Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kebahagiaan Sesaat
Cahaya keemasan matahari mulai menyusup malu-malu melalui celah tirai, melukis garis-garis terang di atas lantai kayu paviliun. Di luar, embun masih betah menggelantung di ujung daun.
Safa terbangun dengan semangat baru. Aroma harum teh menyeruak memenuhi indra penciumannya. Ke dua tangan terangkat tinggi, meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Jendela kaca yang tertutup tirai putih disibaknya. Kilauan air kolam memantul menciptakan guratan cahaya yang menyilaukan.
Kaki telanjangnya menyusuri lantai marmer yang dingin. Ini pagi pertama tanpa harus terburu-buru menyiapkan segela keperluan orang rumah.
Mukenah yang dipakaiannya nyaris menyentuh permukaan kolam. Safa segera mengangkatnya tinggi-tinggi.
Langkah pelan Luna perlahan mendekat. Ia tersenyum melihat wanita yang begitu cantik nan anggun berada bersama mereka.
"Non Safa. Mari kita sarapan?" Luna berdiri menatapnya kagum.
"Tadi saya kesini. Tapi ... saat liat Anda tertidur lagi setelah sholat, saya tidak tega membangunkannya. Sekarang Tuan Wijaya sudah menunggu Anda di rumah utama."
Safa berlari kecil menghampiri. "Maaf, Mbak. Biasanya setelah solat subuh saya gak pernah tidur lagi, loh. Tapi ... tadi gak tau kenapa tiba-tiba aku ketiduran."
"Ya udah gak papa, Non. Sekarang lebih baik Non Safa siap-siap. Sekalian Tuan Wijaya mau antar Non Safa ke Kampus."
Setelah mengangguk patuh, Safa bergegas kembali ke kamar. Mukena putihnya ia ganti dengan pilihan busana yang telah disiapkan di lemari. Kehadiran Luna yang membantunya merapikan hijab dan rambut membuat persiapan pagi itu terasa lebih hangat.
Safa terlihat berbeda hari ini, ada binar segar yang terpancar dari wajahnya. Ia mengenakan tunik polos yang menjuntai anggun hingga ke betis, berpadu serasi dengan rok plisket putih yang memberikan kesan feminin.
Pashmina merah muda yang melilit kepalanya tak hanya menambah kesan elegan hasil tangan dingin Luna, tapi juga memantulkan cahaya pada wajah Safa hingga terlihat kian berseri. Meski bergaya modern, hijab itu tetap terjuntai santun menutupi dadanya.
Setelah selesai bersiap mereka segera menuju rumah utama. Di sana kakek Wijaya sudah menunggu untuk sarapan bersama.
"Assalamu'alaikum," ucap Safa sambil melangkah memasuki rumah.
Kakek Wijaya yang mendengar itu segera bangkit. Ia menoleh ke sumber suara dengan antusias.
"Waalaikumsalam," sahutnya dari arah ruang makan.
Dengan langkah dipercepat Safa menghampiri sang kakek.
Yang pertama dilihat Wijaya adalah senyum tulus gadis itu. Senyumnya yang merekah seolah menjadi energi tambahan.
"Pagi, Kek. Kakek terlihat ceria hari ini?" Safa menyapanya dan duduk di kursi samping kakek Wijaya.
"Iya hari ini kakek senang banget. Karena sekarang ada yang temani kakek untuk sarapan. Apa lagi kalau nanti di sini banyak cucu," ledek sang kakek sambil menatap Safa.
"Ukhuk ... Ukhuk ... Ukhuk." Air yang diteguk membuatnya tersedak hingga terbatuk.
Wajahnya memerah karena malu. Untuk menutupi semua itu Safa menyembunyikan wajahnya di balik gelas.
Kakek Wijaya justru tertawa lepas melihat kepolosan Safa.
"Sudahlah lupakan. Kakek cuma lagi goda kamu," ujar sang kakek sambil kembali menyesap teh.
"Ayo, makanlah. Setelah ini aku akan mengantarmu, sekalian kakek mau pergi ke suatu tempat," timpalnya lagi.
Mereka menikmati sarapan pagi itu. Safa makan dengan lahap. Ini kali pertama ia makan sepuasnya dan memilih lauk yang ia suka.
Lamunannya melayang saat mengingat masa lalu. Ia tak pernah diperbolehkan makan di meja yang sama. Bahkan makanan pun sisa mereka. Tapi di sini ia bebas makan apapun—di meja yang sama tanpa ada beda.
Setelah selesai sarapan Safa masuk ke dalam mobil kakek Wijaya. Disepanjang jalan Safa tak hentinya berbicara. Bukannya merasa risih justru sang kakek terus tertawa dibuatnya.
Safa yang ceria dan hangat perlahan kembali. Dulu ia selalu merasa tertekan karena rasa bersalah—bahagia membuatnya merasa berdosa.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, karena memang rumah keluarga Kusuma terletak di luar Jakarta.
"Ini kampus aku, Kek. Nanti pulangnya Safa bisa pulang sendiri, jadi Kakek gak perlu jemput Safa," tuturnya sambil membuka pintu mobil.
Mobil mewah yang berhenti tepat di depan kampus menarik perhatian beberapa Mahasiswa yang lewat. Saat ia hendak melangkah pergi sang kakek menghentikannya.
"Safa tunggu!" seru kakek Wijaya. Perlahan ia turun dari mobil dibantu sang sopir.
Sambil mengulurkan tangan kakek Wijaya meminta mendekat. "Kesinilah dulu."
Safa mendekat. "Ada apa, Kek. Apa Kakek butuh sesuatu?"
Kakek Wijaya mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya dan diberikan pada Safa.
"Ambilah. Tidak boleh menolak. Ini adalah hadiah kecil dari kakek. Kamu bisa beli apa saja yang kamu mau," tungkasnya. Kakek Wijaya langsung kembali masuk ke dalam mobil.
Sedikit terkejut, Safa lalu buru-buru menghampiri sang kakek. Bukan untuk mengembalikan kartu itu tapi untuk bersalaman padanya.
Saat mobil melaju meninggalkan area kampus, Safa melambai dengan gembira. Namun, hal itu berhasil menarik perhatian orang yang sangat menyukainya.
langkah Safa kini terasa ringan. Rasa bahagia sedikit mengisi relung hatinya. Namun, saat teringat akan rasa bersalah, lagi-lagi ia merasa tak pantas mendapat semua itu.
Safa memperhatikan kartu di tangan. "Apa aku gak apa-apa bahagia? Apa aku boleh?"
"Memangnya kenapa kamu gak boleh bahagia, Safa?" Farah tiba-tiba menyahut hingga membuat Safa tersentak kaget.
Tangannya refleks memukul sahabatnya. "Kamu membuatku kaget. Udah kayak setan aja tiba-tiba nongol."
Safa buru-buru menyimpan kartu di saku.
Tangan Farah bergerak melingkari bahu Safa, mendekapnya dalam kehangatan yang tulus.
"Semua berhak bahagia, Safa. Begitupun kamu, walau aku gak tau apa masalahmu karena kamu gak pernah mau cerita, tapi kamu tetap berhak bahagia. Jadi ayo senyumlah."
Safa mengusap lembut lengan Farah. Ia menoleh dengan senyum manisnya.
"Makasih, ya."
Mereka tersenyum bersama. Langkah kaki membawa mereka menuju ruang kelas.
Pagi itu kelas sudah ramai. Namun, aneh. Tatapan mereka seolah tengah menghakimi. Safa yang bingung menatap sahabatnya.
Bahu Farah terangkat, sama-sama tak paham dengan situasi ini. Setiap gerak geriknya seolah salah di mata mereka.
Farah yang kesal berhenti tepat di depan kelas. Kedua tangan bersendekap. "Ada, apa? Kenapa kalian semua ngeliat kita, kayak kita punya hutang sama kalian?"
Adit bangkit dari kursinya. Dengan sikap angkuh ia menghampiri Safa yang sudah duduk di kursi. Sorot mata itu jelas meremehkan.
"Aku kira kau beda dari wanita kebanyakan. Aku kira kau gak murahan. Tapi nyatanya ... kau gampangan!"
Jleb!
Kata-kata itu bagai sebilah pisau yang menancap tepat ke jantung. Sakit, sesak, seakan nafasnya benar-benar tercekat.
Wajah Farah berubah merah padam karena amarah. Ia merangsek maju ke arah Adit.
"Jaga mulutmu, Dit! Atas dasar apa kau mengatakan hal sejahat itu, hah!"
Dengan menahan gemetar Safa mencoba untuk berdiri. Kedua tangganya bertumpu pada meja.
Tatapannya nanar. "Kenapa ... kenapa kau mengatakan hal se–menyakitkan itu? Memangnya kali ini aku salah apa?"
"Heleh! Jangan sok polos deh, Safa. Kau itu hanya pura-pura solehah di balik jilbabmu itu kan? Padahal aslinya kau itu gak ada bedanya dengan LC, LC pinggir jalan."
Ser! Desiran darah seakan mengalir cepat ke kepala. Kali ini Safa benar-benar naik pitam.
Disaat ia hanya ingin hidup tenang dan damai. Tapi sepertinya semesta tak merestuinya. Saat ia merasa bahagia maka saat itu juga semua seakan dirampas darinya.