NovelToon NovelToon
Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Dokter / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2M
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Hidup Kayla yang awalnya begitu tenang berubah ketika Ayahnya menjodohkannya dengan seorang pria yang begitu dingin, cuek dan disiplin. Baru satu hari menikah, sang suami sudah pergi karena ada pekerjaan mendesak.

Setelah dua bulan, Kayla pun harus melaksanakan koas di kota kelahirannya, ketika Kayla tengah bertugas tiba-tiba ia bertemu dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya tengah mengobati pasien di rumah sakit tempat Kayla bertugas.

Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana reaksi Kayla ketika melihat suaminya adalah Dokter di rumah sakit tempatnya bertugas? Apa penjelasan yang diberikan sang suami pada Kayla?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima Kasih

Tiga jam terasa hanya seperti kedipan mata, alarm ponsel Kayla menjerit nyaring, memaksa kesadarannya kembali dari alam mimpi yang singkat. Kayla pun mau tidak mau harus bangun dan ketika bangun, ia merasakan beban di pinggangnya, saat Kayla menoleh ke samping, ia mendapati lengan kokoh Arthur masih melingkar pada tubuhnya.

​Arthur terbangun tepat saat Kayla bergerak, pria itu tidak langsung melepaskan pelukannya, ia justru mengeratkan dekapannya sejenak sebelum akhirnya bangkit dengan wajah yang tampak segar seolah ia tidak baru saja terjaga sepanjang malam.

​"Bangun, mandi air hangat agar ototmu tidak kaku. Aku tunggu di meja makan sepuluh menit lagi," ucap Arthur yang kembali ke mode komandonya seperti biasanya.

​Sesampainya di rumah sakit, suasana kembali sibuk. Namun, ada yang berbeda, Kayla tidak lagi berjalan dengan kepala tertunduk. Meskipun masih ada bisik-bisik, ia tetap berdiri tegak di samping Arthur saat morning report.

​"Hari ini ada jadwal Craniotomy untuk pasien tumor otak yang sempat tertunda. Kayla, kau tetap asisten pertama, jangan buat masalah lagi," ucap Arthur di depan seluruh tim bedah saraf.

​Jihan yang berdiri di barisan belakang memberikan kepalan tangan tanda semangat, sementara Kayla hanya mengangguk mantap.

​Di dalam ruang operasi, suasana kembali dingin dan hening. Arthur bekerja dengan mikroskop bedah, sementara Kayla fokus pada suction dan membantu navigasi alat.

Kali ini, tidak ada tangan yang gemetar, nasihat Arthur semalam dan latihan menjahit di IGD pukul dua pagi seolah tertanam di memori otot tangannya.

​Empat jam berlalu, operasi dinyatakan sukses. Saat mereka sedang mencuci tangan di wastafel bedah, Arthur melirik Kayla dari balik masker bedahnya yang sudah diturunkan.

​"Kerja bagus," ucap Arthur singkat dan meninggalkan Kayla.

​Hanya dua kata, tapi bagi Kayla, itu jauh lebih berharga daripada piala mana pun. "Bagus, Kayla. Kamu hebat, kamu dapat pujian dari Dokter Kulkas itu," gumam Kayla yang begitu bangga pada dirinya sendiri.

Pujian singkat dari Arthur membuat suasana hati Kayla berbunga-bunga sepanjang sisa hari itu, saat sedang merapikan beberapa berkas di nurse station, seorang koas laki-laki bernama William menghampirinya, William memang dikenal cukup ramah dan sering menjadi idola di kalangan perawat karena wajahnya yang rupawan.

"Kayla, kamu hebat banget ya tadi di OK. Aku dengar dari Jihan kamu dapat pujian langsung dari Dokter Arthur? Itu langka banget tau," ucap William sambil memberikan sebuah kaleng kopi dingin kepada Kayla.

"Eh, iya Will. Kebetulan aja tadi semuanya lancar," ucap Kayla.

"Habis ini ada jadwal lagi? Kalau nggak, bareng yuk ke kantin. Aku mau tanya-tanya soal teknik suction yang kamu pakai tadi," ajak William dengan nada bicara yang cukup akrab, bahkan ia sempat menyentuh bahu Kayla sekilas.

Tanpa mereka sadari, Arthur berdiri tidak jauh dari sana, matanya menyipit tajam melihat tangan William yang hinggap di bahu istrinya, aura di sekitar Arthur mendadak turun drastis, lebih dingin dari biasanya.

"Dokter Muda William," suara bariton Arthur menginterupsi yang membuat William tersentak dan langsung menarik tangannya.

"I-iya, Dokter Arthur?" jawab William.

Arthur melangkah mendekat dengan tangan di dalam saku jas putihnya, ia menatap William seolah-olah koas itu adalah bakteri yang perlu dibasmi. "Sepertinya anda punya banyak waktu luang sampai bisa bersantai di sini," ucap Arthur.

"Maaf Dok, saya baru saja selesai observasi bangsal," jawab William gugup.

Arthur mendengus pelan, "Kalau begitu, sepertinya anda butuh lebih banyak tantangan. Dokter Bian baru saja melaporkan ada tumpukan rekam medis pasien lima tahun terakhir yang perlu di-input ulang ke sistem digital. Saya rasa anda orang yang tepat untuk menyelesaikannya. rekam medisnya ada di ruang arsip lantai bawah," ucap Arthur.

"Tapi Dok, itu kan jumlahnya ribuan...," ucapan William terhenti lantaran Arthur yang menyelanya.

"Ada masalah?" tanya Arthur dengan satu alis terangkat dan tatapannya sangat mengintimidasi.

"Ti-tidak Dok. Baik, saya laksanakan," ucap William pasrah.

William melirik Kayla dengan tatapan minta tolong lalu bergegas pergi menuju ruang arsip yang dingin dan membosankan itu.

Kayla yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo, setelah William pergi, Arthur beralih menatap Kayla.

"Dan kau, jangan terima pemberian dari sembarang orang. Kita tidak tahu apakah kopi itu sudah kadaluwarsa atau tidak. Masuk ke ruanganku, ada literatur yang harus kau rangkum," ucap Arthur

"Ini baru kok, Dok," ucap Kayla.

Arthur tidak menjawab, ia hanya berbalik dan berjalan pergi. Namun, di dalam hatinya, Arthur merasa puas karena berhasil menyingkirkan gangguan itu. Arthur tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh miliknya bahkan dengan alasan diskusi medis sekalipun.

Keadaan santai di lorong rumah sakit itu mendadak sirna ketika alarm Code Blue bergema di seluruh penjuru gedung, disusul suara sirine ambulans yang meraung-raung di depan pintu IGD.

Kabar menyebar cepat, terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol yang mengakibatkan puluhan korban jiwa dan luka berat. Arthur, yang tadinya baru saja ingin menginterogasi Kayla di ruangannya, langsung memutar balik langkahnya.

Ekspresinya berubah total, rahangnya mengeras dan matanya memancarkan fokus yang mematikan. "Kayla, lupakan literatur itu, ikut saya ke IGD sekarang!" perintah Arthur tanpa menoleh.

Begitu mereka sampai, IGD sudah seperti medan perang, bau amis dar*h menyengat udara, perawat berlarian, suara teriakan kesakitan terdengar di mana-mana.

"Dokter Arthur! Pasien di bed 3 trauma kepala berat, GCS 5, pupil anisokor!" teriak seorang residen.

Arthur langsung menerjang ke arah pasien tersebut, ia melakukan pemeriksaan kilat dengan gerakan yang sangat efisien. "Siapkan manitol! Kita harus segera melakukan dekompresi, Kayla pasang monitor dan bantu intubasi, cepat!" perintah Arthur.

Kayla sempat terpaku melihat banyaknya darah, namun suara bentakan Arthur mengembalikannya ke realita. "Jangan melamun! Pasien ini tidak punya waktu untuk menunggumu siap!" bentak Arthur.

Kayla segera bergerak, ia mengabaikan rasa ngerinya dan fokus pada instruksi Arthur. Selama berjam-jam, mereka terjebak dalam pusaran kegawatdaruratan. Arthur tampak sangat sibuk, di mana ia berpindah dari satu pasien ke pasien lain, memberikan instruksi cepat, melakukan tindakan darurat hingga menjahit luka-luka yang menganga lebar.

Di tengah kekacauan itu, Kayla sempat mencuri pandang ke arah suaminya. Jas putih Arthur kini sudah penuh dengan noda dar*h dan keringat, rambutnya yang biasa rapi kini berantakan. Namun, di mata Kayla, Arthur terlihat begitu mempesona dengan dedikasinya yang tanpa batas untuk menyelamatkan nyawa.

Saat Arthur sedang menjahit luka di lengan seorang pasien, keringat menetes dari dahi hingga hampir masuk ke matanya. Karena tangannya sedang memakai sarung tangan bedah yang steril, ia tidak bisa mengusapnya.

Arthur mengerang pelan karena pandangannya terganggu, Kayla yang baru saja selesai memasang infus di bed sebelah dan melihat hal itu pun tanpa pikir panjang mengambil selembar tisu bersih dan mendekat.

"Diam sebentar, Dok," bisik Kayla pelan.

Kayla mengusap keringat di dahi dan pelipis Arthur dengan sangat lembut, gerakan itu membuat Arthur sempat terhenti menjahit selama dua detik.

Arthur menatap mata Kayla dari balik maskernya, ada kilatan aneh yang melintas di mata dingin itu, sesuatu yang lebih hangat dari biasanya.

"Terima kasih," gumam Arthur sangat rendah bahkan hampir tak terdengar di tengah kebisingan IGD sebelum ia kembali fokus pada jahitannya.

.

.

.

Bersambung.....

1
Marina Tarigan
tempat mu di jeruji besi sari kau salah alamat orang terganggu tidurny gara ibumu kau menampar dr yg merawat ibumu tanpa uang sesenpun semoga anak didunia ini hanya kamu keturunan. iblis
Marina Tarigan
berdua kalian sangat tersiksa Kaila doakan suamimu agar pd waktunya pulang dgn baik
Marina Tarigan
dr hsryd dtand buy 24 jam kalau tdk mau berhenti saja nyawa pasien dipundakmu selain Tuhan
Marina Tarigan
istri anak paling kesepian adalah keluarga dr apanila dr itu kompeten pergi pagi pulang larut malam anak sdh tidur baru bpnya sampai dirumah itu panggilan tugas mulia sabar zkai
Marina Tarigan
tugas kemanusiaan Kaila seorang dr harus rela ditempatkan di manapun banyak berdoa jaga kesehatan cari kesibukan
Marina Tarigan
belajar serius celini jgn laki2 terus kamu bahas🤭 dr apa kamu itu kalau sdh saatnya nanti Kaila yerus bilang dr Arthur suaminya jgn2 kamu nanti mati berdiri
Marina Tarigan
ini semua teman Kaila para dr 2 imi gak ada akhlak kok diuruzin hal pribadi orsng apalagi dr celine keparat kali mau tahu aja urusan orang kamu tdk psrnah dilirik pria ya tdk laku kali
Marina Tarigan
rmh sakit ini tdk punya etika dr 2nya tukang gosip yg tdk penting arogan kebanyakan suka sekali urusan orang lain dp urusan rs agar lebih maju dan berguna kpd masyarakat
Marina Tarigan
wah ini cocok disandingkan dgn dr karin yg satu pecicilan dr penggoda dan satu dr arogan sok benar
Marina Tarigan
didikan keras dan kadang menyakitkan dari suamimu berbuah manis sehingga para dr kagum odmu terlebih dr julid menilaimu hingga kagum apalagi dr Arthur suamimu tdk mau dinilai sejawatmu karena backing dr arthur
Marina Tarigan
hai Karin luar biasa kesalahanmu sangat fatal jgn bawa cinta ke ruang opetasi nyawa pasien ditangan dr dimana harga dirimu kamu congkak bertemu dgn dr yg mementingkan pekerjaan dan nyawa pasien jgn 2 nanti mau pindah lebih baik dp kegatelan
Marina Tarigan
mknya jgn pecicilan Karin seorang yg berkelas kamu lecehlan nama baikmys didepan semua balik sm mu deh
Marina Tarigan
jaga martabatmu dr sia2 gelarmu itu mumgkin ditempat lainpun kamu ngejar laki2 juga
Marina Tarigan
paramedis2 ini kok kayak ibu 2pasar sayur ngerumpi terus soal atasannya aneh
Marina Tarigan
dr Karin dr abal2 ini karema keluarganya orang berpengaruh kok ngejar 2 teman dejawat terus sia2 kami cantik sukanya ngejar laki2🙏
Marina Tarigan
karin ini dr atau sektetaris perusahaan kan biasanya wanita xi perusahaan yg sering menggoda laki2 yh mempunyai keduduksndan kaya kalau dr biasanya bukan begitu katena mereka sama2 berkelas dan sams pintar
Marina Tarigan
pantas saja jihan dikeluarkan berarti masuk ke rd medika bukan karena kepintsrannya
Marina Tarigan
lok aneh kamu jihan gara2 laki2 lamu nisa membunuh patien gonlok jgn main menangani pasien nyawa taruhannya
Marina Tarigan
kamu jgn bawa perasaan di tempat kerja kamu dr yg harus menyelamatkan nyawa orang ditempat kerja Artur bukan suamimu tapi guru pembimbingmu dlm pekerjaanmu mk bersikap lpropersisiolnal kerjaamu nyawa tantangannya
Marina Tarigan
ada tujuan Arthur begitu karena kamu sdg prakter menimba ilmu yg terbaik biarkan saja kalau nanti sdh selesai pun begigu perlu dipertanyakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!