NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Romeo dan Alya melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit, wajah mereka tampak penuh kecemasan. Keduanya kelelahan, masih menahan kantuk setelah penerbangan terakhir dari Singapura, dan baru tiba di rumah sakit pada dini hari.

“Di mana mereka?” tanya Romeo, matanya menyorot Satria yang baru saja melangkah keluar dari ruangan.

“VIP 3, kamar pojok. Suhu tubuh mereka naik, cairan kurang.” Satria memberi laporan singkat namun tegas.

Romeo dan Alya tak menunda lagi, langsung menuju kamar kedua putrinya. Satria terkejut melihat satu hal, Romeo terus menggenggam jemari Alya sejak kedatangan nya tadi.

Segalanya terasa berbeda, apakah dia melewatkan sesuatu yang penting.

Romeo menyesal begitu melihat kedua putrinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Jemari mungil mereka kini tertusuk jarum infus, jelas membuat mereka merasakan sakit. Andai saja ia mendengar permintaan mereka saat itu, mungkin kini tawa ceria anak-anaknya akan mengisi rumah, bukan derita yang membuat hatinya perih.

"Ini semua salah saya… kemarin saya keras kepala dan nggak mau mengalah." ucap Romeo dengan suara berat.

Alya menangkap maksud ucapan Romeo, tapi entah kenapa hatinya menangkap makna yang berbeda.

"Jangan salah paham sama kata-kata saya… saya nggak menyesal kita pergi berdua. Tapi andai saya nggak egois dan mengajak mereka ikut, pasti semuanya nggak akan seperti ini." ujar Romeo cepat, wajahnya menampakkan guratan penyesalan yang tajam.

"Saya mengerti, Tuan. Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, tak perlu diungkit lagi." ujar Alya dengan suara lembut namun tegas.

Sejak tadi Satria menguping dari balik pintu, Satria tiba-tiba mengangguk pelan, tangannya mengusap dagu yang mulai ditumbuhi janggut tipis.

"Apa sudah membaik hubungan mereka?" pikirnya sambil menahan rasa penasaran.

Romeo menempatkan dirinya di antara kedua tempat tidur putrinya, sementara Alya hanya berdiri, menatap mereka bertiga dengan mata sendu. Sulit baginya mempercayai bahwa kini ia punya keluarga kecil yang utuh, dan lebih dari itu, diterima sepenuhnya oleh Romeo.

“Lekas pulih, sayang. Papa punya kabar yang akan membuat kalian bahagia.” ucap Romeo lembut.

Melihat Romeo terus larut dalam rasa bersalah, Alya pun dengan lembut memintanya untuk beristirahat sejenak. Sejak perjalanan dari Singapura, Romeo sama sekali tidak memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang kedua buah hatinya yang kini terbaring sakit, membuat lelah seolah tak lagi ia rasakan.

“Istirahatlah sebentar, biar aku saja yang berjaga di sini dan memastikan mereka baik-baik saja.” ucap Alya lembut sambil menatapnya penuh perhatian.

“Tidak perlu. Biar nanti saat mereka terbangun, aku yang beristirahat. Aku ingin menyampaikan sesuatu pada mereka aku yakin itu akan membuat mereka bahagia. Dan aku ingin menunggu momen itu, Alya.” jelas Romeo dengan suara halus.

“Kalau begitu, biar saya keluar sebentar. Saya belikan sarapan, ya.”

“Sudah, kamu jangan ke mana-mana. Kalau nanti anak-anak bangun dan mencari ibunya bagaimana ? Lebih baik Satria yang membelikan nya.”

Satria sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia mengerti perjalanan yang dilalui Romeo dan Alya tentu menguras tenaga mereka, meski pada kenyataannya tubuhnyalah yang terasa paling letih.

**********

Matahari perlahan menampakkan diri. Romeo masih terlelap di ranjang kecil khusus penjaga, sementara Satria pun belum beranjak dari tidurnya di atas sofa. Di sisi lain, Alya baru saja bersiap untuk membersihkan diri.

“Ibu…” gumam Selina lirih dalam tidurnya.

Selana dan Serena terjaga bersamaan, mata mereka menelusuri langit-langit kamar tempat mereka bermalam. Sesaat kemudian, Serena melirik ke sisi ranjang, menangkap sosok Romeo yang masih terlelap. Namun dalam benaknya, ia mengira pria itu adalah Edgar.

“Ibu pasti pulang hari ini, Selina. Jadi hentikan tangisan mu, ya. Kita harus lekas sembuh sebelum ibu kembali, supaya saat pulang nanti ibu melihat kita baik-baik saja.” tutur Serena sambil menenangkan adiknya.

“Tapinya aku kangen ibu… aku pengen dipeluk ibu.” isak Selina, air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia tahan.

Serena tak sanggup menegur Selina, karena jauh di dalam hatinya ia pun merasakan kerinduan yang sama. Tubuhnya masih diliputi rasa lemah, lidahnya getir tanpa sebab. Namun dari semua itu, hanya satu harapan yang memenuhi pikirannya berjumpa dengan ibu.

Alya yang baru saja selesai membersihkan diri segera melangkah keluar dengan hati-hati. Dari balik pintu, samar-samar ia menangkap percakapan kedua anak sambungnya. Perasaan hangat langsung menyusup ke dadanya, membuat matanya sedikit berkaca. Ia tak pernah menyangka akan dicintai dan disayangi oleh si kembar sedalam itu.

“Halo, sayang. Ibu sudah ada di sini.” ucapnya lirih penuh kelegaan.

Seketika si kembar menoleh bersamaan. Pandangan mereka tertuju pada Alya yang berdiri tak jauh dari sana. Mereka saling berpandangan, seakan mencari jawaban benarkah sosok yang mereka lihat itu ibu mereka.

Serena refleks mengucek kedua matanya, diikuti Selina yang melakukan hal serupa. Bahkan mereka saling mencubit pipi sendiri, seolah ingin memastikan bahwa sosok yang berdiri di hadapan mereka benar-benar ibunya, bukan sekadar bayangan indah dalam mimpi.

“Iya benar, ibu!” seru si kembar kompak, wajah mereka langsung berbinar.

Alya segera menghampiri mereka dan memeluk si kembar bergantian. Pelukan itu terasa begitu kuat, hingga ia menyadari tubuh keduanya bergetar dalam dekapan. Saat itu juga, rasa bersalah perlahan menguasai perasaan Alya.

“Maafkan ibu dan papa, ya, sayang.”

“Bukan salah Ibu, Papa yang salah.” Selina menyela sambil mangerucutkan bibirnya.

Alya terkekeh pelan menyaksikan ekspresi Selina yang tampak kesal saat melayangkan protesnya, sementara Serena justru memilih lebih banyak terdiam dengan raut wajah yang sulit ditebak.

“Papa sedang ada keperluan pekerjaan, dan ibu harus menemani papa.” jawab Alya dengan nada lembut.

“Bagaimanapun juga, rasa kesalku ke Papa belum hilang.”

“Apa kamu yakin mau terus marah sama papa?” Romeo tiba-tiba bersuara.

Serena yang menangkap suara papanya langsung menatap lurus dengan sorot mata yang dalam, sementara Selina justru memalingkan wajahnya, bibirnya mengerut ke depan menahan kesal.

“Papa ada hadiah istimewa, lho. Tapi karena ada yang marah sama papa, sepertinya hadiahnya batal dan jatuh ke tangan orang lain.” goda Romeo ringan.

Begitu kata mainan terucap, wajah Selina seketika berbinar penuh antusias.

“Kakak, papa benar-benar bawain mainan pesanan kita.” katanya dengan mata berbinar.

“Itu pasti ibu yang beliin.” sahut Serena yakin.

“Itu pilihan papa dan ibu. yang dipakai juga uang papa, jadi kamu harus bilang terima kasih ke papa.” kata Alya menenangkan.

Alya sadar si kembar masih menyimpan rasa kecewa karena dirinya dibawa pergi oleh papa mereka. Namun, dari kejadian itu pula hubungannya dengan Romeo justru semakin membaik. Haruskah Alya merasa menyesal.

“Jangan marah lagi sama papa. Papa cuma ingin kalian punya adik, makanya ibu papa bawa. Tapi karena kalian sakit, rencana papa nggak bisa jalan.” katanya dengan nada tenang.

Alya langsung membelalakkan mata mendengar ucapan suaminya yang terlalu terus terang. Bagaimana mungkin Romeo membicarakan hal seperti itu pada anak seusia enam tahun? Sebuah cubitan manja pun mendarat di punggung pria itu, membuat Romeo meringis sambil tersenyum kecil.

“Papa benar mau kasih kita adik, ya? Serius?” tanya Selina dengan mata berbinar penuh semangat.

“Kalau begitu papa pergi lagi saja sama ibu. Nanti pulangnya jangan lupa bawa adik, ya. Cowok, Pa, biar ganteng kayak papa.” sambung Serena dengan wajah ceria, tak kalah bersemangat.

“Jadi… papa boleh pergi sama ibu selama dua minggu?” tanya Romeo, sengaja mengambil kesempatan dengan senyum penuh arti.

“Boleh saja, asal nanti pulang membawa kabar tentang adik.” ujar mereka bersamaan.

Tatapan Romeo beralih ke arah Alya, alisnya bergerak seolah memberi isyarat nakal, membuat wajah Alya seketika memanas dan berubah merah merona.

“Kalau kamu mau, kita berangkat lagi.” ujar Romeo menggoda.

“Ih, Tuan ini…” rengek Alya manja.

Romeo terkekeh puas menyaksikan tingkah Alya yang begitu manis, entah mengapa baru sekarang ia menyadari bahwa istrinya ternyata semenggemaskan itu.

“Berisik amat, sih? Gue baru aja tidur.” keluh Satria sambil mengacak rambutnya yang masih berantakan.

“Om, Papa sama Ibu mau ngasih kita adik, lho!” seru Selina dengan mata berbinar penuh antusias.

“Hah? Maksud kamu apa?” sahut Satria, jelas merasa seperti baru saja salah menangkap ucapan itu.

“Papa bilang mau ngasih kita adik, Om. Katanya kalau kita ngizinin, Ibu dibawa dua minggu, nanti pulangnya Papa bawa adik buat kita.” jelas Serena cepat.

“Kalian serius?” tanyanya sekali lagi, masih dengan nada tak percaya.

"Eh, Sat, serius deh, cuci muka dulu. Belek mata lo kok segede itu sih?" cibir Romeo.

"Dasar lo, senangnya lo bikin gue malu di depan orang! Gila lo!" Satria kesal.

"Masih pede gitu? Aku kira harga dirimu sudah ludes." ejek Romeo.

"Awas, Lo! Lo sama Alya masih punya hutang penjelasan sama gue." Suaranya meninggi saat ia langsung melangkah menuju kamar mandi.

"Hah, penjelasan apa? Kok aku ikut-ikut diseret-seret gini." Bisik Alya pada Romeo.

Romeo cuma mengangkat bahunya, pura-pura tak mengerti, padahal sebenarnya ia sudah tahu alasan Satria berkata begitu.

"Aku pengen pulang, Bu." suara Selina terdengar lirih.

"Aku juga, Bu. Pulang yuk… aku sudah kangen sama masakan ibu." tambah Serena antusias.

"Kita tanya dokter dulu, ya, kalau boleh pulang, kita pulang. Kalau belum, di sini dulu biar cepat pulih. Nanti Om Arjuna yang jaga kalian. Setelah sembuh, papa janji bakal ajak kalian jalan-jalan. Mau nggak?" ujar Romeo sambil tersenyum.

"Mau dong, serius nih, papa janji bawa kita piknik atau liburan di villa?" tanya Serena dengan mata berbinar-binar penuh semangat.

"Bagaimana kalau kita piknik sekaligus ke villa? Nanti kita ajak Om Arjuna, Edgar, dan Om Satria." usul Romeo dengan antusias.

"Ajak nenek juga, Pa. Pasti nenek senang kalau kita punya Ibu." seru Serena sambil tersenyum penuh harap.

"Ngapain ajak nenek? Nenek jahat, Selina nggak mau!" sela Selina dengan wajah cemberut.

Alya, yang sama sekali tak mengerti apa yang terjadi, mengernyitkan dahinya penuh rasa penasaran. Matanya menatap Romeo dengan pertanyaan yang tak terucap. Namun, Romeo justru dengan tenang memijat keningnya. Yang Alya belum tahu, nenek siapa yang dianggap jahat, dan mengapa Selina terdengar begitu membencinya.

"Eh, Selina, jangan ngomong kayak gitu." Romeo menegur, tatapannya menajam ke arah Selina.

"Selina, nenek itu nggak jahat kok." tambah Serena.

"Enggak! Nenek itu jahat, benar-benar jahat! Selina benci nenek!" teriaknya sambil menundukkan kepala.

"Selina!" Bentak Romeo tanpa sengaja.

Selina terkejut saat dibentak, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Sementara itu, Serena merasa bersalah, menatap kembarnya yang diperlakukan seperti itu oleh ayah mereka.

"Ibu… papa jahat." suaranya pecah menahan tangis.

Alya melangkah mendekati Selina, mencoba menenangkan putrinya. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Romeo meski ia sendiri salah karena membentak anaknya, hatinya tetap ingin melindungi Selina. Di sisi lain, ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.

"Selina… maaf ya, jangan ngomong gitu, bagaimanapun, itu nenek kalian. Nenek sayang sama kalian berdua. Jangan sampai kalian benci sama nenek, oke?" kata Romeo dengan suara pelan, menatap mata putrinya.

"Enggak, nenek nggak sayang sama kita. Kalau sayang, nggak mungkin dia nyuruh papa nikah sama nenek sihir." tegas Selina, matanya menatap tajam, penuh kemarahan dan kecewa.

"Selina, yuk sarapan dulu. Nanti ibu tanya dokter, boleh nggak kita pulang. Kalau boleh, ibu janji bikinin dimsum methai favorit kalian, gimana?" Alya tersenyum lembut, berusaha mengalihkan perhatian Selina sebentar.

"Janji, Bu, nggak bohong kan?"

"Ibu pasti janji."

Tanpa banyak bicara, si kembar mulai sarapan. Alya menyuapi Selina, sedangkan Romeo menyuapi Serena. Begitu semua habis, kedua anak itu langsung terpaku menonton acara kartun favorit mereka.

Satria baru saja selesai mandi. Tanpa menunda, ia melangkah mendekati Romeo dan Alya yang duduk di sofa, masing-masing tenggelam dalam lamunannya sendiri, seolah dunia di sekitar mereka tak lagi ada.

"Lo berdua kenapa sih, ribut lagi?" Satria bertanya sambil menjatuhkan dirinya di kursi tepat di depan Alya dan Romeo.

"Suka ikut campur banget, ya Lo!"

"Gue heran deh, tadi Lo berdua mesra banget, sampe janjiin bawain adek buat si kembar. Sekarang malah diem-dieman." ejek Satria sambil terkekeh.

Romeo mulai menceritakan kembali kejadian yang baru saja berlangsung.

"Tapi maaf ya, Rom, gue sependapat sama Selina. Liburan kalian nanti bisa berantakan. Gue nggak bermaksud bilang ibu lo jahat, tapi dia memang licik, maksa Lo nikah sama Tania." jelas Satria tegas.

Alya menunduk, cemas yang tak tertahankan mulai merayap apakah ibu Romeo akan menyukainya? Atau justru pernikahannya harus berakhir sebelum benar-benar dimulai.

"Oke, sekarang cerita ke gue, apa sebenarnya yang terjadi sama kalian berdua?"

"Jadi intinya, kita mau mulai hubungan ini dari awal, dan gue sama Alya bakal jalani dengan sungguh-sungguh, bukan karena kontrak atau apa pun." Romeo menegaskan sambil tersenyum.

"Waduh, baru aja gue kepikiran mau ngambil Alya kalau kalian beneran cerai." canda Satria sambil nyengir.

Mata Romeo langsung menyorot Satria dengan tajam, membuatnya terdiam seketika.

"Alya… serius Lo mau sama dia? Dia nggak maksa kan? Kalau maksa, jangan mau. Tenang aja, Lo kalau jadi janda, gue siap ambil alih urusan itu." Satria menatap Alya.

"Ehh, memang benar kita mau mulai semuanya dari awal, Pak?" tanya Alya sambil menatap ke arah Satria.

Mendengar Alya memanggil Satria pak, tawa Romeo meledak tanpa bisa ia tahan, membuat suasana mendadak hangat.

"Lo tahu kan gue masih muda, Alya." tegas Satria, matanya menyorot penuh penekanan.

"Nggak usah ngarep, gue nggak bakal melepas Alya meski dunia runtuh sekalipun."

"Kamu tau kan, sayang… saya nggak bakal pernah ninggalin kamu. Jadi kamu juga jangan pernah ninggalin saya." ucap Romeo, matanya menatap Alya penuh ketulusan.

"Duh, sayang-sayang tapi ngomongnya masih kaku gitu, kayak bos sama pegawai aja. Kok masih pakai saya-saya gitu?" ejek Satria sambil tertawa lepas.

"Tutup mulutmu, dasar sialan jomblo."

"Lo tau nggak, gue jomblo gara-gara lo. Semua waktu kencan gue habis karena lo kerja rodi terus."

"Ya udah, kalau jomblo ya jomblo aja, nggak usah banyak alasan."

"Kalau begitu, gue langsung ke kantor dulu. Ada meeting sama klien dari Surabaya. Nanti gue kirim file-nya biar Lo cek ulang dan tanda tangan. Oh iya, hari ini juga ada penerimaan staff baru, buat gantiin sekretaris Lo sementara, soalnya dia lagi cuti melahirkan."

"Baiklah, Lo yang urus semuanya saja. Sat, pastikan Amel dapat perawatan rumah sakit terbaik. Nanti gue sama Alya yang beliin kado buat dia." jelas Romeo sambil menatap serius.

"Oke deh, gue pamit dulu ya. Arjuna sama Edgar belum bisa datang, mereka lagi ada urusan penting." ucapnya sambil melangkah pergi.

"Nggak apa-apa, makasih ya udah bawa si kembar ke rumah sakit. Gue berasa beruntung banget punya kalian." ucapnya tulus sambil tersenyum.

"Ah lebay banget sih Lo, kaya sama orang lain aja deh. Ya udah, gue cabut dulu selamat kencan buta… eh, maksudnya kencan beneran ya."

**********

Di tempat lain, kabar tentang pernikahan Romeo akhirnya sampai juga ke telinga ibunya. Sebenarnya, kedua orang tua Romeo telah lama berpisah. Ibu Dinda sendiri telah memilih jalan hidupnya, menikah dengan pria lain yang memiliki seorang putri.

Dinda menetap di Bandung bersama keluarga barunya, sementara ayah Romeo telah lebih dulu meninggal dunia beberapa bulan setelah perceraian mereka. Kehilangan itu perlahan membentuk Romeo menjadi pribadi yang dingin dan tertutup, hingga takdir mempertemukannya dengan Zalina istri yang kelak menjadi sandaran hatinya. Dari pertemuan yang tak terduga itu, keduanya akhirnya memilih untuk menikah dan membangun hidup bersama.

Ketika rencana pernikahan itu mencuat, Dinda menentangnya habis-habisan. Namun Romeo bergeming, tetap teguh pada keputusannya. Hingga suatu hari Zalina pergi untuk selamanya, Dinda justru merasa semesta akhirnya memihak dirinya. Sejujurnya, ia tak pernah benar-benar menyukai si kembar anak-anak yang lahir dari perempuan yang sejak awal bukan pilihannya.

Meski hidup berjauhan dan tak lagi berbagi ruang dengan Romeo, Dinda merasa dirinya masih memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupan putranya. Perasaan itu membuatnya nekat meminta Tania mendekati Romeo, berharap keduanya bisa berujung di pelaminan. Beragam cara Dinda lakukan demi menyatukan mereka, namun setiap rencananya selalu gagal tanpa hasil. Hingga akhirnya, kabar pernikahan Romeo sampai ke telinganya. Berita itu seketika menyulut amarah Dinda, merasa dirinya diabaikan dan tak lagi dianggap berarti dalam hidup Romeo.

“Perempuan mana yang akhirnya dia pilih?” tanyanya tanpa ekspresi, meski dadanya bergemuruh.

“Seorang mahasiswi, Nyonya. Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, gadis tersebut bekerja di sebuah kedai kakao. Anak Tuan Romeo kerap mendatangi tempat itu. Besar kemungkinan, kedua anak itu yang menginginkannya menjadi ibu sambung mereka.” lapor pria berseragam hitam itu dengan suara datar.

“Tolol! Romeo benar-benar kehilangan akal sampai memilih perempuan itu sebagai istrinya. Dua anaknya terus saja jadi duri yang merusak semua rencanaku, lalu, apa lagi kabar yang berhasil kalian gali? Di mana Tania? Kenapa dia tak pernah menghubungiku akhir-akhir ini?” desisnya penuh amarah.

“Perempuan bernama Tania saat ini berada di Paris, Nyonya, dan ada satu hal penting yang sebaiknya Anda lihat sendiri.” lanjutnya sambil menyodorkan sesuatu.

Pria itu kemudian menyerahkan beberapa lembar foto yang ia peroleh dari anak buahnya di Paris. Dalam gambar-gambar tersebut tampak Tania berjalan beriringan dengan seorang pria, jari-jari mereka saling bertaut tanpa rasa sungkan di hadapan publik. Pria itu tak lain adalah Akram sosok yang selama ini menjadi kekasih rahasia Tania.

“Jadi menurutmu, Tania tega mengkhianati anakku sendiri?” suara Dinda bergetar menahan amarah. Jemarinya mengepal, meremas foto-foto itu seolah ingin menghancurkannya.

“Faktanya begitu, Nyonya. Dia keturunan Inggris, pengusaha papan atas yang hartanya membentang dari Inggris sampai Paris.” sambungnya dengan nada yakin.

“Brengsek! Jadi selama ini perempuan itu hanya mempermainkanku. Semua keinginannya sudah kuturuti tanpa sisa, dan dengan begitu mudah dia menikamku dari belakang. Cari Tania ke mana pun dia bersembunyi. Aku ingin dia dihadapkan padaku sekarang juga. Semua yang pernah kuberikan padanya harus dia bayar mahal.” perintah Dinda dengan nada dingin penuh amarah.

“Perintah Anda akan segera kami laksanakan, Nyonya.”

“Pastikan semua persiapan keberangkatanku beres. Besok aku akan ke Semarang. Aku ingin bertemu Romeo dan menilai sendiri seperti apa wanita yang kini menjadi istrinya.” ujarnya tegas.

Kedua anak buahnya itu segera mengangguk, mengerti betul tugas yang menanti mereka keesokan hari. Tanpa menunggu perintah lanjutan, mereka beranjak meninggalkan ruangan, membiarkan Dinda tetap duduk sendiri sambil menghembuskan asap tembakaunya perlahan.

“Seandainya Romeo bersanding dengan Yona, segalanya pasti berada di bawah kendaliku.” gumamnya penuh perhitungan.

Yona merupakan anak tiri Dinda dari pernikahannya yang kedua. Namun, ada satu rahasia besar yang sama sekali tidak diketahui oleh suaminya Yona bukanlah anak kandungnya. Gadis itu adalah anak yang pernah ditukar oleh istri pertama nya di masa lalu. Fakta mengejutkan ini baru diketahui Dinda setelah orang suruhannya mengungkapkan kebenaran tersebut.

*********

Keesokan harinya, si kembar akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisi mereka telah berangsur pulih dan jauh lebih baik, sehingga dokter menyatakan keduanya tidak perlu lagi menjalani perawatan di rumah sakit.

Seperti yang telah Alya janjikan sehari sebelumnya, kali ini ia berniat menyiapkan dimsum kesukaan untuk Romeo dan si kembar. Karena itu, mereka berempat pun mampir terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan untuk melengkapi seluruh bahan yang diperlukan.

“Mulai sekarang, urusan menu makan malam di rumah kamu saja yang tentukan, ya, Sayang. Kamu nggak perlu repot ke dapur, biar Bi Dewi dan yang lain yang mengurus semuanya. Tugas kamu cukup memilih menunya.” Romeo berkata lembut sambil merangkul pinggang Alya dari belakang.

Alya yang belum terbiasa dengan panggilan sayang dari Romeo tampak salah tingkah dan menunduk malu. Apalagi kini sikap Romeo terasa jauh lebih protektif, membuat kedekatan mereka tanpa sadar mengundang perhatian orang-orang di sekitar.

“Tuan, lepaskan dulu tangannya aku belum terbiasa.” katanya lembut, menunduk menahan gugup.

“Kenapa masih panggil aku tuan? Harusnya sekarang panggil sayang.” goda Romeo santai, seolah tak peduli sekitar.

Dengan mata terpejam dan napas tertahan, Alya menuruti keinginannya satu-satunya cara agar ia dibebaskan dari dekapan nya itu.

“Sa-sayang, jangan di pegang terus pinggangku, aku malu, semua orang melihat ke arah kita.” keluh Alya lirih dengan wajah merona.

“Biarkan saja mereka menatap sesuka hati, mereka punya mata, tapi tak punya hak untuk menghakimi. Sayang, jangan hiraukan omongan orang lain. Tegakkan dagumu, kamu istri Romeo Andreas. Tidak pantas terlihat gugup seperti itu.”” ujar Romeo lembut.

Romeo lalu mengangkat sedikit dagu Alya dengan jemarinya, seolah menegaskan bahwa istrinya itu harus tampil anggun dan berkelas. Ia ingin Alya dipandang hormat oleh siapa pun, sebab Romeo tak akan pernah membiarkan ada orang yang meremehkan wanita yang telah menjadi miliknya.

“Ibu, Selina mau es krim.” rengek gadis kecil itu dengan suara nyaring khasnya.

"Tanya Papa dulu, papa izinkan atau tidak.”

“Papa, Selina pengin es krim. Boleh nggak?” tanyanya sambil menggenggam tangan sang papa.

"Ya, silakan. Beli saja sebanyak yang kalian mau, biar nanti ada stok di rumah."

"Hore! Papa bilang boleh, kak! Kita beli es krim!" Selina meloncat kegirangan sambil berlari menuju Serena yang sudah menunggu di dekat stan es krim.

Mendapat izin membeli es krim, kedua anak itu melonjak kegirangan. Alya hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepala sambil menahan tawa melihat tingkah laku si kembar yang begitu riang hari ini.

Usai menuntaskan belanja bahan-bahan untuk kebutuhan rumah dan persiapan dimsum methai, keluarga kecil itu pun kembali ke rumah dengan perasaan senang dan hangat.

Serena dan Selina tak bisa menahan kegembiraan, sesekali melompat sambil bersorak saat melangkah masuk ke rumah. Alya bersama Romeo pun sibuk meminta bantuan Pak Bima untuk menurunkan semua barang dari bagasi mobil.

Ketika mereka melangkah masuk ke dalam rumah, si kembar tiba-tiba membeku sejenak, kemudian mundur perlahan menuju pintu. Romeo pun terkejut luar biasa begitu menyadari siapa yang berada di ruang tamunya.

"Pagi, anakku yang tampan." ucap Dinda dengan senyum lebar, kedua tangannya terbuka sambil menatap Romeo.

Alih-alih mendekat, Romeo justru menggenggam kedua buah hatinya dan menyerahkannya kepada Alya. Ia kemudian meminta Alya untuk segera membawa si kembar masuk ke kamar mereka, menekankan agar mereka tetap di dalam hingga ia sendiri yang memanggilnya nanti.

"Ibu datang kemari untuk apa?" tanya Romeo dengan nada dingin.

"Begini cara kamu menyambut ibu Romeo, sayang? Apa kamu bahkan tak rindu pada ibu?" tanya Dinda dengan nada sinis.

"Sayang, tolong bawa si kembar ke atas. Jangan turun dulu sampai aku memanggil, ya." ucap Romeo dengan nada lembut, sambil menatap istrinya, tanpa menanggapi Dinda sama sekali.

Alya yang mengerti situasi hanya mengangguk patuh, sementara si kembar lebih banyak diam, khususnya Selina yang matanya menatap Oma nya dengan jelas penuh kebencian.

"Romeo, dengarkan ibu, ibu sedang bicara denganmu!" tegur Dinda lantang, nada suaranya meninggi menandakan kekesalan yang sulit disembunyikan.

Ayo, sayang, tolong bawa anak-anak ke atas dulu." Ulang kali ini, Romeo tetap tak menghiraukan ibunya.

Baru saja Alya dan si kembar melangkah menuju lantai dua, terdengar suara Dinda yang memanggil, membuat langkah ketiganya terhenti seketika.

“Heh, kamu enak banget, ya? Jadi istri anak saya tanpa minta izin sama sekali. Saya nggak pernah merestui pernikahan ini. Kamu cuma benalu yang masuk dan merusak hidup anak saya.” ucap Dinda dengan nada dingin, menatap tajam ke arah Alya.

“Ibu!” bentak Romeo dengan suara keras, penuh kemarahan.

"Oma kejam!" teriak si kembar serempak, wajah mereka memerah menahan amarah.

Dinda menatap si kembar dengan sorot mata tajam, sambil memutar matanya malas seolah tak ingin repot dengan tingkah merek.

"Diam kalian! Hanya bikin repot saja." tegas Dinda tanpa sedikitpun menaruh perasaan.

"Ibu, berhenti!" bentak Romeo lagi dengan nada tegas.

"Heh, berani-beraninya kamu membentak ibumu, Romeo!" balas Dinda dengan nada tak kalah meninggi.

"Kalau melenyapkan ibu bukan dosa atau kejahatan, mungkin aku sudah melakukannya." gumam Romeo penuh amarah.

"Dasar anak keras kepala… menikah tanpa restu ibu. Kamu dan anakmu sama saja, tak ada sopan santun sedikit pun." geram Dinda, menatap tajam.

"Yerserah ibu mau ngomong apa aja, Romeo nggak peduli, sekarang, cepat jelaskan maksud kedatangan ibu. Apa mencari calon menantu kesayangan ibu itu, yang sudah bersama selingkuhannya." sahutnya dengan nada kesal.

Romeo tidak ingin si kembar terus terganggu oleh perdebatan itu, sehingga dengan sigap ia menggandeng mereka menuju kamar tidur. Namun, langkah Alya terhenti sesaat ketika telinganya menangkap ucapan Dinda yang baru saja terdengar.

"Tinggalkan wanita itu, dan jadika Yona sebagai istrimu." perintah Dinda dengan nada penuh kesombongan, seolah tak ada yang berani menentangnya.

Romeo menahan tawa sinisnya saat mendengar permintaan ibunya yang terasa konyol. Dorongan untuk membentak ibunya hampir saja lolos, tapi ia masih menyimpan sedikit rasa sopan.

“Sejak kapan Ibu merasa berhak mengatur hidupku? Ibu tidak punya hak meminta aku menceraikan istriku!” tegas Romeo, matanya menatap lurus ke arah sang ibu.

Mendengar jawaban suaminya, Alya seketika tersentuh. Tanpa menunggu lama, ia segera melangkah lagi menuju kamar si kembar.

"Romeo, ibu punya hak. Kamu anak ibu, jadi ibu berhak menentukan arah hidupmu." Dinda menatap tajam Romeo, suaranya tegas namun bergetar sedikit.

"Romeo kan udah dewasa dan punya anak! Ibu nggak bisa seenaknya ngatur hidup pribadi aku. Tanpa restu ibu pun, aku tetap akan menikah dengan pilihanku… dan pilihan si kembar. Alya adalah pilihan mereka!" seru Romeo lantang, matanya menantang pada ibunya.

"Ah, sekarang aku mengerti mengapa dia terlihat begitu buruk… rupanya itu memang pilihanmu. Pilihan ibu ternyata jauh lebih tepat." sindirnya dingin, menatap lurus ke arah Romeo.

"Jangan lagi menghina istri dan anak-anakku, Bu! Sekarang aku minta, segera pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali." bentak Romeo tegas, menyingkirkan ibunya dengan kemarahan yang membara.

Kemarahan Dinda memuncak saat menyadari bahwa dirinya diusir oleh putranya sendiri.

"Romeo, kamu sampai tega mengusir ibu sendiri?"

“Kalau Ibu tetap bertahan di sini, Romeo nggak segan melakukannya. Jangan ganggu rumah tanggaku lagi, Bu. Cukup aku menderita karena keegoisan Ibu selama ini!” bentak Romeo, nada suaranya meninggi penuh amarah.

“Hati-hati, Romeo! Jangan kira ibu diam saja. Ibu akan pastikan kamu menyesal. Dan percayalah, Yona lah yang akan jadi pilihanmu. Ingat itu!” bentak Dinda, wajahnya memerah penuh kemarahan.

“Sekali saja ibu ganggu istri atau anak-anak Romeo, lihat sendiri akibatnya. Romeo pastikan ibu tidak akan lagi dianggap, hubungan kita berakhir.” tegasnya dengan nada penuh ancaman.

“Ibu nggak peduli! Kita lihat siapa yang menang, kamu atau ibu. Romeo, Yona adalah calon istri yang tepat untukmu, dan ibu akan memastikan kamu meninggalkan wanita miskin itu,” ujar Dinda dingin, lalu menoleh sejenak sebelum meninggalkan Romeo begitu saja.

"Sial, gue nggak bisa diam aja!" teriak Romeo sambil meninju meja, frustrasinya memuncak.

Tiba-tiba, Alya muncul dengan wajah sendu, berjalan sendiri. Ia diam-diam mendengar seluruh percakapan yang baru saja terjadi.

“Tuan…” suara itu terdengar pelan, namun membawa getaran tegang yang sulit diabaikan.

"Alya, sayang… kenapa kamu turun sendiri? Aku belum sempat memanggilmu." ucap Romeo sambil mendekat, merangkul Alya pelan.

"Sudahlah, Tuan, sebaiknya kita berpisah sekarang."

Deg!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!