Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa Sastra di Kandang Mesin
Malam sebelumnya, Bima tidak bisa tidur dengan tenang. Bima tahu, Kirana adalah variabel yang tidak bisa ia prediksi dengan rumus mekanika mana pun. Maka, ketika hari berganti, Bima memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat di luar kebiasaannya.
Siang itu, matahari Universitas Wikerta sedang terik-teriknya, seolah ingin membakar aspal di area Fakultas Teknik.
Udara panas yang bergelombang di atas jalanan kampus membuat siapa pun enggan untuk berlama-lama di luar ruangan. Di dalam Laboratorium Manufaktur, Bima sedang sibuk. Namun, ia tidak sedang berurusan dengan mesin CNC atau bor duduk yang biasanya menjadi pusat perhatiannya, melainkan sibuk di depan cermin kecil ruang asisten.
Bima baru saja selesai mandi di lab, di (lab ada toilet yang lumayan besr dan biasnya dipakai untuk mahasiswa yang menginap di kampusnya Bima)—sebuah ritual yang jarang ia lakukan seserius ini. Biasanya, ia hanya mencuci muka dengan air keran jika merasa mengantuk saat mengerjakan laporan praktikum. Tapi hari ini berbeda.
Ia mengenakan kemeja PDL yang masih kaku karena baru disetrika, menyisir rambutnya dengan sangat teliti menggunakan pomade, dan menyemprotkan parfum yang aromanya segar. Ia ingin tampil maksimal untuk pertemuan di kafe jam empat nanti. Saking fokusnya bersolek agar tampil menawan di depan Kirana, ponselnya ia tinggalkan begitu saja di atas meja kerja ruang utama lab, tertutup tumpukan modul praktikum.
Bima menatap pantulan dirinya di cermin. Ia merapikan kerah kemejanya untuk yang kesekian kali. Di otaknya, ia sedang menyusun argumen teknis untuk membantah diksi-diksi sastra Kirana yang menurutnya terlalu melankolis. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada keinginan kecil yang terselip agar Kirana menyadari perubahan penampilannya hari ini.
Sementara itu, di luar lab, Roni, Adit, dan si Gendut sedang asyik nongkrong di selasar. Mereka sedang asyik membicarakan rencana modifikasi motor tua sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang sesekali lewat. Tiba-tiba, langkah kaki yang menghentak keras memecah obrolan mereka.
"Loh, Kirana?" Adit melongo melihat mahasiswi Sastra itu berjalan cepat menuju arah mereka dengan wajah merah padam.
Kirana kali ini memberanikan diri untuk masuk ke kandang macam itu karena emosinya sudah tidak tertahankan untuk memaki-maki Bima.
Sejak pukul empat, ia sudah berada di titik jemput, berdiri di bawah terik matahari yang menyengat kulitnya. Chat Kirana tidak dibalas-balas dan telfonnya tidak diangkat oleh Bima makanya dia dengan perasaan gugup tetap memberanikan diri ke bengkel mesin yang penuh oli dan debu itu untuk mencari Bima demi mengejar deadline proyek.
Bagi Kirana yang terbiasa dengan ruang kelas sastra yang tenang dan wangi, suasana bengkel Teknik adalah lingkungan asing yang mengintimidasi. Namun, rasa kesalnya mengalahkan rasa takutnya.
Berbeda dengan sikapnya kepada Bima yang selalu penuh sinisme, Kirana langsung mengatur napas dan menunjukkan kesopanannya sebagai junior saat berhadapan dengan kating-kating Teknik tersebut. Ia tahu benar cara menjaga tata krama di depan senior fakultas lain.
"Siang, Kak Adit, Kak Roni, Kak Gendut," sapa Kirana dengan nada bicara yang halus namun tetap ada nada cemas di suaranya. "Maaf mengganggu, Kak... Bima-nya ada di dalam nggak ya? Saya telepon sama chat dari tadi nggak diangkat-angkat soalnya."
Roni langsung nyengir lebar, matanya melirik Adit dengan tatapan penuh arti. Ia tahu persis sahabatnya itu sedang melakukan "persiapan khusus" di dalam. "Waduh, ada bidadari Sastra nyasar. Ada tuh di dalem, Ra. Lagi 'ritual' dandan kayaknya. Masuk aja, samperin gih!"
"Iya, Ra. Tadi dia mandi lama banget, nggak tahu mau ke mana, masuk aja ra gapapa kok gausah takut," timpal si Gendut sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan ketegangan Kirana yang tampak siap meledak kapan saja.
"Oh, gitu ya, Kak? Ya sudah, saya masuk dulu ya. Makasih ya, Kak," ucap Kirana sopan sambil mengangguk kecil sebelum mendorong pintu lab yang berat.
Begitu masuk dan pintu tertutup, wajah sopan Kirana langsung lenyap. Kesabaran yang ia pupuk di depan kating tadi seketika menguap begitu saja. Ia melihat Bima baru saja keluar dari ruang asisten dengan wajah segar dan baju yang sangat rapi. Aroma parfum Bima yang tajam langsung menyerbu indra penciumannya, bertarung dengan aroma oli dan besi yang mendominasi ruangan itu.
"Bima!" suara Kirana meninggi, bergema di antara mesin-mesin besar.
Bima tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan sisir yang masih ia genggam. Ia tertegun. Ia tidak menyangka Kirana akan muncul di sana, di wilayah kekuasaannya yang penuh dengan tumpukan logam. "Loh, Kirana? Kok lo ke sini?"
"Kok gue ke sini?" Kirana melangkah mendekat dengan tatapan tajam, tangannya menggenggam ponsel dengan sangat erat seolah ingin meremukkannya. "Lo liat jam nggak? Gue udah nunggu di gerbang! Gue telepon nggak lo angkat, gue chat puluhan kali nggak lo bales! Lo budek atau gimana sih?"
Mendengar keributan dari dalam, Roni yang merasa situasi mulai tidak kondusif bagi kelangsungan "nyawa" sahabatnya, memberikan instruksi pada yang lain. "Bre daripada kita ganggu dan kena imbasnya mending balik aja yuk," timpal Roni dengan bisikan pelan.
Tetapi, di ambang pintu, Roni dan kawan-kawan masih sempat mengintip untuk melihat momen langka asisten lab kesayangan mereka sedang dimarahi habis-habisan. "Kita duluan ya, Bim, Ra! Sukses ya 'rapatnya'!" seru Roni sambil tertawa lepas, lalu segera kabur diikuti oleh Adit dan si Gendut. Mereka akhirnya pamit pergi, meninggalkan suasana yang mulai memanas di dalam lab.
Begitu mereka benar-benar pergi dan suasana menjadi sunyi, kecuali suara dengung kipas angin besar di pojok lab, Kirana langsung mengeluarkan "ceramah" panjang lebarnya. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang mulai sedikit berkeringat karena amarah.
"Lo sendiri yang bilang jam empat! Lo sendiri yang bilang paling nggak suka nunggu orang yang nggak punya manajemen waktu! Mana omongan lo semalam, hah? Sekarang lo malah bikin gue nunggu kayak orang bego!" Kirana menunjuk-nunjuk jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Gue udah spam chat lo, gue telepon berkali-kali! Gue pikir lo pingsan atau gimana, ternyata lo malah asik dandan di sini?!"
Kirana terus mengomel, memarahi Bima soal konsistensi dan tanggung jawab draf mereka yang harus segera disetor ke birokrasi kampus. Ia merasa usahanya untuk tepat waktu sama sekali tidak dihargai oleh pria di depannya ini.
Namun, di tengah omelan pedas itu, Bima justru tidak merasa terganggu. Ia tidak merasa sakit hati dengan pilihan kata Kirana yang tajam. Sebaliknya, Bima merasakan sesuatu yang lain.
Ia berjalan pelan menuju meja kerja kayunya, menyingkirkan modul praktikum yang menumpuk, dan mengambil ponselnya yang sedari tadi terabaikan dalam mode sunyi.
Layarnya menyala terang dengan notifikasi yang bertumpuk, menutupi wallpaper standar ponselnya.
18 Panggilan Tak Terjawab: Kirana Sastra
32 Pesan Belum Dibaca: Kirana Sastra
Bima tertegun. Matanya menatap deretan notifikasi itu dengan saksama. Seumur hidupnya yang dipenuhi dengan angka dan logika mesin, belum pernah ada orang yang mencari keberadaannya sampai se-agresif ini—apalagi seorang Kirana yang menjadi bayang-bayang di pikirannya beberapa hari terakhir ini. Kirana, yang selalu menjaga jarak dan bersikap sinis, ternyata bisa mengirimkan puluhan pesan hanya untuk mencarinya.
Sebuah senyum lebar perlahan merekah di wajah Bima. Senyum itu tulus, bukan senyum sinis yang biasa ia gunakan untuk membalas argumen. Ia tidak marah meskipun baru saja diceramahi habis-habisan. Ia justru merasa sangat senang, merasa diperhatikan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ternyata, keberadaannya sepenting itu bagi Kirana, meski motifnya hanya sebuah proyek.
"Malah senyum-senyum! Lo denger nggak sih?!" Kirana semakin geram melihat reaksi Bima. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan tembok yang mendadak bisa tertawa.
"Iya, gue denger," ucap Bima pelan, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. Ia menyambar kunci motornya yang tergeletak di samping ponsel, lalu menatap Kirana yang napasnya masih memburu karena emosi. Wajah Kirana tampak sedikit merah, mungkin karena panas, mungkin juga karena terlalu banyak berteriak.
Ia sempat mengecek ulang WhatsApp-nya, membaca satu per satu pesan Kirana yang isinya penuh dengan kepanikan dan amarah, mulai dari "Woi!" hingga "Bima, angkat telpon gue!". Bima senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Ia membayangkan betapa sibuknya jari Kirana mengetik pesan-pesan itu hanya untuknya.
"Sori, Ra. Gue salah," ucap Bima singkat, namun nada suaranya terdengar sangat bahagia. Tidak ada rasa penyesalan yang pahit, yang ada hanya rasa puas yang manis. "Gue nggak nyangka lo bakal nelpon gue sebanyak ini. Ternyata lo segitu nyarinya kalau gue nggak ada kabar."
"Gue nyari karena proyeknya udah mau telat, Bima! Jangan kegeeran!" kilah Kirana cepat, wajahnya yang tadi merah karena marah kini bertambah merah karena malu. Ia membuang muka, tidak sanggup menatap mata Bima yang terlihat sangat cerah sore itu.
"Iya, proyek," balas Bima pendek, tetap dengan senyum menyebalkannya yang penuh arti. Ia berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Ia tidak peduli jika harus kena macet atau harus berdebat lagi nanti di kafe.
Bima melangkah keluar lab, namun matanya masih sesekali melirik ponselnya, menikmati "jejak" perhatian Kirana di sana. Baginya, angka 18 panggilan dan 32 pesan itu adalah bukti statistik bahwa ia telah berhasil menembus benteng dingin milik Kirana. Sore itu, bagi Bima, omelan Kirana terdengar seperti melodi yang jauh lebih indah daripada deru mesin mana pun di dunia. Dan ia tahu, mulai saat ini, frekuensi hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi.