NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Alibi Kakak Sepupu

Alibi kakak sepupu terasa seperti sebuah pil pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Maya Anindya demi menyambung nyawanya di sekolah. Dia menatap kartu identitas palsu di tangannya dengan pandangan yang kosong serta penuh dengan keraguan yang mendalam. Nama belakang yang selama ini dia banggakan telah dihapus serta digantikan oleh deretan huruf yang terasa sangat asing di lidahnya.

"Apakah saya harus membohongi semua orang termasuk sahabat terbaik saya sendiri dengan identitas palsu ini?" tanya Maya Anindya dengan suara yang nyaris berbisik.

Arga Dirgantara mengangguk pelan sambil menyimpan kembali pistolnya ke dalam sarung kulit yang tersembunyi di balik jaket. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat datar seolah-olah kejujuran adalah sebuah kemewahan yang tidak sanggup mereka beli saat ini. Baginya, keselamatan fisik jauh lebih mendesak daripada beban moral yang sedang merongrong nurani seorang gadis remaja.

"Kejujuran hanya akan membawa maut bagi kita berdua jika intelijen musuh mencium keberadaanmu yang sebenarnya," jawab Arga Dirgantara dengan nada yang sangat dingin.

Maya meremas kartu plastik itu hingga ujungnya melukai telapak tangannya sendiri namun dia sama sekali tidak merasakan perih secara fisik. Pikirannya melayang pada wajah teman-teman kelasnya yang pasti akan melontarkan ribuan pertanyaan tajam esok pagi. Dia merasa seperti seorang penjahat yang sedang melarikan diri dari kenyataan pahit di bawah perlindungan seorang pria yang tidak dia kenal sepenuhnya.

"Bagaimana jika mereka tetap tidak percaya dan mulai menyelidiki asal-usul keluarga palsu yang Anda buat ini?" tanya Maya Anindya lagi dengan nada yang semakin meninggi.

Lelaki perwira itu mendadak mencengkeram kedua bahu Maya dan memaksanya untuk menatap lurus ke dalam matanya yang berwarna hitam pekat. Dia ingin memastikan bahwa gadis itu memahami betapa seriusnya ancaman yang sedang mengintai mereka di balik bayang-bayang kota. Suasana di bawah jembatan beton yang gelap itu semakin terasa mencekam saat suara sirine polisi terdengar lamat-lamat dari kejauhan.

"Saya sudah mengatur segala berkas di kantor kependudukan sehingga tidak akan ada celah sedikit-pun bagi mereka untuk curiga," tegas Arga Dirgantara untuk menenangkan kepanikan istrinya.

Maya hanya bisa mengangguk pasrah sambil mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal-sengal karena tekanan mental yang sangat berat. Dia menyadari bahwa mulai besok dia harus berperan sebagai adik sepupu dari seorang Letnan Satu yang sangat ditakuti di markas komando. Sebuah skenario yang sangat rapi telah disusun namun tetap saja ada rasa takut yang mengintai di balik relung hatinya yang paling dalam.

"Sekarang masuklah kembali ke dalam mobil dan hapus air matamu sebelum kita melewati gerbang penjagaan utama," perintah Arga Dirgantara sambil membuka pintu kendaraan.

Gadis itu menuruti perintah tersebut dengan langkah kaki yang terasa sangat berat laksana memikul beban seberat ribuan ton besi. Dia duduk diam di bangku belakang sambil menatap jalanan yang mulai gelap karena sang surya telah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi kata yang terucap di antara mereka hingga keheningan itu terasa sangat menyesakkan dada.

Sesampainya di halaman rumah dinas, Arga tidak langsung turun melainkan mematikan lampu kabin mobil untuk menjaga privasi mereka dari pengintai. Dia menyerahkan sebuah tas kecil berisi peralatan komunikasi darurat yang harus selalu dibawa oleh Maya ke mana pun dia pergi. Rasa aman yang ditawarkan oleh Arga terasa sangat semu saat Maya menyadari bahwa dia harus segera sembunyi di balik jok mobil.

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!