NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Lima hari berlalu seperti dalam mimpi. Sejak hari seleksi yang penuh gejolak itu, dunia Jihan seolah menyempit, kembali berpusat hanya pada satu hal: ibunya. Hari-hari mereka kini mengalir dalam sebuah ritme yang sederhana dan disengaja, sebuah upaya untuk membangun kembali kehangatan di tengah puing-puing harapan yang hancur.

Pagi hari dimulai dengan suara kapak membelah kayu, sebuah irama mantap yang menandakan dimulainya hari. Asap mengepul dari tungku, membawa aroma ubi rebus yang ia tanam sendiri di belakang gubuk. Sesekali, jika dewi sungai berbaik hati, aroma itu berganti menjadi wangi gurih ikan bakar hasil tangkapannya.

Menjelang siang, Jihan akan sibuk dengan pekerjaan rumah. Ia membersihkan setiap sudut gubuk dengan teliti, menyapu lantai tanah hingga licin, dan merapikan perabotan mereka yang usang. Semua itu ia lakukan dalam keheningan yang penuh tujuan, berharap bisa menciptakan kenyamanan kecil bagi ibunya.

Dan saat sore menjelang malam, waktu mereka adalah milik mereka seutuhnya. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, mereka akan berbincang, saling berbagi cerita. Kehangatan dari obrolan mereka sering kali membuat gubuk kecil itu terasa lebih luas dan penuh dengan kebahagiaan yang tulus.

Di tengah tawa dan obrolan itulah, di dalam kehangatan yang mereka ciptakan, kebenaran yang pahit akhirnya terungkap. Dengan berat hati, Jihan menceritakan bagaimana penduduk desa kini menjauhinya, bagaimana tatapan mereka berubah, dan bisikan-bisikan yang mengikutinya seperti bayangan.

Wulandari mendengarkan dalam diam. Setiap kata yang keluar dari bibir putranya terasa seperti jarum yang menusuk hati. Anaknya, yang telah berjuang begitu keras, kini harus menanggung beban pengucilan yang kejam. Namun, ketika melihat api semangat kembali menyala di mata putranya, ia menekan dukanya dalam-dalam. Alih-alih larut dalam tangis, Wulandari justru meneguhkan hatinya.

Ia sadar, yang dibutuhkan Jihan saat ini bukanlah air matanya, melainkan sosok pohon tempat ia dapat berlindung.

Namun, kehangatan itu tidak membuatnya terlena. Justru sebaliknya, itu menjadi bahan bakar. Jihan sadar, ia tidak bisa selamanya bersembunyi, mencari keteduhan di bawah kasih ibunya di dalam gubuk kecil yang reot. Cepat atau lambat, ia harus bangkit. Ia harus menemukan cara untuk menyembuhkan ibunya, mencari jalan lain yang tidak akan pernah ia temukan jika hanya terus berdiam diri.

Maka, hari itu, langkahnya mantap membawanya menuju Balai Desa. Perjalanan ini bukanlah yang pertama. Selama beberapa hari terakhir, ia telah memaksa dirinya untuk keluar, untuk kembali menghadapi dunia. Dan dunia menyambutnya dengan tatapan belati. Ada yang memandangnya dengan jijik, ada yang mencibir terang-terangan.

Awalnya, rasa sakit dari penolakan itu sempat mengguncangnya, jauh lebih perih daripada tatapan iba yang dulu ia terima. Namun, setiap kali ia kembali ke gubuk, kehangatan tatapan ibunya seolah menjadi perisai yang menguatkan hatinya. Jadi, Jihan belajar untuk menulikan telinga dan menegakkan kepala.

Dalam benaknya, ia berharap Arya Jaya akan menugaskannya kembali ke sunyinya hutan, seperti hari itu. Ia membayangkan bisa mencari kayu bakar sekaligus berharap menemukan petunjuk yang mungkin menuntunnya pada cara menyembuhkan sang ibu, atau jalan apapun yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun, harapannya pupus. Arya Jaya memang menyambutnya dengan ramah, tetapi sejak kejadian hilangnya Jihan di hutan, kepala desa melarangnya kembali masuk ke sana.

Dan beginilah akhirnya ia di sini, terjebak di dalam gudang kayu yang pengap di sebelah barat rumah Kepala Desa, bersama dengan Yasmin yang ditugaskan untuk mengawasinya.

Suasana di dalam gudang begitu hening. Hanya aroma serbuk kayu yang menusuk hidung dan bunyi sesekali kayu bergeser saat dipindahkan. Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara berat Yasmin yang mengisi ruangan.

“Melamun lagi, Jihan?”

Suaranya terdengar tulus, sarat akan simpati. Pertanyaan itu menyentak Jihan dari lamunannya, menariknya kembali dari pusaran pikiran tentang ‘jalan baru’ yang terus ia bayangkan.

Jihan mengangkat kepala dan menatap Yasmin sejenak. Tidak ada tatapan menghakimi di mata pria itu, hanya ketulusan. Sangat berbeda dengan sorot mata penuh permusuhan yang ia terima dari penduduk desa lainnya. Mungkin, pikirnya, pria ini adalah salah satu dari sedikit orang yang masih peduli.

Jihan menghela napas pelan.

“Bukan itu, Paman. Aku hanya berpikir…”

Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.

“Apakah benar jalan bagi mereka yang lahir tanpa Akar Spiritual sudah sepenuhnya tertutup? Bahwa kami ditakdirkan untuk tidak pernah melangkah lebih jauh…?”

“Dan… apakah benar kami adalah pembawa kutukan? Untuk sesuatu yang bahkan tak pernah kami pahami keberadaannya?”

Yasmin memandangnya lama, tatapan pria itu melembut. Ada sorot pemahaman yang dalam di matanya, seolah pertanyaan Jihan barusan adalah gema dari pertanyaan yang pernah ia teriakkan pada langit di masa lalunya.

“Dulu… aku sama sepertimu, Jihan.”

Mata Jihan melebar tak percaya.

“Maksud Paman…?”

Yasmin menghela napas, sebuah senyum tipis yang sarat akan kenangan pahit terukir di bibirnya.

“Ketika aku masih sekecil kau, di desa asalku, mereka menyebutku jenius. Jenius pengukir kayu,”

“Mereka bilang aku adalah harapan, anak yang ditakdirkan membawa kemasyhuran bagi desa kami, sebuah desa pengukir di wilayah timur. Terdengar indah, bukan? Tapi di pundak seorang anak, pujian setinggi itu terasa seperti beban.”

Tatapan Yasmin meredup, seolah menatap pemandangan yang jauh. Nadanya menjadi lebih dalam.

“Masalahnya, aku tidak peduli dengan kemasyhuran. Aku hanya mencintai kayu dan pahatku. Aku terlalu larut dalam karyaku, terlalu fokus, sampai lupa bahwa dunia di sekelilingku punya aturannya sendiri. Karya-karyaku mulai dianggap aneh, bahkan menentang tradisi. Dan ketika musim paceklik datang, panen gagal, dan penyakit merajalela… orang-orang yang ketakutan butuh seseorang untuk disalahkan.”

Ia berhenti, matanya yang tadi menerawang kini menatap kosong pada serat-serat kayu di tumpukan di hadapannya.

“Mereka menunjukku sebagai pembawa sial. Saat itu juga, aku diusir dari desa.”

“Di titik terendahku, aku mengembara tanpa tujuan hingga tiba di Desa Batu Sungai. Di sanalah Kepala Desa Arya Jaya menyambutku yang hampir putus asa, memberiku pekerjaan, memberiku jalan baru untuk hidup.”

Yasmin terdiam lagi, lalu menghela napas panjang seolah melepaskan beban terakhir dari cerita itu.

“Sayangnya, ketika aku akhirnya memiliki keberanian untuk kembali ke desa asalku bertahun-tahun kemudian, yang kutemukan hanya puing-puing. Desaku… sudah musnah.”

“Paman itu… “

Sebelum Jihan sempat berbicara, Yasmin menepuk bahu Jihan dengan mantap. Matanya yang tadi menerawang kini menatap lurus ke mata Jihan, penuh dengan simpati dan kekuatan.

“Kau lebih beruntung dariku, Jihan, kau tidak sendirian. Kau masih memiliki seseorang yang peduli padamu.”

“Jadi, jangan pedulikan apa yang mereka katakan. Jangan pikirkan tatapan mereka. Kebencian dan cemoohan mereka tidak akan menentukan siapa dirimu.”

“Yang terpenting sekarang, adalah apa yang akan kau lakukan. Temukan jalanmu sendiri. Buktikan pada mereka semua, pada Langit sekalipun, bahwa mereka salah menilaimu.”

Mendengar kata-kata itu, mata Jihan melebar. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Cerita Paman Yasmin memang menyedihkan, tapi Jihan tidak pernah menyangka orang yang berdiri di hadapannya menyimpan kisah yang begitu mirip dengannya. Justru dari situlah ia terinspirasi. Jika Paman Yasmin bisa menemukan jalannya sendiri setelah semua penderitaan itu, maka ia pun yakin… ia juga bisa!

“Paman… terima kasih. Kau telah memberiku pelajaran yang sangat berharga.”

Melihat perubahan di mata Jihan, Yasmin tersenyum tulus. Ia mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Jihan.

“Jangan bersikap formal begitu, Jihan. Di mataku, aku seperti melihat diriku di masa lalu saat memandangmu.”

Ia kemudian meraih sesuatu dari sakunya, sebuah ukiran kayu kecil dengan wajah Kala yang menganga, dibuat dengan detail yang luar biasa.

“Anggap ini hadiah, dulu, mengukir hal seperti ini adalah seluruh duniaku. Tapi sekarang aku punya tujuan lain. Ukiran ini… lebih baik berada di tangan seseorang yang masih berjuang menemukan jalannya. Terimalah. Semoga ia menjagamu.”

Jihan menerima pemberian itu dengan hati-hati. Jemarinya meraba permukaan kayu yang penuh pahatan halus, setiap gurat begitu rumit hingga tampak seperti wajah hidup yang sedang menatap balik. Ia membayangkan, andai ia sendiri yang mengukirnya, mungkin butuh puluhan tahun sebelum bisa mencapai tingkat kerumitan semacam itu.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Dari luar gudang kayu, suara langkah-langkah berat dan marah mendekat, semakin lama semakin jelas. Derap kaki itu merobek keheningan, menghadirkan aura ancaman yang tak bisa disalahartikan. Mereka bukan pemuda tanggung seperti Gading, melainkan para pria dewasa, wajah-wajah mereka keras dipahat oleh kecurigaan dan kebencian yang telah lama terpendam.

Tiba-tiba, sebuah suara parau dan penuh amarah menggema dari luar.

“AKU DENGAR DARI JONO, ANAK ITU ADA DI SINI!”

Disusul oleh teriakan lain yang lebih tajam, menghantam telinga Jihan bagaikan sabetan cambuk:

“JIHAN! KELUAR KAU, ANAK PEMBAWA KUTUKAN! BERANINYA KAU MASIH HIDUP TENANG DI DESA INI!”

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!