Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara doa dan luka
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Pagi ini, sinar matahari masuk lembut melalui jendela kamar VVIP. Senja sudah duduk bersandar di ranjang, wajahnya masih pucat, tapi matanya terlihat sedikit lebih tenang.
Pintu kamar terbuka. Dokter kandungan masuk sambil membawa map rekam medis, diikuti seorang perawat.
“Selamat pagi, Bu Senja,” sapa dokter ramah. “Bagaimana rasanya hari ini?”
Senja mengangguk pelan.
“Sudah lebih mendingan, Dok. Masih agak lemas.”
Dokter tersenyum.
“Itu wajar. Hasil pemeriksaan terakhir bagus. Pendarahan sudah berhenti, dan lukanya membaik. Hari ini Ibu sudah boleh pulang.”
Langit yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung menoleh.
“Serius, Dok? Aman ya?”
“Iya, Pak Langit,” jawab dokter tenang. “Tapi dengan catatan, Senja harus benar-benar istirahat. Jangan banyak aktivitas, jangan stres, dan rutin minum obat.”
Langit mengangguk mantap.
“Siap, Dok. Saya yang jaga.”
Dokter menoleh ke Senja.
“Kalau ada nyeri berlebih, demam, atau pendarahan lagi, langsung ke rumah sakit, ya.”
“Iya, Dok. Terima kasih banyak,” ucap Senja lirih tapi tulus.
Setelah dokter dan perawat keluar, ruangan kembali sunyi.
Langit duduk di tepi ranjang, menatap Senja.
“Kita pulang, Ja.”
Senja mengangguk, lalu menunduk sebentar.
“Pulang ke pesantren?”
“Iya,” jawab Langit lembut. “Abah sama Ummi sudah nunggu. Kamu butuh suasana yang tenang.”
Senja menarik napas panjang.
“Mas…”
“Hm?”
“Terima kasih sudah nemenin aku terus.”
Langit tersenyum tipis.
“Harus. Kamu istri saya.”
Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan.
“Ayo, pelan-pelan. Pegang saya.”
Senja menggenggam tangan Langit. Saat berdiri, tubuhnya sedikit goyah, dan Langit langsung merangkul pinggang istrinya.
“Saya di sini,” ucap Langit cepat. “Nggak usah takut.”
Senja mengangguk pelan.
Beberapa menit kemudian, Senja duduk di kursi roda. Langit membenarkan selimut kecil di kakinya, memastikan semuanya nyaman.
“Kamu capek?” tanya Langit.
“Sedikit,” jawab Senja jujur.
“Nanti di mobil kamu tidur. Sampai rumah, langsung istirahat.”
Langit mulai mendorong kursi roda itu keluar kamar.
Di lorong rumah sakit, langkah mereka pelan, bukan langkah orang yang sudah pulih,
melainkan langkah dua orang yang sedang belajar bangkit.
Mobil berhenti pelan di halaman pesantren. Langit membantu Senja turun, lalu menuntunnya masuk ke ndalem. Tanpa banyak bicara, Senja langsung menuju kamar mereka.
Begitu pintu kamar tertutup, Senja duduk pelan di tepi ranjang. Napasnya masih berat. Pandangannya berkeliling, dan berhenti tepat pada sudut kamar.
Box bayi kecil di dekat jendela.
Tumpukan baju mungil yang sudah dilipat rapi. Selimut kecil warna putih yang belum pernah dipakai.
Tangan Senja gemetar.
“Mas…” suaranya lirih.
Langit yang baru meletakkan tas langsung menoleh. Saat melihat tatapan Senja, ia tahu. Langit melangkah cepat, lalu duduk di samping istrinya.
Senja menatap box bayi itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku kira… nanti dia tidur di situ,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
“Aku sudah ngebayangin tiap malam bangun karena dia nangis… nyusu… terus tidur lagi di dada aku.”
Bibir Senja bergetar. Air matanya jatuh satu-satu.
Langit langsung meraih Senja ke dalam pelukannya, memeluk sangat erat, seolah takut istrinya runtuh.
Senja akhirnya menangis.
Tangis yang selama ini ia tahan.
“Mas… sakit banget,” isaknya pecah. “Perut aku kosong… tanganku kosong… hatiku juga kosong.”
Langit mengusap punggung Senja pelan, napasnya ikut bergetar.
“Iya, Sayang… saya tahu. Saya tahu kamu sakit.”
Senja mencengkeram baju Langit kuat-kuat.
“Aku kangen dia, Mas… padahal aku belum pernah lihat wajahnya. Belum pernah gendong… belum pernah cium.”
Tangisnya makin keras.
“Apa dia sempat ngerasain aku sayang sama dia? Apa dia tahu kalau aku ibunya?”
Langit memejamkan mata, menahan perih di dadanya.
Dia menunduk, menempelkan keningnya ke kepala Senja.
“Dia tahu, Ja,” jawabnya dengan suara serak.
“Anak kita tahu. Dia hidup di dalam kamu tujuh bulan. Dia dengar detak jantung kamu tiap hari.”
Senja terisak.
“Aku pengin peluk dia lagi… walaupun sebentar. Aku pengin bilang kalau aku nunggu dia… aku siap jadi ibunya.”
Langit mengeratkan pelukannya.
“Kamu sudah jadi ibu yang hebat,” ucapnya pelan tapi tegas.
“Kamu jaga dia sebaik mungkin. Nggak ada yang kurang dari kamu, Ja. Sama sekali nggak ada.”
Senja menggeleng pelan di dada Langit.
“Tapi aku tetap kehilangan, Mas…”
“Iya,” jawab Langit lirih.
“Kita kehilangan. Berdua.”
Ia mengusap rambut Senja, membiarkannya menangis tanpa menghentikan. Tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki kehilangan itu, hanya pelukan yang tidak dilepas.
Setelah lama, tangis Senja mereda jadi isak kecil.
“Aku capek… tapi aku nggak mau sendirian,” ucap Senja lemah.
Langit mencium puncak kepalanya.
“Kamu nggak sendirian. Selama saya hidup, kamu nggak akan pernah sendirian.”
Senja mengangguk pelan, masih dalam pelukan itu. Di kamar yang seharusnya dipenuhi tangis bayi, yang terdengar justru doa-doa dalam diam, dan dua hati yang sedang belajar mengikhlaskan kehilangan paling menyakitkan dalam hidup mereka.
Malam turun perlahan di pesantren. Kamar Senja temaram, hanya diterangi lampu kecil di sudut ruangan.
Senja duduk di tepi ranjang sejak sore. Di tangannya, sepotong baju bayi berwarna putih. Ia menempelkannya ke wajah, menghirup aromanya dalam-dalam, lalu memeluknya ke dada.
Tangannya gemetar.
“Maafin Bunda…” bisiknya pelan.
“Bunda belum sempat gendong kamu… belum sempat peluk… belum sempat cium.”
Air matanya jatuh membasahi kain kecil itu.
Pintu kamar diketuk pelan.
“Ja…” suara Langit terdengar hati-hati.
Senja tidak menjawab.
Langit tetap masuk. Ia melihat istrinya, masih di posisi yang sama, baju bayi itu masih dipeluk erat. Dadanya terasa sesak.
Langit mendekat, lalu jongkok di depan Senja.
“Sayang…”
“Kamu belum makan dari siang.”
Senja menggeleng pelan, tanpa menatapnya.
“Aku nggak lapar, Mas.”
Langit menghela napas.
“Perut kamu kosong, bukan hatinya aja.”
Senja terdiam.
Langit mencoba tersenyum, gaya tengilnya keluar, dipaksakan.
“Kalau kamu nggak makan, nanti aku lapor Ummi. Terus Ummi ceramah satu jam. Kamu kuat?”
Senja melirik sekilas. Bibirnya bergerak sedikit… hampir senyum, tapi gagal.
Langit menangkap itu.
“Nah, tuh. Hampir ketawa. Berarti masih bisa diajak makan.”
Senja menggeleng lagi.
“Mas… aku capek.”
Langit berdiri, lalu duduk di samping Senja.
“Aku tahu. Tapi kamu harus makan. Sedikit aja. Demi aku.”
Senja akhirnya menoleh. Matanya sembab.
“Aku makan buat siapa, Mas…?”
“Sebelumnya aku makan buat dia.”
Kalimat itu membuat Langit terdiam. Tenggorokannya tercekat. Ia menunduk sebentar, lalu mengusap wajah Senja pelan.
“Sekarang kamu makan buat kamu,” ucapnya lembut.
“Dan buat aku… yang masih butuh kamu tetap sehat.”
Senja menggigit bibirnya, air mata kembali jatuh.
Langit buru-buru menambahkan, mencoba bercanda lagi.
“Lagipula, kalau kamu kurus, nanti orang-orang bilang aku suami nggak becus. Reputasi cowok tengilku bisa hancur.”
Senja akhirnya mengeluarkan senyum kecil—sangat kecil.
“Itu garing, Mas,” ucapnya lirih.
Langit ikut tersenyum.
“Iya. Aku juga sadar.”
Ia menyenggol bahu Senja pelan.
“Tapi kalau garing bikin kamu senyum dikit aja, aku rela jadi badut pesantren.”
Senja memejamkan mata sebentar.
“Mas…”
“Hm?”
“Makasih sudah tetap di sini… walaupun aku cuma diam.”
Langit mencondongkan tubuhnya, menyentuhkan dahi mereka.
“Diam kamu juga tetap aku temenin.”
Ia meraih tangan Senja, menggenggamnya erat. “Ayo, setelah ini makan ya. Sedikit. Kalau nggak habis, aku pura-pura nggak lihat.”
Senja mengangguk pelan.
“Sedikit aja…”
Langit tersenyum lega.
“Deal. Sedikit dulu. Besok nambah.”
Senja kembali memeluk baju bayi itu sejenak, lalu meletakkannya perlahan di samping bantal.
Langit mengusap punggungnya lembut. Pelukan tak lagi bicara tentang kebahagiaan, melainkan tentang bertahan.
*****
Ruang makan ndalem terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tawa santri, tidak ada obrolan ringan. Hanya bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring.
Senja duduk di kursi kayu, tubuhnya masih terlihat lemah. Matanya sembap, wajahnya pucat. Langit duduk tepat di sampingnya, jaraknya begitu dekat, seolah takut jika Senja kembali runtuh bila dilepas barang sedetik.
Langit mengambil piring kosong, lalu menyendokkan nasi dan sayur ke piring Senja dengan gerakan pelan.
“Pelan-pelan aja makannya,” ucap Langit lirih. “Nggak usah banyak-banyak.”
Senja hanya mengangguk kecil. Tangannya gemetar saat menggenggam sendok. Ia menyendok nasi itu ke mulutnya, mengunyahnya tanpa rasa, lalu menelan dengan susah payah.
Di seberang meja, Abah Danardi memperhatikan putri sulungnya dengan dada yang terasa sesak. Umi Siti duduk di samping Abah, tangannya terkatup di pangkuan, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Fatih yang duduk tak jauh dari Senja menunduk dalam diam. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat muram. Di sisi lain, si kembar Zaki dan Zakia duduk berdampingan, tak banyak bicara seperti biasanya. Keduanya sesekali saling pandang, lalu kembali menatap kakak perempuan mereka dengan mata polos yang penuh kebingungan dan sedih.
Umi akhirnya angkat bicara, suaranya selembut usapan.
“Pelan-pelan ya, Nduk,” ucapnya. “Sedikit juga nggak apa-apa. Umi senang kamu mau makan.”
Senja mengangguk lagi. Bibirnya bergetar.
“Iya, Mi…”
Namun air mata tetap jatuh, menetes ke piringnya.
Langit langsung menggeser kursinya lebih dekat. Tangannya menepuk punggung Senja perlahan.
“Hey… aku di sini,” bisiknya. “Nggak usah dipaksa kalau udah nggak kuat.”
Abah Danardi menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang berusaha tetap tegar.
“Langit benar, Ja. Makan secukupnya saja. Badanmu masih butuh tenaga.”
“Iya, Bah…” jawab Senja pelan.
Ya Allah… rasanya aneh banget duduk di sini.
Harusnya sekarang aku nyuapin anakku. Harusnya ada tangisan kecil yang bikin aku capek tapi bahagia.
Sendok ini berat sekali di tanganku, tapi kehilangan ini jauh lebih berat di dadaku.
Maafin ibu ya, Nak… ibu belum kuat.
Ibu kangen kamu…
Air mata Senja kembali jatuh tanpa bisa ditahan. Langit langsung meraih tangannya, menggenggamnya erat di atas meja.
Zakia yang sedari tadi diam akhirnya berbisik pelan.
“Kak Senja…”
Senja menoleh. Zakia menunduk, suaranya hampir tak terdengar.
“Kakak jangan sedih terus ya…”
Zaki ikut menyahut, suaranya serak.
“Iya, Kak… nanti sakit.”
Senja tersenyum tipis, senyum yang rapuh. Ia mengangguk pelan.
“Iya… terima kasih.”
Langit menatap kedua adik iparnya, lalu berkata dengan suara berat tapi hangat.
“Makasih ya, Zaki, Zakia.”
Fatih mengepalkan tangannya di atas meja, lalu berkata lirih.
“Kita semua di sini, Mbak.”
Senja kembali menunduk. Tangisnya pecah lagi, kali ini tanpa suara. Langit menggeser kursinya, membiarkan kepala Senja bersandar ke bahunya.
Di ruang makan itu, kesedihan tidak diucapkan dengan teriakan. Ia hadir dalam diam, dalam doa yang tak terucap, dan dalam hati yang sama-sama berusaha ikhlas.