Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Matahari mulai terlihat sedikit demi sedikit, menandakan pagi perlahan datang. Konferensi Pemburu Iblis masih terus berlangsung, dan para peserta terus berguguran satu per satu, entah dimakan iblis atau karena hal-hal lain yang tidak mereka duga sebelumnya.
Sementara itu, Han Chuan yang sedang memurnikan inti iblis dari raja iblis harimau perlahan membuka matanya. “Sudah kuduga tidak terlalu berguna… bahkan tidak sama sekali,” ucapnya sambil bangkit dari posisi duduk. Ia mengenakan kembali bajunya yang sebelumnya dia masuk a ke dalam kantong ruang dan mengambil lagi pedangnya yang tergeletak di samping dia duduk.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dadanya terasa sakit hebat. “Apa yang terjadi…?” gumam Han Chuan sambil memegang dadanya erat. “Apa ini serangan balik dari inti iblis yang kuserap…?” Tubuhnya melemas, lututnya jatuh ke tanah, dan ia meringis kesakitan.
Di saat bersamaan, di ruang kesadaran miliknya, energi hitam mulai menyebar dengan liar, menutupi seluruh ruangan. Aura iblis itu bergerak seperti kabut penggerogot yang ingin mengambil alih seluruh tempat. Namun penyebarannya tidak bertahan lama.
Di tengah ruang itu, di samping pohon besar yang menjulang, bola cahaya biru yang memancarkan kehangatan tiba-tiba bergetar. Di dalam cahaya itu, seorang bayi yang tertidur mengangkat tangannya pelan. Seketika ratusan kupu-kupu berwarna biru muncul dari bawah bola cahaya tersebut, beterbangan dengan lembut namun membawa kekuatan pemurnian yang sangat kuat.
Kupu-kupu itu menyapu seluruh ruang kesadaran, memurnikan aura hitam dan membersihkan semuanya kembali seperti semula. Beberapa kupu-kupu keluar dari tubuh Han Chuan, menyelimuti tubuhnya seperti cahaya pelindung.
Han Chuan yang tadinya meringis tiba-tiba merasakan tubuhnya tenang kembali. Ia menghela napas lega. “Hah… lagi-lagi kau membantuku. Terima kasih,” batinnya, karena ia sudah tahu siapa yang menyelamatkannya lagi .
Ia berdiri perlahan dan merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya.
Han Chuan memeriksa tubuhnya, merasakan aliran energinya, tetapi tidak menemukan gangguan apa pun. “Aneh… tubuhku seperti ada yang tidak beres. Tapi ada sedikit yang aneh energi di dalam tubuhku bergejolak liar, seperti petir,” gumamnya dengan dahi berkerut.
“Sudahlah… nanti juga akan ketahuan apa yang terjadi,” ucapnya yang tidak ingin memikirkan nya lebih jauh.
Ia menarik napas, lalu melesat pergi menggunakan gerakan guntur.Dalam sekejap, tubuhnya menghilang, meninggalkan deretan kilatan petir yang terus menyambar di sepanjang lintasan pergerakannya.
Setelah beberapa saat kemudian, saat dia berhenti dan melihat peta untuk menentukan arah tujuannya, "jadi peta ini menunjukan langsung ke sebuah lembah daerah Padang Pasir tapi ke..." Saat dia hendak melanjutkan melihat arah tujuannya, tiba-tiba ia langsung menghindar dari sebuah anak panah yang melesat ke arahnya. Angin dari anak panah itu berdesing keras melewati pipinya.
Belum sempat berdiri tegak, sebuah pedang melayang ke arah dirinya seperti dikendalikan oleh sesuatu. Han Chuan segera mencabut pedangnya dan menangkis tebasan pedang melayang itu. Benturan logam terdengar keras, dan pedang tersebut terpental lalu menancap dalam ke batang pohon besar, mengguncang kulit kayunya.
"Cepar keluar, jangan jadi pengecut kalian!" teriak Han Chuan. Namun tidak ada reaksi apa pun, hanya suara angin padang yang memukul-mukul dedaunan.
Pada saat itu juga, mata Han Chuan tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Energi berwarna biru samar mulai terserap ke tubuhnya dan mengalir ke kedua matanya. Perlahan matanya terbuka kembali, dan cahaya biru samar menyala di ujung matanya seperti garis tipis. Pandangannya berubah, ia dapat melihat keberadaan para penyerangnya dari balik batu dan pepohonan, bahkan aura energi spiritual mereka terasa jelas di dalam tubuhnya.
"Percuma saja kalian sembunyi," batin Han Chuan.
Tubuhnya langsung melesat ke arah orang yang bersembunyi di balik batu. Dalam sekejap, gerakan guntur miliknya membuat sosoknya menghilang. Orang itu sempat terkejut, "kemana dia pergi?" ucapnya panik saat Han Chuan tidak lagi berada di posisi semula.
"Kau tidak perlu lagi mencariku," suara Han Chuan terdengar tepat di belakangnya.
Orang itu menoleh dan melihat tatapan tajam Han Chuan dibelakang nya. "Bagaimana kau bisa..." Belum sempat ia selesai berbicara, pedang Han Chuan sudah bergerak cepat dan menebas lehernya. Darah memercik, dan tubuhnya jatuh tanpa suara.
Han Chuan segera mencari keberadaan satu orang lagi yang tersisa dengan kemampuan matanya. Cahaya biru samar di matanya bergetar, dan akhirnya ia menemukan orang itu sedang bersembunyi di balik semak belukar.
"Di sana ya... lagi-lagi murid dari Sekte Iblis Langit. Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam konferensi pemburu iblis," gumamnya.
Dia langsung melesat ke arah orang tersebut. Begitu ia muncul tepat di depan si penyusup, Han Chuan langsung mengangkat pedangnya dan hendak menebasnya. Namun tiba-tiba sebuah pedang melesat cepat ke arahnya.
Dengan refleks, Han Chuan langsung menghindar dan menangkis tiga pedang lain yang menyusul dari arah berbeda. Benturan logam beradu tiga kali berturut-turut, suara dentingannya memecah keheningan padang.
"Han Chuan, kau pikir bisa membunuhku? Aku tidak lemah seperti mereka yang telah kau bunuh tadi!" ucap orang tersebut sambil mengarahkan jarinya ke udara.
Tiga pedang yang melayang bergetar, kemudian melesat bersamaan ke arah Han Chuan. Pedang yang sebelumnya menancap di batang pohon pun bergetar keras, tercabut dengan kasar, lalu ikut melesat bergabung menyerang Han Chuan.
Keempat pedang itu terbang bersamaan, membentuk formasi tajam yang berputar dan mengurung Han Chuan dari segala arah. Udara bergetar, suara desingan pedang-pedang itu terasa menusuk telinga ketika mereka melesat dengan kecepatan penuh ke arah Han Chuan.