NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga-bunga riviera

Pesisir Prancis Selatan, atau yang lebih dikenal dengan French Riviera, selalu memiliki daya tarik magis yang tak tertandingi. Langit di atas kota Nice tampak seperti kanvas biru safir yang jernih, bertemu dengan garis cakrawala laut Mediterania yang berkilau di bawah siraman cahaya matahari musim panas yang hangat. Angin laut yang lembut membawa aroma garam dan wangi lavender dari perbukitan, menciptakan suasana yang seolah-olah dirancang khusus untuk kedamaian jiwa.

Di sebuah vila pribadi yang berdiri megah di atas tebing, jauh dari kebisingan turis, keluarga kecil Vance sedang menikmati waktu mereka. Vila itu memiliki taman yang luas dengan balkon-balkon yang langsung menghadap ke laut lepas. Sejauh mata memandang, hanya ada birunya air dan beberapa kapal pesiar putih yang melintas di kejauhan.

Pagi itu, Brixton sedang duduk di kursi santai di pinggir kolam renang yang airnya tampak menyatu dengan laut (infinity pool). Di pangkuannya, Leo yang kini sudah jauh lebih stabil saat berjalan, sedang sibuk mencoba meraih kacamata hitam milik ayahnya.

"Tidak, Leo. Ini bukan mainanmu," ucap Brixton sambil tertawa, menjauhkan kacamata itu dari jangkauan tangan mungil Leo.

Leo mengerucutkan bibirnya, sebuah ekspresi yang sangat menyerupai Alana saat sedang merajuk. Ia kemudian merangkak turun dari pangkuan Brixton dan mencoba melangkah di atas ubin kayu yang hangat. Brixton selalu waspada, tangannya tetap siaga di belakang punggung Leo, memastikan sang putra tidak tersandung.

"Dia benar-benar tidak bisa diam, ya?" suara lembut Alana terdengar dari arah pintu balkon.

Brixton menoleh dan seketika dunianya seolah berhenti berputar. Alana berdiri di sana, mengenakan gaun pantai berbahan sifon tipis berwarna putih tulang yang melambai ditiup angin. Rambut merah jambunya yang panjang diikat longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih segar dan bercahaya sejak mereka tiba di Prancis.

"Dia memiliki energi yang melimpah, persis seperti Ibunya," jawab Brixton sambil berdiri dan menghampiri Alana. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Alana dan mencium keningnya dengan penuh kasih. "Kau sudah bangun? Tidurmu nyenyak?"

Alana mengangguk, namun ada kilatan aneh di matanya—campuran antara kebahagiaan, kegugupan, dan rahasia yang tertahan. "Sangat nyenyak. Tapi aku merasa sedikit... lapar. Bisakah kita sarapan di balkon atas?"

Sarapan pagi itu terasa sangat romantis. Brixton telah menyiapkan meja dengan berbagai macam buah-buahan segar, croissant yang masih hangat, dan keju lokal terbaik. Mereka duduk bertiga; Leo berada di kursi tingginya, sibuk menghancurkan potongan pisang, sementara Brixton dan Alana duduk berhadapan.

Sejak beberapa hari terakhir, Brixton menyadari ada sesuatu yang berbeda pada istrinya. Alana tampak lebih emosional, lebih sering meminta pelukan, dan nafsu makannya meningkat drastis. Brixton mengira itu hanyalah efek dari udara laut yang menyegarkan atau kebahagiaan karena mereka akhirnya bisa berlibur. Lagi pula, gairah cinta mereka sejak kelahiran Leo memang tidak pernah padam. Justru sebaliknya, setelah melewati masa-masa kelam, hubungan mereka menjadi sangat intens. Brixton tidak pernah bisa menjauh dari Alana, dan Alana pun menyambut setiap sentuhan suaminya dengan kerinduan yang sama besarnya.

"Brixton," panggil Alana memecah keheningan yang nyaman itu.

"Ya, Sayang?"

Alana meletakkan garpunya. Tangannya bergerak di bawah meja, seolah sedang mencari kekuatan. "Aku punya sesuatu untukmu. Hadiah liburan yang sedikit terlambat."

Brixton mengerutkan dahi, tersenyum kecil. "Hadiah? Liburan ini sendiri adalah hadiah bagiku karena memilikimu dan Leo di sisiku. Kau tidak perlu memberiku apa-apa lagi."

"Ini berbeda," Alana mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan pita biru muda dari balik gaunnya. Ia mendorong kotak itu perlahan di atas meja menuju arah Brixton.

Brixton menatap kotak itu dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia perlahan menarik pita tersebut dan membuka tutup kotaknya. Di dalamnya, tidak ada jam tangan mewah atau kunci mobil baru. Hanya ada sepasang sepatu bayi berbahan rajut berwarna putih yang sangat kecil—jauh lebih kecil daripada ukuran sepatu yang saat ini dipakai Leo—dan sebuah alat tes kehamilan digital yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas.

Seketika, napas Brixton tertahan. Seluruh sel saraf di tubuhnya seolah membeku sesaat sebelum kemudian meledak dalam kegembiraan yang luar biasa. Ia menatap alat tes itu, lalu menatap Alana, lalu kembali ke alat tes itu.

"Alana... ini... apakah ini artinya...?" suara Brixton bergetar hebat.

Alana mengangguk dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Iya, Brixton. Leo akan segera memiliki seorang adik. Aku baru mengetahuinya dua hari sebelum kita berangkat, dan aku ingin menyimpannya sebagai kejutan di sini."

Brixton berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terjatuh. Ia menghampiri Alana, menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat namun tetap hati-hati. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alana, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.

"Tuhan... terima kasih," bisik Brixton parau. Air mata kebahagiaan yang jarang terlihat kini membasahi bahu gaun Alana. "Aku adalah pria paling bahagia di dunia, Alana. Kau memberiku keajaiban lagi."

Leo, yang melihat orang tuanya berpelukan, mulai berteriak kegirangan sambil memukul-mukul meja makan dengan sendok plastiknya, seolah ia juga ikut merayakan kabar besar itu.

Setelah emosi yang meluap-luap itu sedikit mereda, Brixton duduk kembali namun kini ia menarik kursi Alana agar menempel pada kursinya. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alana, sementara tangan satunya mengusap perut Alana yang masih tampak rata dengan penuh pemujaan.

"Jaraknya memang sangat dekat dengan Leo," Alana bergumam sedikit malu. Leo baru berusia satu tahun, dan kini benih baru sudah tumbuh kembali. "Aku harap kau tidak merasa ini terlalu cepat."

Brixton tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan kemenangan dan kebahagiaan. "Terlalu cepat? Sayang, ini adalah bukti betapa besar cinta kita. Aku tidak peduli seberapa dekat jaraknya. Jika aku bisa, aku ingin memenuhi mansion kita dengan anak-anak yang memiliki mata sepertimu."

Brixton mencium telapak tangan Alana. "Apakah kau merasa baik-baik saja? Tidak mual seperti saat mengandung Leo dulu?"

"Sedikit, tapi jauh lebih baik karena aku merasa sangat bahagia," jawab Alana. "Kali ini tidak ada kebencian, tidak ada air mata kesedihan. Hanya ada kita."

Kata-kata Alana menghujam jantung Brixton dengan cara yang paling manis. Ia teringat betapa buruknya ia memperlakukan Alana saat kehamilan pertama. Rasa bersalah itu masih ada, namun kini tertutup oleh rasa syukur karena ia diberikan kesempatan kedua untuk melakukan segalanya dengan benar sejak hari pertama.

"Aku berjanji," ucap Brixton dengan nada serius. "Kehamilan kali ini akan menjadi masa-masa yang paling indah bagimu. Aku tidak akan membiarkanmu merasa lelah sedikit pun. Aku akan menjadi asisten pribadimu, koki pribadimu, dan sandaranmu setiap detik."

"Kau sudah melakukan itu, Brixton," Alana tersenyum, mengusap rahang tegas suaminya.

Sore harinya, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang garis pantai pribadi di bawah vila mereka. Brixton menggendong Leo di satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul bahu Alana. Mereka berjalan perlahan di atas pasir putih yang halus, membiarkan air laut yang dingin sesekali menyapu kaki mereka.

"Lihat, Leo. Itu laut," Brixton menunjuk ke arah ombak kecil.

Leo tertawa, mencoba meraih air. Brixton menurunkannya sebentar agar Leo bisa merasakan sensasi pasir di kaki kecilnya. Leo tampak sangat antusias, ia berjalan terhuyung-huyung di atas pasir, mengejar bayangan burung camar yang terbang rendah.

Brixton menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Jika setahun yang lalu seseorang mengatakan bahwa ia akan berada di Prancis, mencintai Alana dengan sepenuh jiwa, dan menanti anak kedua, Brixton pasti akan menganggap orang itu gila.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alana, menyadarkan Brixton dari lamunannya.

"Aku memikirkan betapa ajaibnya hidup ini," jawab Brixton. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya dari belakang, menyatukan tubuh mereka saat matahari mulai terbenam di cakrawala, menciptakan warna ungu dan emas yang luar biasa indah di langit. "Dulu aku merasa hidupku sudah berakhir saat aku kehilangan... masa laluku. Tapi ternyata, Tuhan hanya sedang membersihkan tempat agar kau dan anak-anak kita bisa masuk."

Alana menyandarkan kepalanya di dada Brixton. "Aku senang kita tidak menyerah, Brixton."

"Aku yang tidak menyerah untuk memintamu memaafkanku," ralat Brixton. ia mengecup pelipis Alana. "Terima kasih, Alana. Untuk bayi kedua ini, untuk Leo, dan untuk dirimu yang masih mau mencintaiku."

Malam itu, mereka merayakannya dengan makan malam yang sangat intim di bawah taburan bintang. Brixton menjadi sangat protektif—jauh lebih protektif dari biasanya. Ia memastikan Alana tidak terlalu banyak berjalan, memastikan makanannya benar-benar sehat, dan terus-menerus bertanya apakah Alana merasa kedinginan.

"Brixton, aku baru hamil beberapa minggu, bukan sedang sakit parah," protes Alana sambil tertawa saat Brixton mencoba menyelimutinya dengan kain pashmina yang tebal padahal udara malam itu cukup hangat.

"Aku tidak mau mengambil risiko sedikit pun," jawab Brixton tegas, namun matanya memancarkan kelembutan. "Kau membawa harta karun keduaku di dalam sana."

Di bawah langit Prancis yang romantis, gairah cinta mereka justru semakin membara dengan hadirnya kabar kehamilan ini. Bagi Brixton, kehamilan kedua Alana adalah sebuah penebusan dosa sekaligus mahkota bagi kebahagiaannya. Ia merasa menjadi pria yang paling beruntung karena diberikan kesempatan untuk membangun keluarga yang besar dengan wanita yang dulu hampir ia hancurkan.

Liburan di Prancis ini berubah dari sekadar perjalanan keluarga menjadi sebuah perjalanan spiritual bagi mereka berdua. Mereka menghabiskan waktu dengan berbicara berjam-jam tentang masa depan, tentang bagaimana kamar bayi kedua akan didekorasi, dan tentang bagaimana Leo akan belajar menjadi kakak yang baik.

Leo sendiri, meskipun belum mengerti sepenuhnya, seolah bisa merasakan kebahagiaan orang tuanya. Ia menjadi lebih tenang dan lebih sering memeluk perut Alana, seolah sudah mulai menjalin ikatan dengan adiknya yang masih sangat kecil.

Saat malam semakin larut dan Leo sudah tertidur pulas di dalam stroller-nya, Brixton dan Alana berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota Nice yang berkelap-kelip di kejauhan.

"Aku mencintaimu, Alana Vance," bisik Brixton.

"Aku mencintaimu lebih dari apapun, Brixton Vance," balas Alana.

Cahaya bulan memantul di permukaan laut Mediterania, menjadi saksi bisu bagi sepasang kekasih yang telah berhasil mengubah luka menjadi cinta yang begitu subur. Di dalam rahim Alana, kehidupan baru sedang bersemi, sebuah bukti nyata bahwa dari sisa-sisa kehancuran, jika dipupuk dengan ketulusan dan maaf, dapat tumbuh sebuah taman kebahagiaan yang abadi. Brixton benar-benar merasa menjadi pria paling bahagia di dunia untuk kedua kalinya, dan kali ini, ia akan memastikan kebahagiaan itu tidak akan pernah luntur oleh apapun.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!