NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Tatapan mata yang menghujam

Tatapan mata yang menghujam dari arah belakang membuatnya menyadari bahwa perjuangannya di dalam istana kaca ini baru saja dimulai dengan musuh yang nyata. Anindira mempercepat langkah kakinya menyusuri lantai marmer yang mengilap sambil menundukkan kepala sedalam mungkin agar rambutnya menutupi wajah. Ia bisa merasakan adrenalin berdesir hebat di dalam nadinya saat sosok Sarah dan Rendy hanya berjarak beberapa meter saja dari posisinya.

Suara tawa Sarah yang melengking terdengar memenuhi lobi mewah tersebut, sebuah suara yang selalu menghantui mimpi buruk Anindira selama lima tahun terakhir. Rendy menyahut dengan suara rendah yang dulu pernah membisikkan janji manis namun kini terasa seperti sembilu yang mengiris hati. Anindira merapatkan tasnya ke dada seolah benda itu bisa menjadi perisai dari tatapan tajam adik tirinya.

"Tunggu dulu, Rendy, apakah kamu melihat wanita yang baru saja lewat itu?" tanya Sarah sambil menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba.

"Siapa? Ada banyak orang di sini, Sarah, jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi hal-hal kecil," jawab Rendy dengan nada yang sedikit tidak sabar.

Anindira tidak berani menoleh dan justru menyelinap di balik pilar besar yang menopang atap lobi gedung grup Adiguna. Ia mengatur napasnya yang menderu-liar sambil memejamkan mata rapat-rapat demi menenangkan gejolak emosi yang meluap-luap. Di dalam benaknya, ia hanya memikirkan Arkan yang mungkin sedang menunggunya dengan penuh kecemasan di rumah bibinya.

Rasa takut itu perlahan berganti menjadi amarah yang dingin saat ia mengingat bagaimana Sarah merebut segala yang ia miliki. Ia tidak boleh membiarkan dirinya tertangkap sekarang sebelum ia berhasil memulihkan martabatnya dan mengamankan hak milik anaknya. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mengintip sedikit dari balik pilar untuk memastikan kedua orang itu sudah menjauh.

"Wanita itu memakai kemeja murahan namun caranya berjalan sangat mengingatkan aku pada kakakku yang jalang itu," gumam Sarah dengan nada benci yang sangat kental.

"Sudahlah, Anindira sudah mati atau membusuk di antah berantah, tidak mungkin dia berani menginjakkan kaki di sini lagi," sahut Rendy sambil menarik lengan Sarah menuju lift khusus.

Anindira menggigit bibir bawahnya hingga rasa anyir darah mulai terasa di ujung lidahnya sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit hati. Ia menunggu hingga pintu lift tertutup sempurna sebelum akhirnya keluar dari persembunyiannya dengan langkah yang tetap waspada. Dunia ini memang sangat sempit, namun ia tidak menyangka akan bertemu musuh bebuyutannya pada hari pertama ia kembali.

Ia segera meninggalkan gedung pencakar langit itu dan mencari angkutan umum untuk kembali ke kawasan pemukiman yang lebih sederhana. Sepanjang perjalanan, bayangan Arkan terus menari-nari di pelupuk matanya sebagai satu-satunya alasan baginya untuk tetap berdiri tegak. Ia menyadari bahwa bekerja di bawah pengawasan Devan Adiguna akan menjadi permainan pedang bermata dua yang sangat berbahaya.

"Ibu! Kenapa lama sekali? Aku sudah menyelesaikan semua tugas menggambar dari Bibi Mirna," seru Arkan saat melihat ibunya muncul di ambang pintu rumah petak itu.

"Maafkan Ibu ya sayang, tadi ada sedikit urusan administrasi yang harus Ibu selesaikan di kantor baru," ujar Anindira sambil menggendong putranya yang terasa semakin berat.

Anindira menatap mata Arkan yang begitu mirip dengan pria yang tadi ia temui di ruangan lantai paling atas. Ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di balik warna hitam pekat mata itu, sebuah rahasia yang mungkin akan mengguncang seluruh dinasti Adiguna. Ia mencium kening Arkan dengan lembut sambil membisik-bisik doa agar Tuhan selalu melindungi nyawa kecil yang sangat berharga ini.

Malam harinya, Anindira duduk di depan meja kayu kecil sambil memandangi kartu identitas barunya yang menggunakan nama samaran. Ia tahu bahwa mulai besok, ia harus mengenakan topeng sebagai asisten pribadi yang patuh dan tidak mencolok di depan Devan. Namun, ia juga harus mulai menyusun strategi untuk mencari dokumen pengalihan lahan yang digunakan perusahaan untuk mengusir kedai miliknya.

"Besok adalah awal dari penyamaran ini, aku harus benar-benar berhati-hati dalam setiap langkah yang aku ambil," bisik Anindira pada kegelapan malam.

Pagi menyingsing dengan sangat cepat dan membawa Anindira kembali berdiri di depan gedung megah yang kini nampak seperti penjara mewah baginya. Ia mengenakan kacamata berbingkai tebal dan mengikat rambutnya dengan sangat rapi untuk sedikit mengubah profil wajahnya dari ingatan masa lalu. Ia berjalan menuju meja sekretaris utama untuk melaporkan kehadirannya sebagai karyawan baru yang akan mulai bertugas.

Sekretaris itu menatap Anindira dengan pandangan yang sangat dingin dan memberikan setumpuk dokumen yang harus segera dikerjakan. Tugas pertamanya adalah menyusun jadwal rapat dewan direksi yang akan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan utama grup Adiguna. Anindira merasakan tangannya dingin saat melihat daftar nama peserta rapat yang mencantumkan nama ayahnya sendiri di urutan teratas.

"Tuan Devan sangat benci pada keterlambatan, jadi pastikan semua kopi dan berkas sudah ada di meja sebelum beliau tiba," instruksi sekretaris itu dengan ketus.

Anindira segera bergerak cepat menuju ruangan pribadi Devan yang masih nampak sunyi dan sangat rapi seperti kemarin sore. Ia meletakkan secangkir kopi hitam tanpa gula dan mengatur beberapa berkas laporan keuangan di atas meja kerja yang luas tersebut. Tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah foto lama yang terselip di bawah tatakan gelas kristal milik Devan.

Foto itu memperlihatkan sebuah kamar hotel yang sangat familiar, kamar nomor seratus satu dengan noda darah di atas karpet putihnya. Jantung Anindira berdegup kencang hingga ia merasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri karena pemandangan yang sangat mengerikan tersebut. Mengapa Devan menyimpan bukti foto kejadian malam terkutuk itu di meja kerjanya yang sangat pribadi?

"Apa yang sedang Anda lakukan di meja saya tanpa izin resmi dari saya, Dira?" sebuah suara berat menginterupsi gerakannya secara mendadak.

Anindira tersentak hingga hampir saja menjatuhkan cangkir kopi yang baru saja ia letakkan di sana dengan penuh kehati-hatian. Ia membalikkan badan dan menemukan Devan sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Menjadi asisten sang iblis ternyata jauh lebih mengerikan daripada bayangan pelariannya selama lima tahun di pinggiran pantai yang sangat sunyi.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!