Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Antara Semut dan Gunung
Langit di atas Keraton Yogyakarta tidak lagi ada. Kubah air yang menaungi mereka telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh pemandangan malam yang mengerikan. Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas kepala mereka, dan dari pusat pusaran itu, tubuh asli Poseidon turun perlahan.
Ia bukan lagi sosok pria tampan berotot yang Sekar temui di pantai.
Wujudnya sekarang adalah hibrida mimpi buruk. Kepalanya adalah tengkorak paus purba dengan tiga mata merah menyala. Tubuhnya bersisik biru tua yang setebal baja, dipenuhi duri-duri tajam seperti punggung landak laut. Kakinya—jika itu bisa disebut kaki—adalah kumpulan tentakel gurita raksasa yang menggeliat-geliat menghancurkan apa saja yang disentuhnya.
Tingginya melebihi Gunung Merapi jika ia berdiri tegak.
"Kalian..." Suara Poseidon terdengar seperti gemuruh lempeng bumi yang bergeser. "Kalian membunuh bidakku. Kalian menolak hadiahku. Kalian... menyebalkan."
Satu tentakel raksasa turun, menghantam Alun-Alun Utara.
BLAM!
Tanah bergoncang hebat. Pohon beringin kurung yang keramat tercabut akarnya dan terlempar seperti rumput liar. Sri Sultan yang baru saja sadar terhuyung jatuh, dilindungi oleh Bambang yang nekat melompat menjadi tameng hidup.
"Bawa Raja pergi, Mas Bambang!" teriak Sekar tanpa menoleh. Matanya terkunci pada monster di depannya. "Bawa ke selatan! Ke Panggung Krapyak!"
"Tapi Mbak Sekar..." Bambang ragu.
"PERGI!"
Sekar menghentakkan tombak Baru Klinting ke tanah. Tombak itu merespons amarahnya. Gelombang panas menyebar, menciptakan dinding api yang memisahkan Sekar dari Raja dan Bambang.
"Baik! Hati-hati, Mbak!" Bambang memapah Sri Sultan yang lemah, berlari menjauh dari zona maut.
Sekar kini sendirian. Berdiri di tengah alun-alun yang hancur, menghadapi Dewa yang ukurannya jutaan kali lipat dari dirinya.
"Kau..." Poseidon menundukkan kepalanya yang besar, mendekatkan mata ketiganya ke arah Sekar. "Gadis penari. Kau yang membuatku malu. Kau yang membuatku harus memakai wujud menjijikkan ini."
Sekar tidak gentar. Ia mengangkat Baru Klinting. Tombak itu terasa sangat berat, seolah ia memikul dosa seluruh umat manusia. Tapi panas dari gagang tombak itu menjalar ke lengannya, memberinya kekuatan pinjaman.
"Kau jelek," kata Sekar datar. "Wujud aslimu lebih jujur daripada topeng dewamu."
Poseidon meraung.
"MATI KAU!"
Tentakel raksasa menyabet ke arah Sekar.
Sekar tidak bisa menangkis serangan sebesar itu. Ia melompat ke samping, berguling di pasir.
DUAR!
Tempat ia berdiri tadi berubah menjadi kawah sedalam lima meter.
Sekar bangkit dan berlari. Ia berlari menuju kaki-kaki tentakel Poseidon.
"Gila! Apa yang aku lakukan?" batinnya menjerit. "Aku cuma semut yang mau menggigit gajah!"
Tapi ia ingat Pangeran Suryo. Ingat pengorbanannya.
Baru Klintingdi tangannya berdenyut. Tombak itu "berbicara" di kepalanya.
Jangan tusuk kulitnya. Terlalu tebal. Cari celah. Cari insang.
Sekar melihat di bagian leher monster itu, ada celah-celah insang yang membuka-tutup, mengeluarkan uap panas. Itu titik lemahnya. Tapi letaknya lima puluh meter di atas tanah.
Bagaimana cara naik ke sana?
Sekar melihat puing-puing bangunan Pagelaran yang roboh.
"Saya butuh tangga," gumamnya.
Ia mengambil cambuk Kyai Pamuk dengan tangan kirinya.
Saat tentakel Poseidon datang lagi untuk meremukkannya, Sekar melompat. Ia mengayunkan cambuknya ke atas, membelit salah satu duri di tentakel itu.
"Naik!"
Sekar menarik dirinya, berayun seperti Tarzan di hutan beton. Ia mendarat di atas tentakel yang licin dan berlendir itu.
Poseidon sadar ada kutu di tubuhnya. Ia mengibas-ngibaskan tentakelnya dengan kasar.
Sekar berpegangan erat pada duri tajam, tangannya berdarah. Ia merangkak naik, melawan gravitasi dan guncangan yang memusingkan.
"Kau pikir kau bisa menyakitiku dengan jarum pentul itu?" ejek Poseidon. Ia menggunakan tentakel lain untuk menepuk tentakel tempat Sekar berada—seperti orang menepuk nyamuk di lengannya.
Sekar melihat bayangan tentakel kedua datang.
"Sekarang!"
Ia melepaskan pegangannya, melompat ke udara kosong tepat sebelum kedua tentakel itu beradu.
PLAK!
Suara tepukan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar Sekar lebih tinggi.
Ia melayang di udara, titik tertingginya sejajar dengan dada monster itu.
Jarak ke insang masih sepuluh meter lagi. Dan ia mulai jatuh.
"Belum sampai!" teriak Sekar frustrasi.
Tiba-tiba, dari arah selatan, terdengar suara lenguhan panjang yang familiar.
Moooooo...
Bukan suara sapi biasa. Itu suara sapi keramat Kyai Slamet—hewan pusaka keraton yang albino.
Sekar menoleh ke bawah.
Di tengah alun-alun, kawanan sapi albino itu berlari membentuk formasi lingkaran. Dan di tengah-tengah mereka, energi putih berkumpul.
Itu bukan sapi biasa. Mereka adalah wadah energi leluhur.
Energi putih itu menembak ke atas, tepat ke arah Sekar.
Sekar merasakan dorongan lembut di telapak kakinya. Energi itu menjadi pijakan udara.
"Terima kasih, Kyai!"
Sekar menggunakan pijakan itu untuk melompat sekali lagi. Kali ini, ia melesat lurus ke arah leher Poseidon.
Baru Klintingdi tangan kanannya menyala terang benderang. Panasnya membakar baju Sekar, tapi ia tidak peduli.
"Untuk Pangeran Suryo!"
Sekar menghujamkan tombak itu tepat ke celah insang Poseidon yang sedang terbuka.
JLEB!
Tombak itu masuk. Dalam.
Poseidon membeku sesaat.
Lalu... jeritan yang memecahkan gendang telinga terdengar.
GROAAAAARRRR!
Insang itu adalah organ pernapasan sekaligus pendingin bagi inti panas tubuh Poseidon yang sekarang. Dengan menusuknya menggunakan tombak api, Sekar memicu reaksi overheat di dalam tubuh dewa itu.
Uap panas menyembur dari luka tusukan itu, melemparkan Sekar terpental jauh ke belakang.
Ia jatuh bebas dari ketinggian lima puluh meter.
Tubuhnya lemas. Energinya habis total. Ia tidak punya alat untuk mendarat.
"Maaf, Eyang... Sekar pulang..."
Ia menutup matanya, siap menyambut tanah keras.
Tapi tanah itu tidak pernah datang.
Ia jatuh ke dalam pelukan ombak yang dingin dan wangi.
Bukan air laut biasa.
Sekar membuka matanya.
Ia melayang di udara, ditopang oleh gelombang air hijau yang lembut. Dan di sampingnya, berdiri sosok wanita cantik dengan kemben hijau dan mahkota emas.
Ratu Kidul.
Tapi kali ini, sang Ratu tidak sendirian.
Di belakang Ratu, berdiri ribuan pasukan roh halus. Lampor (keranda terbang), Banaspati (bola api), Genderuwo, Wewe Gombel... seluruh penghuni gaib tanah Jawa telah berkumpul.
Mereka tidak lagi bersembunyi. Mereka berbaris rapi di angkasa, siap berperang.
"Kerja bagus, Anakku," kata Ratu Kidul sambil mengusap kepala Sekar. "Kamu sudah membuka lukanya. Sekarang... giliran kami yang memberinya garam."
Ratu Kidul menatap Poseidon yang sedang mengamuk kesakitan.
"Serang!" perintah Ratu, suaranya lembut namun terdengar sampai ke ujung pulau.
Ribuan makhluk gaib itu menyerbu. Banaspati menabrakkan diri ke mata Poseidon. Lampor mengikat tentakelnya dengan rantai gaib. Genderuwo memukuli sisik bajanya.
Ini adalah perang total. Mitologi Yunani melawan Mitologi Jawa.
Dan di tengah kekacauan itu, Sekar melihat sesuatu yang lebih menakjubkan.
Dari arah utara, dari puncak Merapi, gumpalan awan panas (wedhus gembel) turun dengan kecepatan tinggi. Di dalamnya, terlihat bayangan Kyai Rajawali dan pasukan elangnya.
Dan dari arah selatan, ombak tsunami raksasa datang. Tapi ombak itu tidak menghancurkan daratan. Ombak itu naik ke angkasa, membawa pasukan Nyi Blorong dan siluman ular.
Gunung dan Laut bersatu.
"Istirahatlah, Sekar," bisik Ratu Kidul, membaringkan Sekar di atas awan. "Tontonlah bagaimana kami menjaga rumah kami."
Sekar tersenyum lemah. Ia melihat Poseidon dikeroyok oleh ribuan entitas lokal. Sang Dewa Laut Yunani itu tampak kewalahan, seperti raksasa yang dikerubuti semut api.
Namun, Sekar tahu ini belum berakhir. Poseidon adalah Dewa. Dia tidak akan mati semudah itu.
Dan benar saja.
Tombak Baru Klinting yang masih menancap di leher Poseidon tiba-tiba terlepas. Jatuh ke tanah.
Luka itu menutup.
Poseidon tertawa. Tawanya mengguncang langit.
"Kalian pikir jumlah bisa mengalahkan kualitas?"
Tubuh Poseidon bersinar biru terang.
"AKU ADALAH SAMUDRA! DAN SAMUDRA TIDAK BISA DIBUNUH!"
Poseidon meledakkan gelombang energi ke segala arah.
BOOM!
Pasukan hantu Jawa terpental. Banaspati padam. Lampor hancur. Bahkan Ratu Kidul pun terdorong mundur, wajahnya pucat.
"Dia... dia menyerap air tanah," kata Ratu Kidul kaget. "Dia menyedot air sumur warga, air sungai, air tanah... untuk menyembuhkan dirinya."
Poseidon tumbuh semakin besar.
"Sekarang," geram Poseidon, matanya menatap Ratu Kidul. "Giliranmu, Ratu Kecil. Berlututlah, atau aku akan mengeringkan pulaumu sampai jadi debu."
Sekar mencoba bangun. Tombak Baru Klinting tergeletak jauh di bawah sana.
Apa yang bisa mengalahkan samudra yang tak bisa mati?
Jawabannya bukan api. Bukan air.
Jawabannya ada di dalam saku Sekar. Sesuatu yang ia ambil dari mayat Pangeran Suryo tadi.
Sebuah kantong kecil berisi tanah. Tanah dari makam raja-raja Imogiri.
Tanah.
Elemen yang bisa membendung air. Elemen yang bisa mengubur.
Sekar menatap Ratu Kidul.
"Gusti Ratu..." panggilnya lirih. "Kita tidak bisa membunuhnya. Tapi kita bisa menguburnya."
Ratu Kidul menoleh, melihat kantong tanah di tangan Sekar. Sang Ratu mengerti.
"Mengubur Dewa..." Ratu tersenyum, senyum yang penuh dengan kenekatan. "Itu butuh lubang yang sangat besar, Sekar."
"Kita punya lubangnya," jawab Sekar, menunjuk ke bawah kaki Poseidon.
Alun-Alun Utara. Tempat pertemuan dua pohon beringin.
Di bawah sana, menurut legenda, ada terowongan lurus menuju laut selatan.
"Kita jebloskan dia," kata Sekar.
Ratu Kidul mengangguk. "Tapi kita butuh pemberat. Pemberat yang sangat kuat agar dia tidak bisa naik lagi."
Sekar menatap Baru Klinting yang tergeletak di tanah.
"Naga itu," kata Sekar. "Naga itu dulu melingkari gunung. Sekarang... biarkan dia melingkari dewa."
Rencana terakhir telah disusun. Rencana untuk memenjarakan Poseidon di dalam perut bumi Jawa selamanya.