Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 04
Wanita hina, murahan, anak pelakor, putri haram.
“Kekanakan.” Ayunda mendengus, sedikit kesal membaca tulisan menggunakan cat semprot akrilik warna hitam. Tanpa mencari tahu dia bisa menebak tepat siapa pelakunya – ya, Vinira, sudah pasti menyuruh salah satu penjaga rumah.
Tidak ingin menambah rasa kesal lantaran dirinya masih menyimpan emosi belum sepenuhnya reda, Ayunda masuk kedalam mobil, membiarkan tulisan itu tetap ada, nanti tinggal minta tolong security apartemen untuk membersihkannya.
Ayunda melajukan kendaraannya, menekan klakson agar pintu gerbang segera dibuka.
Begitu sudah keluar dari halaman hunian mewah sang ayah kandung, Ayunda langsung tancap gas menuju apartemen yang selama empat tahun ini menjadi tempat tinggal ternyaman bagi dirinya bak sebatang kara.
***
Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi, wanita cantik yang beberapa waktu lalu menyanggupi permintaan keluarga Guntara, menyudahi membasuh tubuh.
Masih menggunakan handuk kimono, rambut dibiarkan tergerai setengah basah – Ayunda keluar dari dalam kamar mandi, membuka lemari pendingin, mengambil satu botol minuman soda.
Wanita memiliki lekuk tubuh ideal, menonjol pada bagian tepat itu duduk di sofa tunggal, dia tidak menyalakan televisi, melainkan melipat kaki memeluk lututnya sendiri.
Tatapan mata Ayunda kosong, tak ada sebab, tiba-tiba air matanya meluncur satu persatu.
“Anak haram, putri dari seorang pelakor, pelacur murahan, benalu menjijikan, harus sampai kapan aku memeluk label itu? Jika boleh memilih, lebih baik tidak terlahir ke dunia ini kalau hanya dijadikan pelampiasan, dimanfaatkan, dihina setiap ada kesempatan,” gumaman pelan.
Dia pikir dirinya tidak akan lagi terpengaruh oleh julukan yang melekat sedari bayi, namun masih berefek memberikan rasa nyeri pada hati.
Ayunda mengambil ponsel yang terletak di sampingnya, lalu membuka laman media sosial, mencari nama terletak pada bagian atas daftar pencarian – Nadira ningtyas
Hehehe …. “Kamu begitu menyayangi putri kebanggaanmu, apapun tentang dia selalu dipamerkan agar dunia tahu jika mantan model majalah dewasa memiliki seorang anak bertalenta, penari balet hebat,” tawanya terdengar sumbang sampai harus menggigit bibir agar tidak tergugu.
Ayunda pandangi lama-lama gadis remaja berumur 15 tahun, mengenakan busana penari balet yang tengah mengacungkan sebuah piala, berhasil menyabet juara satu pada lomba bergengsi. Mutiara, nama adik tiri Ayunda yang saat ini tinggal di Belanda.
Sang ibu yaitu Nadira ningtyas, menikah dengan pria berkebangsaan asing, lalu menetap disana. Melupakan kalau pernah melahirkan seorang putri yang bahkan tidak sudi diberi nama.
Lebih kejamnya lagi, Ayunda dijual oleh ibu kandungnya sendiri kepada sang ayah biologis – Sarda Guntara.
Dua puluh lima tahun silam, Ayunda yang kala itu masih bayi merah, terbungkus selimut, diserahkan ke tangan Sarda Guntara. Bukan diterima dengan suka cita melainkan kemarahan, kebencian mendarah daging hingga kini.
Nadira ningtyas dan Sarda Guntara, terlibat affair, mereka berselingkuh dibelakang Serlina. Mencurangi wanita beranak dua demi melampiaskan nafsu menggebu-gebu.
Namun, Nadira yang sudah berpengalaman menjadi simpanan pria berharta, tentu tidak mau rugi. Sengaja hamil, setelah melahirkan, menggunakan sang bayi untuk memeras Sarda.
Satu miliar, harga yang harus dibayarkan agar aib tetap tertutup rapat. Ayunda ditukar dengan nominal fantastis, setelahnya Nadira ningtyas pergi keluar negeri, memulai hidup baru, menutup kisah kelam, dan melupakan bayi masih berumur empat puluh hari.
Semenjak itu, Ayunda dibesarkan oleh tangan-tangan membenci kehadirannya.
“Cukup! Sudahi meratapi nasibmu, Yunda!” hardiknya pada diri sendiri kala larut pada kenangan masa lalu menyakitkan hati.
“Tak ada yang berubah! Semua sudah terjadi, mau seribu kali pun kau menangisi, tetap sama saja! Dirimu tidak diinginkan, kehadiranmu malapetaka, musibah bagi keluarga Guntara! Camkan itu baik-baik!” Ayunda menghapus kasar lelehan air mata.
Tutup kaleng sudah dibuka, lalu dia teguk banyak minuman yang terasa sedikit perih pada tenggorokan.
‘Coba kau lihat pencapaian apa yang sudah dalam genggaman. Hunian nyaman, mobil mewah, tabungan lumayan, pekerjaan tetap, penghasilan luar biasa. Kau hebat, Ayunda! Selagi rekan kerja tak ada yang mengetahui identitas, asal usulmu, semua akan baik-baik saja!’ batinnya mencoba membesarkan hati wanita bermata sembab itu.
Ayunda menatap sekeliling, memperhatikan apartemen kelas menengah berada di lantai 23. Unit ini lumayan luas terlebih ditinggali seorang diri. Memiliki dua kamar, ruang santai, dapur dan ruang makan jadi satu, dan sebuah balkon tempat ternyaman memandangi jalanan ibu kota negara.
“Demi kenyamanan ini, aku sudah menyerahkan segalanya sampai tak memiliki secuil harga diri,” Senyumnya mengejek diri sendiri.
Lelah menangis, sakit hati semakin dalam, kepala sedikit pusing, Ayunda memutuskan untuk segera tidur. Esok harus bangun pagi demi rutinitas sehari-hari di sebuah perusahaan impiannya sedari masa putih abu-abu.
***
"Ayunda, malam Minggu nonton bioskop yuk?” ajak Dwira, mereka bertemu di lobi perusahaan, sebelum masuk jam kerja.
“Maaf, Ra. Aku gak bisa, ada janji lain.” Ayunda berjalan tergesa-gesa, menghindari bujukan sahabatnya yang kalau sudah berkehendak, sulit ditolak.
“Janji sama siapa?!” Ira setengah berteriak, sayangnya tidak dihiraukan.
Ayunda yang terburu-buru asal masuk lift tanpa melihat siapa saja di dalam kotak persegi itu.
Ehem, hem …. “Saking tampannya, sampai aku tidak terlihat olehmu, Ayunda.” Iyan mencubit-cubit kulit tenggorokannya.
“Maaf, pak Iyan. Tuan Daksa. Sepertinya saya salah masuk lift,” terlambat sudah mau keluar, pintu telah tertutup rapat dan lift bergerak naik ke atas.
Ayunda langsung menunduk, merutuki kebodohannya, dan baru menyadari jika hanya dia seorang selain kedua pria berpenampilan menarik mata ini.
“Bukan salah, tapi lift khusus petinggi perusahaan tengah diperbaiki,” ungkap Iyan.
Pria berbalut jas abu-abu garis putih, memilih diam, fokus pada benda canggih dalam genggamannya.
Iyan yang sudah akrab dengan Ayunda, seperti biasa menggoda wanita aslinya pemalu dan introvert itu. “Yunda, malam Minggu kencan yuk? Biar kamu gak begadang nonton drama terus.”
Ayunda melirik ke kiri. “Gak ah, Pak. Nanti dilabrak lagi sama salah satu pacar bapak macam tempo dulu.”
“Kamu pengingat tajam rupanya. Itu sudah dua tahun lalu, Ayunda. Masih ingat saja,” gerutunya menahan malu.
“Wanita itu paling jago soal mengingat sesuatu yang bisa dijadikan senjata seumur hidup, Pak,” katanya setengah bercanda.
Iyan pun tidak dapat berkutik. Dulu dia pernah jalan bersama Ayunda dan Yusniar, berakhir kedua wanita itu dihadang salah satu kekasihnya.
Bunyi denting lift menghentikan obrolan ringan, Ayunda paling belakang keluar. Bergegas meletakkan tas, dan mengikuti Yusniar yang bersiap masuk ke dalam ruangan direktur utama.
“Pagi ini saya mau secangkir kopi,” tiba-tiba Daksa berkata tanpa ditanya terlebih dahulu.
“Tuan, bukankah Anda tidak bisa minum kafein, terakhir kali lambung Anda langsung bereaksi. Teh saja ya, saya campur bubuk kayu manis dan cengkeh supaya hangat serta nyaman diperut, bagaimana?” ucap Ayunda sopan.
Netra segelap langit malam itu menatap lekat manik wanita yang sudah dia kenal sedari kanak-kanak.
.
.
Bersambung.
ingin bertanya ,apakah semua isu itu pada akhirnya kebenaran? ingin memaki dia begitu sayang pada ayunda meski mulutnya kadang terlalu mercon.
dan sudah pasti jawabannya di luar keingintahuan seila .
daripada dongkol lama2 mending menghindar🤣
kasihan pak satpam nanti jadi korban dak dik Duk der daksa kaya Iyan loh
eeh akhirnya di bikin Tekdung olala
okelah,menepati dulu
Kamu mungkin berpikir gak di anggap penting oleh Ayunda
tpi setiap orang punya privasi
nanti saatnya terbuka semua kamu pasti mengerti 🫂