Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 — Masa Lalu yang Datang Kembali
Suasana hangat di kamar rumah sakit perlahan berubah ketika Vanessa menyadari seseorang berdiri di luar pintu.
“Eh?” Vanessa mengernyit kecil. “Siapa itu?”
Reno langsung menoleh.
Namun pria yang tadi berdiri di sana sudah berjalan pergi sebelum wajahnya terlihat jelas.
Alya ikut melirik sekilas, tetapi hanya melihat punggung tinggi seorang pria dengan hoodie hitam menghilang di ujung lorong.
“Kamu kenal?” tanya Reno pelan.
Alya menggeleng.
“Nggak.”
Namun entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Seolah ia pernah melihat sosok itu sebelumnya.
Dua hari kemudian, Reno akhirnya kembali bekerja meski Alya masih terus mengomel soal kondisi kesehatannya.
“Kepalamu masih belum benar-benar sembuh.”
Reno tersenyum santai sambil memakai jasnya. “Kalau aku terus di rumah, nanti ada yang kangen.”
Alya mendelik kesal.
“Kamu pede banget.”
“Memangnya nggak?”
Alya langsung diam karena pipinya memanas sendiri.
Dan itu sukses membuat Reno tertawa kecil.
Hubungan mereka kini berubah jauh lebih dekat. Meski belum ada status jelas, semua orang di kantor sudah bisa melihat bagaimana Reno memperlakukan Alya dengan sangat berbeda.
Tatapannya.
Perhatiannya.
Cara Reno selalu mencari Alya pertama kali setiap datang ke kantor.
Semuanya terlalu jelas.
Namun di balik kebahagiaan kecil itu, Alya masih menyimpan ketakutan dalam hati.
Keluarga Reno belum menerima dirinya.
Dan dunia Reno terlalu jauh berbeda dengan hidupnya.
Siang itu, Alya sedang keluar kantor untuk membeli makan siang sendirian ketika tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
“Alya.”
Langkah Alya langsung berhenti.
Suara itu terasa familiar.
Perlahan ia menoleh.
Dan seketika wajahnya berubah pucat.
“Dimas…”
Pria di depannya tersenyum tipis.
Dimas Pratama.
Mantan anggota geng Reno saat SMA.
Orang yang dulu paling sering ikut menertawakannya bersama Reno.
Namun berbeda dengan Reno yang kini berubah, tatapan Dimas masih terasa dingin dan merendahkan seperti dulu.
“Kamu berubah banget,” ujar Dimas sambil memperhatikan Alya dari atas sampai bawah. “Sekarang cantik juga ternyata.”
Alya langsung merasa tidak nyaman.
“Ada perlu apa?”
Dimas terkekeh kecil.
“Galak banget. Padahal dulu kamu pendiam.”
Alya mengepalkan tangannya pelan.
Masa lalu yang susah payah ia kubur mendadak muncul lagi di depan mata.
“Aku sibuk,” katanya dingin. “Permisi.”
Namun saat Alya hendak pergi, Dimas tiba-tiba menahan lengannya.
“Kamu dekat sama Reno sekarang?”
Tatapan Alya langsung berubah tajam.
“Lepas.”
“Jawab dulu.”
“Bukan urusan kamu.”
Dimas tersenyum miring.
“Ternyata benar ya.” Ia mendekat sedikit. “Lucu juga. Dulu kamu korban bully-an dia, sekarang malah dekat.”
Alya langsung menarik lengannya kasar.
“Setidaknya Reno berubah.” Suaranya mulai bergetar menahan emosi. “Nggak kayak kamu.”
Tatapan Dimas langsung berubah dingin.
“Alya, kamu jangan naif.” Ia tertawa kecil mengejek. “Orang kayak Reno nggak akan benar-benar berubah.”
“Diam.”
“Dia cuma bosan lalu main-main sama kamu.”
“Reno nggak seperti itu.”
“Yakin?”
Kalimat itu sukses membuat Alya terdiam sesaat.
Karena bagian paling menyakitkan adalah—
Dulu Alya juga percaya Reno tidak akan pernah berubah.
Dan ketakutan itu masih tersisa sampai sekarang.
Dimas melihat keraguan kecil di mata Alya lalu tersenyum puas.
“Kamu tahu nggak?” katanya pelan. “Dulu Reno pernah bilang sesuatu tentang kamu.”
Jantung Alya langsung berdebar tidak nyaman.
“Apa?”
Dimas mendekat lalu berbisik rendah,
“Katanya bikin kamu nangis itu hiburan paling lucu di sekolah.”
Deg.
Tubuh Alya langsung membeku.
Meski itu masa lalu…
Mendengar kalimat tersebut tetap terasa seperti pisau yang kembali membuka luka lama.
“Dan sekarang kamu percaya dia cinta sama kamu?” Dimas tertawa sinis. “Jangan bodoh, Alya.”
“Aku bilang diam!”
Untuk pertama kalinya, Alya benar-benar marah.
Matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang bercampur dengan rasa sakit lama.
Namun sebelum Dimas sempat bicara lagi, sebuah tangan tiba-tiba menarik Alya ke belakang.
Reno.
Tatapan pria itu begitu dingin hingga Dimas langsung terdiam.
“Jangan sentuh Alya.”
Suara Reno rendah dan penuh amarah.
Dimas tertawa kecil. “Santai aja. Gue cuma ngobrol.”
“Kalau ngobrolnya bikin dia nangis, berarti lo cari mati.”
Alya menatap Reno kaget.
Ia belum pernah melihat Reno semarah ini sebelumnya.
Dimas memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan santai.
“Wih, galak banget sekarang.” Ia melirik Alya sekilas. “Padahal dulu lo sendiri yang paling senang bikin dia nangis.”
Rahang Reno langsung mengeras.
Dan Alya bisa merasakan tubuh pria itu menegang.
“Alya.” Reno menoleh pelan. “Masuk mobil dulu.”
“Tapi—”
“Please.”
Nada suara Reno terdengar menahan emosi.
Akhirnya Alya menurut dan berjalan menuju mobil Reno yang terparkir di pinggir jalan.
Namun sebelum masuk, ia masih bisa mendengar percakapan keduanya.
“Lo nggak pantas dekat sama dia,” ucap Dimas dingin.
Reno tertawa hambar.
“Gue tahu.”
“Terus kenapa masih maksa?”
Tatapan Reno berubah dalam penuh penyesalan.
“Karena gue udah terlalu jatuh cinta sama dia buat mundur sekarang.”
Deg.
Langkah Alya langsung terhenti sesaat.
Jantungnya kembali berdebar kacau mendengar pengakuan itu.
Sementara di luar sana, Dimas justru tersenyum sinis.
“Lo lupa siapa diri lo dulu?”
“Gue nggak pernah lupa.”
“Kalau Alya tahu semua yang pernah lo lakuin di belakang dia…” Dimas mendekat sedikit sambil tersenyum tipis, “dia pasti bakal benci lo lagi.”
Tatapan Reno langsung berubah tajam.
“Maksud lo apa?”
Namun Dimas hanya tertawa kecil lalu melangkah pergi.
“Coba aja tanya sama diri lo sendiri,” katanya tanpa menoleh. “Apa lo udah jujur sepenuhnya ke Alya?”
Suasana mendadak terasa jauh lebih dingin.
Reno berdiri diam dengan rahang mengeras.
Sementara di dalam mobil, Alya mulai merasa ketakutan lagi.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia sadar mungkin masih ada rahasia besar dari masa lalu yang belum pernah Reno ceritakan padanya.Reno akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah dingin.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa sangat sunyi.
Alya beberapa kali melirik Reno diam-diam, tetapi pria itu terus fokus menatap jalan tanpa banyak bicara.
Dan itu membuat hati Alya semakin gelisah.
“Apa yang dimaksud Dimas tadi?” tanya Alya pelan akhirnya.
Tangan Reno di setir langsung menegang sedikit.
“Nggak penting.”
“Kalau nggak penting, kenapa wajah kamu berubah begitu?”
Reno mengembuskan napas panjang.
“Alya…”
“Jawab jujur sama aku.”
Mobil perlahan berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi.
Reno memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya menatap Alya.
Tatapannya penuh rasa bersalah.
“Dulu aku jauh lebih jahat daripada yang kamu tahu.”
Kalimat itu membuat dada Alya terasa sesak.
“Aku pernah nyuruh orang nyembunyiin surat yang kamu tulis buat lomba desain sekolah,” lanjut Reno lirih. “Padahal kamu kerja keras buat itu.”
Mata Alya langsung membesar.
Ia masih ingat kejadian itu.
Hari ketika hasil desainnya hilang dan seluruh kelas menuduhnya ceroboh.
Hari ketika ia menangis sendirian di belakang sekolah.
Dan sekarang…
Reno mengaku bahwa semua itu memang ulahnya.
“Aku pikir itu cuma candaan waktu itu,” bisik Reno penuh penyesalan. “Tapi ternyata aku benar-benar nyakitin kamu separah itu.”