NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Langit sore itu tidak hanya tampak kelabu, melainkan berubah menjadi hitam pekat persis seperti tinta yang tumpah memenuhi seluruh angkasa. Suara petir sesekali menggelegar kencang hingga getarannya terasa sampai ke dinding dan membuat kaca jendela apartemen Bianca ikut bergetar pelan. Hujan pun turun dengan intensitas yang sangat deras seolah langit sedang menumpahkan segala amarah dan kesedihan yang tertahan ke atas permukaan bumi.

Di dalam ruangan apartemen, suasana terasa sama tegangnya dengan keadaan di luar sana. Bianca berdiri diam mematung di dekat jendela sementara kedua tangannya bergetar hebat di sisi tubuhnya. Matanya menatap lekat rintik air yang menghantam kaca dengan pandangan yang kosong namun sarat akan rasa takut yang mendalam.

"Nggak, Rebecca. Gue nggak bisa. Cari cara lain," bisik Bianca dengan suara yang serak berat hingga nyaris tak terdengar tertutup suara guntur yang bergemuruh.

Rebecca yang sedari tadi sibuk memperhatikan titik lokasi melalui peta di layar ponselnya pun mendongak lalu menghembuskan napas kasar karena tak sabar. "Bi, dengerin gue. Ini kesempatan emas. Gue dapet info valid kalau Kiyo bakal lewat jalan pintas di daerah Senayan sepuluh menit lagi gara-gara jalan utama macet total. Ini tiket masuk lo ke Mansion Anderson!"

"Gue bilang nggak bisa!" Bianca berteriak kecil sambil merasakan seluruh tubuhnya mulai dibasahi keringat dingin yang lengket. "Lo tau sendiri kan... pas Ibu meninggal... hujan juga sederas ini. Gue nggak bisa napas kalau denger suara hujan, Rebecca!"

Rebecca berjalan mendekat lalu mencengkeram bahu Bianca dengan genggaman yang kuat agar adiknya itu mau menatap matanya. "Justru itu poin utamanya, bego! Kalau lo cuma akting sakit, Kiyo mungkin cuma bakal kasihan. Tapi kalau lo beneran kena serangan trauma, Kiyo bakal panik setengah mati. Dia bakal ngerasa lo itu sangat rapuh dan perlu dilindungi di tempat yang paling aman menurut dia. Yaitu rumahnya."

"Gue nggak mau mati gara-gara serangan panik," desis Bianca sambil membiarkan air mata mulai mengalir deras dari matanya, dan kali ini itu sama sekali bukan sekadar akting.

"Lo nggak bakal mati. Gue bakal ada di sana, mantau lo dari jauh," Rebecca berusaha melembutkan nada bicaranya untuk kembali memengaruhi pikiran adiknya. "Bi, inget Ayah. Inget gimana dia diseret ke penjara. Inget gimana Ibu harus pergi dalam kondisi menderita gara-gara Maxwell Anderson. Lo mau semua pengorbanan kita sia-sia cuma gara-gara air hujan?"

Bianca terdiam kaku di tempatnya. Bayangan sosok Arthur Harrington di balik sekat kaca penjara berkelebat jelas di dalam kepalanya. Rasa dendam yang sedari tadi terhimpit kuat oleh rasa takut perlahan-lahan mulai bangkit kembali dan membakar dadanya dengan rasa panas yang menyakitkan.

'Ayah. Bianca harus lakuin ini buat Ayah. Maxwell harus bayar semuanya,' batin Bianca dengan tekad yang kini terasa begitu kokoh dan dingin.

"Oke," jawab Bianca singkat. "Gue bakal lakuin."

Sepuluh menit kemudian di pinggir jalan raya yang cukup sepi dan diapit oleh pepohonan besar yang rimbun, tampak seorang gadis berjalan dengan langkah yang goyah dan sempoyongan. Bianca sama sekali tidak menggunakan payung maupun jaket pelindung. Seragam sekolahnya sudah basah kuyup menyelimuti tubuh dan menempel erat di kulitnya yang perlahan mulai memucat karena rasa dingin yang menusuk.

Di balik rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar yang jaraknya agak jauh dari jalan raya, Rebecca berdiri tegak dengan payung hitam dan jas hujan transparan yang melindunginya. Matanya menatap tajam ke arah adiknya sambil mengawasi setiap gerak-gerik Bianca yang kini tampak mulai kehilangan kendali di tengah derasnya curahan air hujan.

"Ayo, Kiyo... muncul lo sekarang," gumam Rebecca penuh harap sambil menunggu.

Di sisi lain, Bianca merasa seolah seluruh dunia di sekelilingnya mulai berputar kencang dan tak beraturan. Setiap kali ada suara petir yang menggelegar, rasanya sama persis seperti suara benturan keras mobil yang telah merenggut nyawa ibunya bertahun-tahun silam. Napasnya pun mulai pendek dan tersengal berat sementara paru-parunya terasa menyempit seolah udara di sekitarnya mendadak lenyap tertelan pekatnya air hujan.

'Ibu... sakit... sesak banget...' Bianca membatin sambil meremas dadanya sendiri dengan tangan gemetar. Ia benar-benar mulai kehilangan kesadaran akan keadaan nyata di sekelilingnya.

Tiba-tiba, sorot cahaya lampu kendaraan yang menyilaukan mata muncul dari kejauhan. Sebuah mobil sport berwarna hitam melaju membelah tirai hujan lalu mendadak melakukan pengereman mendadak hingga terdengar suara decitan tajam bergema di atas permukaan aspal yang basah.

Pintu mobil terbuka lebar. Kiyo Anderson melangkah keluar tanpa mempedulikan sedikit pun pakaian mahalnya yang langsung basah kuyup tersiram air. Begitu ia melihat siapa sosok yang berdiri gemetar di tengah jalan itu, wajahnya yang biasanya terlihat tenang dan dingin langsung berubah menjadi ekspresi ketakutan serta kepanikan yang nyata.

"Bianca?! Lo ngapain di sini, hah?!" teriak Kiyo sambil berlari cepat menghampiri gadis itu.

Bianca tidak menyahut sepatah kata pun. Ia hanya menatap Kiyo dengan mata yang membelalak lebar penuh kilatan ketakutan yang mendalam. Saat tangan Kiyo menyentuh bahunya, Bianca langsung tersentak hebat seolah baru saja tersengat aliran listrik.

"Jangan... jangan pergi... Ibu..." igau Bianca pelan dengan suara yang nyaris hilang tertutup riuhnya suara hujan yang terus turun.

"Bi? Lo kenapa? Ini gue, Kiyo! Kenapa lo bisa basah kuyup begini?!" Kiyo panik bukan main. Ia segera menangkap tubuh Bianca yang mulai kehilangan tenaga dan mau ambruk. Kiyo bisa merasakan suhu tubuh gadis itu yang turun drastis, namun anehnya kulitnya justru terasa lembap oleh keringat dingin.

"K-Kak... Kiyo... sakit..."

Bianca berusaha bicara, namun rasa sesak di dadanya terasa begitu kuat hingga sulit untuk dilawan. Pandangannya pun mulai mengabur perlahan. Wajah Kiyo yang tadinya tampak jelas kini berubah menjadi bayangan samar berwarna hitam yang tak beraturan. Hingga akhirnya, kegelapan total merenggut seluruh kesadarannya.

"Bianca! Woy! Bangun!" teriak Kiyo dengan suara yang terdengar pecah. Ia dengan sigap menangkap tubuh Bianca yang pingsan tepat di dalam pelukannya.

Kiyo menepuk-nepuk pipi Bianca dengan tangannya yang ikut bergetar hebat. "Bi! Jangan bercanda! Bangun, Bi! Lo denger gue nggak?!"

Hujan turun semakin deras membasahi seluruh wajah Kiyo yang kini basah kuyup bercampur antara air hujan, keringat dingin, dan rasa takut yang luar biasa. Ia tidak pernah merasa seketakutan ini seumur hidupnya. Bahkan saat ia mengalami kecelakaan motor beberapa tahun lalu pun, ia tidak merasa sekhawatir dan sefrustrasi ini.

"Sialan! Gue harus bawa dia ke rumah sakit," gumam Kiyo dalam hatinya. Namun sesaat kemudian ia berpikir kembali. Jalur menuju rumah sakit terdekat pasti mengalami kemacetan parah, sedangkan kediaman besar keluarga Anderson hanya berjarak lima menit dari lokasi itu jika lewat jalan kecil. Di rumahnya pun tersedia dokter pribadi keluarga yang selalu bersiaga setiap saat.

Tanpa pikir panjang lagi, Kiyo menggendong tubuh Bianca dengan hati-hati lalu memindahkannya ke kursi penumpang depan. Ia langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi dan melaju kencang tanpa memedulikan aturan lalu lintas maupun genangan air yang memuncrat ke segala arah.

Dari balik rimbunnya pohon besar itu, Rebecca menyeringai puas sambil melipat perlahan payung yang dipegangnya.

"Selamat datang di neraka, Kiyo Anderson. Dan selamat masuk ke sarang serigala, Bianca," gumam Rebecca dengan nada sinis yang penuh kemenangan. Ia segera memesan taksi untuk kembali ke apartemen, meski jauh di lubuk hatinya ada sedikit rasa cemas sebab ia tahu betul Bianca tidak pernah berakting jika sudah berurusan dengan trauma masa lalu soal hujan.

 ****

Di dalam mobil yang melaju kencang, Kiyo menyetir seolah orang yang sedang dikejar bahaya. Sebelah tangannya sesekali melepaskan setir hanya untuk menggenggam tangan Bianca yang terasa sangat dingin dan kaku.

"Tahan, Bi. Sebentar lagi sampe. Jangan bikin gue makin panik gara-gara lo nggak bangun-bangun," gumam Kiyo dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan.

'Gue nggak bakal maafin diri gue sendiri kalau sampe ada apa-apa sama lo. Kenapa lo bisa ada di sana? Kenapa lo selalu bikin gue pengen gila kayak gini?' Kiyo terus-menerus merutuki keadaan dan dirinya sendiri di dalam batinnya.

Begitu sampai di gerbang megah kediaman Anderson, Kiyo langsung membunyikan klakson berkali-kali sampai petugas keamanan yang berjaga segera berlari terburu-buru untuk membuka pintu gerbang. Kendaraan itu pun melesat masuk ke halaman luas dan berhenti tepat di depan pintu utama rumah besar itu.

Kiyo segera turun lalu berputar ke sisi penumpang dan kembali menggendong tubuh Bianca. Para pelayan yang melihat tuan muda mereka pulang dalam keadaan basah kuyup sambil menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri langsung dibuat heboh dan bingung.

"Bi Inah! Panggil Dokter Surya sekarang! Cepat!" bentak Kiyo, suaranya terdengar menggelegar memenuhi ruang tamu yang luas itu.

"I-iya, Tuan Muda!"

Kiyo membawa Bianca naik ke lantai dua, namun bukannya berjalan menuju kamar tamu seperti kebiasaan biasanya, ia justru membawa gadis itu masuk ke dalam kamar tidur pribadinya sendiri. Ia membaringkan tubuh Bianca di atas kasur berukuran besar yang empuk dan nyaman itu. Kiyo segera mengambil selimut tebal lalu menyelimuti seluruh tubuh mungil itu sampai ke bagian leher.

Tak lama kemudian, Dokter Surya datang tergopoh-gopoh membawa perlengkapan medisnya. Ia langsung memeriksa keadaan Bianca yang masih terbaring diam tanpa sadarkan diri. Kiyo berdiri di pojok ruangan dengan tangan bersedekap sementara kakinya tidak berhenti bergerak mengetuk lantai sebagai tanda kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

"Gimana, Dok? Dia kenapa?" tanya Kiyo dengan nada bicara yang terdengar tidak sabaran.

"Suhu tubuhnya sangat rendah, ia mengalami hipotermia ringan. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah detak jantungnya yang tadi sempat tidak stabil. Sepertinya ia mengalami trauma psikologis yang sangat berat yang dipicu oleh suara hujan," jelas Dokter Surya sambil merapikan kembali alat-alat yang dibawanya. "Saya sudah memberikan suntikan penenang dan vitamin. Biarkan ia beristirahat. Ia akan sadar beberapa jam lagi."

Kiyo menghela napas panjang lega sementara bahunya yang tadinya tegang perlahan mulai rileks kembali. "Makasih, Dok."

Setelah dokter itu pergi, Kiyo kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia menatap lekat wajah Bianca yang tampak tenang saat terlelap. Dalam keadaan seperti ini, Bianca terlihat jauh lebih lemah dan rapuh dari biasanya.

'Lo sebenernya punya rahasia apa, Bi? Trauma apa yang bikin lo sampe kayak gini?' batin Kiyo penuh rasa ingin tahu. Ia mengulurkan tangannya lalu dengan ragu-ragu mengusap pelan pipi Bianca yang mulai terasa sedikit hangat.

Beberapa jam berlalu dengan cepat. Hujan di luar sudah mulai reda menyisakan suara tetesan air yang jatuh perlahan dari ujung atap bangunan. Bianca perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya masih agak buram dan kepalanya terasa sangat berat seolah baru saja dihantam benda keras.

Ia melihat sekeliling ruangan. Langit-langit ruangan ini terlihat sangat tinggi lengkap dengan lampu gantung kristal yang tampak mewah dan mahal. Ada pula wangi khas aroma tubuh yang maskulin dan familier yang langsung tercium masuk ke indra penciumannya.

'Ini bukan apartemen gue. Ini...'

Bianca menoleh ke samping dan detik itu juga jantungnya nyaris berhenti berdetak kaget. Kiyo duduk di kursi dekat sisi tempat tidur sambil tertidur dengan posisi kepala bersandar di tangannya yang bertumpu pada pinggiran kasur.

'Gue berhasil. Gue sepertinya berada di kamar Kiyo,' batin Bianca. Sebuah senyum tipis yang penuh rasa kemenangan muncul di bibirnya. Rasa sakit dan sesak di dadanya tadi memang nyata, trauma itu memang menyiksa, namun melihat keadaan Kiyo yang tampak begitu lelah dan cemas hanya karena menunggunya bangun, Bianca merasa semua rasa sakit itu sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Bianca mencoba bergerak sedikit lalu sengaja menimbulkan suara kecil agar Kiyo terbangun.

"Nghh..." gumam Bianca pelan.

Kiyo langsung terjaga dengan kaget. Matanya yang tampak merah karena kurang tidur langsung berbinar lega saat melihat Bianca sudah membuka mata dan sadar kembali.

"Bi? Lo udah bangun? Mana yang sakit? Perlu gue panggil dokter lagi?" Kiyo langsung memberondongnya dengan rentetan pertanyaan yang penuh kekhawatiran.

Bianca berpura-pura tampak bingung sementara matanya kembali berkaca-kaca seolah ingin menangis. "K-Kak Kiyo? Ini di mana? Kenapa aku ada di sini?"

"Lo di rumah gue. Lo pingsan tadi di jalan. Lo bikin gue hampir gila, tau nggak?" ucap Kiyo, suaranya terdengar sangat lega namun ada nada emosi yang tertahan di dalamnya.

"Maaf... aku... aku takut banget pas hujan tadi. Aku nggak inget apa-apa lagi setelah liat mobil Kakak," Bianca kembali bersandiwara sementara suaranya dibuat-buat terdengar gemetar ketakutan.

"Udah, nggak apa-apa. Sekarang lo aman di sini. Nggak bakal ada yang nyakitin lo selama lo ada di rumah ini," Kiyo menggenggam tangan Bianca dengan genggaman yang sangat erat dan melindungi.

'Oh, Kiyo sayang... justru bahaya yang sebenarnya baru saja menyusup masuk ke dalam rumah lo,' batin Bianca penuh rasa menang.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan berirama dari luar.

"Kiyo! Buka pintunya! Papa mau bicara!"

Itu suara Maxwell Anderson. Suaranya terdengar berat dan penuh wibawa, seketika membuat suasana di kamar yang tadinya sempat tenang berubah kembali menjadi sangat mencekam dan menegangkan.

Bianca langsung menarik tangannya dari genggaman Kiyo lalu berpura-pura ketakutan setengah mati. "Kak... itu siapa? Aku takut..."

"Tenang, Bi. Itu Papa gue. Gue bakal urus," Kiyo berdiri tegak sementara wajahnya kembali mengeras dan serius. "Lo diem di sini, jangan keluar. Apapun yang terjadi, lo tetep di bawah perlindungan gue."

Kiyo berjalan bergegas menuju pintu, sementara Bianca menatap punggung Kiyo yang menjauh itu dengan pandangan yang tajam dan penuh kebencian yang terpendam.

'Selamat bertemu, Maxwell Anderson. Mari kita mulai pertunjukan yang sebenarnya,' batin Bianca sambil meremas kain sprei tempat tidur yang mahal itu seolah-olah yang sedang ia remas adalah l*her orang yang paling ia benci di dunia ini.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!