NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 10: POV INDRY

Wisuda Mauba.

8 tahun nunggu, besty.

8 tahun! Anak orang udah S2, Mauba baru lepas toga.

Tapi nggak apa-apa, yang penting lulus.

Puji Tuhan, sepanjang hari aku angkat pujian kemuliaan bagi Fihan yang udah buat semuanya mungkin dan jadi.

Carel udah akuntan di perusahaan properti Jakarta Selatan, gaji pertamanya beliin aku rice cooker.

Katanya: “Kak, jangan makan bubur terus. Masak nasi yang bener.”

Paul udah PNS di kantor pemerintahan.

Jas rapi, pulang bawa amplop THR, terus dibagi-bagi ke Ogah buat jajan.

Dia yang paling pendiam, tapi kalau marah suaranya bisa satu RT dengar.

Mauba wisuda akhirnya, walau 8 tahun.

Dia ngulang skripsi tiga kali, pernah drop out setahun karena lalai kuliah, masalah remaja.

Sekarang kerja di universitas tempat dia kuliah, jadi staff lapangan untuk praktek anak magang di pertanian.

Pelan-pelan, tapi selesai.

Ogah sekarang SMA kelas 2. Rambut slalu berminyak, biar nggak brekele katanya.

suka nonton anime sampai subuh, tapi udah nggak minta PS 5 ditukar rosario lagi.

Dia bilang mau jadi programmer biar bisa bantu bayar kos.

Hidup udah nggak berat kayak dulu.

Kos Karawaci nggak sepi lagi.

Tagihan BPJS nggak bikin aku begadang.

Maagku masih ada, tapi ventolin jarang keluar.

Tapi hati… masih sama.

Cinta dalam diam.

Kangen yang cuma Tuhan yang tau.

---

Datang ke Malang buat hadir sebagai Wali Mauba, menyaksikan kesuksesan yang dari perjuangan panjaaaaaaang.

karna udah Staff jadi disediakan rumah cukup nyaman.

Kasur cukup empuk. gak ada SC, hanya kipas angin sejuk.

hanya Lampu kuning jadul bikin muka kayak abis begadang 3 hari.

Aku buka galeri HP.

Foto Mauba kecil pegang toga kardus sambil ketawa lebar.

Foto Deoni senyum malu-malu.

Foto Mama yang udah nggak ada.

Aku tarik napas. 8 tahun rasanya kayak 8 detik. Cepat banget, tapi beratnya masih kerasa.

Tiba-tiba jari gatel.

Nggak tau kenapa.

Aku buka FB. Kontak “ZakiZt” masih nyangkut. Entah kenapa Meta nggak hapus. Dasar tukang intip, sahabat satu itu emang nggak bisa diem.

Aku ketik.

Hapus.

Ketik lagi.

Hapus lagi.

Ventolin di tas udah aku genggam. Maag nyengat. Hati nggak tenang.

15 tahun nggak kontak. 15 tahun pura-pura nggak kangen.

Tapi malam ini, rasanya kayak bendungan mau jebol.

Akhirnya aku kirim:

_“Zak… Mauba wisuda besok. Aku di Malang.”_

Kirim.

Dua detik kemudian nyesel. Mau tarik. Telat.

messenger itu udah d buka.

3 menit kemudian.

Zaki: _“Malang? Kamu di Malang?”_

Gue bisa bayangin dia mondar-mandir pasti, sambil mangap.

Dia ngetik panjang, hapus, ngetik lagi.

Terus masuk:

_“Aku… aku mau ke Malang sekarang. Kereta terakhir jam 9. Kalau aku kejar, besok pagi aku sampai.”_

Astaga Zak.

15 tahun lo nahan. 15 tahun lo jaga jarak.

Sekarang lo beneran mau nyebrang pulau cuma buat lihat aku 5 menit?

Aku panik.

Takut dia capek. Takut dia nyesel. Takut aku jadi alasan dia hilang adab.

Takut aku jadi perempuan yang bikin laki-laki baik kehilangan batas.

Jadi aku balas cepat:

_“Jangan Zak. Besok aku naik Matarmaja balik Jakarta. Lewat Tegal. Kalau kamu mau… ketemuan 20 menit di Stasiun Tegal aja.”_

Diem 10 menit.

Aku nggak berani lihat HP.

Terus dia balas:

_“Iya. Tegal aja. Aku tunggu.”_

---

Besoknya aku naik kereta Matarmaja.

Kereta ekonomi, nyaman, AC sejuk. bersih juga.

Aku duduk dekat jendela. Lihat foto wisuda Mauba di HP sambil nahan ngantuk.

Tapi pikiranku nggak di Malang.

Pikiranku udah di Stasiun Tegal. 20 menit. Cuma 20 menit.

Aku ingat suara Zaki 15 tahun lalu.

“Indry, pulang Misa ya? Aku nunggu di teras.”

Nggak banyak kata. Cuma duduk. Cuma hadir.

Sekarang, 15 tahun kemudian, dia bilang “Aku tunggu.”

Sama. Nggak berubah.

Kereta berhenti di Tegal.

Aku turun.. Panas. panas hati ku.

Zaki udah berdiri di peron, kemeja kusut, rambut berantakan kena angin, bawa dua gelas kopi sachet panas.

Dia nggak peluk. Nggak pegang tangan.

Cuma senyum kecil: “Hay.”

Aku jawab: “Hay juga.”

Kami ngobrol seadanya.

“Mauba wisuda lancar?”

“Lancar. Tapi 8 tahun Zak.”

“Keren. Carel gimana?”

“Udah akuntan. Paul PNS. Ogah SMA uda gede”

Zaki ketawa kecil. “Ogah masih minta martabak coklat?”

Aku angguk. “Masih.”

Kereta bunyi. 10 menit habis.

Aku naik lagi. Dia ngelambai dari peron. Nggak banyak kata.

Tapi cukup.

---

Di kereta aku baru tau…

Zaki hampir beneran naik kereta ke Malang malam itu.

Tas udah siap. Motor dipanasin. Dompet ada uang ada.

Dia udah pamit ke Bu Warti, bilang mau cari aku.

Tapi jam 8 malam, Bu Warti pingsan. Gula naik.

Zaki harus antar ke puskesmas. Harus jaga semalaman.

Kereta ke Malang kelewat. Travel habis.

Itu yang bikin dia ngurungin niat.

Bukan takut. Bukan ragu.

Tapi karena ada yang lebih butuh dia malam itu.

Dia cerita itu berapa hari kemudian, waktu dia datang ke kos Karawaci bawa bubur dan ventolin.

Kemeja kusut. Mata merah. Tapi tangannya nggak gemetar waktu naruh bubur.

---

Aku pulang ke Karawaci malam itu juga.

dijemput Meta yang heboh sepanjang jalan Vidio Call gak boleh dimatiin. Gila tu anak. sampai heboh banget pas nungguin diluar stasiun, bikin malu aja jadi tontonan.

sampai rumah pun masih aja ribut, kepo banget....

tapi kalo ngga ada Meta, hidup aku bakal terasa loncat jurang terus sih.

Yeee si Meta, rambut acak, muka penasaran setengah mati.

Aku lempar sandal.

“Diem! Baru sampe!”

Tapi dia nggak diem.

“Jadi?! Dia ngomong apa?! Dia peluk?! Dia cium kening?!”

Aku duduk lemas.

“Nggak. Dia cuma kasih kopi sachet. Ngomong ‘kamu gemukan’. Itu aja.”

Meta teriak: “CUMA ITU?! 15 TAUN CUMA NGOMONG GITU DOANK!!???KAGAK YAKIN GUA, NOOOHHHH HADIAH SEBANYAK ITU KAGAK ADA PENJELASAN?!”

Aku ketawa. Capek, tapi lega. “Iya Met. Cuma itu. Tapi cukup.”

---

Malamnya aku nggak bisa tidur.

Aku buka kotak kecil di meja... kosong... gak ada Rosario yang harus aku bersihin itu, kebiasaan yang canggung.

Aku rindu rosario itu. Dingin.

15 tahun.

Dari banyaknya pergumulan, Rosario itu ada buat pengingat doa ku, selain alarm Meta.

Aku pejam mata.

Di luar hujan kecil.

Di Tegal, aku tau Zaki juga nggak bisa tidur.

Di saku dadanya, rosario itu masih hangat.

---

Jadi iya, aku yang duluan chat.

Aku yang duluan ngabarin aku di Malang.

Tapi Zaki yang udah siap ninggalin semuanya buat aku…

Kalau Tuhan nggak kasih ujian kecil di Tegal malam itu.

Kadang Tuhan nggak kasih kita ketemu cepat, bukan karena Dia nggak dengar doa.

Tapi karena Dia tau, kami belum siap.

Atau karena ada orang lain yang lebih butuh salah satu dari kami malam itu.

Dua orang. Dua doa.

Satu kereta lewat Tegal.

Satu puskesmas di Tegal yang bikin kami nggak buru-buru.

Aku kangen, Zak.

Tapi Tuhan tau.

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!