Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Takdir sering kali tidak sopan. Ia datang lebih cepat dari yang semestinya.
Malam itu, di gala perusahaan besar yang dipenuhi lampu kristal dan tawa berlapis gengsi, Dara melangkah masuk dengan gaun merah yang jatuh sempurna mengikuti setiap geraknya. Bukan hanya cantik—ia memancarkan kepercayaan diri yang membuat orang lain merasa perlu menata napas.
Beberapa kepala menoleh.
Bisik-bisik merambat cepat.
“Siapa itu?”
“CEO baru Valencia Group.”
“Karismanya gila…”
Arman tidak langsung menyadari.
Ia hanya merasa ada sesuatu yang mengganggu ketika perempuan itu lewat — aroma parfum elegan, langkah mantap, kepala tegak tanpa ragu.
Lalu Dara berbalik sedikit.
Cahaya lampu kristal jatuh tepat ke wajahnya.
Arman membeku. Gelas di tangannya goyah, hampir tergelincir. Ia menatap lama, seperti berusaha mengingat sesuatu yang hilang.
Jantungnya seperti terlambat satu ketukan.
Bukan pertama kali ia melihat wajah itu. Ia pernah melihatnya di televisi. Di berita bisnis pagi hari. CEO muda: Dara Valencia.
Saat itu ia hanya heran karena ada rasa familiar yang tidak bisa ia jelaskan.
Sekarang, rasa itu muncul lagi.
Lebih kuat. Lebih dekat. Lebih menusuk.
Dara menatapnya sepersekian detik — datar, dingin, sopan hanya sebatas etika sosial.
“Selamat malam,” ucapnya singkat.
Arman membuka mulut, tapi kata-kata macet. “Selamat… malam,” jawabnya terlambat.
Ia tidak melihat Zizi. Yang ia lihat hanyalah perempuan asing yang terlalu utuh untuk dihiraukan.
Tatapan mereka bertemu.
Ruangan yang penuh musik mendadak terasa sunyi. Arman mengerutkan dahi—antara kagum, penasaran, dan tertarik—perasaan yang bahkan tidak pernah ia izinkan untuk muncul dulu, ketika Zizi berdiri di hadapannya setiap hari.
Dara tersenyum tipis. Senyum yang tidak meminta apa pun.
Ia tidak menyapa. Tidak menjelaskan siapa dirinya.
Tidak menagih pengakuan. Dara melangkah menjauh.
Dan untuk pertama kalinya, Arman merasa ia harus tahu… siapa perempuan itu sebenarnya.
Di dalam hati, Dara berbisik pelan: Ini baru permulaan.
Musik berganti pelan. Pramusaji lalu-lalang membawa minuman berkilau.
Arman akhirnya mendekat.
“Maaf,” ucapnya, berusaha terdengar santai. “Bolehkah saya mengenal Anda? Saya rasa… kita pernah bertemu.”
Dara menoleh perlahan.
Tatapannya tenang. Tidak lari. Tidak gentar. “Tidak,” jawabnya lembut. “Anda tidak mengenal saya.”
Arman tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Kalau begitu izinkan saya memperbaiki itu. Saya Ar...”
“Arman Pratama.” Dara memotong, masih sopan. “Saya tahu.”
Arman terdiam sepersekian detik.
Ada sesuatu di caranya menyebut nama itu — seperti seseorang yang sudah sangat lama mengingatnya.
“Dan Anda?” tanya Arman pelan. “Siapa nama Anda?”
“Dara,” jawabnya. “Dara Valencia.”
Nama itu seperti dentang logam yang jatuh di lantai marmer.
Arman menelan kosong. “CEO Valencia Group… jadi benar kabarnya.”
Dara tersenyum kecil. “Berita jarang berbohong. Orang-orang, iya.”
Arman terkekeh tipis. “Keras juga ya Anda.”
“Tidak,” balas Dara. “Hanya jujur.”
Sejenak, mereka diam.
Arman menatap lebih lama. Ada rasa aneh—akrab tapi asing, jauh tapi dekat.
Rambut pendek itu. Sorot mata itu. Bukan Zizi. Tapi…“Boleh saya bertanya sesuatu?” katanya akhirnya.
“Tentu.”
“Apakah kita pernah… saling mengenal?”
Dara menatapnya dalam-dalam.
Jika dulu ia akan runtuh, kini tidak. Yang ada hanya jarak yang sudah selesai ditempuh.
“Kita pernah berada di ruangan yang sama,” ucapnya pelan. “Tapi tidak, Pak Arman. Anda tidak pernah benar-benar melihat saya.”
Arman terdiam. Kalimat itu menampar tanpa suara.
Dara mengangkat gelas sampanyenya sedikit, sopan.
“Selamat menikmati acara malam ini." Ia berbalik pergi — tanpa menunggu balasan.
Arman menatap Dara berjalan menjauh, gaun merahnya menyapu lantai marmer tanpa suara.
Dalam kepalanya, dua potongan ingatan saling menimpa: perempuan di televisi, CEO yang diwawancarai dengan tenang dan perempuan di masa lalu, yang suara langkahnya nyaris tak terdengar di rumahnya sendiri
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Tapi logikanya kalah. Wajah itu berbeda. Tapi matanya…cara ia menatap…cara ia menahan napas sebelum bicara…persis.
Dan untuk pertama kalinya, Arman merasa bukan sekadar penasaran.
.
Langkah sepatu berhenti di samping Dara. “Aku sudah lihat,” suara Danu santai, seperti membicarakan cuaca.
“Tatapan pria itu hampir jatuh ke lantai bersama gelasnya.”
Dara tidak menoleh. Ia hanya mengambil napas pelan. “Aku tidak tertarik membahasnya.”
“Lucu,” Danu tersenyum miring. “Karena jantungmu barusan berhenti sepersekian detik.”
Dara menyesap minuman, ekspresinya tidak berubah. “Itu refleks tubuh. Bukan perasaan.”
“Ah,” Danu mengangguk dramatis. “Diagnosis klinis.”
Mereka berdiri berdampingan, tidak saling menatap, hanya memandangi kerumunan gala.
“Dia mendekatimu,” ujar Danu lagi. “Lalu kamu membekukannya hidup-hidup.”
“Dia datang tanpa hak,” jawab Dara datar. “Aku tidak berkewajiban memberi hangat.”
Danu meliriknya. “Sampai kapan kamu akan bersikap seperti es?”
Dara tersenyum tipis. Bukan pahit. Bukan sedih. Lebih seperti seseorang yang sudah memilih. “Sampai aku tidak lagi diukur oleh masa laluku.”
Danu terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil. “Kalau begitu,” katanya, nada berubah lebih lembut, “izinkan aku berdiri di dekatmu. Kalau esnya retak… aku pasang lem.”
Dara akhirnya menoleh sedikit. “Aku tidak retak.”
“Belum,” koreksi Danu ringan. “Tapi manusia tidak dibuat dari baja.”
Dara menahan tawa kecil yang tidak jadi keluar. “Kamu datang ke gala untuk menjagaku?”
“Tidak,” jawab Danu. “Aku datang untuk memastikan satu hal.”
“Apa?”
Danu menatap Arman yang masih memandangi mereka dari jauh.
“Bahwa ketika dia akhirnya sadar,” katanya pelan, “dia sadar dalam keadaan terlambat.”
Dara mengikuti arah tatapannya sebentar — lalu memutuskan tidak peduli.
“Pulang setelah acara?” tanya Danu.
“Tidak,” jawab Dara. “Aku menari dulu. Hidupku terlalu lama berhenti.”
Danu tersenyum. “Baik, Nona CEO,” ujarnya pelan. “Mari kita buat dunia mengerti…bahwa kamu tidak lagi milik masa lalu.”
Mereka melangkah ke tengah kerumunan.
Arman hanya bisa menatap — tanpa nama, tanpa klaim, tanpa hak.
Dan untuk pertama kalinya, bukan Dara yang terlihat kehilangan.
Tetapi dia.
.
Malam sudah larut ketika Arman menyalakan mesin mobilnya.
Suara dentum musik dari aula masih samar terdengar di kejauhan, tapi pikirannya tidak di sana.
Ia menyandarkan kepala di jok, menutup mata sebentar — tapi justru wajah itu muncul lagi.
Tatapan dingin. Senyum setipis belati.
Dara Valencia.
Nama yang baru didengarnya malam ini, tapi entah mengapa terasa terlalu familiar.
Ia mengingat setiap gerakannya: cara wanita itu menegakkan punggung, menatap orang seolah seluruh ruangan tunduk kepadanya.
Dan sesuatu di dalam dirinya terganggu.
Ia mencoba menepis.
“Bukan urusanku,” gumamnya.
Tapi otaknya menolak diam.
Dalam kilasan ingatan, ada sosok lain — Zizi — dengan suara lembut yang pernah memanggil namanya dengan getir.
Zizi yang selalu menunggu.
Zizi yang akhirnya pergi tanpa kata.
Dara bukan Zizi.
Tidak mungkin.
Wanita di gala itu bukan perempuan yang pernah ia remehkan.
Namun entah kenapa, cara Dara menatapnya tadi...ada sesuatu yang menusuk — sesuatu yang tidak asing.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Arman merasa tidak menguasai situasi.