Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANTENG-GANTENG MANJA
Pagi hari di puskesmas kecamatan mendadak riuh, bukan karena kedatangan pasien darurat, melainkan karena tingkah CEO muda yang sedang merengek di atas ranjang perawatan. Haikal, yang infusannya baru saja dilepas setengah jam lalu, terus-menerus menarik-narik ujung jilbab instan milik Ardiah.
"Kak, ayolah. Pulang, ya? Aku sudah sembuh total, lihat ini!" seru Haikal sambil memamerkan otot lengannya yang sebenarnya masih sedikit lemas. "Bau obat di sini membuat kepalaku pusing. Dirawat di rumah nenek saja, jauh lebih nyaman dan ada Kak Diah yang menjaga."
Ardiah mengembuskan napas panjang, mencoba melepaskan kain jilbabnya dari cengkeraman Haikal. Ia melirik ke arah pintu kaca ruang rawat, di mana tiga orang suster yang sedang berjaga di meja administrasi bolak-balik menengok ke dalam sambil berbisik-bisik dan senyam-senyum.
"Haikal, diamlah! Lihat ke luar, semua suster memerhatikan kita," bisik Ardiah dengan wajah yang sudah memerah menahan malu. "Tahu tidak, apa yang mereka gosipkan sejak tadi pagi? Mereka bilang, ada pasien tampan tapi manjanya melebihi anak balita! Aku malu, Haikal!"
Haikal menoleh sekilas ke arah pintu, lalu kembali menatap Ardiah dengan pandangan cuek tanpa beban. "Biarkan saja mereka bicara apa, Kak. Yang penting kan suamimu yang tampan ini manjanya hanya padamu seorang, bukan pada mereka."
Plak!
Sebuah keplakan mendarat mulus di lengan Haikal, membuat pria itu mengaduh dramatis. "Aduh, Kak! Aku ini pasien, tega sekali menyiksa suami sendiri."
"Makanya jangan bersikap seperti anak-anak! Jaga gengsimu sebagai bos sedikit, kenapa sih?" protes Ardiah sambil berkacak pinggang.
Namun, dasar Haikal memang berkepala batu dan tengil, ia tidak menghiraukan omelan istrinya. Ketika dokter umum yang merawatnya masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin, Haikal langsung mengeluarkan seluruh jurus negosiasinya. Ia merengek dan berjanji akan mematuhi semua instruksi medis asalkan diizinkan keluar hari ini juga.
Melihat kegigihan pasiennya yang keras kepala namun menggemaskan itu, sang dokter akhirnya menyerah sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Baiklah, Pak Haikal. Saya izinkan pulang siang ini. Tapi ingat syaratnya, ya? Harus banyak istirahat, rutin minum obat, dan sama sekali tidak boleh terlambat makan. Lambung Anda kemarin sempat mengalami infeksi ringan karena kosong berhari-hari."
"Siap dilaksanakan, Dokter yang baik hati!" seru Haikal dengan binar mata yang cerah.
Setelah menyelesaikan seluruh administrasi yang dibantu oleh Roni, mereka akhirnya meninggalkan puskesmas. Perjalanan kembali ke pinggiran desa ditempuh menggunakan mobil mewah milik Haikal yang dikemudikan oleh Roni. Sepanjang jalan, Haikal terus menyandarkan kepalanya di bahu Ardiah, menikmati atensi penuh dari sang istri yang kini tidak lagi menolaknya.
Sesampainya di kampung terpencil di pinggir sungai, kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh sang Nenek. Wanita lansia itu langsung menuntun Haikal masuk ke dalam gubuk bambunya agar pria itu bisa segera berbaring.
Namun, begitu melangkah masuk ke dalam kamar tidur kecil yang hanya dibatasi oleh sekat triplek, Haikal langsung menghentikan langkahnya. Ia memandangi satu-satunya tempat tidur di ruangan itu, sebuah ranjang kayu kuno berukuran single yang hanya beralaskan kasur kapuk tipis. Untuk ukuran tubuh tegap Haikal yang bertinggi 185 cm, ranjang itu jelas akan membuat kakinya menggantung.
Haikal berbalik menatap Roni yang berdiri di ambang pintu gubuk. "Ron, sekarang juga kamu pergi ke toko mebel terbesar di kota Wonosobo. Beli tempat tidur ukuran king size yang paling empuk, lengkap dengan bantal bulu angsa. Bawa ke sini sore ini."
"Eh? Jangan aneh-aneh, Haikal!" potong Ardiah cepat dengan mata melotot. "Kamu lihat sendiri kan ukuran kamar ini berapa? Kalau ditaruh kasur besar jelas kamarnya tidak akan muat! Jangankan kasur, kita saja tidak bisa masuk!"
Haikal mengetuk dagunya, memandangi langit-langit gubuk bambu yang mulai tampak rapuh dan sempit. Bukannya mengurungkan niat, matanya justru berkilat mendapatkan sebuah ide yang jauh lebih gila.
"Oh, benar juga. Kamarnya terlalu sempit," gumam Haikal. Ia kembali menatap Roni. "Kalau begitu, Ron, hubungi kontraktor terbaik. Suruh mereka bawa material ke sini besok pagi. Kita bedah rumah ini. Hancurkan gubuk ini, lalu bangun rumah dua lantai yang besar dan kokoh di tanah ini."
"Haikal!" Ardiah berteriak tertahan, benar-benar syok dengan jalan pikiran suaminya yang serba instan khas orang kaya. "Kamu gila, ya? Ini rumah kenangan Nenek! Jangan asal main hancurkan saja!"
Melihat Ardiah yang mulai menaikkan nada suaranya dan bersiap untuk mengomel panjang lebar, Haikal langsung memutar tubuhnya. Dengan langkah sengaja dibuat sedikit lemas, ia berjalan mendekati sang Nenek yang sedang duduk di kursi bambu ruang tengah, lalu berlutut di depan wanita tua itu dengan wajah memelas.
"Mbah... lihat Kak Diah, dia memarahi Ikal lagi," adu Haikal dengan nada manja yang dibuat-buat, sukses membuat Roni di pintu menepuk jidatnya sendiri menahan tawa.
Nenek terkekeh pelan, mengusap rambut Haikal dengan penuh kasih sayang. "Ada apa toh, Ngger? Kenapa bertengkar lagi?"
"Ikal cuma ingin memperbesar dan memperbaiki rumah Mbah, supaya rumahnya jadi bagus, tidak bocor lagi kalau hujan," jelas Haikal dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat tulus. "Lagipula, Ikal merasa sangat nyaman tinggal di desa ini, Mbah. Ikal ingin suatu saat nanti, kalau Ikal dan Kak Diah pulang berkunjung ke sini lagi, kami sudah memiliki kamar sendiri yang luas dan nyaman untuk beristirahat. Boleh ya, Mbah? Ikal mohon diizinkan."
Ardiah yang ikut berjalan ke ruang tengah langsung menyela. "Mbah, jangan diizinkan. Dia cuma mau pamer uangnya saja itu!"
Nenek tidak langsung menjawab. Beliau menatap mata Haikal yang memancarkan kesungguhan dan rasa hormat yang mendalam kepada orang tua, lalu beralih menatap cucunya, Ardiah. Sebagai orang tua yang sudah makan asam garam, Nenek tahu bahwa apa yang dilakukan cucu menantunya ini adalah bentuk pembuktian cinta dan tanggung jawab untuk membahagiakan keluarga istrinya.
Sambil tersenyum teduh, Nenek kembali mengusap bahu Haikal. "Niatmu sangat mulia, Ngger. Mbah tahu kamu anak baik yang tulus. Kalau memang itu maumu agar kalian berdua nyaman saat pulang ke desa ini, Mbah mengizinkannya. Lakukanlah apa yang menurutmu baik."
"Mbah!" seru Ardiah tidak percaya dengan keputusan neneknya.
Haikal langsung menoleh ke arah Ardiah sambil menjulurkan lidahnya mengejek tanpa ketahuan sang Nenek, lalu bersorak gembira di dalam hati. "Terima kasih banyak, Mbah! Ikal janji rumah ini akan jadi rumah paling indah di kampung ini!"
Ardiah hanya bisa mengepalkan tangannya dengan gemas, menatap suaminya yang kini tersenyum kemenangan. Di balik rasa kesalnya atas sikap tengil Haikal, ada kehangatan aneh yang perlahan menyelimuti hati Ardiah. Pria kaya itu sama sekali tidak malu berlutut di lantai tanah gubuk usang demi mengambil hati seorang nenek tua di desa terpencil. Petualangan rumah tangga mereka di desa ini tampaknya baru saja dimulai, dan Ardiah tidak tahu kejutan apalagi yang akan dibawa oleh suaminya yang super manja dan tengil ini.
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️