NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Udara di taman atap rumah sakit yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat mencekam. Andrew berdiri tegak dengan napas yang memburu, sementara Ares, meski masih bertumpu pada tongkatnya, memancarkan aura otoritas yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tatapan mata Ares yang biasanya lembut kini setajam silet, menusuk tepat ke arah Alana yang bersimpuh di lantai.

​"Bawa mereka. Sekarang," perintah Ares dengan suara rendah namun mutlak.

​Dalam hitungan detik, empat pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam, mereka adalah orang-orang yang selama ini menjaga Andrew dan Ares selama di singapura, mereka bergerak efisien sesuai perintah Andrew, Bos mereka. Dua pria meringkus Marko yang mencoba melawan, sementara dua lainnya mencekal lengan Alana.

​"Tidak! Ares! Andrew, tolong dengarkan aku!" jerit Alana saat tubuhnya diseret paksa. "Aku terpaksa! Tante Nadya mengancam akan membunuhku! Dia yang merencanakan ini semua!"

Namun teriakan Alana, hanya angin lalu bagi Andrew dan Ares, mereka berdua sama-sama tak peduli. Kebencian mutlak pada Alana.

----

​Mereka dibawa ke sebuah gudang logistik tertutup di kawasan industri, jauh dari keramaian kota. Ruangan itu dingin, hanya diterangi oleh lampu pijar tunggal yang berayun di langit-langit, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Alana dan Marko diikat di kursi kayu yang terpisah.

​Beberapa saat kemudian, pintu besi gudang berderit terbuka. Andrew melangkah masuk lebih dulu, disusul oleh Ares yang duduk di kursi roda, didorong oleh salah satu pengawalnya. Kehadiran mereka membawa hawa dingin yang melebihi suhu ruangan itu sendiri.

​"Andrew... tolong," isak Alana, wajahnya hancur oleh air mata dan riasan yang luntur. "Kamu tahu aku mencintaimu. Aku hanya budak di tangan ibumu. Dia yang mengirim Marko, dia yang mengatur semuanya!"

​Andrew berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Alana. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sapu tangan, dan dengan perlahan menyeka noda minyak yang masih tersisa di ujung jarinya. Ia menatap sapu tangan itu seolah benda itu jauh lebih menarik daripada tangisan Alana.

​"Cinta?" Andrew akhirnya bersuara. Suaranya datar, tanpa emosi, yang justru terasa lebih mengerikan daripada teriakan. "Kamu menggunakan kata itu lagi setelah hampir membuat adikku dan Chloe celaka?"

​"Aku takut, Andrew! Tante Nadya itu monster!"

​"Kami tahu siapa Nadya," potong Andrew tajam. Ia membungkuk, menatap Alana tepat di matanya dengan jarak hanya beberapa senti. "Tapi rasa takutmu kepadanya tidak memberimu hak untuk menjadi iblis. Kamu punya pilihan untuk datang padaku dan meminta perlindungan, tapi kamu memilih untuk menuangkan minyak di lantai itu. Kamu memilih untuk mencelakai gadis yang tidak tahu apa-apa hanya untuk memuaskan obsesimu."

​Ares menggerakkan kursi rodanya maju. Ia menatap Marko yang hanya terdiam dengan wajah lebam, lalu beralih pada Alana. Ada kekecewaan mendalam di wajah Ares, bukan lagi kemarahan yang meledak.

​"Alana," panggil Ares pelan. "Malam kecelakaan itu, aku hampir kehilangan nyawaku. Tapi aku memaafkanmu karena aku pikir kamu juga korban. Tapi hari ini? Kamu hampir merenggut satu-satunya harapan yang dimiliki Chloe untuk kembali berjalan. Itu bukan karena Tante Nadya... itu karena kamu pengecut."

​"Maafkan aku, Res... tolong..." Alana meraung, tubuhnya meronta di atas kursi.

​"Maaf tidak lagi berlaku di ruangan ini," sahut Andrew dingin. Ia berbalik membelakangi Alana, menatap para pengawalnya. "Pastikan pria ini bicara semua detail tentang komunikasi dengan Nadya. Dan untuk Alana... biarkan dia di sini. Jangan ada kontak dengan dunia luar. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi pion yang dibuang oleh tuannya."

​"Andrew! Jangan tinggalkan aku! Andrew!" teriakan Alana menggema di seluruh gudang saat Andrew mulai melangkah keluar.

​Andrew berhenti sejenak di ambang pintu, namun ia tidak menoleh. "Kamu bilang Ibuku mengancam hidupmu? Kamu salah. Justru dengan melakukan ini, kamu baru saja menyerahkan hidupmu ke tangan orang yang paling tidak akan memberimu ampunan. Dan itu bukan Ibuku.... tapi aku."

​Di luar gudang, di bawah langit malam Singapura yang mendung, Andrew dan Ares terdiam sejenak. Andrew menyandarkan punggungnya di mobil, sementara Ares menatap lurus ke depan.

​"Gue akan urus semuanya, Res," ucap Andrew parau. "Mama Nadya sudah melampaui batas. Dia tidak hanya mengincar harta kita, dia mengincar nyawa orang-orang yang kita sayangi."

​Ares mengangguk, tangannya menggenggam erat lengan kursi rodanya. "Kita nggak bisa cuma bertahan, Kak. Tante Nadya bakal terus kirim orang kayak Alana kalau kita nggak menghentikan dia dari akarnya."

​Andrew menoleh, menatap adiknya dengan tekad yang baru. "Gue akan pulang ke Jakarta besok. Papi sudah tahu semuanya. Gue bakal temuin dia secara langsung. Lo tetap di sini, jaga Chloe. Jangan biarkan dia tahu tentang gudang ini atau tentang Alana. Biar dia tetap percaya bahwa dunia ini indah."

----

​Malam itu, Andrew Wijaksana secara resmi menyatakan perang terhadap ibu kandungnya sendiri. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai Nadya tidak punya kekuatan lagi untuk mengusik keluarganya.

Penerbangan dari Singapura ke Jakarta terasa seperti perjalanan menuju medan perang bagi Andrew. Selama di pesawat, ia tidak memejamkan mata sedetik pun. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, mengakhiri permainan gila wanita yang melahirkannya.

​Begitu mendarat di Jakarta, Andrew tidak pulang ke rumah. Ia sudah mendapatkan titik koordinat yang dikirimkan oleh tim intelijen pribadinya. Nadya tidak bersembunyi di hotel mewah atau gedung perkantoran, ia berada di sebuah vila terpencil di kawasan pegunungan yang ia beli dengan identitas orang lain.

​Mobil hitam Andrew meluncur membelah kabut tipis di area perbukitan itu. Ia turun dengan langkah yang berat namun pasti. Para penjaga di depan gerbang vila sempat mencoba menghalangi, namun satu tatapan tajam dari Andrew dan peringatan bahwa mereka sedang berhadapan dengan pemilik sah dana yang membayar gaji mereka, membuat mereka luntur.

​Andrew menendang pintu kayu besar itu tanpa ragu.

Brak!

​Suasana di dalam vila sangat kontras dengan kemarahan yang dibawa Andrew. Ruangannya sunyi, hanya ada suara piringan hitam klasik yang berputar pelan dan aroma parfum mawar yang menyengat. Nadya sedang duduk dengan tenang di sofa beludru merah, memegang segelas wine mahal.

​"Andrew... kamu datang lebih cepat dari perkiraan Mama," ucap Nadya tanpa menoleh. Ia tersenyum tipis, seolah sedang menyambut tamu yang ia undang secara resmi. "Bagaimana perjalananmu dari Singapura? Kamu tampak sangat... berantakan."

​Andrew berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja kopi yang memisahkan mereka. Ia membanting sebuah amplop cokelat besar ke atas meja. Di dalamnya terdapat foto-foto Marko dan Alana di gudang, beserta rekaman suara pengakuan mereka.

​"Berhenti bersikap seolah-olah Anda adalah ibu yang merindukan anaknya, Nadya," suara Andrew bergetar oleh amarah yang tertahan. "Permainan Anda sudah berakhir. Saya sudah tahu semua rencana anda di Singapura."

​Nadya meletakkan gelasnya, menatap foto-foto itu sekilas lalu tertawa kecil. "Pion-pion yang lemah. Alana memang selalu menjadi gadis yang cengeng. Tapi kamu harus tahu, Andrew... Mama melakukan semua ini agar kamu dan Kak Alesya kembali pada Mama. Mama tidak ingin kalian dicuci otak oleh Revana."

​"Dicuri otak?" Andrew tertawa sinis. "Mommy Revana memberi kami cinta yang tidak pernah Anda berikan. Anda tidak peduli pada kami. Anda hanya peduli pada kekuasaan dan cara menghancurkan Papi melalui kami."

​Andrew mencondongkan tubuhnya, menatap Nadya dengan mata yang memerah. "Dengar baik-baik. Saya sudah membekukan tiga rekening rahasia Anda di Swiss pagi ini. Saya tahu itu adalah dana operasional Anda untuk membayar orang-orang seperti Marko. Sekarang, Anda tidak punya apa-apa."

​Wajah Nadya yang tadinya tenang mendadak berubah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh gurat kecemasan yang ia coba tutupi dengan keangkuhan. "Kamu berani menyentuh harta Mama, Andrew?"

​"Saya akan menyentuh apa pun yang Anda miliki jika Anda berani menyentuh keluarga saya," ancam Andrew. "Saya punya cukup bukti untuk menjebloskan Anda ke penjara atas percobaan pembunuhan terhadap Chloe dan sabotase terhadap Ares. Tapi saya masih punya sedikit nurani karena Anda adalah orang yang melahirkan saya."

​Andrew mengeluarkan sebuah dokumen lain, tiket pesawat satu kali jalan menuju sebuah negara di Eropa Timur dan surat pernyataan pelepasan seluruh hak waris dan tuntutan hukum.

​"Pergilah. Pergi sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kaki di Asia lagi. Jika saya melihat bayangan Anda atau mendengar nama Anda lagi di sekitar keluarga saya, saya tidak akan mengirim Anda ke penjara... saya sendiri yang akan memastikan Anda kehilangan segalanya, termasuk napas Anda."

​Nadya berdiri, mencoba menampar Andrew. Namun, dengan sigap Andrew menangkap pergelangan tangan ibunya. Cengkeramannya begitu kuat hingga Nadya meringis.

​"Jangan pernah mencoba menyentuh saya lagi," bisik Andrew dingin. "Ibu saya adalah Revana. Dan Anda... Anda hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki darah yang sama dengan saya."

​Andrew melepaskan tangan Nadya dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung kembali ke sofanya. Andrew berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Nadya yang gemetar karena amarah dan kekalahan di tengah kemewahan vilanya yang kini terasa seperti penjara.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!