(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Gang Sempit Pasar Hantu.
Hujan gerimis mulai turun, membasahi jalanan batu yang kotor dan licin. Tiga perampok bertopeng berdiri menghadang, memancarkan aura Qi Condensation Tingkat 4 hingga 5. Jauh lebih tinggi dari Lin Xiao (Tingkat 2), dan setara dengan Ye Xing saat ini (Tingkat 5).
"Bocah," kata perampok tengah yang memegang golok. "Letakkan uang dan tungku rongsokan itu. Kami akan mematahkan satu tangan saja sebagai peringatan."
Ye Xing berdiri santai, satu kakinya menginjak tungku hitam berkarat itu. Dia menoleh pada Lin Xiao yang gemetar di belakangnya.
"Lin Xiao," panggil Ye Xing datar.
"Y-ya, Xing?"
"Kau lihat yang paling kiri? Dia yang paling lemah. Tingkat 3. Kakinya pincang sedikit. Urus dia."
Mata Lin Xiao membelalak horor. "A-aku? Tapi aku tidak pernah berkelahi! Aku cuma..."
"Kau bukan budak lagi!" bentak Ye Xing, suaranya menggelegar meski di tengah hujan. "Dunia ini memakan yang lemah. Jika kau tidak mau melawan, letakkan lehermu di goloknya sekarang dan mati saja!"
Lin Xiao tersentak. Dia melihat perampok di kiri yang menyeringai meremehkan. Ketakutan dan amarah bercampur di dadanya. Dia ingat roti berjamur. Dia ingat pukulan Zhao Hu.
"AAAAHHH!" Lin Xiao berteriak nekat, mencabut pisau karatan dari pinggangnya dan menerjang maju membabi buta.
"Bagus," gumam Ye Xing. Dia kembali menatap dua perampok tersisa. "Sekarang giliran kalian. Maaf aku tidak bawa pedang. Jadi aku akan pakai ini saja."
Ye Xing menendang bagian bawah tungku hitam itu hingga melayang ke udara. Dia menangkap salah satu kakinya yang masih utuh.
Tungku itu terbuat dari Besi Meteorit. Beratnya hampir 100 kilogram, tapi bagi Ye Xing yang pernah membawa air besi, ini pas.
"Dia mau memukul kita pakai tempat pakan ayam?" Perampok tengah tertawa. "Bunuh dia!"
Dua perampok itu maju serentak. Golok mereka bersinar dialiri Qi.
Ye Xing tidak mundur. Mata kanannya (Mata Bintang) berkedip. Dia melihat lintasan golok itu dalam gerakan lambat.
Membosankan.
Ye Xing memutar tubuhnya, menghindari tebasan pertama dengan jarak sehelai rambut. Momentum putarannya dia gunakan untuk mengayunkan tungku hitam itu secara horizontal.
BWOOSH!
Suara angin yang terbelah terdengar mengerikan.
KRAK!
Tungku itu menghantam sisi tubuh perampok kanan. Suara tulang rusuk patah terdengar nyaring. Perampok itu terpental menabrak dinding gang dan meluncur jatuh seperti boneka rusak. Pingsan seketika.
"Apa?!" Perampok tengah terbelalak. "Tungku itu... seberat apa?!"
Belum sempat dia berpikir, Ye Xing sudah ada di depannya. Ye Xing tidak mengayunkan tungku lagi, tapi menggunakan gravitasi tungku itu untuk menjatuhkan dirinya ke bawah, melakukan sapuan kaki.
Perampok itu melompat menghindari sapuan kaki.
Prediksi tepat.
Ye Xing menyeringai. Saat musuh di udara, dia tidak bisa menghindar.
Ye Xing melepaskan tungku itu, membiarkannya jatuh ke tanah, lalu melompat dan menendang dada perampok itu di udara.
Buk!
Perampok itu terlempar ke belakang, mendarat di genangan lumpur.
Sementara itu, di sisi lain, Lin Xiao sedang bergulat di tanah dengan lawannya. Dia dipukuli, wajahnya lebam, tapi dia tidak melepaskan gigitannya di lengan musuh.
"Lepaskan! Dasar anjing gila!" teriak perampok itu, memukul kepala Lin Xiao.
"Tusuk!" teriak Ye Xing dari kejauhan. "Jangan digigit! Kau bukan anjing! Gunakan pisaumu!"
Sadar, Lin Xiao meraba-raba tanah, menemukan pisaunya, dan menusukkannya ke paha perampok itu.
"ARGH!"
Perampok itu menjerit dan menendang Lin Xiao menjauh, lalu mencoba lari dengan kaki terpincang-pincang dan berdarah.
Suasana hening kembali di gang itu. Hanya suara hujan dan napas berat Lin Xiao yang terdengar.
Ye Xing berjalan mendekati perampok tengah (pemimpin) yang mengerang kesakitan di lumpur. Dia menginjak dada orang itu.
"Teknik golokmu..." kata Ye Xing dingin. "Itu Gaya Cakar Harimau. Kalian bukan perampok biasa. Kalian murid Sekte Harimau Besi, kan?"
Mata perampok itu membelalak di balik topengnya. "B-bagaimana kau..."
Ye Xing merobek topeng orang itu. Wajah asing, tapi ada tato kecil bergambar kepala harimau di lehernya.
Sekte Harimau Besi. Tetangga sekaligus musuh bebuyutan Sekte Awan Rusak.
"Jadi Sekte Harimau Besi sekarang sudah jatuh miskin sampai muridnya harus merampok murid sekte lain di pasar gelap?" ejek Ye Xing.
"Cuih!" Perampok itu meludah. "Kami hanya bersenang-senang! Awan Rusak sebentar lagi akan rata dengan tanah. Wilayah kalian akan jadi milik kami bulan depan setelah Turnamen Wilayah!"
Ye Xing mengangguk paham. "Informasi diterima."
Dia mengangkat kakinya, lalu menendang pelipis orang itu hingga pingsan total. Dia kemudian menggeledah saku mereka, mengambil semua uang dan pil yang ada.
"Lin Xiao, bangun," perintah Ye Xing.
Lin Xiao bangkit dengan tertatih. Wajahnya penuh darah dan lumpur, tapi dia tersenyum. Senyum yang mengerikan namun puas.
"Aku... aku menang, Xing," bisik Lin Xiao. "Aku menusuknya."
"Kau menang," Ye Xing menepuk bahu sahabatnya, tidak mempedulikan darah yang mengotori tangannya. "Dan kau masih hidup. Itu yang terpenting. Sekarang angkut tungkunya. Kita pulang."
Mereka berjalan keluar dari gang, meninggalkan tiga tubuh pingsan di bawah hujan.
Ye Xing menatap langit gelap. Turnamen Wilayah bulan depan? Sepertinya aku datang di waktu yang tepat untuk sebuah pesta.
Kembali ke Gubuk Lin Xiao.
Ye Xing meletakkan tungku Bintang Jatuh di tengah gubuk yang atapnya masih bocor. Dia membersihkan debu dan karat di permukaannya dengan kain.
Di bawah lapisan kotoran itu, logam hitam keunguan mulai terlihat. Ada ukiran rasi bintang samar yang hanya bisa dilihat oleh Ye Xing.
"Sekarang," gumam Ye Xing, matanya bersinar penuh antisipasi. "Mari kita lihat apakah 'sampah' ini bisa menampung api amarahku."
Dia mengeluarkan sisa Rumput Roh Angin, Empedu Babi Hutan, dan beberapa bahan murah yang dia beli di pasar.
"Lin Xiao, jaga pintu. Jangan biarkan siapapun masuk, bahkan lalat sekalipun."
"Baik!" Lin Xiao duduk di depan pintu dengan pisau di tangan, matanya waspada. Dia bukan lagi bocah penakut kemarin sore.
Ye Xing menarik napas dalam. Dia meletakkan tangannya di permukaan tungku.
Wosh!
Bukan api kayu, tapi percikan api biru kecil keluar dari ujung jari telunjuk Ye Xing sisa-sisa Api Jiwa Phoenix yang berhasil dia bangunkan sedikit berkat pertarungan tadi.
Api itu masuk ke dalam tungku. Tungku itu berdengung rendah, menyambut api itu seperti kawan lama.
"Waktunya memasak," seringai Ye Xing.