyi keras, dia terus berontak, lututnya nyenggol meja.

Gelas di atas meja jatuh—pecah, serpihannya nyebar ke lantai.

Satu pecahan kecil nyentuh telapak tangan Lyra, dan di situlah dia dapet ide.

Perlahan, diam-diam, dia mulai ngerayap pakai jari buat ngambil serpihan itu.

Tangan Terra baru sadar pas darah Lyra netes ke lantai.

> Terra (dingin): “Kau masih punya tenaga buat ngelawan? Lucu juga.”

Tapi Lyra malah senyum kecil, napasnya tersengal tapi matanya tajam.

> Lyra: “Aku dokter. Aku tahu anatomi manusia. Termasuk titik paling sakit kalau diserang.”

Dan cling!—tali di tangan Lyra akhirnya putus separuh, darahnya ngalir tapi dia nggak berhenti.

Terra melangkah maju, tapi Lyra udah siap.

---

Klik!

Suara kokangan pistol kedengeran nyaring banget di ruang sempit itu. Terra ngarahin moncongnya ke kepala Lyra—mata dingin, jarinya udah nempel di pelatuk.

> Terra: “Kau pikir aku nggak tega? Ini cuma satu tarikan kecil, dan—”

BRAK!

Suara pintu besi kejedot keras banget, sampai lampu di langit-langit goyang.

Bayangan tinggi muncul di ambang pintu—langkahnya berat, teratur, tapi ada kesan... liar.

> Kaon: “Lucu banget, Terra. Aku tinggal sebentar, kau udah bikin kekacauan.”

Terra noleh, separuh kaget tapi langsung pasang muka datar.

> Terra: “Aku cuma beresin urusan bocah ini. Kau nggak usah ikut campur.”

Kaon (nyengir di balik masker, suaranya kayak bergema logam): “Urusan kita, Terra. Jangan lupa siapa yang punya hak main terakhir.”

Dia maju, langkahnya pelan tapi ngasih tekanan aneh—kayak udara di ruangan tiba-tiba jadi dingin banget.

Lyra ngerasa napasnya ketahan, antara takut dan ngeri.

Terra langsung ngarahin pistol ke Kaon.

> Terra: “Kau pikir aku takut?!”

Kaon: “Nggak. Tapi kau lupa, siapa yang kasih kau hidup setelah gagal di misi Raven dua tahun lalu?”

Suasana sunyi. Cuma suara degup jantung Lyra yang kedengeran di kepala sendiri.

Kaon mendekat, satu tangannya pelan nahan pistol Terra—dan Terra nggak berani narik pelatuknya.

> Kaon (lirih tapi tajam): “Kau boleh main, tapi aku yang nutup pertunjukannya.”

Dalam satu gerakan cepat, dia nyentak tangan Terra, pistolnya jatuh ke lantai—

CLANG!

Terra mundur dua langkah, marah, tapi nggak bisa berbuat apa-apa.

Kaon jalan pelan ke arah Lyra yang masih setengah terikat di kursi.

Dia jongkok, jarak cuma segenggam tangan.

> Kaon: “Masih suka kabur, dokter kecil?”

Lyra (suara serak): “Masih suka nyulik orang, monster kecil?”

Senyum Kaon keliatan di balik bayangan topengnya, pelan tapi... berbahaya.

> Kaon: “Berani ya. Aku suka.”

Terra ngelihat itu, ngeh banget arah situasinya bakal ke mana.

> Terra: “Kau beneran mau lawan perintah buat gadis ini, Kaon?”

Kaon (tanpa nengok): “Bukan lawan. Aku cuma... ganti rencana.”

Dia potong tali di tangan Lyra dengan pisau kecil dari sabuknya.

Terus, sebelum Terra sempat ngomong lagi—Kaon nembak ke arah dinding dekatnya.

Pelurunya mental, ngancurin lampu. Ruangan langsung gelap.

> Kaon (suara datar, nyaris berbisik): “Kau punya tiga detik buat kabur, Lyra.”

---

Tapi..terra sudah menyiapkan bom tangan sebelum lyra datang..

BOOOM!!!

Api meledak dari belakang kontainer, nyapu udara dingin dermaga jadi neraka oranye. Besi kebanting, pecahan kaca nyebar kayak hujan.

Lyra kebanting ke lantai besi, kupingnya berdenging, pandangan blur—cuma bisa liat siluet Kaon yang setengah tubuhnya berdarah, berdiri di depan dia buat ngelindungin.

“KAON!” teriaknya parau, tapi suaranya ketelen asap dan debu.

Kaon nyengir samar—nyaris kayak orang yang udah tau ini bakal jadi akhir. “Kau… nggak bisa kabur sendirian, ya?” suaranya serak, tapi nada bercandanya tetap ada di ujung kalimat, khas Kaon.

Lyra nyenggolnya dengan tangan gemetar, “Bodoh… kenapa lo–”

Tiba-tiba suara Terra nyaring lewat speaker yang nyempil di salah satu crane tua.

> “Ah… pemandangan yang indah. Dua pengkhianat dalam satu ledakan. Kalian pikir bisa ngelawan sistem? Dunia ini makan yang lemah, Kaon. Termasuk lo.”

Kaon nyengir, matanya gelap tapi masih berkilat. “Gue emang bukan pahlawan, Terra… tapi lo juga nggak bakal jadi dewa.”

Boom kedua meledak—lebih besar, lebih deket. Air laut ikut naik karena tekanan, dan besi dermaga mulai miring. Kaon langsung narik Lyra, ngebopongnya lewat tangga darurat yang separuh kebakar.

Asap tebal ngikut di belakang mereka kayak bayangan hidup. Lyra nyengir panik, “Lo masih bisa lari dalam keadaan kayak gini?!”

Kaon ngeludah darah, tapi tetap lanjut. “Gue udah mati seribu kali, Lyra. Ini cuma bonus.”

Sampai akhirnya—mereka berhasil keluar ke sisi lain dermaga yang setengah tenggelam. Kapal patroli lama terombang-ambing di sana. Kaon nendang tali pengikatnya dan nyuruh Lyra naik.

Sementara itu, di jauh sana—Terra berdiri di ruang kendali utama, senyumannya retak pas ngeliat dua siluet itu masih hidup di layar CCTV yang udah ngeluarin asap.

> “Tch… kalian belum selesai rupanya.”

Dia nyalain detonator terakhir, tapi sistemnya nge-glitch—sinyal macet.

Dari speaker belakang, suara lain muncul: berat, tapi tenang.

> “Sinyal kau sudah kuputus, Terra.”

Itu… Pharma.

Kau mau lanjut dari sisi Terra dan Pharma dulu, atau dari kapal yang dinaikin Lyra sama Kaon, Veii?Oke.

Langit pagi itu masih abu-abu—bekas ledakan semalem belum juga ilang. Asap tipis masih nyisa di udara, dan bau besi terbakar bercampur air laut bikin semuanya berasa… berat.

Mobil polisi Rodimus berhenti mendadak di tepi dermaga, ban nyeret di aspal. Paul keluar duluan, langsung lari ke arah kapal tua yang udah diseret petugas pemadam ke pinggir.

Dari jauh, keliatan Lyra duduk di pinggir dek, rambutnya awut-awutan, wajahnya penuh jelaga dan luka gores, tapi matanya masih nyala—masih hidup.

Kaon duduk nggak jauh darinya, ditutupin selimut emergency, darahnya udah setengah kering.

> “Lyra!”

Paul langsung nyamperin, napasnya berat, hampir marah tapi juga lega setengah mati.

“Gue pikir lo—”

Lyra senyum kecil, bibirnya pecah. “Tenang, aku masih punya sembilan nyawa. Paling baru kepake dua.”

Paul ngedengus, terus berlutut, naro tangannya di bahu Lyra.

> “Lo gila. Dermaga kebakar, dua ledakan, dan lo masih bercanda?”

Lyra nyengir lemah. “Kalau gue nggak bercanda, gue udah nangis.”

Sementara itu, Rodimus lagi ngobrol sama tim medis yang baru dateng, sementara Driky ngecek kondisi Kaon dari jarak aman. Kaon masih setengah sadar, tapi begitu Paul nengok ke arahnya, dia ngerasa… aneh.

Kaon nyengir samar, kayak orang yang tau lebih banyak dari yang dia tunjukin.

> “Tenang aja, Polisi. Gue nggak akan kabur… bukan sekarang.”

Paul berdiri, nadanya dingin. “Kau ditahan karena dugaan keterlibatan dalam jaringan Delphi dan kasus mutilasi. Dan kalau gue nemuin bukti kalau lo main dua kaki—”

Kaon nyela pelan, “Bukti udah lo pegang, cuma belum lo ngerti.”

Rodimus nyamperin, ngelirik Paul.

> “Bawa keduanya ke Medika dulu. Kaon butuh perawatan, Lyra juga. Setelah itu, baru interogasi.”

Paul nyaut cepat, “Gue nggak ninggalin mereka tanpa pengawasan.”

Lyra nyeletuk, suaranya parau tapi sinis, “Santai aja, Paul. Gue nggak akan kabur. Lagian… gue juga mau tau, sebenernya siapa yang masih main di belakang semua ini.”

Paul ngerespon dengan diam. Tapi di matanya, ada sesuatu—bukan cuma rasa curiga, tapi juga beban yang makin berat.

Karena satu hal pasti: kalau Kaon dan Terra udah ketangkep, maka seseorang lain masih di luar sana, narik benang-benang di balik bayangan.

Dan Lyra ngerasa itu juga—

karena waktu dia nyender di pintu ambulans, matanya sempat ngeliat sesuatu di kejauhan:

sebuah siluet putih-abu, berdiri di atap gedung seberang dermaga, ngeliatin mereka sebelum akhirnya menghilang di kabut pagi.

Itu bukan Terra.

Dan bukan Kaon.

Itu Pharma.

Ambulans ngeluncur lewat jalan pesisir, sirinenya cuma setengah nyala—karena mereka nggak mau narik perhatian media.

Langit udah mulai kebiruan, tapi matahari belum berani naik.

Di dalam, suasananya sunyi. Hanya bunyi mesin dan napas berat.

Lyra duduk di kursi samping, selimut emergency masih nempel di bahunya. Kaon berbaring di ranjang lipat dengan infus darurat, wajahnya setengah pucat tapi matanya tetap hidup.

Paul duduk di seberang mereka, tangannya masih bergetar halus—antara tegang, lega, dan nggak yakin sama apa pun lagi.

> “Jadi...” suara Paul akhirnya pecah pelan, “itu semua ulah Terra?”

Lyra angguk, pelan tapi yakin. “Iya. Terra pakai sistem lama di dermaga buat jebak kita. Tapi dia bukan dalang utama, Paul.”

> “Lo yakin?”

“Banget.”

Kaon ketawa kecil—suara serak dan miring, kayak bercanda tapi pahit.

> “Terra cuma pesuruh. Dia cuma bagian yang suka bikin darah tumpah, bukan yang nyuruh darah itu ngalir.”

Paul nyengir dingin. “Lo ngomong kayak lo tau dalang sebenernya.”

Kaon ngangkat bahu, “Mungkin gue tau, mungkin nggak. Tapi lo terlalu percaya sama orang yang terlalu bersih.”

Lyra langsung nengok ke dia. “Jangan mulai, Kaon.”

> “Apa? Gue cuma ngomong fakta.” Kaon nyender pelan, matanya menatap ke langit-langit ambulans. “Yang lo semua kira malaikat—kadang punya tangan paling kotor di antara kita.”

Paul diam, tapi tatapannya menusuk.

Dan Lyra bisa baca dari ekspresinya—nama yang muncul di kepala Paul sama kayak di pikirannya sendiri: Pharma.

---

Raven Medika.

Pagi menjelang siang.

Gedung itu udah steril dari pasien luar; cuma tim kepolisian dan tenaga medis internal yang diizinkan masuk. Ratchet udah siap di depan, masih pakai jas putih yang belepotan darah kering.

> “Bawa ke ruang operasi dua,” katanya ke petugas medis. “Kaon dulu, Lyra nanti.”

Lyra sempat protes kecil, tapi Ratchet langsung ngelirik dengan nada setengah ancaman.

> “Kau masih hidup karena keajaiban, Lyra. Jangan protes.”

Paul jalan di samping Ratchet, nadanya rendah.

> “Ratchet, dengerin gue. Lyra bilang Terra yang ngebom dermaga. Tapi kalau gitu, siapa yang ngatur semuanya di belakang?”

Ratchet jalan terus, tapi wajahnya mulai gelap.

> “Aku juga pengen tau itu, Paul. Dan kalau tebakanmu sama kayak punyaku… maka kita semua dalam masalah besar.”

---

Beberapa jam kemudian—Lyra udah diinfus, duduk di ranjang observasi, rambutnya udah dibersihin dari jelaga.

Di luar ruangannya, Paul lagi debat pelan sama Rodimus dan Driky.

Suara mereka kedengeran sayup: soal laporan, soal siapa yang mesti mereka periksa dulu, dan soal satu nama yang terus muncul... Pharma.

Tapi dari jendela ruang observasi, Lyra ngeliat sesuatu yang bikin napasnya berhenti.

Di ujung koridor, ada seseorang berdiri.

Jas putih rapi. Wajahnya bersih. Senyum ramah.

Pharma.

Dan pas mata mereka ketemu, Pharma cuma ngangguk pelan.

Senyum itu terlalu tenang buat seseorang yang seharusnya nggak tau apa yang baru aja terjadi di dermaga.

> “Kau terlihat lelah, Lyra,” katanya lembut dari balik kaca.

“Istirahatlah. Dunia bisa menunggu.”

Lalu dia pergi.

Langkahnya pelan, tapi di lantai steril itu, suara sepatunya terdengar kayak gema dari rahasia yang belum selesai.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!