NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Masak-Masak Berujung Alarm Asap

Minggu pagi di Queenstown harusnya jadi momen tenang untuk menikmati udara Singapura yang bersih. Tapi bagi gue, udara bersih itu adalah sebuah tantangan.

Setelah seminggu makan nasi lemak "Uncle" dan roti tawar, lidah Sagitarius gue mulai meronta-ronta. Gue butuh asupan yang bisa bikin keringat bercucuran dan hidung meler. Gue butuh sambal terasi ulek buatan sendiri.

"Ded, bangun! Hari ini adalah Hari Sambal Nasional di apartemen kita!" teriak gue sambil nendang-nendang pelan kaki Dedik yang masih terbungkus selimut di kasur lipatnya.

Dedik ngebuka satu matanya, ngelihat jam dinding digital yang dia pasang sendiri di atas pintu.

"Rey, secara sirkadian, otak gua baru siap memproses data setelah jam 8 pagi. ekarang masih jam 7:15. Dan apa itu 'Hari Sambal Nasional'? Gua nggak nemu di kalender manapun."

"Kalender gue, Ded! Ayo bangun! Gue mau pake ulekan sakti yang kita bawa susah payah dari Indo!"

Dedik akhirnya duduk, rambutnya berantakan kayak kena sengatan listrik statis. Dia ngelihat gue udah siap di dapur sempit kita dengan celemek gambar kucing.

Di atas meja kecil, sudah berjejer cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, tomat, dan... sang bintang utama, Terasi Desa Pinus.

"Rey," Dedik berdiri, nyamperin gue dengan muka curiga.

"Lo tau kan apartemen HDB di sini itu sensor asapnya sangat sensitif? Secara teknis, partikel aroma terasi itu punya massa jenis yang cukup berat untuk dideteksi sebagai polutan oleh sensor optik di plafon itu."

"Ah, lo mah nakut-nakutin terus! Gue bakal buka jendela lebar-lebar, Ded. Lagian, aroma ini tuh aromaterapi, bukan polusi!" jawab gue pede sambil mulai ngulek cabai. Krek... krek... krek...

Suara ulekan batu ketemu cabai itu bener-bener musik paling indah di kuping gue.

Dedik ngehela napas. Dia ngambil laptopnya, duduk di pojokan meja makan yang cuma sisa sedikit ruang.

"Oke, tapi jangan bilang gua nggak ngingetin. Gua bakal pasang kipas angin kecil ini di deket jendela buat bantu ekstraksi udara. Logikanya, kita harus buat aliran laminar supaya bau ini langsung keluar ke arah balkon."

Gue asik ngulek. Setelah cabai dan bawang halus, saatnya ritual paling sakral, Membakar Terasi.

Karena nggak ada kompor gas, gue pake trik cerdik. Gue nyalain pemantik api panjang, terus gue bakar ujung terasi itu di atas piring kecil.

Bau khas terasi yang menyengat langsung memenuhi ruangan. Wanginya... surgawi banget buat lidah Indonesia gue.

"Gila, wanginya mantap banget, Ded! Berasa di kampung halaman!" seru gue sambil masukin terasi bakar itu ke ulekan.

"Wanginya... intensitasnya mencapai 80 desibel aroma, Rey," gumam Dedik sambil ngerutin hidung. "Gua rasa kipas angin gua nggak sanggup nahan laju difusinya."

Tiba-tiba, aroma terasi itu terbang ke arah plafon. Dan bener aja...

BIIIIIP! BIIIIIP! BIIIIIP! 

Alarm asap di langit-langit apartemen bunyi nyaring banget sampe gendang telinga gue mau pecah. Lampu merah di sensor itu kedap-kedip panik.

"DED! MATIIN DED! GIMANA CARANYA?!" gue panik sampe ulekan gue hampir jatuh.

"Gak bisa dimatiin manual, Rey! Itu sistem terpusat!" Dedik langsung loncat, ngambil handuk basah dan mulai ngibas-ngibasin udara di bawah sensor. "Buka pintu balkon! Cepet!"

Gue lari buka pintu balkon, tapi telat. Dari luar koridor, kedengeran suara langkah kaki berat dan teriakan orang-orang. Di Singapura, kalau alarm asap bunyi, artinya ada potensi kebakaran besar.

TOK! TOK! TOK! 

"Singapore Fire Research and Emergency! Open the door!" suara tegas dari balik pintu.

Gue pucet. "Ded, kita bakal dideportasi gara-gara terasi!"

Dedik narik napas, dia benerin kacamatanya yang miring, terus dia ngebuka pintu. Di sana berdiri dua petugas pemadam kebakaran dengan seragam lengkap, bawa tabung oksigen dan kapak.

Di belakang mereka, Clarissa berdiri sambil nutup hidung pake tisu, mukanya kelihatan antara jijik dan puas.

"Is there a fire?!" tanya petugas itu tegas.

"No, Sir. No fire," jawab Dedik dengan nada paling tenang sejagat raya, meskipun dahinya keringetan. "It is just... a chemical reaction from a traditional cooking process." 

Petugas itu masuk ke dalem, ngerutin hidung pas nyium bau terasi yang makin pekat. "Chemical reaction? It smells like... like something died in here." 

Clarissa langsung masuk, suaranya cempreng banget. "Officer! I told you! They are bringing dangerous substances from Indonesia! It smells like poison! I can't breathe in my own unit!"

Gua melotot ke arah Clarissa. "Bahasa lo jangan lebay ya, Cla! Ini sambel, bukan sianida!"

Dedik langsung pasang badan. "Officer, please excuse my partner's enthusiasm. What you smell is actually 'Indonesian Fermented Shrimp Paste' or Terasi."

"It contains high levels of glutamic acid and protein. When heated, the volatile compounds release a strong aroma that the sensor misinterpreted as smoke particles." 

Si petugas pemadam kebakaran itu ngelihatin ulekan batu di meja, terus ngelihatin terasi yang masih berasap dikit. Dia ngambil alat detektor gasnya, ngecek ke sekeliling ruangan.

"No carbon monoxide detected," gumam petugas itu. Dia nengok ke rekannya, terus ketawa kecil.

"Ah, belacan! My grandmother in Malaysia used to cook this. But young man, you cannot burn it like this inside a closed HDB unit. The sensor is too sensitive." 

Clarissa melongo. "What? You mean they are not in trouble?" 

Si petugas geleng-geleng. "It's just a false alarm. But please, Miss, next time... cook it with better ventilation. Or buy the bottled ones." 

Setelah petugas itu pergi sambil geleng-geleng, Clarissa masih berdiri di depan pintu dengan muka asem. "Dedik, kamu bener-bener ya. Hampir aja satu gedung ini dievakuasi gara-gara hobi masak Reyna yang primitif itu."

"Primitif kata lo?!" gue maju, megang ulekan batu kayak mau nimpuk orang. "Ini namanya budaya, Cla! Sesuatu yang nggak bakal lo dapet dari pizza mahal lo itu!"

"Clarissa," potong Dedik dingin. "Secara logika, bau terasi ini bakal ilang dalam 30 menit kalau sirkulasi udaranya lancar. Tapi kalau bau sombong lo itu, gua nggak tau cara bersihinnya. Silakan balik ke unit lo."

Clarissa ngebanting pintu dengan keras. Gue langsung lemes, duduk di lantai sambil meluk ulekan batu.

"Sori ya, Ded... gara-gara sambel gue, lo jadi repot sama pemadam kebakaran."

Dedik duduk di sebelah gue. Dia ngambil sendok, terus dia nyicipin sedikit sambel yang ada di ulekan pake kerupuk. Dia ngunyah pelan, matanya merem sebentar.

"Gimana?" tanya gue deg-degan.

"Secara organoleptik," kata Dedik sambil nelen kerupuknya.

"Tingkat kepedasannya mencapai skala 8 Scoville, aromanya memang destruktif bagi sistem keamanan Singapura, tapi... efektivitasnya dalam membangkitkan nafsu makan adalah 100%."

"Ini sambel paling enak yang pernah gua makan selama di sini."

Gue langsung senyum lebar. "Beneran, Ded?!"

"Iya. Tapi besok-besok, kalau mau bakar terasi, kita lakuin di taman bawah aja. Gua nggak mau harus berdebat sama pemadam kebakaran tiap minggu cuma buat makan sambel."

Gue ketawa kenceng banget. Kita akhirnya makan siang dengan nasi putih anget, telur dadar, dan sambel terasi maut itu. Biarpun apartemen sempit kita masih bau terasi sampe tiga hari kedepan, gue ngerasa puas banget.

***

Sore harinya, saat gue lagi nyuci ulekan, Dedik nyamperin gue sambil bawa tablet.

"Rey, liat ini."

Gua nengok. "Apaan?"

"Ini grafik sensor asap tadi pagi. Gua rekam datanya," dia nunjukin grafik yang naik turun tajam.

"Gua baru dapet ide. Ternyata partikel aroma terasi itu punya pola frekuensi yang unik banget."

"Kalau gua bisa masukin variabel 'gangguan aroma' ini ke riset akustik bambu kita, mungkin kita bisa nyiptain sensor yang jauh lebih sensitif daripada milik HDB ini."

Gua melongo. "Maksud lo... terasi gue mau dijadiin bahan riset?"

"Bukan terasinya, tapi 'gangguan' yang dia ciptain. Gua bakal namain ini 'The Terasi Paradox'. Gangguan yang merusak sistem tapi memberikan stimulasi rasa yang tinggi."

Gua cuma bisa geleng-geleng kepala. "Terserah lo deh, Robot. Yang penting besok-besok jangan riset pake jengkol ya, bisa-bisa tentara Singapura yang dateng ke sini."

Dedik nyengir tipis, terus dia balik lagi ke laptopnya. Gua ngelihat punggungnya dan ngerasa bersyukur.

Di negara yang serba kaku dan disiplin kayak Singapura ini, gue punya Dedik yang selalu bisa nemuin logika di balik kekonyolan gue.

Tiba-tiba, ada ketukan pintu lagi. Tapi kali ini pelan banget.

Gua buka pintu, dan ternyata itu si "Uncle" Tan, bos riset kita. Dia bawa kantong plastik isinya mangga arumanis.

"Hi, I heard the fire alarm earlier. Are you guys okay?" tanya Mr. Tan ramah. Dia ngerutin hidung sebentar.

"Wait... that smell... is that belacan? Wah, very authentic! Can I try some? My wife doesn't allow me to cook belacan at home!" 

Gua dan Dedik saling pandang. Ternyata, terasi adalah kunci diplomasi paling ampuh, bahkan untuk level bos besar Singapura.

"Tentu, Uncle! Mari masuk! Masih ada sisa telor dadar nih!" ajak gue semangat.

Malam itu, di apartemen kotak korek api, kita bertiga makan sambel terasi bareng-bareng sambil dengerin Mr. Tan cerita soal masa mudanya.

Clarissa yang ngintip dari lubang kunci unit sebelah pasti makin kepanasan liat bos besar malah asik makan bareng "Asisten Primitif" kayak gue.

Singapura, malam ini nggak cuma bau terasi, tapi juga bau kemenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!