NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Sesampainya di mansion, suasana masih sangat sepi. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang makan, Anna dan beberapa pelayan baru saja selesai menata hidangan sarapan di atas meja. Telur mata sapi, daging asap, roti panggang, dan teh chamomile.

Para pelayan membungkuk hormat, lalu berjalan mundur dan keluar dari ruang makan. Kini, hanya ada suara dentingan alat makan yang bersentuhan dengan piring porselen. Zara memotong roti panggangnya perlahan, lalu melirik pria disebelahnya yang duduk dengan kemeja putih bergulung rapi hingga sebatas siku.

“Terima kasih…… untuk yang di gereja tadi,” ucap Zara.

“Aku hanya menepati ucapanku,” jawab Benedict sambil memotong daging asap di piringnya.

Zara mencoba memotong sepotong daging asap tebal di piringnya. Namun, pisau yang disediakan terasa agak tumpul atau mungkin ia yang salah mengambil sudut potong. Akibatnya, pisau itu berulang kali meleset dan menimbulkan suara decitan yang nyaring diatas piringnya.

Mendengar suara bising itu, Benedict menghentikan gerakannya. Ia melirik ke arah piring Zara, memperhatikan jemari gadis itu yang tampak kikuk dan kesusahan memotong daging dengan benar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Benedict menggeser piringnya sendiri, lalu meraih piring milik Zara.

Zara tertegun, menatap Benedict yang kini dengan gerakan cekatan mulai memotong daging asap di piringnya menjadi potongan-potongan kecil yang pas untuk dimakan. Setelah selesai, Benedict mengembalikan piring itu ke hadapan Zara tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.

“Terima kasih,” gumam Zara, pipinya sedikit memerah malu.

“Yaa,” jawab Benedict singkat.

Zara mengulas senyum tipis, rasa canggungnya perlahan menguap berganti dengan kehangatan.

“Besok-besok….. apa boleh aku mengajakmu ke sana lagi?”

Benedict meletakkan pisaunya, lalu meraih cangkir teh didekatnya. Ia menyesap teh nya sebelum menoleh, menatap Zara datar.

“Jadwalku tidak pasti”

“Aku tahu,” sahut Zara lembut, tidak menyerah begitu saja. “Makanya aku bertanya. Kalau boleh tahu, apa jadwal atau kesibukanmu hari ini?”

“Hanya beberapa meeting di kantor,” jawab Benedict.

Zara mengangguk-angguk paham. Sebuah ide mendadak muncul di kepalanya, membuatnya memberanikan diri untuk kembali membuka suara.

“Kalau begitu…. apa kau keberatan jika nanti siang aku datang ke kantormu? Aku bisa membawakan makan siang untukmu.”

Benedict terdiam sejenak. Pandangannya mengunci wajah Zara, ia melihat mata gadis itu berbinar antusias.

“Datanglah,” ucap Benedict.

Mendengar tanggapan itu, binar lega langsung terpancar di wajah Zara.

“Aku akan datang sebelum jam makan siang,” ucap Zara.

Benedict tidak membalas lagi. Ia menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu melirik jam tangannya sebelum berdiri dari kursi.

“Habiskan makananmu. Aku tunggu di mobil lima menit lagi,” ucapnya, lalu melangkah pergi lebih dulu menuju lobi.

Zara menatap punggung tegap pria itu yang menjauh dengan senyuman yang kini tak bisa dibendung lagi. Benedict masih sedingin biasanya, tapi Zara yakin celah kecil di dinding tebal pria itu kini sudah terbuka lebih lebar untuknya.

Lima menit kemudian, Zara sudah turun ke lobi dengan pakaian kerjanya yang rapi. Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan lobi. Sopir langsung membukakan pintu mobil untuk Zara.

“Silahkan, Nona,” ucap sang sopir dengan ramah dan sopan.

“Terima kasih,” balas Zara pelan, lalu masuk dan duduk disamping Benedict.

Pintu tertutup rapat, dan mobil perlahan bergerak membelah jalanan. Benedict sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet, jemarinya sesekali bergerak cepat menggeser grafik dan laporan.

Setelah lima belas menit perjalanan, mobil akhirnya berhenti tepat di depan toko roti milik Zara.

Zara menoleh ke arah Benedict. “Terima kasih sudah mengantarku, Tuan.”

Benedict mengalihkan pandangannya dari tablet, ia menoleh, menatap Zara.

“Jam dua belas tepat,” ucap Benedict singkat, suaranya berat dan penuh penekanan.

Zara sempat mengernyitkan dahi bingung, sebelum akhirnya teringat akan pembicaraan mereka di meja makan. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya.

“Aku tidak akan terlambat. Aku akan membawa menu terbaik siang nanti” ucap Zara.

Benedict hanya mengangguk, menolak untuk menunjukkan ketertarikan lebih lanjut, lalu kembali melihat tablet nya untuk memeriksa pekerjaan lain.

Zara turun dari mobil dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan. Begitu ia memainkan kaki di trotoar, mobil itu langsung melaju pergi. Zara memandangi kepergian mobil itu selama beberapa detik sambil menyunggingkan senyum, kemudian ia berbalik dan masuk ke tokonya. Ia mengawali pekerjaannya dengan menyalakan lampu toko dan mesin pemanas oven.

Sembari tangannya bergerak menyiapkan adonan croissant dan sourdough untuk menu pembuka toko hari ini, pikiran Zara melayang jauh.

“Jam dua belas tepat.”

Suara berat Benedict kembali terngiang di kepalanya. Zara tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang ingin merekah. Ia masih tidak menyangka Benedict mulai membuka ruang untuk dirinya masuk lebih dalam.

“Tapi apa yang harus kumasak untuknya?” gumam Zara. Jemarinya mulai mengetuk-ngetuk pinggiran meja dapur.

“Bagaimana kalau Beef Stew?”

Zara menimbang-nimbang dalam hati. Daging sapi yang dimasak perlahan dengan kuah kental yang kaya rempah, wortel, dan kentang tampaknya akan cocok untuk lidah Benedict. Hidangan itu hangat, mengenyangkan, dan tidak terlalu manis. Sebagai pelengkapnya, Zara bisa menambahkan sepotong roti baguette untuk dicelupkan ke dalam kuah Stew.

“Atau, sebaiknya aku memasak sesuatu yang lebih simpel? Seperti Grilled Salmon dengan saus mentega dan tumis asparagus?”

Zara menoleh ke arah jam dinding. Masih ada waktu sekitar empat jam sebelum jam dua belas siang. Toko rotinya biasanya mulai senggang pada pukul sepuluh tepat setelah jam masuk kerja para pegawai kantoran mereda.

“Aku punya waktu dua jam untuk memasak,” gumam Zara pada diri sendiri, matanya berbinar penuh tekad.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul sepuluh, toko mulai sepi. Zara menyeka peluh tipis di dahinya dengan ujung apron, lalu bergegas membalik papan petunjuk di pintu kaca menjadi “Closed for Break”. Ia mengunci pintu dari dalam agar bisa fokus memasak di dapur.

Zara melangkah cepat ke dapur. Ia memutuskan untuk membuat Beef Stew. Semua bahan sudah tertata di atas meja. Ia baru saja menyalakan kompor, memasukkan mentega ke wajan, dan bersiap memasukkan potongan daging sapi ketika tiba-tiba

BRAKKK! BRAAAKK! PRANKKKK!

Suara benturan keras menggema dahsyat dari area depan toko. Jantung Zara hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Pisau ditangannya terlepas, jatuh berdenting diatas lantai. Belum sempat Zara mencerna apa yang terjadi, suara teriakan kasar dan makian memecah keheningan toko rotinya.

“Hancurkan tempat ini!” teriakan itu melengking tinggi, disusul suara kayu yang patah dan barang-barang yang dibanting ke lantai.

Zara membeku ditempat, napasnya tercekat. Melalui celah pintu dapur yang sedikit terbuka, ia bisa melihat situasi di depan yang mendadak berubah menjadi sangat kacau. Segerombolan pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam, tato yang menjalar di leher, dan wajah-wajah yang beringas bersenjata balok kayu serta pemukul bisbol baru saja mendobrak paksa pintu kaca tokonya hingga hancur berkeping-keping.

“Hei! apa yang kalian lakukan?!” sebuah suara bariton terdengar.

Itu adalah Conal, pengawal yang ditugaskan Benedict untuk berjaga di toko Zara. Conal langsung menerjang masuk, mencoba menahan pergerakan gerombolan itu. Ia berhasil melayangkan pukulan telak ke wajah salah satu preman hingga tersungkur, lalu membanting pria lainnya ke arah meja.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Satu pengawal melawan hampir sepuluh orang preman bukanlah pertarungan yang seimbang.

“Urus bajingan ini! yang lain, cari wanita itu!” seru pria uang tampaknya menjadi pemimpin gerombolan.

Dough! Beakkk!

Conal dipukul dari belakang dengan tongkat bisbol tepat di punggungnya, ia mengerang kesakitan, terhuyung ke depan, namun masih mencoba membalas dengan mencengkeram kerah baju musuhnya. Tiga orang preman langsung mengeroyok Conal, memukul dan menendangnya membabi buta hingga ia terpojok di sudut ruangan, pelipisnya mengucurkan cairan merah segar.

“Dimana pelacur kecil milik Franklin itu?!” bentak salah satu preman yang mulai berjalan mendekat ke arah dapur.

Mendengar langkah kaki yang mengarah ke tempat persembunyiannya, seluruh tubuh Zara bergetar hebat. Rasa takut yang luar biasa mencengkeram dadanya hingga ia hampir tidak bisa bernapas.

“Benedict…..” jerit Zara dalam hatinya, air maya mulai menggenang di pelupuk matanya.

Dengan panik, Zara mundur beberapa langkah. Tangannya meraba-raba meja dapur di belakangnya dengan gemetar, mencari apa saja yang ia bisa jadikan senjata pertahanan diri.

BRAAAAKKKK!

Pintu dapur tiba-tiba ditendang dengan kasar dari luar hingga terbuka lebar. Seorang preman bermata culas dengan seringai mengerikan berdiri disana, menatap langsung ke arah Zara yang terpojok diaudit dapur dengan wajah yang pucat pasi.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!