Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil
"Kak!"
Hita memekik kesakitan begitu Dirga menggigitnya, membuatnya semakin menangis dan meronta.
"Diamlah," geram Dirga, tampak kesal saat aktivitasnya diganggu.
Dirga mencekal pergelangan tangan Hita, menarik tangan ramping itu dengan kasar dari rambutnya.
Dirga tampak sedikit tak stabil, tampak sedikit sempoyongan saat mencengkram pergelangan tangan Hita di atas kepala, membuat perempuan yang tengah menangis itu tak lagi bisa mengganggunya.
Suara kecapan memenuhi ruangan begitu Dirga kembali menangkap pucuk yang mengeras kembali ke dalam mulutnya, mengulumnya seperti seseorang yang tengah kecanduan. Mata laki-laki itu terfokus pada wanitanya yang masih tampak meronta, meringis kesakitan karena tak terbiasa.
Tawa linglung dan puas Dirga bergetar di tubuh Hita, membuat perempuan itu semakin menggeliat. Dirga benar-benar gila.
"Kak stop!" Hita mengerang, kakinya menendang-nendang Dirga sementara di atas sana tangannya masih ditahan kuat-kuat.
Bunyi letupan basah terdengar begitu Dirga mengangkat wajahnya dari dada Hita, seringai mengejek yang tampak mengerikan terukir di wajahnya, ditambah lagi dengan tatapan tak fokus laki-laki itu saat tak sadarkan diri di bawah kabut alkohol.
"Kenapa? Kenapa harus berhenti?" bisiknya tepat di wajah Hita, seperti sebuah ejekkan.
Hita memejamkan matanya, menggeleng dan gemetar ketakutan saat ujung jari Dirga menyusuri rahangnya, mengelus pipinya yang berderai air mata.
"Air mata memang cocok untukmu." Dirga tertawa pelan. "Kau tampak lebih cantik seperti ini," bisiknya, membuat Hita tak habis pikir lagi.
Bagaimana bisa kesialan selalu saja menghampirinya seakan-akan ia adalah magnet kesialan? mengapa Hita harus menghadapi nasib seperti ini?
"Kak stop..." Hita begitu putus asanya, tubuhnya gemetar karena Isak tangis dan rasa takut. "Aku mohon..."
Mendengar permohonan itu tampaknya tak membuat Dirga merasa iba, bahkan justru laki-laki itu malah tertawa. Bagaimana pula ceritanya orang yang tengah mabuk dan linglung bisa menang dalam ajang memaafkan?
"Ya..." Dirga mengangguk, kepalanya mendarat dan bersandar pada bahu perempuan itu. "Memohonlah... Memohonlah padaku..."
Tawa Dirga semakin keras, membuatnya terlihat seperti orang yang sedang kerasukan. Hita tersentak, membeku di tempatnya kala Dirga mengangkat wajahnya, tertawa lepas seperti iblis yang tengah disembah.
"Memohonlah padaku!"
"Kak!"
SREK!
Suara robekan kain memenuhi ruang tamu tatkala Dirga dengan tak warasnya mencabik-cabik kain di tubuh Hita, membuat perempuan itu menjerit-jerit.
Mata Dirga memerah, antara kabut hasrat dan kegilaan yang membuatnya terengah-engah seperti anjing lapar. Dengan Hita sebagai santapannya.
Geraman rendah terdengar begitu Dirga lagi-lagi membekap Hita dengan tangannya, membuat perempuan itu bungkam dan dipaksa tak bersuara meskipun tubuhnya meronta-ronta.
Mata Dirga semakin liar begitu melihat bagian atas tubuh wanitanya itu tak lagi berbusana, menandainya tanpa sisa dengan bibir dan lidahnya.
Tangan kekar itu perlahan-lahan merayap ke bawah, menurunkan sisa pakaian Hita yang tersisa meskipun perempuan itu memberontak menggila di bawahnya. Dirga tak sadar. Dirga tak waras sekarang.
"Diamlah," geramnya dengan mata berkilat marah. "Atau aku akan membuat ini begitu menyakitkan untukmu," peringatnya, tapi tak mampu membuat istrinya itu tenang dari gelombang kepanikan.
Dengan napas berat yang terengah-engah, gemetar tangan Dirga begitu melebarkan paha istrinya yang belum pernah dijamah oleh siapapun. Dipersembahkan khusus untuknya, meskipun ia sendiri yang mengambilnya secara paksa. tanpa kesadaran.
Air mata Hita sudah tak ada harganya lagi sekarang, tubuhnya mengejang begitu Dirga membelainya, berusaha membasahi dan membuat celah.
Hita merasa dadanya sesak, wajahnya memerah karena tangis dan rasa sakit hati akan takdir yang selalu membuatnya lemah seperti ini.
"Lihatlah," bisik Dirga, tertawa seperti orang gila begitu menatap Hita. "Lihatlah bagaimana aku akan memenuhimu."
"Mmhh!" Hita menggeleng sekuat-kuatnya begitu merasakan ujung laki-laki itu menekan, menciptakan rasa sakit yang luar biasa, membuatnya ingin menjerit.
Rasanya dunia berputar-putar begitu rasa sakit luar biasa itu tercipta saat Dirga mendorong pinggulnya dalam satu hentakkan, tangannya begitu kuat menekan mulut Hita dan tak membiarkannya bersuara, sementara laki-laki itu melolong karena kenikmatan.
Dijepit dengan rapatnya adalah surga yang kian lama tak ia rasakan, seakan diremas dan disuguhkan kenikmatan yang tak pernah ingin ia akhiri. Tak peduli dengan apa yang ia renggut, tak sadari apa yang telah ia lukai.
Dirga tak memberikan jeda penyesuaian untuk istrinya, bergerak dengan gerakan menyiksa yang membuat Hita terbelalak kesakitan, seakan dibelah menjadi dua di setiap gerakan Dirga yang terasa menghukum.
Sofa itu berderit, mengikuti gerakan Dirga yang tengah menggagahi istrinya yang menangis tak berdaya di bawahnya. Suara napas yang memburu dan erangan kenikmatan adalah satu-satunya yang memenuhi ruang tamu yang begitu sepi dan gelap.
Malam itu terasa begitu panjang, menyiksa, dan tak pernah berhenti bagi Hita saat Dirga melakukannya berulang-ulang kali. Memenuhinya, membuatnya nyaris tak bernyawa di bawah ketidak sadaran yang akan membawa petaka.
...****************...
Tin!
Tin!
Tin!
Lian memukuli klakson mobil itu berkali-kali begitu kesal dengan lampu jalan yang terus saja merah.
Kesabaran gadis itu habis karena temannya yang menyebalkan mengancam akan mengeluarkannya dari kelompok jika saja ia tak datang.
Baiklah, memang Lian akui bahwa dia sendiri malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, tapi ia akan mengeluarkan uang berapapun untuk menyelesaikannya.
Kalau saja ia boleh tak kuliah, maka dia pasti sudah melakukannya. Teman-temannya menyebalkan semua, dan itu membuatnya muak.
Segera mungkin Lian menancap gas begitu lampu berubah kuning, bahkan belum sempat hijau ia sudah melesat kencang di jalanan yang sepi.
Gadis berambut pendek itu melirik bagasi melalui kaca dalam, tersenyum tipis begitu mengingat Hita.
Setidaknya untuk sementara waktu ia punya kakak iparnya yang polos itu.
Kit!
"Sialan kau!" umpat Lian begitu menginjak rem mendadak, telat menyadari sedan hitam yang kini mencegat jalannya karena terlalu fokus pada barang-barang belanjaan di bagasi.
Ban mobil itu berdecit, sementara Lian sendiri terbanting ke depan hingga dadanya menekan klakson.
Sudah emosi, semakin membara lagi Lian begitu mendapati insiden menyebalkan ini.
Gadis itu menarik kasar kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, membanting pintu mobil terbuka dan dengan langkah lebar menghampiri sedan hitam yang mencegat jalannya tanpa rasa takut—karena rasa takut itu tak pernah ada di hidupnya.
"Keluar kau, dasar sialan!" jerit Lian, memukul-mukul kaca mobil gelap itu.
Entah mengapa hari ini semua manusia menjadi begitu menyebalkan. Siang tadi Wisnu dan Dirga, sekarang temannya dan orang asing ini.
Napas Lian terengah-engah karena marah, dadanya naik turun begitu ia memperhatikan kaca mobil yang diturunkan.
"Selamat malam, Nona muda."
Sapaan menggoda itu terlontar dari sosok yang selama ini jelas Lian kenal—Baskara—sahabat Dirga yang kerap kali membuatnya naik darah. Kenapa pula laki-laki itu ada di sini.
"Kau?!" Lian menunjuk ke batang hidung Baskara. "Sedang apa kau di sini?!"
Baskara yang ditunjuk itu mengerjap, memperhatikan ujung jari Lian yang diarahkan di ujung hidungnya.
"Memangnya tidak boleh jika aku berada di sini?" Baskara menyeringai, menangkap telunjuk Lian. "Seharusnya akulah yang bertanya mengapa anak gadis kesayangan Martadinata berada di sini malam-malam begini."
"Dan ya, berusahalah untuk bersikap lebih sopan dengan orang yang lebih tua," goda Baskara, mengelus ujung jari Lian dengan gerakan halus. "Atau aku akan mengadukanmu pada paman Nathan dan bibi Nadia."
Lian dengan kejengkelan yang nyata segera menarik tangannya, mengelap sentuhan Baskara di kaca mobil seakan-akan alergi terkena sentuhan laki-laki itu.
"Dasar tukang ngadu," desisnya kesal.
Baskara tertawa ringan, menggeleng bangga setelah membuat Lian yang cantik itu kesal.
"Kau masih saja galak, ya?" Baskara menatap Lian dengan binar mata menggoda. "Cantiknya juga masih sama," lanjutnya, semakin gencar hingga membuat Lian memutar mata.
"Basi."
"Benarkah? Tapi tetap saja membuat pipimu memerah seperti itu."
Begitu bodohnya pula Lian reflek memegangi pipinya, sebelum melemparkan tatapan tajam yang sinis pada Baskara.
Jangan tanyakan betapa puasnya Baskara melihat hal itu.
Baskara sedikit melirik ke belakang Lian, seolah-olah tengah mencari sesuatu.
"Kau sendirian saja?" tanyanya, tampak santai walaupun kini diam-diam mencari informasi.
"Ya, memangnya dengan siapa lagi?"
Nada sensi itu lagi-lagi membuat Baskara tak sanggup menahan senyum. Sejak dulu, hal yang ia sukai di kediaman keluarga Martadinata selain makanan buatan bibi Nadia adalah putri emas mereka ini.
"Siapa tau dengan pacarmu," ucap Baskara, tersenyum sinis begitu mengingat kisah cinta malang Lian yang kandas karena perselingkuhan. "Atau bisa juga... teman?"
"Aku tidak punya teman," balas Lian, menyilangkan tangannya di dada. "Dan berhentilah membahas soal pacar, itu menjengkelkan sekali."
"Baiklah, baiklah." Begitu lembut nada Baskara berbicara. "Tapi kata Wisnu hari ini kau tidak kabur sendirian."
Mendengar kata 'kabur' di dalam kalimat Baskara itu membuat Lian menyipit. Bagaimana pula Baskara ini bisa mendapatkan informasi itu dari Wisnu? Apakah laki-laki itu sudah berhasil keluar dari kamar mandi setelah ia kerjai siang tadi?
"Ya... memang tidak sendiri," balas Lian, kali ini lebih pelan. "Dengan Kak Pramahita juga," timpalnya, memikirkan nasib Hita yang kini ada di rumah.
Apa sekiranya yang terjadi pada kakak iparnya itu sekarang? Apakah diomeli oleh Dirga?
Seketika Lian tersadar begitu mengingat nama Dirga, segeralah ia bertanya.
"Saat kau kemari, pasti bertemu dengan Kak Dirga lebih dulu, kan?" Lian samar-samar bertanya, menutupinya dengan kesinisan. "Di mana dia? Apakah masih di kantor?"
Baskara menggeleng. "Aku sudah mengantarmya pulang, dia agak... tidak sehat."
"Maksudmu?" Lian semakin menyipit. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
"Dia sedang mabuk."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga