Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan
Waktu berjalan secepat embusan angin yang membawa aroma musim semi. Di kediaman Vance, setiap hari adalah panggung bagi penemuan-penemuan baru. Leo Alistair Vance kini bukan lagi bayi mungil yang hanya bisa berbaring atau merangkak pelan. Di usianya yang hampir menginjak satu tahun, Leo telah bertransformasi menjadi penjelajah kecil yang penuh rasa ingin tahu.
Pagi itu, di ruang tengah yang luas, Alana duduk bersimpuh di atas karpet tebal, merentangkan kedua tangannya dengan lebar. "Ayo, Leo... selangkah lagi, Sayang. Kamu bisa!"
Leo berdiri dengan kaki-kaki kecilnya yang masih tampak sedikit gemetar, berpegangan pada pinggiran sofa berbahan beludru. Ia mengenakan baju monyet berwarna biru laut yang membuatnya tampak sangat menggemaskan. Dengan wajah yang serius—ekspresi yang sangat mirip dengan Brixton saat sedang berkonsentrasi pada laporan keuangan—Leo perlahan melepaskan pegangannya.
Satu langkah... dua langkah... tubuh mungilnya goyah sejenak.
"Jaga dia, Alana!" Brixton yang baru saja turun dari lantai atas dengan kemeja santai, seketika menahan napas. Ia terpaku di anak tangga terakhir, tidak berani bergerak karena takut merusak konsentrasi putra kecilnya.
Leo terjatuh di langkah ketiga, mendarat tepat pada bagian popoknya yang empuk. Namun, ia tidak menangis. Sebaliknya, ia tertawa nyaring dan kembali berusaha berdiri dengan bantuan tangannya sendiri. Pada percobaan kedua, Leo berhasil melangkah lebih mantap dan akhirnya menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan hangat Alana.
"Dia melakukannya! Brixton, lihat! Leo berjalan!" seru Alana penuh kebanggaan, mencium pipi gempal putranya yang kini sedang tertawa bangga.
Brixton menghampiri mereka, berlutut di samping Alana dan mengacak rambut Leo dengan penuh kasih. "Langkah yang bagus, Jagoan. Kau akan segera mengejar Papa di kantor kalau begini terus."
Melihat perkembangan Leo yang begitu pesat, Brixton memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk sebuah perayaan. Ia ingin memberikan hadiah bagi Alana yang telah bekerja keras sebagai ibu, sekaligus memberikan pengalaman baru bagi Leo.
"Alana, kemasi barang-barangmu. Kita akan melakukan liburan keluarga pertama kita ke luar negeri. Kita akan pergi ke pesisir Prancis. Leo butuh merasakan pasir pantai yang sebenarnya, bukan hanya bermain di taman belakang," ucap Brixton dengan mata berbinar.
Rencana liburan itu disambut Alana dengan antusiasme yang luar biasa. Ia menghabiskan beberapa hari berikutnya untuk menyiapkan segala keperluan Leo—mulai dari pakaian renang mungil, topi pantai, hingga tumpukan mainan dan susu formula cadangan. Namun, seperti kata pepatah, berencana liburan dengan balita yang baru bisa berjalan adalah sebuah petualangan tersendiri bahkan sebelum pesawat lepas landas.
Hari keberangkatan pun tiba. Bandara Internasional sangat ramai pagi itu. Sebagai seorang pengusaha papan atas, Brixton biasanya melewati jalur private jet dengan segala kemudahan. Namun kali ini, karena ada sedikit kendala teknis pada pesawat pribadinya, mereka harus menggunakan layanan First Class di maskapai komersial premium.
Brixton tampil rapi dengan kacamata hitam dan koper elegan, sementara Alana tampak anggun meski tangannya sibuk memegang tas perlengkapan bayi yang besar. Namun, bintang utama hari itu tetaplah Leo. Seolah tahu bahwa ia akan melakukan perjalanan besar, tingkat energi Leo meningkat tiga kali lipat.
"Leo, jangan lari terlalu jauh, Sayang!" panggil Alana saat mereka sedang berada di ruang tunggu VIP.
Leo, dengan kemampuannya yang baru, merasa bandara adalah taman bermain raksasa. Ia berjalan dengan langkah-langkah cepat yang lucu, mencoba mengejar setiap orang yang lewat atau menyapa setiap koper beroda yang bergerak.
Insiden kecil itu terjadi tepat saat mereka sedang menuju pintu keberangkatan. Di tengah kerumunan orang yang cukup padat, Leo tiba-tiba melepaskan genggaman tangan Alana. Ia melihat seorang anak kecil lain yang memegang balon besar berwarna merah dan secara naluriah, Leo mengejarnya dengan kecepatan "lari balita" yang tak terduga.
"Leo! Berhenti!" teriak Alana panik.
Namun, Leo justru merasa itu adalah sebuah permainan kejar-kejaran. Ia masuk ke celah-celah antrean penumpang, melewati kaki-kaki orang dewasa dengan gesit. Celakanya, Leo menabrak sebuah troli makanan milik staf bandara. BRAK! Beberapa botol air mineral jatuh berserakan, dan yang paling parah, Leo secara tidak sengaja menjatuhkan segelas kopi panas milik seorang penumpang pria paruh baya yang tampak sangat galak.
Kopi itu tumpah mengenai sepatu kulit mahal pria tersebut dan sebagian celananya.
"Hei! Anak siapa ini?! Lihat apa yang dia lakukan pada sepatuku!" bentak pria itu dengan suara keras, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh.
Leo, yang kaget karena suara bentakan itu dan rasa sakit sedikit di pantatnya karena terjatuh, mulai mengeluarkan suara tangis yang sangat nyaring. Ia ketakutan.
Alana segera berlari menghampiri, wajahnya memerah karena malu sekaligus cemas. "Maaf, Tuan. Maafkan anak saya. Dia baru saja belajar berjalan dan..."
"Maaf tidak akan memperbaiki sepatu ini! Orang tua macam apa yang membiarkan anaknya berkeliaran seperti binatang liar di bandara?" pria itu terus mengomel, suaranya semakin meninggi dan mulai tidak sopan.
Brixton, yang tadinya sedang mengurus paspor di konter belakang, segera melangkah maju. Ia melihat Alana yang hampir menangis karena terpojok, dan ia melihat Leo yang sedang meraung ketakutan di lantai.
Biasanya, Brixton Vance yang dulu akan meledak jika melihat istrinya dihina. Ia mungkin akan memanggil pengacaranya atau membalas bentakan itu dengan kedinginan yang mematikan. Namun, menjadi seorang ayah telah mengajarkannya jenis kekuatan yang berbeda: kesabaran yang terkendali.
Brixton berdiri di depan Alana, menjadi tameng bagi anak dan istrinya. Ia tidak membentak balik. Sebaliknya, ia justru berlutut lebih dulu untuk menggendong Leo. Ia mendekap kepala Leo di pundaknya, membisikkan kata-kata penenang yang membuat tangis Leo perlahan mereda.
"Tenanglah, Jagoan. Papa di sini," bisik Brixton lembut.
Setelah Leo tenang dalam dekapannya, Brixton berdiri tegak dan menatap pria yang masih marah-marah itu dengan tatapan yang sangat tenang namun sangat berwibawa—tatapan yang membuat pria itu tiba-tiba terdiam.
"Saya adalah ayahnya," ucap Brixton dengan suara rendah namun tegas. "Saya meminta maaf atas ketidaksengajaan putra saya. Dia masih kecil dan sedang belajar mengenal dunianya."
Brixton kemudian merogoh dompetnya, mengeluarkan kartu namanya yang eksklusif dan selembar cek kosong. "Ini kartu nama saya. Kirimkan tagihan untuk sepatu dan celana Anda ke asisten saya. Saya akan menggantinya sepuluh kali lipat dari harga aslinya sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan Anda. Namun..."
Suara Brixton berubah menjadi sedikit lebih dingin, memberikan tekanan yang membuat suasana di sana membeku. "...saya tidak akan menoleransi siapa pun yang membentak istri saya dan menyebut putra saya dengan kata-kata tidak sopan. Jika Anda ingin melanjutkan kemarahan ini, kita bisa menyelesaikannya secara hukum setelah saya pulang dari liburan. Pilihan ada di tangan Anda."
Pria itu menatap kartu nama di tangannya. Begitu membaca nama Brixton Vance, wajahnya seketika berubah pucat. Ia menelan ludah dengan susah payah. Siapa yang tidak mengenal nama itu? Pria ini bisa membeli seluruh maskapai ini jika ia mau.
"Ah... tidak... tidak perlu, Tuan Vance. Saya... saya hanya sedikit kaget tadi. Maafkan saya juga atas ucapan saya yang kasar," ucap pria itu dengan terbata-bata, lalu segera berlalu dengan langkah terburu-buru.
Alana menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. Ia menatap Brixton dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. "Terima kasih, Brixton. Aku tadi benar-benar panik."
Brixton tersenyum, lalu memberikan Leo ke dalam pelukan Alana sebentar agar ia bisa mengusap dahi istrinya yang berkeringat. "Sama-sama, Sayang. Menjadi ayah memang ujian kesabaran yang lebih berat daripada negosiasi saham, bukan?"
Leo kini sudah tidak menangis lagi. Ia justru menatap ayahnya dengan mata bulat yang penuh kekaguman, seolah ia tahu bahwa ayahnya baru saja melakukan sesuatu yang heroik. Leo menyentuh pipi Brixton dengan tangan mungilnya, lalu bergumam pelan, "Pa-pa... hebat."
Hati Brixton meleleh seketika. Segala kekesalan karena insiden tadi hilang tak berbekas. Ia kembali mengambil Leo dari gendongan Alana dan menciumi pipinya berkali-kali. "Iya, Papa hebat, tapi Leo harus janji jangan lari-lari lagi di tempat ramai, oke?"
Leo hanya tertawa dan mencoba menarik kacamata hitam ayahnya.
Sepanjang sisa perjalanan di pesawat, Brixton benar-benar membuktikan dirinya sebagai ayah yang siaga. Ia yang mengganti popok Leo di toilet pesawat yang sempit tanpa mengeluh. Ia yang menggendong Leo berkeliling kabin saat bayinya merasa bosan dan mulai rewel karena tekanan udara. Ia bahkan tidak memedulikan tatapan penumpang lain saat ia harus bernyanyi lagu anak-anak dengan suara baritonnya agar Leo bisa tertidur.
Alana memperhatikan semua itu dari kursinya dengan senyum yang tak kunjung hilang. Ia teringat masa-masa kelam di awal pernikahan mereka, saat ia bahkan takut untuk sekadar menyapa Brixton. Kini, pria itu adalah sahabat terbaiknya, pelindung keluarganya, dan ayah yang luar biasa bagi putranya.
Saat pesawat akhirnya mendarat di Nice, Prancis, matahari sore menyambut mereka dengan hangat. Brixton melangkah keluar dari pesawat dengan Leo yang tertidur lelap di pundaknya dan tangan satunya menggenggam erat tangan Alana.
"Selamat datang di liburan kita, Alana," bisik Brixton saat mereka berjalan menuju jemputan pribadi.
"Ini akan menjadi liburan yang tak terlupakan," balas Alana.
Insiden di bandara tadi hanyalah sebuah kerikil kecil dalam perjalanan mereka. Bagi Brixton, itu adalah pengingat bahwa kekuatannya kini bukan lagi untuk menjatuhkan lawan, melainkan untuk menjaga kebahagiaan istri dan anaknya. Dan bagi Alana, itu adalah bukti bahwa ia telah memilih pria yang tepat—pria yang telah belajar bahwa kesabaran dan cinta adalah harta yang jauh lebih berharga daripada emas mana pun di dunia.
Langkah kecil Leo di bandara hari itu mungkin menyebabkan kekacauan singkat, namun bagi Brixton dan Alana, itu adalah langkah besar menuju keluarga yang semakin solid dan penuh kasih. Petualangan mereka baru saja dimulai, dan kali ini, mereka menghadapinya dengan tawa, bukan dengan luka.