NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Pernikahan Harun dan Hawa

Hari itu, rumah keluarga Hawa dipenuhi oleh dua keluarga besar dan para tetangga. Suasana yang seharusnya hangat justru terasa kaku, seolah ada banyak hal yang dipendam di balik senyum-senyum sopan. Busana pernikahan berwarna putih melekat anggun di tubuh Hawa, membuatnya tampak begitu lembut dan cantik. Sementara itu, Harun berdiri di sisinya dengan jas hitam rapi, namun raut wajahnya tak mampu menyembunyikan kegugupan yang terus menghantui.

Bagi sebagian orang, pernikahan ini adalah kabar bahagia. Namun tidak bagi Raisa. Gadis itu menangis dalam diam, hatinya remuk tak bersisa. Pria yang selama ini ia harapkan menjadi suaminya justru menikah dengan wanita lain. Meski pernikahan ini hanya bersifat sementara, luka dan kekhawatiran tetap menggores perasaannya dengan kejam.

Adam tidak hadir di sana. Ia memilih menyaksikan semuanya dari kejauhan melalui layar ponsel, duduk santai di balkon apartemennya di Sydney, Adam menyeruput kopi hangat sambil menggigit biskuit kesukaan. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terlalu tenang, seolah pernikahan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Di hadapannya, terbentang indah kota Sydney dengan cahaya mentari cerah.

Ijab kabul berlangsung singkat. Suara Harun bergetar saat mengucapkan akad, namun cukup lantang dan jelas hingga akhirnya penghulu mengucapkan kata yang ditunggu-tunggu.

“Sah!”

Sorak kecil dan ucapan syukur terdengar dari para tamu. Hawa tersenyum tipis. Di balik matanya yang berkaca-kaca, tersimpan harapan tentang masa depan yang mungkin saja bisa ia bangun dengan pernikahan ini.

Namun di dalam hati Harun, ketakutan justru semakin menguat. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia telah membohongi Hawa, mengecewakan Raisa dan membohongi semua orang disana. Semua itu ia lakukan demi satu iming-iming: kepemilikan perusahaan kayu jati yang membutakan akal sehatnya.

Malam itu, setelah para tamu pulang dan rumah kembali sepi, Hawa duduk di tepi ranjang kamar barunya. Ia memandangi lantai, gadis muda itu terlihat polos untuk memulai suatu adegan malam pertama, ia mencoba menenangkan hati yang sangat gugup. Harun masuk dengan langkah ragu, senyum dipaksakan agar suasana tak terasa canggung dan penuh kecurigaan.

“Mas, duduk saja,” ujar Hawa lembut, memecah keheningan.

Harun menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara pikirannya terus menghantui tentang perasaan Raisa. “Hawa… dengarkan Mas. Pernikahan ini… Mas harap kamu tidak terlalu berharap banyak dulu. Kita jalani perlahan saja, saling mengenal.”

Hawa menatapnya sekilas, lalu menunduk kembali. Ia menangkap kejujuran dalam suara itu. “Iya, Mas. Hawa juga butuh waktu.”

Jawaban itu sedikit melegakan Harun, meski rasa bersalah terhadap Raisa tetap mencengkeram hatinya erat-erat, tak mau pergi.

Pernikahan Harun dan Hawa pun resmi usai. Sementara itu, di Australia, malam telah turun sepenuhnya. Kota Sydney diterangi lampu-lampu gedung yang berkilauan, ditemani desir angin malam yang dingin.

Ponsel Adam tiba-tiba bergetar keras.

“Drett!”

Nama Harun tertera di layar.

“Kapan kakak akan menyerahkan berkas kepemilikan perusahaan itu padaku?” suara Harun terdengar tegang tanpa basa-basi.

Adam menyandarkan punggungnya dengan santai. “Sabar dong. Kamu baru menikah satu hari. Tunggu sampai proses perceraian selesai dan keluarga tidak lagi menuntut aku untuk menikahi Hawa.”

“Tapi itu terlalu lama, Kak! Raisa kasihan!”

“Kau tidak percaya padaku?” suara Adam meninggi sedikit menggertak Harun.

“Aku bingung… Raisa menuntut untuk menikah siri," Harun semakin kacau sambil mengusap wajahnya.

“Itu urusanmu,” jawab Adam dingin. “Kalau mau menikah siri, silakan. Tapi jangan sampai keluarga tahu. Lagipula, kenapa tidak menunggu setelah perceraian terjadi?”

“Masalahnya Raisa tidak percaya kepadaku!”

“Harun,” suara Adam berubah tajam, “jangan pernah mau diatur oleh wanita. Kalau kau ingin perusahaanku yang ada di Sumatera jadi milikmu seutuhnya, jalani konsekuensinya, kau pikir bagiku mudah untuk menyerahkan perusahaan besar itu untukmu!”

“Trup!”

Adam menutup panggilan itu tanpa ingin memikirkan permasalahan Harun yang sedang terhimpit dua wanita.

Adam menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, tersenyum lega. “Akhirnya bebas dari tuntutan maut,” gumamnya pelan tersenyum merekah.

Namun tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip, seolah ada seseorang yang sedang memainkan saklarnya. Adam sontak terhentak. Apartemennya begitu sepi, Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup tak beraturan. Ia terduduk bengong, menatap lampu dengan penasaran.

“Ah, mungkin cuma lampunya bermasalah,” gumamnya, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya memejamkan mata.

Adam tertidur dengan perasaan seolah semua masalah telah selesai.

Namun dalam separuh tidurnya, ia terjebak dalam mimpi yang mencekam. Ia merasa berada di sebuah ruangan tertutup, gelap dan pengap. Tiba-tiba terdengar suara keras memanggil namanya.

“Adam!!!”

Sosok pria tua muncul di hadapannya. Wajah itu sangat dikenalnya, wajah sang kakek.

“Ka… kek!” Adam tergagap ketakutan.

“Kau telah mengkhianatiku,” suara itu bergema penuh amarah. "kau sudah mengingkari janji, tidak menikahi Hawa”

Di dalam mimpi itu, Adam berlari ketakutan tanpa arah dengan napas terengah, jantungnya berdegup begitu keras seolah hendak meledak. Lorong gelap terasa semakin menyempit setiap kali ia melangkah, sementara bayangan hitam terus bergerak di belakangnya. Dengan wajah panik, Adam menoleh berulang kali, takut sekaligus cemas akan sosok yang terus mengikutinya.

Ia melihat sebuah pintu di ujung lorong dan segera berlari menghampirinya, seakan pintu itu adalah satu-satunya jalan keluar dari mimpi buruk yang menyesakkan. Kedua tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras, berteriak minta tolong, ia mencoba mendobrak, mendorong, bahkan menggedor sekuat tenaga. Namun pintu itu terasa begitu kokoh, dingin, dan tak bergeming sedikit pun, seolah menolak untuk membebaskannya.

Tangan bayangan sang kakek tiba-tiba melesat ke depan dan mencekik leher Adam. Cengkeramannya begitu kuat hingga Adam kesulitan bernapas, tenggorokannya terasa perih dan dadanya seakan diremas dari dalam.

“Ampun, Kek!” jerit Adam terbata-bata. Ia meronta, mencoba melepaskan diri, namun tenaga itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Sekejap kemudian, Adam terbangun dengan teriakan tertahan. Tubuhnya tersentak, seolah benar-benar baru saja diselamatkan dari maut. Ia terengah-engah, napasnya pendek dan tak beraturan, sementara keringat dingin membasahi wajah dan punggungnya. Dadanya naik turun hebat, jantungnya berdetak liar menentang keheningan kamar, Adam memegangi lehernya benar-benar terasa sakit. Seolah-olah kejadian itu sangat nyata.

Meski matanya telah terbuka, bayangan mimpi itu masih jelas terpatri di benaknya. Wajah sang kakek, tatapan penuh amarah, dan cengkeraman tangan yang mencekik seakan belum sepenuhnya pergi. Adam menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri.

--

Waktu menunjukkan pukul 02.03 WIB. Malam terasa semakin mencekam. Adam terus terjaga, enggan memejamkan mata. Ia tak ingin bertemu lagi dengan sosok sang kakek dalam mimpinya, cukup sekali bayangan itu menghantuinya. Hingga fajar menjelang, Adam memilih terjaga, membiarkan kantuk menumpuk bersama rasa cemas yang tak kunjung reda.

Pagi hari, Adam akhirnya masuk ke kantor dengan kondisi tubuh yang nyaris terkuras habis. Langkahnya terasa berat, bahunya sedikit merosot. Lingkar hitam jelas menggelayut di bawah matanya, menjadi saksi malam panjang tanpa tidur. Ia benar-benar menolak untuk terlelap, seolah tidur adalah pintu menuju ketakutan bertemu dengan sang kakek.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦demomasak#nol
keren sihh kk Mai. resolusi 2026 nih
pesen 1 yg seperti Hawa ya Allah
🤤🏃🏃🏃
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦demomasak#nol
pelan" sj, Hawa. aku akan sabar menunggu sampai kau siap. ehh🤧😄🤭
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
trauma penyakit yang sulit di sembuhkan walaupun hawa sudah benar² melupakan tetap masih ada rasa takut dan trauma seperti pernikahan nya sama harun🥺🥺💔
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦demomasak#nol
aku sih YES. gaslah. lebih cepat lebih baik. klo ada solusi yg enak knp hrs dibikin sulit😄🤭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦demomasak#nol
Mereka berdua sdh diikat dlm perjanjian keramat pake 2 sapi piyee gk manjur 🤧🤭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦demomasak#nol
cucu almarhum kakek Sulaiman, sampe belibet kk Mai
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
hilih masih nyangkal ya,bucin tau rasa lah 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
kamu juga terlalu gengsi mengakui perasaanmu,Dam... padahal sewaktu Hawa jadi istri adiknya kamu malah menginginkannya karena rasa nyaman yg tiba2 hadir
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ ¢ᖱ'D⃤ ̐
kasihan Hawa,dia jadi trauma sama yg namanya pernikahan apalagi ini nikah karena wasiat
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!