Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kilatan Baja dari Masa Depan
22 Juli 700 Masehi
Langit di atas Selat Bangka begitu bersih, namun bagi para pelaut tradisional Srivijaya, pemandangan pagi itu adalah sebuah anomali yang menakutkan. Sebuah benda putih raksasa, berkilau di bawah sinar matahari seolah terbuat dari mutiara utuh, meluncur membelah arus tanpa selembar layar pun. Superyacht milik Yudi bergerak tenang memasuki wilayah pelabuhan luar Srivijaya, meninggalkan kapal-kapal kayu bermuatan rempah yang tampak seperti mainan kecil di sampingnya.
Yudi berdiri di anjungan, menikmati angin laut yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang sudah lama tidak ia dengar berdenting di dalam kepalanya.
[Notifikasi Sistem: Terdeteksi Sinyal Keberadaan Maharani Wu Lin]
[Status: Armada Utama Dinasti Zhou berada dalam radius 150 Mil Laut. Target sedang melakukan pencarian intensif terhadap Host.]
[Saran Sistem: Host dapat melakukan prosedur pengenalan diri atau penghindaran strategis.]
Yudi mendengus pelan, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari dermaga yang mulai ramai. "Bodoh amat," gumamnya santai. "Dia yang pergi meninggalkanku di gubuk reyot itu demi takhta, jadi sekarang biarkan dia mencariku sampai puas. Aku sedang ingin menikmati hidup sebagai orang kaya, bukan sebagai pangeran yang terkekang protokol istana."
Yudi mematikan jendela notifikasi itu dengan sekali kedipan mata. Baginya, kebebasan mutlak dengan teknologi masa depan jauh lebih berharga daripada gelar bangsawan yang penuh intrik.
"Galuh, jaga kapal. Jangan biarkan siapapun naik tanpa izinku," perintah Yudi singkat saat kapal mulai merapat.
"Baik, Tuan," jawab Galuh, yang kini berdiri tegak di dek atas dengan busur silang modern tersampir di pundaknya.
Yudi turun dengan langkah ringan, mengenakan jubah linen biru tua yang elegan. Ia langsung menuju pasar pusat Srivijaya yang legendaris. Bau cengkeh, lada, dan kayu cendana memenuhi udara. Yudi berjalan di antara kerumunan, membeli banyak kerajinan tangan: ukiran gading, kain tenun sutra lokal, hingga perhiasan perak. Ia membayar semuanya dengan koin emas murni hasil cetakan sistem, membuat para pedagang hampir pingsan karena kegirangan.
Di Belahan Laut Timur Sumatera
Sementara itu, suasana di kapal induk Dinasti Zhou sangat kontras. Maharani Wu Lin menghabiskan waktunya di balkon belakang kapal, menatap buih laut dengan tatapan kosong. Beban sebagai kaisar wanita sekaligus seorang ibu yang kehilangan jejak anaknya mulai mengikis ketegarannya.
"Yang Mulia, minumlah teh ini sejenak," suara lembut Yue Qing terdengar dari belakang.
Wu Lin menoleh sekilas. "Yue Qing, hatiku terasa sangat sesak. Aku merasa dia ada di sekitar sini, di lautan yang luas ini. Tapi Nusantara begitu besar... bagaimana jika aku tidak pernah menemukannya?"
Yue Qing berlutut, menenangkan sang Maharani. Namun, di balik wajahnya yang lembut, Yue Qing sedang memikirkan laporan dari organisasi rahasianya. Shadow Phoenix baru saja mengirimkan kabar tentang keberadaan kapal putih misterius di sekitar Jawa. Ia mulai curiga bahwa ada kekuatan besar yang bergerak di luar jangkauan intelijen Zhou.
"Hamba akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk mencari Pangeran, Yang Mulia. Kita tidak akan berhenti," ucap Yue Qing dengan nada dingin yang tersembunyi.
Ibu Kota Kerajaan Srivijaya
Setelah puas berbelanja, Yudi tidak langsung kembali ke kapal. Ia membawa sebuah peti kecil yang diambil dari inventory umum dan menuju istana pusat Srivijaya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi penguasa maritim terbesar ini terhadap "mainan" barunya.
Di dalam aula pertemuan yang megah, Yudi berdiri tegak di depan Raja Srivijaya. Raja saat itu belum tahu siapa pemuda tampan di depannya ini. Yudi memberi isyarat kepada Galuh untuk membuka peti tersebut.
"Tuan Raja, saya hanyalah seorang pengembara. Namun, saya membawa sesuatu yang mungkin menarik minat Anda," ucap Yudi dalam bahasa Sansekerta yang sempurna.
Di dalam peti itu terletak sebilah Pedang Baja dari Era 1000 Masehi yang dibuat dengan teknik lipatan karbon tinggi, serta sebuah Panah Otomatis (Crossbow) dengan mekanisme baja pegas. Bagi orang di tahun 700 M, logam ini adalah sesuatu yang mustahil—terlalu ringan, terlalu tajam, dan tidak bisa berkarat.
"Ini adalah baja yang bisa membelah pedang perunggu milik prajuritmu seolah memotong mentega," Yudi mengambil pedang itu dan melemparkannya ke lantai batu istana. Bunyi dentingannya begitu nyaring hingga menggema ke seluruh ruangan.
Raja Srivijaya bangkit dari singgasananya, matanya melebar. "Dari mana asal senjata ini? Tidak ada pandai besi di tanah ini, bahkan di daratan Utara, yang bisa membuat baja seputih dan sekuat ini!"
Yudi hanya tersenyum tipis. Ia tahu sistem baru saja memberikan notifikasi lagi bahwa armada ibunya semakin dekat, namun ia tetap bersikap acuh tak acuh.
"Jika Anda tertarik, kita bisa membicarakannya. Tapi saya tidak menerima koin tembakau. Saya hanya menerima pengalaman dan informasi," ujar Yudi santai.
Di luar istana, angin laut bertiup kencang. Dua kekuatan sedang menuju satu titik: sang Maharani yang membawa masa lalu penuh air mata, dan sang putra yang membawa masa depan penuh baja dan teknologi. Srivijaya akan segera menjadi saksi pertemuan yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.