Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah
Suara alarm berdering nyaring, membangunkan Alma dari tidurnya yang bisa dibilang kurang nyenyak semalaman. Jemarinya yang lentik otomatis terulur, meraba tempat tidur di sampingnya, tetapi hanya mendapati seprai yang dingin dan kosong. Seketika ia membuka mata lebar, lalu menghela napas panjang yang sarat kekecewaan.
"Bukankah dia bilang cuma tiga hari di luar kota? Tapi kenapa belum pulang juga? Ke mana dia sebenarnya?" gumamnya lirih.
Alma lantas memutuskan beranjak dari tempat tidur, melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, ia sudah mengenakan mukena, siap menunaikan kewajiban sholat Subuh. Di dalam sujudnya, segala keresahan dan firasat buruk yang bersarang di hatinya selama beberapa hari terakhir, meluap tak terbendung.
"Ya Allah... kenapa sejak beberapa hari ini perasaanku selalu gelisah tak menentu? Ada apakah gerangan? Kalau memang ada sesuatu, tolong tunjukkanlah pada hamba dan berilah kekuatan untuk menghadapinya, ya Allah..." doanya tulus dalam hati.
Selesai beribadah, Alma melipat rapi mukenanya lalu meletakkannya kembali ke tempat semula. Ia kemudian berganti pakaian mengenakan setelan kerja formal, blouse berwarna biru laut dipadukan dengan celana panjang biru dongker serta blazer warna senada. Sebagai penyempurna penampilannya, ia memakai hijab segiempat dengan motif gradasi warna navy-grey yang menambah kesan anggun sekaligus tegas.
Tanpa membuang waktu lama, Alma segera berangkat menuju kampus tempatnya bekerja sebagai seorang dosen. Lalu-lintas pagi hari itu cukup padat, membuat perjalanannya berjalan lamban. Saat kendaraannya berhenti di lampu merah, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal, keluar dari sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari posisinya.
"Itu... itu kan, Mas Nova?"
Jantung Alma seketika berdebar kencang. Netranya melebar tak percaya, melihat pria itu berjalan tergesa-gesa dengan langkah lebar. Wajahnya tampak begitu cemas, lalu menghilang masuk ke dalam lobi sebuah rumah sakit besar yang berada tepat di seberang jalan.
"Ngapain dia ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Kenapa dia nggak bilang apa-apa ke aku? Kemarin lusa dia bilang ada dinas luar kota, tapi ternyata...?"
Kekhawatiran serta firasat buruk langsung menyeruak memenuhi seluruh pikirannya.
"Sebaiknya aku ikuti dia," gumamnya penasaran.
Begitu lampu lalu lintas berubah hijau, Alma langsung membelokkan kendaraannya, masuk ke area parkir rumah sakit tersebut. Ia segera turun, kemudian menyusuri setiap koridor dengan langkah cepat. Matanya sibuk memindai setiap sudut bangunan itu mencari keberadaan suaminya.
Sampai akhirnya, ketika ia sampai ruang rawat bersalin, telinganya menangkap suara yang sangat dikenalnya. Suara yang selama ini selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang saat bicara padanya. Namun, kali ini terdengar begitu panik dan cemas. Pada siapa...?
"Bagaimana keadaan istri dan bayi kami, Dok? Apakah keduanya baik-baik saja? Apakah persalinannya berjalan lancar?"
Duarrr!!!
Alma seketika berdiri membeku di ujung koridor. Kalimat itu terlontar dari mulut pria yang selama tiga tahun ini menjadi suaminya. Bagaikan ledakan bom atom yang menghancurkan segalanya.
Suara itu... jelas-jelas suara Nova, suaminya sendiri. Namun, apa yang baru saja ia dengar? Istri dan bayi kami?
Alma memberanikan diri menoleh ke arah suara. Dan tak salah lagi, pria berstatus suaminya itu tengah berbicara dengan seorang dokter di depan salah satu ruang rawat.
Kaki Alma terasa lemas tak bertulang, tangannya mencengkeram kuat dinding koridor agar tak jatuh tersungkur. Kepalanya berdenyut hebat dengan berbagai pertanyaan. Rasa sakit di ulu hatinya bagaikan tertusuk pisau tajam yang berkarat.
Dengan sisa tenaganya, ia berjalan tertatih mendekati ruangan di mana Nova masuk ke dalamnya. Dari kaca pintu ia bisa melihat pemandangan yang mengoyak nuraninya, membuat air matanya tumpah deras tanpa kendali.
Terlihat di dalam sana, Nova berdiri di samping tempat tidur pasien, tangannya erat menggenggam tangan seorang wanita yang terbaring lemah, meski wajahnya tampak pucat tetapi bersinar bahagia. Di sampingnya, terlihat ibu dan ayah mertuanya tak kalah sumringah wajahnya, serta seorang perawat sedang menggendong bayi mungil yang masih terbalut kain putih, menangis pelan. Dan ekspresi di wajah Nova... tatapan penuh cinta, kekhawatiran, serta kebanggaan yang selama tiga tahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun ditujukan padanya dengan intensitas sedalam itu.
"Alhamdulillah, Pak, Bu. Bayinya laki-laki dalam keadaan sehat dan stabil. Berat badannya juga normal, selamat ya, Pak, Bu. Putra Anda tampan sekali," jelas perawat tersebut sambil tersenyum ramah.
Nova tersenyum lebar, lalu mencium punggung tangan wanita di depannya dengan lembut. "Dengar itu sayang, kamu hebat sekali. Terima kasih sudah memberiku hadiah terindah di dunia ini, terima kasih sudah berjuang keras melahirkan anak kita..."
Kata-kata itu menusuk telinga Alma, menghancurkan setiap kepingan hati yang masih tersisa. Ia sadar sekarang, ke mana saja suaminya menghilang selama ini. Kenapa dia selalu pulang larut atau bahkan tidak pulang berhari-hari dengan alasan ke luar kota.
Ternyata selama ini... ia bukanlah satu-satunya. Ternyata suaminya telah membangun kehidupan bersama keluarga lain di belakangnya, dan bahkan telah memiliki keturunan.
Alma menggigit bibirnya kuat-kuat menahan isakan yang hendak meledak. Ingin rasanya ia muncul di hadapan mereka, tetapi sisi hatinya yang lain menahannya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret dan merekam dengan berbagai sudut. Kemudian dengan langkah gontai meninggalkan tempat tersebut dengan membawa luka yang entah sampai kapan akan mampu ia obati.
Namun, karena berjalan dengan kepala tertunduk dan terlalu fokus dengan pikirannya, tak sadar Alma justru menabrak seseorang di depannya.
Brukkk
Alma terhenyak sesaat, tetapi kepalanya masih tertunduk, karena merasa malu dengan keadaan wajahnya yang sembab bersimbah airmata.
"Ma-maaf... Saya nggak sengaja," ujarnya seraya membungkuk, lalu dengan cepat melangkah pergi, meninggalkan sesosok pemuda yang tadi tak sengaja ditabraknya.
Pemuda itu mengernyit dalam, seolah mengingat sesuatu. "Siapa dia? Tapi suara itu aku seperti mengenalnya."
Entah apa yang ada dalam benaknya, pemuda itu pun bergegas mengejar kepergian Alma.
Sementara itu Alma telah sampai lobi. Ia tidak langsung kembali ke mobilnya, melainkan membawa langkahnya menuju taman kecil di samping rumah sakit tersebut. Ia lantas duduk di salah satu bangku panjang, tatapan matanya kosong ke arah depan, tetapi pikirannya sangat berisik.
Dibukanya ponsel di tangan lalu menekan nomor suaminya dan tersambung. Alma menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya.
"Assalamualaikum...Mas, di mana, kapan pulang?"
"Waalaikumsalam, Sayang. Mas masih di luar kota. Mendadak proyek ada masalah, jadi..."
Alma segera memutuskan sambungan teleponnya tak ingin lagi mendengar kelanjutan ucapan Nova. Jika selama ini dia selalu menunjukkan kekhawatirannya, ketika Nova mengatakan kalimat yang sama, kini kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam dadanya. Terlalu sakit rasanya menerima kebohongan ini.
Airmata kembali berlomba melaju keluar seolah ingin menunjukkan bahwa sang pemilik raga tengah dirundung duka mendalam.
"Kenapa rasanya sesakit ini, ya Allah?" Alma menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri.
Tiba-tiba langit yang tadinya berawan perlahan berubah menjadi mendung hitam dan titik-titik air dari atas mulai berjatuhan. Alma tetap bergeming, meski air hujan mulai mengenai sekujur tubuhnya, seolah ingin melebur bersama hujan, menumpahkan kesedihannya.
Di bawah pohon pucuk merah, sang pemuda yang menatapnya dalam diam sejak tadi, akhirnya melangkahkan kakinya menghampiri. Di tangan kanannya memegang payung lalu berhenti tepat di hadapan Alma.
"Apa masa kecilmu kurang bahagia, Nona. Sampai-sampai sudah sedewasa ini pun masih bermain hujan?"
Seketika wajah Alma terangkat, kala melihat seseorang berdiri di hadapannya, dan....?
.
Salam hangat dan sehat selalu🤗
Selamat datang di karya baru Moms, semoga kalian suka dan betah.😍
Selamat membaca.😊