Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Sasaran
Di sebuah ruangan gelap di pinggiran Jakarta, lima pria dengan wajah tertutup hoodie duduk mengelilingi meja kayu. Satu proyektor kecil menyala—menampilkan foto Ziva yang masih berseragam sekolah, dengan kalung liontin biru melingkar manis di lehernya.
"Akhirnya," ujar pria bertato naga di lengan, "kita nemukan juga putri Valenzia."
Seorang pria lain tertawa kecil. "Dia ternyata siswi SMA biasa. Selama ini kita cari ke luar negeri, malah dia di depan mata."
"Kita sudah buang waktu terlalu lama." Pria dengan suara berat itu menyilangkan tangan. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu targetnya. Perempuan itu—Ziva."
Mereka tertawa. Bahagia. Lega.
"Siapkan tim. Kita akan jemput 'sang putri' dalam waktu dekat. Jangan sampai gagal lagi."
Tawa mereka menggema di ruangan remang itu.
Mereka tidak tahu—bahwa mereka salah sasaran.
---
Sementara itu, di rumah Ravian — Malam hari
Aelira masuk ke kamar mandi. Bukan karena ingin buang air kecil. Tapi karena ponsel lamanya—yang hanya menyala di jam-jam tertentu—bergetar di balik ubin lepas dekat wastafel.
Ia menekan tombol hijau.
"Princess," suara Daddy dari ujung sana. "Kami dengar ada gadis yang memakai kalungmu. Dan dia terluka."
Aelira menghela napas. "Ziva. Temanku. Dia pinjam kalung itu, Dad. Sekarang dia di ICU."
Daddy terdiam sejenak. "Mereka mengira dia kamu."
"Iya. Tapi ini menguntungkan kita. Mereka akan salah fokus. Memberi kita waktu."
"Kamu yakin? Aku tidak ingin ada korban lain—"
"Aku yakin, Dad." Suara Aelira berubah—dingin. "Ziva tidak akan kemana-mana. Dan mereka tidak akan tahu sampai semuanya selesai."
Tok! Tok! Tok!
Aelira menoleh. Pintu kamar mandi digedor.
"Li! Udah setengah jam. Lo di dalam baca ensiklopedia?"
Ravian. Nadanya kesal.
"Bentar lagi!" teriak Aelira.
Daddy di ujung telepon terkekeh pelan. "Pacarmu?"
"Iya, Dad. Nanti kita sambung lagi."
Panggilan terputus. Aelira merapikan wajahnya, memastikan tidak ada yang aneh—lalu membuka pintu.
Ravian berdiri dengan tangan disilangkan. Matanya menyipit.
"Setengah jam, Li."
"Lapar perut, mungkin."
"Hm." Ravian tidak bergerak. "Sama siapa lo teleponan?"
Aelira mengerjap. "Teleponan? Tidak."
"Gue denger suara."
"Lagi nyanyi."
"Nyanyi?"
"Iya. Lagi belajar lagu buat acara pensi."
Ravian menatapnya tajam—lalu meraih tangan Aelira. "Kasih HP lo."
"Apa?"
"Gue bilang, kasih HP lo."
Aelira menggigit bibir. "Kenapa sih, Van? Curiga terus."
"Bukan curiga. Gue hanya—" Ravian menghela napas, mencoba menahan emosinya. "Belakangan lo sering sembunyi-sembunyi. Teleponan di kamar mandi. Tidur bawa HP ke dalam. Lo pikir gue buta?"
Aelira berdiam.
Ravian merebut tas Aelira—mengeluarkan ponselnya.
"Password-nya?"
Aelira mendekat, menekan angka di layar. 171104.
Ravian masuk. Jarinya membuka log panggilan. Satu per satu.
Ziva. Adit. Ziva. Bu Hana. Ravian. Ziva lagi.
Tidak ada yang aneh.
Ravian mengernyit. "Ini doang?"
"Iya." Aelira tersenyum—lega dalam hati. Untung ponsel biasa tidak menyimpan riwayat panggilan dengan nomor keluarga.
Ravian mengembalikan HP itu. Wajahnya masih datar.
"Apa lo percaya sekarang?" tanya Aelira.
Ravian tidak menjawab. Ia menarik Aelira ke pelukan—erat.
"Maaf," bisiknya di rambut Aelira. "Gue cemburuan."
Aelira membalas pelukan itu. "Iya, jangan lagi ya . Nanti aku capek."
"Capek ngapain?"
"Capek ngadepin kamu yang suka curiga."
Ravian mendengus. "Karena lo berharga. Makanya gue jaga."
Aelira tertawa kecil.
Tapi di dalam hatinya—ia tahu.
Suatu hari, Ravian akan tahu semua rahasia ini. Dan saat itu tiba...
Akankah ia tetap bertahan?
"Udah. Ayo makan. Gue laper."
"Iya."
Mereka berjalan ke dapur. Ravian membuka kulkas—mengambil susu dan roti. Aelira duduk di meja, menatap punggung cowok itu.
"Van."
"Hm?"
"Aku sayang kamu."
Ravian menoleh, alis terangkat. "Serius?"
"Serius."
Cowok itu tersenyum—nyaris tidak percaya. Lalu mendekat, mengecup kening Aelira pelan.
"Gue juga. Meskipun lo kadang menyebalkan."
"Lebih menyebalkan dari kamu?"
"Jauh."
Mereka tertawa bersama.
Tapi di balik tawa itu—kebenaran masih bersembunyi.
---
ICU — Malam yang sama
Ziva masih terbaring koma. Alat-alat medis berkedip pelan di sampingnya.
Adit duduk di kursi sebelah ranjang. Tangannya menggenggam jari Ziva yang dingin.
"Ziv, bangun, ya?" bisiknya. "Gue masih punya banyak hal mau omongin sama lo."
Dia menunduk—mencium punggung tangan Ziva pelan.
"Gue suka lo, Ziv. Udah lama. Cuma gue nggak pernah berani ngomong."
Monitor detak jantung berdetak stabil.
Adit menghela napas. Ia akan menunggu. Sampai Ziva sadar.
Berapa pun lama.
Dan di luar rumah sakit, seorang pria berdiri di bawah pohon rindang. Hoodie menutupi wajah.
Matanya menatap lantai tiga—ruang ICU.
"Ziva..." bisiknya. "Maaf."
Ia berbalik—dan menghilang dalam gelap.
Siapa dia?
Tidak ada yang tahu.