[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Misi berikutnya
Satu sore, Luis pulang dari sekolah dengan langkah santai.
Ia mengenakan seragam yang sekarang terasa lebih ketat di bagian lengan dan dadanya karena pertumbuhan ototnya yang pesat.
Rambutnya yang dulu berantakan kini ia potong lebih rapi, menambah kesan maskulin pada wajahnya.
Saat sampai di depan pintu rumah, Luis mengernyitkan dahi. Ia melihat ada tiga pasang sepatu perempuan yang modis tergeletak di teras, selain sepatu sekolah Luna.
"Ada tamu?" gumamnya pelan.
Luis membuka pintu rumah dengan perlahan. Begitu ia melangkah masuk, suara tawa riuh dari arah ruang tamu mendadak terhenti.
Di sana, Luna sedang duduk di karpet bersama tiga orang teman perempuannya. Mereka sedang mengerjakan tugas kelompok sambil ngemil. Begitu Luis muncul, keempat pasang mata itu langsung tertuju padanya.
"Eh, Kak Luis sudah pulang?" ujar Luna, memecah kesunyian.
Ketiga teman Luna terdiam membatu. Mereka menatap Luis dengan mata yang tidak berkedip.
Di mata mereka, pria yang baru masuk itu terlihat sangat tampan dengan aura yang sangat berwibawa.
Tubuh atletis Luis yang terlihat jelas di balik kemeja seragam putihnya membuat mereka salah tingkah.
"Iya," jawab Luis pendek. Ia hanya mengangguk tipis ke arah teman-teman adiknya tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.
Luis berjalan melewati mereka menuju dapur untuk mengambil minum. Keheningan masih menyelimuti ruang tamu sampai Luis benar-benar menghilang di balik tembok dapur.
"Luna! Itu... itu kakakmu?!" bisik salah satu teman Luna, Maya, dengan wajah kemerahan.
"Iya, kenapa?" tanya Luna bingung.
"Kok beda banget sama yang kamu ceritain? Katanya kakakmu itu suram dan kuper? Itu mah ganteng banget! Kayak model atau pemain film laga!" seru teman Luna yang lain dengan suara tertahan agar tidak terdengar ke dapur.
"Eh? Masa sih?" Luna menoleh ke arah dapur, lalu ia baru menyadari perubahan kakaknya. Memang benar, Luis sekarang terlihat sangat gagah dan jauh lebih menarik dibandingkan beberapa bulan lalu. "Ya... belakangan dia memang hobi olahraga sih."
Luis keluar dari dapur sambil memegang botol air dingin. Ia berjalan kembali melewati ruang tamu.
"Kak Luis! Sini sebentar," panggil Luna dengan nada menggoda.
Luis berhenti, lalu menoleh datar. "Ada apa?"
"Kenalin, ini teman-teman sekelasku. Ada Maya, Siska, sama putri. Mereka bilang Kakak ganteng banget hari ini," ujar Luna sambil nyengir lebar.
Ketiga temannya langsung mencubit lengan Luna karena malu. Wajah mereka sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Luis hanya menatap mereka satu per satu dengan tatapan dingin namun tenang. "Halo. Aku Luis. Maaf mengganggu kalian belajar," ucapnya dengan suara berat yang terdengar sangat jantan.
Setelah itu, tanpa banyak kata, Luis langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
"Gila... suaranya saja bikin merinding," bisik Siska pelan. "Luna, aku mau ya kalau jadi kakak iparmu!"
"Enak saja! Antre dulu!" balas Maya bercanda.
Di dalam kamarnya, Luis menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak mempedulikan godaan adiknya atau tatapan kagum teman-temannya.
Baginya, ketampanan atau tubuh atletis ini hanyalah sarana. Fokus utamanya tetap pada layar biru yang kini muncul lagi di depannya.
[Misi Baru Terdeteksi]
[Target: Kelompok Pengembang "Bumi Makmur" - Sektor Pembersihan Lahan.]
[Keterangan: Mereka akan tiba dalam 48 jam.]
Luis mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Akhirnya... kalian datang juga," desisnya.
Kali ini, ia sudah jauh lebih siap. Tidak hanya dengan saldo miliaran di sistem, tapi juga dengan fisik dan teknik bela diri yang siap mencabut nyawa siapa pun yang mengancam keluarganya.
Ding!
Tapi tiba-tiba layar sistem kembali muncul yang membuat Luis mengernyitkan dahi.
"A-apa-apaan ini?!"