NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — UPAYA KABUR

Hutan jati di sekeliling Desa Wanasari bukan sekadar kumpulan vegetasi. Di malam tanpa bulan—namun diterangi cahaya putih susu yang menyakitkan mata dari arah desa—hutan itu tampak seperti barisan raksasa yang membeku dalam posisi menyiksa. Batang-batang pohonnya tidak lurus, melainkan meliuk, bengkok, dan berbinjul-binjul, seolah-olah kayu keras itu menderita skoliosis parah atau tumor.

​Nara berlari di depan, membelah semak belukar berduri dengan parang—pisau dapur yang kini ia fungsikan sebagai senjata bertahan hidup. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti diisi serbuk kaca setiap kali ia menghirup udara malam yang lembap dan berbau tanah basah.

​"Nar... tunggu..." Dion tersandung akar pohon yang menonjol. Ia jatuh tersungkur, wajahnya menghantam lumpur.

​Nara berhenti, berbalik cepat. Ia tidak membiarkan Dion beristirahat. Ia mencengkeram kerah jaket Dion dan menariknya bangun dengan kasar.

​"Bangun, Yon! Jangan cengeng!" bentak Nara. "Kalau lo berhenti, Siska bakal nyusul! Lo mau main 'ciluk-ba' sama bayi setan itu?!"

​Dion terbatuk, meludah lumpur. "Gue nggak kuat, Nar... kaki gue... rasanya kayak ditarik ke dalem tanah."

​"Itu cuma perasaan lo. Lari!"

​Mereka kembali berlari. Nara tidak punya rencana pasti. Yang ia tahu hanyalah satu arah: Menjauh. Menjauh dari Joglo, menjauh dari sumur, menjauh dari rumah-rumah penduduk yang pintunya tertutup rapat namun terasa mengawasi.

​Berdasarkan memori visual Nara saat datang hari pertama, jalan keluar desa seharusnya lurus ke arah utara, melewati gapura selamat datang, lalu menembus hutan lindung sejauh lima kilometer sampai jalan aspal.

​"Kompas lo mana?" tanya Nara tanpa menoleh.

​"Ilang..." jawab Dion, napasnya ngik-ngik parah. "Jatuh pas gue ditarik mayat di gua tadi. Tapi Nar... gue sempet liat rasi bintang sebelum mendung nutupin langit."

​"Terus?"

​"Posisi bintangnya salah," Dion mulai meracau logis di tengah kepanikan. "Orion nggak ada di tempatnya. Southern Cross kebalik. Langit di atas desa ini... itu bukan langit bumi yang bener. Kita ada di dalam kubah."

​"Gue nggak butuh pelajaran astronomi, Dion! Gue butuh jalan aspal!"

​Nara menebas ranting pohon yang menghalangi jalan.

​CRASH!

​Aneh. Ranting itu mengeluarkan getah berwarna merah pekat saat ditebas. Baunya amis.

​Nara mengabaikannya. Ia terus berlari. Adrenalin memompa darahnya begitu kencang hingga ia tidak merasakan perihnya duri putri malu yang merobek celana jeans dan kulit kakinya.

​Setelah hampir satu jam berlari tanpa henti, hutan mulai menipis. Pohon-pohon jati yang rapat mulai memberi ruang pada ilalang tinggi.

​"Liat, Nar!" Dion menunjuk ke depan.

​Di kejauhan, terlihat cahaya. Bukan cahaya putih hantu seperti di desa. Itu cahaya kuning hangat. Lampu jalan.

​"Jalan raya..." bisik Nara, air mata harapan menggenang di matanya. "Itu lampu jalan raya, Yon! Kita sampe pinggir hutan!"

​Semangat mereka terbakar kembali. Rasa lelah di kaki Dion seolah lenyap. Mereka mempercepat lari, menerobos ilalang setinggi dada yang tajam.

​"Kita bakal keluar..." Nara tertawa histeris, tawa yang bercampur tangis. "Kita lapor polisi. Kita bakar hutan ini biar rata sama tanah."

​Cahaya itu semakin dekat. Semakin terang.

​Mereka bisa mendengar suara. Suara keramaian. Suara orang mengobrol.

​"Ada warung!" seru Dion. "Biasanya di pinggir jalan alas ada warung kopi sopir truk!"

​Mereka menembus batas hutan terakhir. Nara melompat keluar dari semak-semak, siap berteriak minta tolong pada siapa pun yang ada di sana.

​"TOLONG! KAMI MAHASISWA KKN! KAMI—"

​Teriakan Nara terhenti di tenggorokan. Mati seketika.

​Kaki Nara mengerem mendadak di atas tanah berpasir, membuat debu mengepul. Dion yang berlari di belakangnya menabrak punggung Nara, hampir membuatnya jatuh.

​"Kenapa berhenti, Nar? Ayo ke warung—"

​Dion mendongak. Dan kacamatanya yang retak merefleksikan pemandangan di depan mereka.

​Itu bukan jalan raya. Itu bukan warung kopi sopir truk.

​Cahaya kuning itu berasal dari obor-obor bambu yang dipasang mengelilingi sebuah bangunan besar berbentuk pendopo.

​Di depan mereka, berdiri megah dan angkuh, adalah Balai Desa Wanasari.

​Mereka tidak berlari menjauh. Mereka berlari memutar. Hutan itu telah membengkokkan ruang, memelintir arah mata angin, dan menggiring mereka kembali tepat ke jantung desa.

​"Nggak mungkin..." Nara mundur, menggelengkan kepala. Kakinya lemas. "Gue lari lurus... Gue yakin gue lari lurus membelakangi desa..."

​"Non-Euclidean..." bisik Dion, lututnya gemetar hingga ia jatuh terduduk. "Geometrinya rusak. Garis lurus di sini itu lingkaran, Nar. Kita tikus di dalem roda putar."

​Dan yang lebih mengerikan bukan hanya kembalinya mereka ke titik pusat. Tapi sambutannya.

​Balai Desa itu ramai. Sangat ramai.

​Seluruh warga Desa Wanasari ada di sana. Ratusan orang. Laki-laki, perempuan, tua, muda. Mereka duduk bersila di halaman balai desa yang luas, membentuk formasi huruf U, menghadap ke arah hutan tempat Nara dan Dion baru saja keluar.

​Mereka tidak kaget melihat Nara dan Dion.

​Mereka menunggu.

​Hening. Tidak ada suara gamelan. Tidak ada obrolan. Hanya suara kretek-kretek api obor yang memakan minyak tanah.

​Ratusan pasang mata menatap Nara dan Dion. Tatapan mereka kosong, namun berat. Menghakimi.

​Di tengah pendopo, duduk Pak Wiryo di atas kursi kayu jati yang menyerupai singgasana. Di sebelahnya berdiri Kang Jaya, Mbah Sakir, dan Bu Kanti.

​Pak Wiryo tersenyum. Senyum kebapakan yang kini terlihat seperti seringai buaya.

​"Capek lari, Nak?" sapa Pak Wiryo. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di keheningan malam itu.

​Nara mencengkeram pisaunya. "Kalian..."

​"Sudah Bapak bilang," lanjut Pak Wiryo santai, sambil membetulkan letak blangkonnya. "Jalanan longsor. Hutan sedang nutup. Kenapa bandel sekali mau pulang? Apa pelayanan kami kurang memuaskan?"

​"Kalian pembunuh!" teriak Nara, suaranya pecah. Ia mengacungkan pisau dapurnya ke arah kerumunan warga. "Kalian bunuh Bima! Kalian bunuh Raka! Kalian hancurin Siska!"

​Warga desa tidak bergeming. Tidak ada yang takut pada pisau kecil itu. Beberapa ibu-ibu justru menutup mulut, menahan tawa kecil, seolah melihat anak balita yang sedang tantrum.

​"Kami tidak membunuh," koreksi Mbah Sakir dengan suara seraknya. "Kami hanya memanen. Apa salah petani memanen padi yang sudah ia tanam dan rawat?"

​"Kami bukan padi!"

​"Di mata Ibu Ratu, kalian lebih berharga dari padi," kata Bu Kanti lembut. "Kalian adalah raja kaya (hewan ternak) yang paling mulia."

​Kang Jaya melangkah maju. Ia tidak membawa senjata, hanya membawa tali tambang besar yang digulung di bahu.

​"Sudah cukup olahraganya," kata Kang Jaya datar. "Otot kalian sudah lemas. Mental kalian sudah jatuh karena harapan palsu. Itu bumbu yang pas. Daging yang stres karena putus asa rasanya lebih alot, tapi sarinya lebih kuat."

​Dion merangkak mundur. "Nar... lari lagi, Nar... ke hutan lagi..."

​"Percuma, Yon!" Nara membentak, tapi air matanya mengalir. "Lo nggak liat? Hutan itu dinding! Kita dikepung!"

​Nara melihat sekeliling. Di belakang mereka, hutan yang tadi mereka lewati kini tampak rapat, pohon-pohonnya merapat seperti jeruji penjara. Di depan, ratusan warga.

​Mereka terjebak di tengah panggung eksekusi.

​Tiba-tiba, kerumunan warga membelah.

​Seseorang berjalan keluar dari tengah kerumunan.

​Itu Siska.

​Tapi bukan Siska yang tadi melompat-lompat seperti katak di Joglo. Siska ini berjalan tegak, anggun, dan tenang. Ia sudah dimandikan. Ia mengenakan kebaya putih bersih—warna kesucian yang ironis. Rambutnya disanggul rapi.

​Hanya matanya yang masih hitam total.

​Dan di dadanya... lubang tempat Bayi Merah itu masuk sudah tertutup, digantikan oleh bros emas besar berbentuk bunga teratai yang disematkan menembus kulit dada.

​Siska berjalan mendekati Nara dan Dion. Di belakangnya, Lala (Nyai) mengikuti, mengenakan kebaya hitam, kontras dengan Siska. Putih dan Hitam. Dua sisi mata uang kehancuran.

​"Selamat malam, Nara," sapa Siska. Suaranya bukan suara bayi lagi. Suaranya adalah suara Siska yang dulu, tapi tanpa emosi. Datar seperti mesin penjawab otomatis.

​"Sis..." Nara menurunkan pisaunya sedikit.

​"Jangan ngelawan lagi," kata Siska. "Sakit, Nar. Ngelawan itu sakit. Nyerah aja. Pasrah. Rasanya damai lho. Nggak ada beban. Nggak ada dosa."

​Siska mengulurkan tangan ke Dion.

​"Sini, Dion. Catatanmu belum selesai, kan? Sini duduk sama aku. Kita nonton pertunjukannya."

​Dion menatap tangan Siska. Tangan itu putih, bersih, tapi kuku-kukunya hitam.

​"Gue... gue..." Dion bimbang. Rasa takut dan kelelahan mental membuatnya goyah. Tawaran "damai" dari Siska terdengar sangat menggoda dibandingkan lari tanpa ujung di hutan setan.

​"Dion! Jangan sentuh dia!" teriak Nara.

​"Dion capek, Nara," kata Dion pelan. "Dion mau tidur."

​Dion berdiri tertatih, lalu berjalan sempoyongan menuju Siska.

​"YON!"

​Dion tidak menoleh. Ia menyambut uluran tangan Siska.

​Begitu kulit mereka bersentuhan, Dion tersentak. Tubuhnya kaku sesaat, lalu lemas. Siska memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya seperti ibu menenangkan anak.

​"Ssst... tidur..." bisik Siska.

​Mata Dion perlahan berubah. Tatapan intelektualnya pudar. Matanya menjadi sayu, kosong, glazed. Ia telah menyerahkan sisa kewarasannya pada kenyamanan ilusi.

​Dion digiring oleh Siska dan Lala menuju kerumunan warga. Warga memberi jalan, menepuk-nepuk bahu Dion dengan ramah, seolah menyambut anggota keluarga baru yang baru saja sembuh dari sakit jiwa.

​Sekarang, tinggal Nara sendiri.

​Berdiri sendirian di tengah lapangan tanah berdebu, di bawah sorot obor dan tatapan ratusan pemangsa.

​Pak Wiryo berdiri dari kursinya.

​"Nah," kata Pak Wiryo. "Tinggal satu. Yang paling keras. Yang paling berharga."

​Pak Wiryo menunjuk Nara.

​"Tangkap dia. Jangan cacat. Jangan lecet. Bawa ke Lumbung. Besok malam adalah malam ke-37. Kita harus puasakan dia dulu biar bersih."

​"JANGAN ADA YANG MAJU!" Nara mengacungkan pisaunya liar. "GUE BUNUH SIAPAPUN YANG DEKET!"

​Warga desa tertawa. Tawa mereka serempak, bergemuruh rendah seperti suara tanah longsor.

​Mereka tidak menyerang Nara beramai-ramai.

​Hanya satu orang yang maju.

​Kang Jaya.

​Pria kekar itu berjalan santai ke arah Nara, sambil membuka gulungan tali tambangnya.

​"Kamu pikir pisau dapur itu bisa ngelukain saya, Nduk?" tanya Kang Jaya. Ia membuka kemejanya, memperlihatkan dadanya yang penuh tato mantra dan rajah. Kulitnya keras seperti kulit kerbau.

​Nara menerjang. Ia tidak punya pilihan. Ia menusukkan pisau itu ke perut Kang Jaya sekuat tenaga.

​TRANG!

​Pisau itu patah.

​Bilah besinya patah menjadi dua saat menghantam perut Kang Jaya, seolah Nara baru saja menusuk tembok beton.

​Nara terbelalak, memegang gagang pisau yang tinggal separuh.

​Kang Jaya tersenyum. Tangan besarnya bergerak cepat, mencengkeram leher Nara.

​Grek.

​Nara terangkat ke udara. Kakinya menendang-nendang angin. Oksigen putus.

​"Lemah," bisik Kang Jaya.

​Ia membanting Nara ke tanah.

​BUK!

​Pandangan Nara berkunang-kunang. Tulang rusuknya terasa retak. Rasa asin darah memenuhi mulutnya.

​Sebelum ia sempat bangun, tali tambang kasar sudah melilit tubuhnya. Mengikat tangan dan kakinya dengan simpul mati yang menyakitkan.

​Nara diseret di atas tanah berdebu, melewati barisan warga yang menatapnya dengan lapar. Ia melihat Dion yang duduk diam di samping Siska, menatapnya tanpa ekspresi. Ia melihat Lala yang melambaikan tangan sambil tersenyum mengejek.

​"Bawa ke Lumbung!" perintah Pak Wiryo. "Kunci dia bersama Masa Lalu-nya."

​Nara diseret menjauh dari Balai Desa, menuju sebuah bangunan kayu kecil berbentuk panggung di belakang desa—lumbung padi tua yang gelap dan tertutup rapat.

​Saat Nara dilempar masuk ke dalam lumbung yang gelap gulita itu, ia mencium bau yang familiar.

​Bau apek jaket tua. Bau kertas lapuk. Dan bau... neneknya.

​Pintu lumbung dikunci dari luar.

​Nara terbaring di lantai kayu dalam kegelapan. Ia kalah. Upaya kaburnya gagal total. Dan sekarang, ia dikurung untuk persiapan penyembelihan terakhir.

​Namun, di dalam kegelapan lumbung itu, tangan Nara yang terikat menyentuh sesuatu di lantai.

​Sebuah foto polaroid usang.

​Nara merabanya dalam gelap. Dan saat kilatan petir menyambar di luar, menerangi lumbung sekilas dari celah dinding, Nara melihat foto itu.

​Foto neneknya, Retno, sedang berdiri di depan lumbung ini, memegang obor. Tapi di foto itu, Nenek Retno tidak sendirian.

​Ada seseorang yang berdiri di belakang Nenek Retno. Seseorang yang wajahnya dicoret hitam, tapi postur tubuhnya Nara kenali.

​Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mereka.

​Dosen yang mengantar mereka ke desa ini dan kemudian menghilang tanpa kabar.

​Ternyata, Pak Dosen sudah ada di sini sejak tahun 1974.

​Nara menyadari satu pengkhianatan lagi. Mereka tidak diantar oleh pendidik. Mereka diantar oleh calo tumbal yang sudah bekerja sama dengan Nenek Retno selama 50 tahun.

​"Brengsek..." desis Nara dalam gelap. Kemarahannya yang tadinya padam karena keputusasaan, kini menyala kembali menjadi api kecil yang dingin. "Gue bakal bunuh kalian semua. Gue sumpah."

​Di luar, suara gamelan mulai bermain lagi. Iramanya semakin cepat. Waktu menuju malam puncak semakin tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!