NovelToon NovelToon
Berjodoh Dengan CEO Cantik

Berjodoh Dengan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Cintamanis
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: anjarthvk

Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.

Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.

"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Godaan Papah

...Selamat membaca semuanya.....

"Bagaimana? Sudah membuat cucu untukku?" pertanyaan di seberang membuat Rania kesal. Dia tahu bahwa dari awal Papahnya tidak akan benar-benar tega dengan dia dan Boris.

"Papah benar-benar ingin aku hamil di luar nikah ya?" tuduhan yang justu membuat Frederick tertawa renyah.

"Papah tidak terlalu memikirkan hal itu, omongan orang luar bisa Papah bungkam. Jadi, tenang saja."

"Tapi Rania percaya dengan Boris. Sekarang saja, Rania tidur sendiri, dia tidur di sofa, seperti waktu di hotel." Frederick terdengar menghembuskan napas kecewa.

"Padahal Papah sudah ingin cucu" sedikit merasa kecewa sekaligus menggoda putrinya.

"Tau ah! Rania mau tidur, lelah. Rania juga tidak mau kembali ke Perusahaan, suruh saja Boris. Aku malas masuk kerja, masih marah dengan Papah!"

Tawa renyah Frederick mendengar putrinya yang sedang merajuk sangat menggemaskan, "kamu sudah tiga puluh tahun sayang, kenapa masih suka merajuk seperti anak kecil sih, hmm?"

"Ihh Papah! Tau ah! Kenapa mengejekku? Aku tutup duluan deh, bye!"

Tut.. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Rania, dia tidak habis pikir dengan Papahnya yang bersikap diluar batas seperti itu.

Matanya memandangi seluruh interior kamar milik Boris. Satu bingkai foto di atas nakas menarik perhatiannya, di sana Boris berdiri di tengah antara seorang perempuan dan laki-laki.

"Pernah lihat, tapi dimana ya?" ingatannya menangkap dua orang yang berdiri di sebelah Boris. "Besok saja deh, aku tanyakan padanya. Ngantuk.." dia mulai merebahkan diri dan memposisikan dirinya senyaman mungkin segera masuk ke dunia mimpi.

...----------------...

Tok.. Tok.. Tok..

"Nona, saya masuk ya!" tidak ada jawaban, Boris membuka pintu kamarnya, melihat Rania masih tidur nyenyak sambil memeluk gulingnya. Dia mendekat ke arah wanita itu, duduk di atas ranjang di sisi Rania.

Dia guncangkan pelan tubuh itu, namun tidak ada respon. Beberapa menit dia habiskan menunggu Rania terbangun sendiri, ternyata tidak ada tanda bahwa wanita itu terusik. Akhirnya dia menyerah.

Kekehan kecil saat menyadari air mengalir dari sudut bibir Rania, dia lap sebentar dengan ibu jarinya tanpa rasa jijik.

"Nona, saya berangkat ke kantor lebih dulu," bisiknya pelan mengusik tidur Rania, wanita itu mengerjapkan matanya berusaha membuka matanya.

"Berangkat sendiri saja, Ris... Aku mau tidur," suara parau khas orang mengantuk, tangan itu meraih selimut menutupi tubuhnya dan membenarkan guling yang dia peluk. Boris memandangi setiap gerakan Rania yang mengundang senyuman kecil. Dia terpancing mengelus lembut kepala Rania, memberikan tatapan sayang untuk wanita tersebut.

"Aku segera pulang.."

Dengan berat hati Boris meninggalkan Rania sendirian di rumahnya. Dia harus berangkat ke Perusahaan karena ada pertemuan penting dengan Kolega besar.

Mengabaikan kemarahan Frederick kepadanya, dia tahu salah karena lalai menjaga putrinya. Tapi, jika dia lebih kuat dibandingkan Rania ataupun Frederick, dia akan basmi semua yang menyakiti mereka. Untuk sekarang, fokusnya mengurus Perusahaan lebih dulu.

Saat kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan Rania, matanya melihat sudah ada Frederick yang berdiri menatap luar kaca. Karena terkejut dia lebih dulu mengetuk pintu untuk membuyarkan atensi Frederick.

Frederick menoleh melihat kedatangan Boris, dia kembali duduk di kursi tempat Rania biasanya.

"Masuklah" karena sudah diberi izin, Boris melangkah lebih masuk ke dalam ruangan. Dia membungkukkan badan, sebenarnya rasa penyesalan masih hinggap tapi dia harus tetap kokoh.

"Permisi Tuan, hari ini ada pertemuan dengan Kolega besar dari China."

"Sudah buatkan aku cucu?"

"Maksud Tuan?" matanya membulat bingung mendapat pertanyaan itu dari Frederick, karena dia merasa sudah mengecewakan pria itu sebab tidak becus menjaga putrinya saat di Korea.

Gelak tawa Frederick semakin membuatnya bingung, "aku tidak akan membatalkan perjodohan yang aku buat dari awal. Tapi, aku punya tugas untukmu, Boris."

Mendengar itu, perasaan Boris sedikit lega. Walaupun dia merasa belum pantas untuk bersanding dengan Rania. Tapi, harapan satu-satunya dari perjodohan itu untuk mendapatkan wanita secantik Rania.

"Jatuhkan Perusahaan Diamond De Lux, dia sempat bermain licik dan menyebabkan omset Perusahaan kita turun beberapa tahun. Balas dengan keluaran terbaru. Anggap saja balas dendam karena berani menyentuh putriku," kejadian kencan buta Rania dengan orang Prancis teringat kejadian tidak menyenangkan saat itu.

Tangan Boris terkepal erat, rahangnya mengeras, "saya akan membuat perusahaan itu bangkrut, Tuan."

Senang mendengar semangat dari Boris akan balas dendam kepada orang Prancis itu. "Ratakan semuanya abis."

"Baiklah Tuan" Boris masih berdiri tegap disana sambil menunduk, dengan hembusan panjang dia lanjut berbicara, "terima kasih Tuan masih mempercayakan semuanya pada Saya. Termasuk putri Tuan dan bahkan Perusahaan."

"Maafkan aku juga terlalu emosi kemarin, putriku sangat menyukaimu. Jadi, jaga dia baik-baik. Jangan lupa membuat cucu untukku segera!" Frederick menggoda Boris yang memerah malu, pria itu membulatkan matanya terkejut.

Gelengan kuat dia berikan, "saya tidak berani bertindak sejauh itu Tuan," kening Frederick mengernyit lalu memicingkan matanya.

"Memangnya kamu sudah melangkah sejauh mana Boris?" nada yang terdengar mengintimidasi langsung membuat Boris ciut, dia menjatuhkan diri dengan bertumpu pada kedua lututnya.

Rasa panik mulai menyerangnya, "maafkan saya Tuan," justru itu membuat Frederick tertawa renyah melihatnya. Dia tidak habis pikir dengan anak muda jaman sekarang. Tapi, jika semua membuat putrinya senang dia juga tidak bisa membantah.

"Berdirilah! Jangan terlalu takut padaku! Aku memakluminya. Bukankah aku menyuruhmu membuatkan cucu?" godaan Frederick dengan tawa yang kencang semakin membuat Boris ingin sekali menutupi wajahnya sekarang juga.

'Damn! Malu setengah mati aku!' batinnya sudah berontak ingin pergi dari sana.

...Bersambung.....

Terima kasih sudah mampir di ceritaku, jangan lupa like dan komen yaa. Jaga kesehatan buat semuanya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!