Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Felix kembali ke kampus. Tapi, ia tidak kembali ke kelasnya. Ia duduk dibangku taman sendirian.
Felix menundukkan kepalanya.
Wajahnya tidak lagi kusut seperti pertamakali ia datang. Kali ini Felix terlihat tersenyum kecil, bahkan sesekali tertawa pelan, saat bermain dengan ponselnya.
Ivan dan Gio yang baru saja menyelesaikan kelasnya, melihat senyum diwajah Felix akhirnya dapat menghelai nafas lega. Tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari kearahnya.
"Kau benar-benar membolos kelas, Fel." Kata Gio sebelum duduk disebelah Felix.
"Apa kau sudah berbaikan dengan Syerly?"
Felix melihat mereka langsung tersenyum lalu menoleh kearah Gio.
"Enn." Ia mengangguk.
"Lalu dimana Syerly sekarang?" Tanya Ivan.
"Dia sedang menemui Shayna." Jawab Felix tenang.
"Hahhh!" Ivan tercengang.
"Bukankah sebelumnya, mereka hampir saling membunuh?"
Felix terkekeh pelan.
"Mereka saudara dan mereka saling perduli."
---
Syerly berdiri didepan pintu apartemen Shayna. Ketika tiba-tiba pintu didepannya terbuka.
Pintu apartemen itu terbuka, memperlihatkan seorang pria berdarah Eropa dengan tubuh tinggi. Wajahnya terlihat dewasa dengan ekspresi dingin. Sorot matanya tenang, namun sulit ditebak.
Saat pandangannya bertemu dengan Syerly, ia hanya mengangguk singkat lalu melangkah pergi.
Shayna sedang duduk malas diatas sofa ketika Syerly masuk. Ia meliriknya sekilas.
"Apa yang membuatmu kesini?" Tanyanya dingin.
"Aku disini untuk melihat keadaanmu." Jawab Syerly sambil melangkah mendekat lalu duduk disamping Shayna.
Shayna mendengus.
"Jangan pura-pura perduli! Aku tahu kau datang hanya karena penasaran."
Syerly tidak membalas. Ia menatap tangan Shayna yang telah dibalut.
"Apakah orang itu sepadan dengan luka yang kau terima." Tanyanya pelan.
Luka Shayna memang terlihat jauh lebih parah dibandingkan Syerly, yang hanya mengalami beberapa goresan ringan.
Saat Syerly mendorongnya hingga terjatuh, Shayna tanpa sengaja terkena pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Dengan senyum lebar, Shayna mengangkat tangannya, seolah memamerkan luka itu.
Tatapan Shayna menjadi lembut saat menatap perban di lengannya.
"Tentu saja." Katanya pelan.
Syerly tanda sadar bergidik ngeri melihat wajah penuh cinta dari saudara perempuannya itu.
"Dasar gila!" Maki Syerly.
Syerly lalu menghelai nafas pelan.
"Bukankah ada cara lain, mengapa harus dengan cara Psikopat."
Shayna menoleh, menatap Syerly dengan tenang.
"Karena dia mantanku."
Syerly terkejut.
"Mengapa aku tidak tahu?"
Shayna berhenti sejenak, ia menghelai nafas sebelum mulai berceritai lagi.
"Aku mengenalnya saat masih tinggal di London. Kami satu sekolah dan berada di kelas yang sama. Lalu kemudian memutuskan berkencan."
Shayna menundukan kepalanya sedikit.
"Tapi... tiba-tiba saja ia menghilang."
Shayna mengangkat wajahnya. Mata itu basah, kesedihannya terlihat jelas.
Suaranya bergetar.
"Saat kami bertemu lagi, dia bilang tidak mengenalku..."
"Sekarang apa kau sudah tahu alasannya meninggalkanmu waktu itu?" Tanya Syerly pelan.
Shayna mengangguk.
"Enn." Gumamnya.
"Dia bilang... dia mengalami kecelakaan..."
Shayna menarik napas dalam, lalu kembali berbicara dengan suara lebih pelan.
"Dia lupa ingatan... dia melupakanku..."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu perlahan Shayna mengangkat wajahnya, sorot matanya berubah. Tidak lagi sedih tapi berkilau penuh keyakinan.
"Tapi kali ini takdir mempertemukan kita kembali." Katanya mantap.
"Aku masih punya kesempatan."
Syerly hanya mengangguk sambil tersenyum, memberi dukungan.
Shayna menambahkan.
"Karena kami ditakdirkan bersama, maka aku tidak akan membiarkannya lolos." Katanya penuh keyakinan.
"Dasar gila." Kata Syerly tertawa pelan.
Shayna meliriknya ringan. Lalu nadanya berubah datar.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau tadi terlihat sangat marah saat aku menampar Felix."
Tatapan Shayna seolah menembus hati Syerly.
"Apa kau sudah berbaikan dengan Felix?"
"Enn." Syerly mengangguk pelan.
Shayna menghelai nafas pelan.
"Mengapa kau tidak mencoba berkencan dengan Felix?" Tanyanya tenang.
"Aku melihat dia juga menyukaimu."
Syerly mendengus.
"Aku belum pernah melihatmu begitu semangat menjadi mak comblang." Katanya dingin.
Shayna menatapnya datar.
"Berhenti mengubah topik." Katanya lebih tajam.
Shayna berhenti sejenak, nada berubah menjadi lebih lembut.
"Syer..." panggilnya pelan.
"Aku ingin kau bukan hanya memberi Felix kesempatan, tapi juga memberi kesempatan untuk dirimu sendiri."
Suaranya terdengar sangat hati-hati.
"Jangan karena perceraian orangtua kita, kau terus-terusan terjebak dengan ketakutanmu tentang cinta." Katanya lirih tapi tegas.
"Tidak semua hubungan akan berakhir seperti mereka."
"Bagaimana kau yakin?" Potong Syerly cepat.
"Jika semua itu tidak berakhir."
Shayna menghelai nafas pelan.
"Aku tidak pernah yakin, bagaimana cinta itu akan berakhir." Katanya.
"Tapi aku yakin semua orang pasti akan mengalami cinta mereka sendiri."
Lalu ia menatap Syerly lebih dalam.
"Dan kau tidak perlu meyakini, setiap hubungan pasti akan berakhir!"
Kata-kata itu perlahan meresap ke dalam jiwa Syerly.
Seperti mantra sunyi yang mengikis ketakutan lama,
menghapus satu per satu kutukan yang selama ini mengikat hatinya.
Syerly keluar dari apartemen Shayna dengan linglung. Ia mencoba menata hatinya. Mengingat setiap perasaan nyamannya ketika bersama Felix. Dan bagaimana dirinya kacau ketika berada jauh dengan Felix.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Syerly melihat Felix menelponnya. Ia menatap layar ponselnya sebentar.
Akhirnya Syerly menghelai nafas sebelum mengangkat ponselnya.
"Ada apa, Fel." Suaranya tenang, tapi tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar.
"Kamu ada dimana?" Tanya Felix.
"Aku baru saja keluar dari apartemen Shayna."
"Apa semuanya baik-baik saja." Felix terdengar khawatir.
"Ya." Kata Syerly tersenyum lembut.
"Fel... aku lapar."
Syerly mendengar suara tawa rendah Felix dari seberang sana, yang membuat dadanya berdegup kencang.
"Kau mau makan apa?" Tanya Felix dengan suara hangat.
Syerly diam sebentar.
"Kamu saja yang mencari tempatnya."
"Baiklah." Kata Felix.
"Aku akan mengirimkan lokasinya."
Lalu panggilan itu berakhir.
Senyum lebar menghiasi wajah Syerly. Ia belum pernah setidak sabar seperti ini ketika ingin bertemu seseorang.
Hanya dengan Felix.
Akhirnya Syerly ingin mencoba membuka hatinya.
---
Didalam kelas, Felix yang baru saja menutup telponnya tersenyum lebar.
Ivan menoleh menatapnya curiga.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" Tanyanya
Felix tidak menjawab, hanya melirik Ivan sekilas lalu kembali tertawa pelan lagi.
Ivan menyipitkan matanya, jelas merasa tidak puas dengan reaksi Felix itu.
"Jadi kamu tidak mau memberitahuku...?"
Ivan menggeser tubuhnya dan langsung memegangi Felix.
"Cepat beritahu aku!" Ancamnya.
Ivan menatap Gio yang duduk disebelah Felix.
"Gio..." panggilnya.
"Bantu aku pegangi dia! Jangan lepaskan sebelum dia membuka mulutnya."
Gio yang selalu mempunyai sikap tenang, kali ini mengikuti permainan Ivan.
Ia langsung mengangguk setuju, dan l
membantu Ivan memegangi tubuh Felix dengan erat.
Felix yang tidak dapat bergerak menatap kedua temannya dengan datar.
"Jika kalian seperti ini." Katanya dingin.
"Aku tidak akan memberitahu kalian sama sekali."
Ivan dan Gio langsung melepaskannya, lalu bergeser sedikit menjauh dan kembali duduk dengan rapi.
Melihat kedua temannya yang begitu patuh, Felix tersenyum puas.
Tapi ketika ia mengingat panggilan Syerly tidak lama ini, senyumannya semakin lebar.
"Syerly bilang, dia lapar." Katanya.
Ivan mengerutkan keningnya.
"Itu saja...?"
Felix mengangguk, senyumannya masih ada.
"Jadi apa yang membuatmu tersenyum?" Tanya Ivan bingung.
"Bukankah dia hanya bilang lapar?"
Felix hanya dapat menatap Ivan sambil menghelai nafas tanpa daya.
"Fel, aku senang melihatmu tersenyum." Kata Gio.
Ivan menoleh tajam ke arah Gio.
"Gio... apa kau tahu sesuatu?"
"Mengapa kau tidak memberitahu?"
Felix menatap Ivan sambil menghelai nafas keras.
"Karena kau bodoh."
"..." Ivan terdiam.
Gio tertawa pelan.
"Syerly bilang lapar, dia ingin bertemu dengan Felix." Jelas Gio dengan sabar.
"Dan itu juga berarti dia ingin membuka dirinya untuk Felix."
"Ohh..." gumam Ivan akhirnya.
Gio menatap Felix dengan bingung.
"Lalu mengapa kau masih disini? Cepat pergi!" Katanya.
Belum sempat Felix bergerak, tiba-tiba Ivan mengambil tasnya dan menarik lengan Felix.
"Ayo, Fel!" Katanya dengan tidak sabar. Ia terus menarik-narik lengan Felix dengan ringan.
Akhirnya Felix berdiri, menatap Ivan.
"Syerly ingin bertemu denganku, bukan dirimu."
Lalu mendorong temannya itu untuk kembali duduk.
"Kau tidak perlu pergi."